Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 23 Desember 2009

24 Des 2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79

"Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya"

(2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)

"Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera."(Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Setelah Yohanes lahir, maka sembuhlah Zakharia dari kebisuannya dan begitu dapat berbicara kembali iapun melambungkan pujian kepada Tuhan. Isi pujian tersebut antara lain "Allah melawati umatNya dan membawa kelepasan baginya…Ia melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita". Kegembiraan yang dialami oleh Zakharia ini merupakan tanda-tanda akan segera terpenuhinya janji Allah untuk menyelamatkan dunia dengan kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia. Kiranya sebagian besar dari kita juga baru saja mengaku dosa, menerima kasih pengampunan atau kelepasan atas dosa-dosa kita, maka selayaknya kita juga bersyukur seperti Zakharia atas rahmatNya. Baiklah setelah menerima kasih pengampunan atas dosa-dosa kita, kemudian kita hidup baru dan diharapkan juga dapat menjadi 'sinar bagi mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut', menjadi penuntun dan petunjuk jalan bagi orang lain menuju damai sejahera. Nanti malam kita bersama-sama merayakan Sang Pembawa Damai Sejahtera sejati, Yesus, Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Dengan merayakan Natal atau kelahiran Penyelamat Dunia ini dari kita diharapkan tidak saling membenci melainkan senantiasa berdamai dengan siapapun dan apapun dalam hidup kita sehari-hari. Hidup berdamai merupakan wahana bagi siapapun untuk menuju kepada Allah alias bersembah-sujud kepada Allah. Marilah kita ampuni juga mereka yang telah membenci atau menyakiti kita.

· "Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi" (2Sam 7:9), demikian firman Tuhan kepada bangsa terpilih. Kita semua juga yang terpilih, maka marilah kita kenangkan penyertaan atau pendampingan Tuhan dalam perjalanan hidup kita sampai kini, sehingga kita dapat hidup seperti saat ini. Penyertaan atau pendampingan Tuhan secara konkret kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik dan mengsihi kita, antara lain orangtua, kakak-adik, teman, guru/pendidik, pembimbing, dst.., maka baiklah kita bersyukur dan berterima kasih kepada mereka. Syukur dan terima kasih tersebut kiranya dapat kita wujudkan dengan berdamai dengan mereka serta menghaturkan sesuatu sebagai hadiah atau kado Natal. Ingat dan hayatilah bahwa kita dapat menjadi 'besar' seperti saat ini karena penyertaan dan pendampingan mereka, yang telah mengasihi, mendidik dan membimbing kita dengan penuh pengorbanan dan perjuangan tanpa kenal lelah. Kita telah menerima 'kasih' dari mereka secara melimpah ruah, maka selayaknya kita sungguh berterima kasih kepada mereka. Marilah kita saling berterima kasih dan memberi kenangan atau hadiah Natal, atau mungkin saling melawatim, entah secara langsung atau tidak langsung. Secara langsung berarti kita tatap muka dan bercakap-cakap, sedangkan tidak langsung mungkin dengan sarana komunikasi masa kini seperti SMS via HP atau kirim surat via email. Hari ini baiklah kita memboroskan waktu dan tenaga untuk mengenangkan mereka yang telah berbuat baik dan mengasihi kita.

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun" (Mzm 89:2-5).

Jakarta, 24 Desember 2009

Selasa, 22 Desember 2009

23 Des - Mal 3:1-4; 4:5-6; Luk 1:57-66

"Menjadi apakah anak ini nanti?"

(Mal 3:1-4; 4:5-6; Luk 1:57-66)

 

"Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia." (Luk 1:57-66), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Menurut tradisi atau adat istiadat anak yang lahir dari Elisabet, laki-laki, harus diberi nama Zakharia, nama ayahnya, tetapi ternyata ia harus dinamai Yohanes, sebagaimana diberitahukan oleh malaikat. Dengan kata lain pemberian nama Yohanes berarti keluar dari  atau  melanggar tradisi atau adat istiadat. Maka muncullah pertanyaan dari saudara-saudari dan sahabat-sahabat mereka :"Menjadi apakah anak ini nanti?". Yohanes akan menjadi 'bentara Penyelamat Dunia', yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia. Nama memang mengandung makna dan maksud serta cita-cita, maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak para orangtua atau calon orangtua yang akan segera dianugerahi anak untuk dengan cermat dan benar dalam memberi nama anak-anak yang akan dilahirkan. Nama yang anda berikan kepada anak anda merupakan dambaan atau harapan terhadap anak yang bersangkutan pada masa depannya, harapan agar anak tumbuh berkembang sebagaimana orangtua cita-citakan. Dengan kata lain  rasanya pemberian nama satu sama lain dapat berbeda dan sekiranya harus memakai nama marga atau suku hendaknya juga ada ada tambahan nama lain. Sebagai orangtua kiranya kita semua berharap anak-anak yang dianugerahkan Tuhan senantiasa 'tangan Tuhan menyertainya', sehingga mereka tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan, dan tentu saja kita semua berharap anak-anak dapat menjadi 'bentara' Penyelamat Dunia, dimana cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa menarik dan memikat banyak orang untuk semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

·   "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah" (Mal 4:5-6). Yang baik kita renungkan atau refleksikan dari kutipan ini adalah 'hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya', dengan kata lain suatu ajakan untuk para bapak dan anak-anak untuk hidup berdamai, maklum pada umummya relasi bapa dan anak agak renggang, kurang mesra jika dibandingkan dengan relasi ibu dengan anaknya. Para bapak diingatkan untuk juga memperhatikan anak-anaknya dengan baik, dengan senang hati berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya. Secara khusus dengan ini kami mengingatkan rekan-rekan lelaki, yang mungkin telah menghamili rekan perempuan, entah itu pacar, tunangan atau kenalan, untuk berani bertanggungjawab, tidak melarikan diri setelah menghamili. Demikian juga kami ingatkan para bapak atau suami yang mudah berselingkuh atau menyeleweng untuk bertobat, tidak melakukan perselingkuhan lagi, ingat akan anak-anak anda. Berbagai  bentuk perselingkuhan atau kebejatan moral laki-laki atau para bapak menghancurkan kehidupan berkeluarga, entah keluarganya sendiri atau keluarga orang lain, dan dengan demikian merusak hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Semoga para bapak atau rekan-rekan laki-laki tidak mudah tergoda oleh rayuan-rayuan perempuan, dan tentu saja juga tidak menampilkan diri sedemikian rupa sehingga memikat untuk dirayu.

 

"TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya " (Mzm 25:8-10)

 

Jakarta, 23 Desember 2009

    

 


Senin, 21 Desember 2009

22 Des - 1Sam 1:24-28; Luk 1:46-56

"Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku,"

(1Sam 1:24-28; Luk 1:46-56)

 

"Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya" (Luk 1:46-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika orang menerima pujian dari sesamanya pada umumnya menjadi 'besar kepala' atau sombong, namun berbeda apa yang terjadi dalam diri Bunda Maria. Ketika Bunda Maria menerima pujian dari Elisabet, maka ia langsung mengidungkan pujian Magnificat, pujian dari orang yang terpilih oleh Allah. Kidung Maginificat ini menjadi bagian dari doa Harian para klerus dan anggota Lembaga Hidup Bakti serta doa dari mereka yang berdevosi kepada Bunda Maria, seperti legioner/para anggota Legio Mariae. Bunda Maria adalah teladan hidup beriman, maka kiranya selayaknya kita yang merasa beriman juga setiap hari mendaraskan Kidung Magnificat tersebut di atas dan tentu saja menghayati isi kidung tersebut dalam hidup sehari-hari. Ada dua pokok isi kidung di atas, yaitu: (1) dengan rendah hati orang menghayati atau mengimani karya agung Allah dalam dirinya yang lemah dan rapuh serta (2) kuasa Allah yang menjungkir-balikkan cara berpikir/paradigma duniawi. Pertama-tama marilah kita imani dan hayati karya agung Allah dalam diri kita masing-masing, bahwa kita dapat hidup, berkembang dan tumbuh seperti saat ini tak pernah lepas dari karya atau rahmat Allah, maka hendaknya kita senantiasa memuliakan Allah serta saling memuliakan antar kita. Selanjutnya kami mengingatkan mereka yang congkak hati, gila kedudukan dan jabatan untuk bertobat dan memperbaharui diri, sedangkan mereka yang 'lapar' baiklah membuka diri terhadap kemurahan hati Allah melalui sesama atau saudara-saudari kita. Kepada kita semua marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati.

·   "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN.Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN."( 1Sam 1:26-28), demikian kata seorang ibu/perempuan kepada Eli. Anak adalah anugerah Tuhan dan kemudian dipersembahkan kembali kepada Tuhan, itulah yang terjadi. Dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para ibu, yang kiranya lebih banyak lebih memperhatikan dan mengasihi anak karena telah mengandung dan melahirkannya, untuk 'menyerahkan anak kepada Tuhan, seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan'. Dengan kata lain sebagaimana pernah dijanjikan ketika saling menerimakan sakramen perkawinan, yaitu 'mendidik anak-anak yang akan dianugerahkan Tuhan secara kristiani atau katolik' , hendaknya janji tersebut dihayati dengan benar dan baik. Didik, dampingi dan bimbing anak-anak secara kristiani atau katolik, dan ketika suatu saat sang anak tergerak untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, antara lain tergerak menjadi imam, bruder atau suster, hendaknya tidak ditolak, melainkan didukung sepenuhnya. Kebahagiaan sejati orangtua hemat kami adalah ketika anak-anak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa yang cerdas beriman serta menjadi kader masyarakat alias bahagia dan sejahtera dalam hidup dan panggilannya. Jika orangtua mendidik anak-anak dengan baik kiranya anak-anak akan tumbuh berkembang menjadi 'man or woman with/for others'. Untuk itu tentu saja para orangtua atau bapak itu dapat menjadi teladan sebagai 'man or woman with/for others'.

 

"Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat.

 Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.

TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.

TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga "

(1Sam 2:4-7)

Jakarta, 22 Desember 2009