Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 07 Desember 2009

9 Des - Yes 40:25-31; Mat 11:28-30

"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu"

(Yes 40:25-31; Mat 11:28-30)

 

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan." (Mat 11:28-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·  Ketika orang hanya mengikuti keinginan atau kehendak sendiri, pada umumnya di awal langkah hidup atau kerja sangat bergairah, tetapi seiring dengan jalannya waktu akan menjadi letih lesu dan tak bergairah, atau bahkan frustrasi. Orang yang demikian itu adalah orang sombong. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk 'memikul kuk yang dipasang Tuhan' melalui atasan atau pemimpin kita serta mengerjakan dengan lemah lembut dan rendah hati. Untuk itu marilah kita lihat, baca dan fahami kembali aneka tatanan atau aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, dan kemudian kita hayati dalam hidup sehari-hari, atau kita kenangkan janji-janji yang pernah kita ikrarkan. Sebagai orang yang telah dibaptis, marilah kita kenangkan janji baptis serta beberapa aturan yang terkait dengan hidup iman atau kekristenan/kekatolikan kita. Ketika dibaptis kita berjanji hanya mau mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan, dan untuk menghayati janji tersebut antara lain ada 10 (sepuluh) perintah Allah dan 5 (lima) aturan atau tuntunan Gereja. Dari 10 (sepuluh) perintah Allah yang konkret antara lain: "Hormatilah ibu-bapamu, Jangan membunuh,. Jangan berbuat cabul,. Jangan mencuri,  Jangan bersaksi dusta pada sesamamu manusia, Jangan ingin akan milik sesamamu ". Sedangkan 5 (lima perintah) Gereja adalah :  " Rayakanlah hari raya yang disamakan dengan hari Minggu, Ikutlah Perayaan ekaristi pada hari Minggu dan hari raya yang diwajibkan, dan janganlah melakukan pekerjaan yang dilarang pada hari itu., Berpuasalah dan berpantanglah pada hari yang ditentukan., Mengaku-dosalah sekurang-kurangnya sekali setahun, Sambutlah Tubuh Tuhan pada Masa Paskah. " (PS no 7). Marilah kita mawas diri sejauh mana kita setia dan melaksanakan perintah-perintah atau aturan tersebut? Jika kita setia menghayati perintah atau aturan tersebut, maka jiwa kita akan senantiasa tenang adanya.

·   "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yes 40:29-31), demikian kata-kata penghiburan Yesaya yang penuh pengharapan kepada saudara-saudarinya, kepada kita semua. Kita sedang menantikan Hari Raya Natal, Kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia; apakah kita mendapat kekuatan baru, bersemangat baru? Orang yang sedang menanti-nantikan pada umumnya butuh kesabaran, daya tahan dan kegairahan hidup serta dengan rendah hati mentaati aneka aturan dan tatanan yang terkait, meskpun demikian ia 'tidak menjadi lesu dan tidak menjadi lelah'. Dengan kata menanti-nantikan juga butuh matiraga atau lakutapa. Maka marilah kita mawas diri apakah diri kita layak disebut sebagai yang sedang menanti-nantikan pesta Hari Natal, Kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia. Matiraga secara harafiah berarti mematikan gairah/nafsu raga, dan maksudnya tidak lain adalah mengendalikan raga atau anggota tubuh sedemikian rupa sehingga tidak melakukan dosa atau berbuat jahat. Mengendalikan raga atau anggota tubuh kita sendiri kiranya lebih sulit daripada mengendalikan orang lain. Raga atau anggota tubuh yang mungkin baik kita refleksikan adalah mata, telinga, kepala/otak dan kaki maupun tangan: sejauh mana anggota tubuh ini berfungsi semakin mendekatkan saya dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita? Ketika kita dapat mengendalikan diri dengan baik, maka dalam rangka menanti-nantikan kita tetap bergairah serta tidak akan melakukan dosa atau perbuatan jahat.  Ketika kita terbiasa dapat mengendalikan diri dengan baik, maka kita juga tidak mudah menjadi lelah dan lesu.  Ada kemungkinan ketika sedang menanti-nantikan orang merasa kelebihan waktu, maka manfaatkan waktu tersebut untuk berdoa atau membaca apa-apa yang baik dan berguna.

"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat," (Mzm 103:1-4)

Jakarta, 9 Desember 2009

         


8 des - HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA

HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA:

"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Kej 3:9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38


"Bila kita membaca bahwa sang utusan menyapa Maria sebagai 'yang penuh rahmat', konteks Injil, yang memadukan wahyu dan janji-janji masa lalu, memungkinkan kita memahami bahwa di antara semua 'berkat rohaniah dalam Kristus', berkat ini merupakan 'berkat' khusus. Dalam misteri Kristus, Maria 'hadir' malahan 'sebelum penciptaan dunia', sebagai seseorang  yang 'dipilih' Bapa sebagai 'Bunda PuteraNya' dalam Penjelmaan. Dan, lebih lagi, bersama dengan Bapa, sang Putera telah memilih Maria, dengan mempercayakannya dari kekal kepada Roh kekudusan. Dalam cara yang khusus dan istimewa itu Maria dipersatukan dengan Kristus, dan dengan itu 'dikasihi dalam Puteranya yang terkasih', Puteranya yang satu hakikat dengan Bapa, yang menjadi pusat semua 'kemuliaan rahmat'. Bersaman dengan itu dia tetap  terbuka sempurna terhadap 'kurnia dari atas'  (bdk Yak 1:17). Seperti diajarkan Konsili, Maria 'berada di antara yang miskin dan rendah hati di hadapan Tuhan, yang dengan percaya menunggu dan menerima penyelamatan dari padaNya" (PausYohanes Paulus II: Ensiklik 'REDEMPTORIS MATER' , 25 Maret 1987, no 8).

 

"Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau" (Luk 1:28).

 

Dari kutipan Ensiklik di atas antara lain dikatakan bahwa Maria menerima 'berkat khusus', sebagai yang 'terpilih' dan sudah hadir 'sebelum penciptaan dunia'. Maria diimani suci, tak bercela, dari semula, maka dalam berbagai patung Maria sering dilukiskan Maria berdiri di atas 'ular' alias mampu mengalahkan 'ular', kesucian engalahkan kecerdikan, sebagaimana diramalkan dalam Kitab Kejadian ini: "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya" (Kej 3:15). Maria yang dari semula diimani tidak bernoda juga menjadi teladan umat beriman, maka marilah pada Pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa hari ini kita mawas diri perihal keimanan kita masing-masing.

 

Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga sedikit banyak juga boleh dikatakan sebagai "yang dikaruniasi, Tuhan menyertai engkau", dan dengan demikian selantiasa dalam perlindungan dan kuasa Tuhan serta hidup bersama dengan Tuhan alias suci. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengalahkan setan, yang sering digambarkan sebagai ular yang cerdik. Kecerdikan ular ini bagaikan orang yang cerdas secara intelektual, yang memang sering lebih mudah memanfaatkan kecerdasannya untuk mencari keuntungan atau keenakan sendiri dengan 'mematikan atau menakuti' yang lain. Bersama dan bersatu dengan Tuhan masa kini boleh dikatakan identik dengan cerdas spiritual, yang mengatasi cerdas intelektual. Maka marilah kita upayakan, perdalam dan tingkatkan kecerdasan spiritual kita, sebagai orang beriman, 'yang dikaruniai dan disertai oleh Tuhan terus menerus'. Untuk itu sekali lagi saya angkat di sini ciri-ciri kecerdasan spiritual, yang hendaknya kita upayakan, perdalam dan tingkatkan, yaitu: "mampu untuk fleksibel (adaptasi aktif dan spontan), memiliki kesadaran diri yang tinggi, mampu menghadapi dan menggunakan penderitaan, mampu menghadapi dan mengatasi rasa sakit, hidup dijiwai oleh visi dan nilai-nilai, segan untuk menyakiti orang lain, melihat hubungan dari yang beragam (holistik), bertanya 'mengapa' dan 'apa jika' untuk mencari jawaban , kemampuan untuk 'melawan perjanjian'" .

        

Apakah cerdas spiritual dapat kita usahakan, hayati, perdalam dan tingkatkan? Percayalah bersama dan bersatu dengan Tuhan segala sesuatu mungkin dilakukan, maka marilah kita juga meneladan Maria yang menyatakan diri :"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk 1:38). Marilah dengan rendah hati dan dengan bantuan rahmat Tuhan kita hayati atau laksanakan aneka tatanan atau aturan yang terkait dengan panggilan dan tugas pekerjaan kita masing-masing. Sebagai hamba Tuhan kita harus senantiasa berusaha bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menganugerahi berbagai karunia; terima kasih dan syukur tersebut kita wujudkan dengan bersyukur dan berterima kasih kepada sesama atau  saudara-saudari kita, sehingga dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun senantiasa ditandai dengan saling bersyukur dan berterima kasih.

 

"Di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya" (Ef 1:4-5)

 

Ketika baru saja dilahirkan, keluar dari rahim ibu kita masing-masing, kita semua 'kudus dan tak bercacat di hadapanNya', dan kita juga dipanggil untuk mempertahankan dan memperdalam kekudusan dan ketidak-cacatan tersebut melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Dengan jujur dan rendah hati kita semua kiranya harus mengakui bahwa untuk mempertahankan kekudusan dan ketidak-catatan saja sulit alias belum tentu berhasil, apalagi memperdalam, maka marilah kita saling membantu dalam mempertahankan kekudusan dan ketidak-cacatan tersebut.

 

Secara faktual harus kita akui bahwa secara anak-anak lebih suci dan tak bercacat daripada orangtua atau orang dewasa, maka kepada anak-anak kita beri penghormatan khusus. Hemat saya ketika kita tetap mengenang dan menghormati anak-anak, maka kita tidak akan dengan mudah jatuh ke dalam dosa atau berbuat jahat. Anak-anak sungguh dapat menjadi pengawas dan pengingat bagi kita dalam berbuat baik, melakukan apa yang baik guna mempertahankan kesucian dan ketidak-cacatan kita. Maka anak-anak sering juga dijadikan 'wahana' para penjahat untuk memeras korbannya demi keuntungan mereka, misalnya anak-anak dijadikan 'sandra'. Orang jahat memang akan memanfaatkan anak-anak untuk berbuat jahat, sebaliknya orang baik atau yang berkehendak baik pasti akan memanfaatkan atau memperlakukan anak-anak sebagai 'wahana' untuk semakin memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan dalam hidup sehari-hari.

 

"Memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan" itulah tujuan manusia diciptakan dan dengan demikian menjadi panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, dan hal itu hendaknya diwujudkan dalam hidup bersama yang dijiwai oleh atau ditandai dengan saling memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi atau melayani.  Cara hidup dan bertindak yang demikian itulah cara hidup dan cara bertindak 'anak-anak Allah', orang yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Marilah kita mohon dukungan dan doa Bunda Maria, teladan umat beriman, agar kita setia pada kehendak Allah, antara lain dengan berdevosi pada Bunda Maria, entah dengan berziarah ke tempat peziarahan Bunda Maria atau berdosa rosario. Doa rosario berisi doa-doa utama atau pokok, yaitu Aku percaya, Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan. Bukankah ketika kita menghayati isi doa-doa tersebut, tidak hanya mengumandangkan atau mendaraskan dengan mulut saja, maka kita akan bertahan dalam kekudusan dan ketidak-cacatan?  Semoga ketika berdoa rosario kita sungguh menyadari dan menghayati bahwa doa-doa tersebut merupakan doa-doa orang yang 'dipilih' oleh Allah, dikhususkan atau dipersembahkan kepada Allah.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!"(Mzm 98:1-4)

 

Jakarta, 8 Desember 2009


referensi artikel http://www.imankatolik.or.id/Gelar%20Maria%20sebagai%20Tabut%20Perjanjian%20dan%20Dogma%20Immaculata.html


Minggu, 06 Desember 2009

7 Des - Yes 35:1-10; Luk 5:17-26

"Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?"

(Yes 35:1-10; Luk 5:17-26)

"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni." Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan."(Luk 5:17-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ambrosius, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam kisah hari ini ada tiga tokoh yang ditampilkan, yaitu: Orang Farisi dan ahli Taurat, Yesus serta seorang lumpuh. Dalam keyakinan iman masa itu siapapun yang menderita sakit berarti berdosa, dengan kata lain dosa merupakan sumber penyakit, maka kepada orang lumpuh yang mohon penyembuhan dari Yesus, Ia bersabda: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni". Orang Farisi dan ahli Taurat tidak percaya bahwa  Yesus adalah Allah, maka mereka berpikiran jahat dan menuduh Yesus menghojat Allah karena yang dapat mengampuni dosa hanya Allah. Orang yang tidak percaya memang pada umumnya berpikiran jahat, sedangkan mereka yang percaya akan sembuh dari aneka macam penyakit serta tidak pernah berpikiran jahat kepada orang lain melainkan memuliakan Allah melalui sesamanya dan doa-doanya. Maka baiklah di masa adven ini kita mawas diri: apakah kita seperti orang Farisi dan ahli Taurat atau orang lumpuh yang percaya dan disembuhkan. Kami mendambahkan bahwa kita adalah orang lumpuh yang mohon penyembuhan dari Allah, dan dengan demikian dengan rendah hati siap sedia untuk dinasihati, ditegor, dituntun dan diperintah orang lain, yang membantu penyembuhan kita. Marilah kita sadari kelumpuhan kita, entah dalam hati, jiwa, akal budi atau tubuh, dan kemudian dengan rendah hati mohon penyembuhan dan kasih pengampunan dari Allah maupun saudara-saudari kita.

·   "Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah" (Yes 35:3). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi yang kuat dan sehat dengan ajakan untuk menguatkan yang lemah lesu dan meneguhkan yang goyah. Marilah kita cermati lingkungan hidup dan kerja kita: adakah yang lemah lesu dan goyah imannya sehingga kurang bergairah  dalam hidup maupun kerja karena harus menghadapi banyak tantangan, masalah maupun hambatan. Mungkin mereka tidak hanya lesu dan goyah, tetapi juga frustrasi dan putus asa. Sebagai yang kuat dan sehat kita diharapkan kemanapun pergi dan dimanapun berada dapat menjadi penguat dan peneguh bagi yang lain dan dengan demikian cara hidup dan cara bertindak kita menjadi pengharapan bagi orang  lain. Cara memperkuat dan meneguhkan dapat ditempuh dengan berbagai cara, tergantung dari situasi dan kondisi, maka bagi kita yang akan memperkuat dan meneguhkan diharapkan senantiasa siap sedia dan rela untuk berkorban dan boros waktu, tenaga dan dana bagi mereka yang lesu dan goyah. Memperkuat yang lesu dan meneguhkan yang goyah merupakan wujud cintakasih, dan cintakasih sejati mengandaikan adanya pemborosan waktu dan tenaga bagi yang terkasih. Marilah di masa adven ini kita saling memperkuat dan meneguhkan harapan kita masing-masing, sehingga kita sungguh dapat hidup dengan bergairah, dinamis dan ceria.  Bukankah siapapun yang hidup dan berperilaku  bergairah, dinamis dan ceria senantiasa menarik, memikat dan mempesona alias menjadi harapan banyak orang?

 

"Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya " (Mzm 85:10-13)

 

Jakarta, 7 Desember 2009