Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 03 November 2009

4 Nov - Rm 13:8-10; Luk 14:25-33

"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku ia tidak dapat menjadi muridKu"

(Rm 13:8-10; Luk 14:25-33)


"Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Karolus Borromeus, Uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


• Seorang murid pada umumnya sangat taat dan setia pada gurunya daripada pada orangtuanya; hal itu nampak dalam dunia pendidikan masa kini. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita juga menjadi murid-muridNya, maka kita diharapkan taat dan setia kepadaNya. Ketaatan dan kesetiaan tersebut hendaknya menjadai nyata atau terwujud dalam taat dan setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing alias `memikul salib' yang dibebankan kepada kita. St.Karolus Borromeus yang kita kenangkan hari ini dikenal sebagai yang taat dan setia pada Yesus Kristus, antara lain meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus yang memperhatikan dan berpihak pada mereka yang sakit dan miskin atau berkekurangan. Maka baiklah sebagai murid-murid Yesus, marilah kita memperhatikan atau berpihak pada mereka yang miskin, sakit atau berkekurangan. Memang untuk melaksanakan panggilan atau tugas pengutusan ini kita harus berani "melepaskan diri dari segala milik kita", artinya kita hidup dan bertindak tidak mengikuti selera atau kehendak pribadi melainkan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan antara lain dapat kita temukan dalam Sabda-sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, aneka aturan dan tatanan hidup yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Milik kita antara lain: tubuh dengan semua anggotanya, kecerdasan, keterampilan, harta benda/uang, pangkat atau kedudukan, dst..; marilah kita fungsikan segala milik tersebut sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun sesama kita. Kita fungsikan segala miliki tersebut untuk memperhatikan mereka yang sakit, miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup dan kerja kita setiap hari.


• "Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat" (Rm 13:8), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman; marilah kita hayati dalam hidup dan bertindak kita setiap hari. Kasih adalah dasar dan pemenuhan aneka aturan dan tatanan hidup; aneka aturan dan tatanan hidup dibuat dan diundangkan berdasarkan kasih dengan maksud mereka yang terkait dengan aturan dan tatanan hidup tersebut hidup saling mengasihi. Kasih sejati tak kenal atau tak mengharapkan balasan, yang penting dan utama adalah mengasihi. Maka kasih tersebut kiranya sungguh bermakna ketika kita arahkan atau berikan kepada mereka yang miskin, sakit dan berkekurangan, dimana ketika mereka kita kasihi hanya dapat membalas dengan kata-kata `terima kasih'. Pengamatan dan pengalaman kami: memberi bantuan atau sumbangan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan sunggguh membahagiakan -> mereka sungguh berterima kasih dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Sementara itu melayani mereka yang kaya dan berkecukupan atau berlebihan memang cukup merepotkan, karena pada umumnya mereka menghendaki yang aneh-aneh sesuai dengan selera pribadi. Memang orang kaya dan berkelebihan ada kecenderungan hidup dan bertindak menurut selera pribadi alias seenaknya sendiri dengan mengandalkan kekayaannya. Mereka tidak memenuhi aturan atau tatanan hidup, melainkan merusak dan melanggar aneka tatanan dan aturan hidup. Aturan dan tatanan hidup dibeli dengan kekayaannya. Maka dengan rendah hati kami mengingatkan: hendaknya hidup dan bertindak tidak mengandalkan kekayaan/harta benda atau uang, melainkan kasih.



"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya." (Mzm 112:1-2.4-5)


Jakarta, 4 November 2009


Senin, 02 November 2009

3 Nov - Rm 12:5-16a; Luk 14:15-24

"Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
(Rm 12:5-16a; Luk 14:15-24)

"Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: "Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku." (Luk 14:15-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• "Dijamu dalam Kerajaan Allah" berarti dikuasai atau dirajai oleh Allah, dan dengan demikian siapapun yang dijamu dalam Kerajaan Allah berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, setia pada janji-janji yang pernah diikrarkan. Jika kita jujur rasanya masing-masing dari kita sering tidak/kurang setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan dengan alasan sebagai disampaikan oleh Yesus: membeli ladang/bisnis alias sibuk, mengurus harta kekayaan pribadi alias egois atau urusan keluarga alias ada alasan yang sulit dijelaskan. Alasan-alasan tersebut pada umumnya dimaklumi, namun mereka yang terbiasa membuat alasan yang demikian itu pasti akan hidup menderita serta merasa tidak aman, terancam terus menerus. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mendobrak dan memberantas alasan-alasan tersebut di atas: sibuk, egois atau tak dapat dijelaskan, entah dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Kita sadari dan hayati bahwa diri kita adalah `miskin, cacat, buta atau lumpuh', sehingga memiliki kesadaran dan pengahayatan terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan, antara lain ajakan untuk berbuat baik/sosial, atau bertobat, kembali ke jalan hidup yang benar sebagaimana pernah kita ikrarkan dan coba telusuri. Marilah setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan, meskipun untuk itu kita harus berjuang dan berkorban.
• "Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati"( Rm 12:6-8a), demikian peringatan dan kesaksian Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. Apa yang menjadi karunia kita masing-masing? Semua karunia kiranya memiliki cirikhas untuk melayani, maka marilah kita hidup saling melayani. Melayani berarti senantiasa berusaha dengan rendah hati dan sekuat tenaga membahagiakan dan menyelamatkan mereka yang harus kita layani, dan tentu saja mereka itu pertama-tama dan terutama adalah yang setiap hari hidup atau bekerja bersama dengan kita, misalnya: suami atau isteri, anak-anak, kakak-adik, orangtua, rekan kerja, rekan bermain, dst.. Jika kita dapat melayani dengan baik mereka yang dekat dengan kita, maka dengan mudah kita dapat melayani mereka yang jauh atau sering kurang kita temui, sebaliknya jika kita tak dapat melayani dengan baik mereka yang dekat dengan kita, maka kita sulit melayani mereka yang jauh. Karunia konkret yang kita miliki memang berlainan satu sama lain, maka hendaknya saling memberikan alias saling melengkapi satu sama lain, sehingga dalam kebersamaan hidup atau kerja kita kaya akan kasih karunia. Kasih karunia dari Allah pada umumnya juga untuk melaksanakan tugas pengutusan tertentu sebagai partisipasi dalam karya penyelamatanNya, maka tugas apapun yang dibebankan kepada kita hendaknya dikerjakan dan diselesaikan dengan baik. Percayalah Tuhan mengutus sekaligus juga menganugerahkan aneka kebutuhan untuk melaksanakan tugas pengutusan tersebut.

"TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! "
(Mzm 131)

Jakarta, 3 November 2009

Minggu, 01 November 2009

2 Nov - 2Kor 4:14-5:1; Luk 23:33.39-43

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN: 2Kor 4:14-5:1; Luk 23:33.39-43

 

Para hari "Peringatan Arwah Semua Orang Beriman" ini kita semua diajak untuk mengenangkan mereka yang telah dipanggil Tuhan: kakek-nenek, orangtua, kakak-adik, kenalan, sahabat dst.. yang telah mendahului kita meninggalkan dunia ini. Maka marilah kita kenangkan siapa saja yang mungkin dekat dengan kita dalam masa hidupnya dan telah dipanggil Tuhan: mungkin baik jika kita kenangkan mereka yang telah begitu banyak mengasihi dan memperhatikan kita, misalnya orangtua, kakek-nenek, para pendidik, dst.. Dalam mengenangkan ini kiranya baik, jika mungkin, kita berdoa di tempat mereka telah dimakamkan atau beristirahat untuk selama-lamanya; kita bersihkan lingkungan hidup tempat mereka dimakamkan dst..  Untuk membantu mengenangkan mereka yang telah dipanggil Tuhan, saya sampaikan catatan-catatan sederhana dengan merefleksikan sabda Yesus serta kutipan surat Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini:

 

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23:43)

 

Kita semua kiranya percaya bahwa saudara-saudari, orangtua, sahabat atau kenalan kita yang telah dipanggil Tuhan selama masa hidupnya di dunia senantiasa berkehendak baik, berusaha untuk berbuat baik kepada saudara-saudari dan sesamanya. Namun karena keterbatasan dan kelemahan diri sebagai manusia apa yang dilakukan sering dinilai tidak baik; mereka tidak tahu bahwa yang mereka lakukan mencelakakan orang lain atau berakibat buruk terhadap orang lain. Kami percaya orang-orang yang demikian itu, yang pada dasarnya berkehendak baik dan karena keterbatasannya ternyata yang dilakukan kurang/tidak baik, pada detik-detik terakhir hidupnya kiranya berdoa seperti 'salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus :"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." (Luk 23:42) dan Yesus menjawab : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."(Luk 23:43).

 

Doa yang benar kiranya bukan panjangnya kata-kata atau kalimat, suara keras dan gerak-gerik anggota tubuh, melainkan 'hati yang terarah sepenuhnya kepada Tuhan/Yang Ilahi'. Orang yang akan dipanggil Tuhan atau pada menit-menit atau detik-detik terakhir hidup orang pada umumnya gelisah; mereka yang siap dipanggil Tuhan kegelisahannya lembut, sedangkan mereka yang tidak siap dipanggil Tuhan sangat gelisah, misalnya kaki dan tangan bergerak kesana-kemari, mulut berteriak-teriak, mata membelalak dst.. atau dalam bahasa Jawa disebut "mecati".  Kami percaya bahwa siapapun yang berkehendak baik ketika dipanggil Tuhan atau pada detik-detik terakhir hidupnya pasti berdoa seperti salah seorang penjahat yang disalibkan bersama Yesus, sebagaimana saya kutipkan di atas.

 

Dari penjahat yang bertobat, yang disalibkan bersama dengan Yesus, kita juga dapat mengimani bahwa hidup mulia kembali di sorga  bersama Allah Pencipta dan Yesus yang kita imani merupakan anugerah Allah semata-mata. Kita imani bahwa orangtua, saudara-saudari atau kenalan dan sahabat kita yang telah dipanggil Tuhan telah menerima anugerah hidup mulia di sorga untuk selama-lamanya, dan dengan demikian kiranya mereka lebih mudah dan banyak berdoa daripada kita yang jarang atau malas berdoa. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan 'Arwah Semua Orang Beriman" hari ini kita juga minta didoakan oleh mereka yang telah mendahului perjalanan kita kembali ke sorga. Mengimani bahwa mereka mendoakan kita antara lain menjadi nyata atau terwujud dengan meneladan cara hidup dan cara bertindak mereka yang  baik dan benar. Sebagai contoh: marilah kita kenangkan aneka macam nasihat, saran, perilaku baik yang telah disampaikan oleh orangtua kita masing-masing, yang telah dipanggil Tuhan, dan kemudian kita hayati nasihat dan saran tersebut serta kita ikuti teladan hidup dan bertindak mereka yang baik.

 

"Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal" (2Kor 4:16-18).

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Korintus di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua orang beriman, khususnya mereka yang kesehatan tubuhnya semakin menurun atau lemah, entah karena sakit atau tambah usia alias sudah lansia.  "Meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari", inilah yang hendaknya menjadi acuan atau pedoman hidup kita sebagai orang yang semakin merosot kesehatan atau kebugaran tubuhnya.  Dengan kata lain ketika tubuh kita lemah dan tak berdaya hendaknya berdoa menjadi kegiatan atau kerasulan utama: berdoa dalam dilakukan kapan pun dan dimanapun. Mungkin doanya singkat saja seperti doa penjahat yang disalibkan bersama dengan Yesus: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."

  

Kita semua diingatkan untuk tidak berhenti atau hanya memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, yang bersifat kekal bukan sementara. Yang tidak kelihatan dan bersifat kekal adalah jiwa kita, yang sungguh mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita, maka marilah kita perhatikan kesehatan dan kebugaran jiwa kita. Bentuk perhatian tersebut kiranya dapat kita wujudkan dengan 'ora et labora'/berdoa dan bekerja:

1). Berdoa. Berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beriman atau beragama, maka hendaknya jangan melupakan doa-doa harian atau doa-doa dalam aneka kesempatan dan kepentingan. Berdoa dengan baik dan benar pada umumnya mendorong atau memotivasi orang yang bersangkutan untuk melakukan apa yang baik dan benar. Berdoa berarti berrelasi atau berhubungan dengan Allah, dan karena Allah adalah mahasegalanya, maka berrelasi atau berwawancara dengan Dia kita pasti dipengaruhi atau dikuasainya. Dengan kata lain berdoa yang benar dan baik pertama-tama adalah mendengarkan sapaan atau sabda Allah melalui citpaan-ciptaanNya di dunia ini, dan kemudian menanggapi secara positif sentuhan atau sapaan Allah tersebut alias 'mengerahkan tenaganya untuk menjalani hidup yang suci".      

2).Bekerja . "Semua orang  beriman kristiani, sesuai dengan kondisi khas masing-masing; harus mengerahkan tenaganya untuk menjalani hidup yang suci" (KHK kan 210). Mengerahkan tenaga berarti bekerja, berpartisipasi dalam seluk-beluk atau hal-ikwal duniawi dengan mendunia. Dengan kata lain mengusahakan kesucian hidup dengan mendunia, mengurus dan mengelola hal-hal duniawi. Secara konkret berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya baik dan menyelamatkan atau membahagiakan baik diri kita sendiri maupun orang lain atau sesama kita.  Marilah kita kerjakan sebaik mungkin apa yang menjadi tugas dan kewajiban kita, dengan mengerahkan tenaga dan waktu pada tugas dan kewajiban tersebut.

 

"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi."(Mzm 130:1-6)

 

Jakarta, 2 November 2009