Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 31 Mei 2010

1 Juni - 2Ptr 3:12-15a.17-18; Mrk 12:13-17

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!"

(2Ptr 3:12-15a.17-18; Mrk 12:13-17)


"Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia" (Mrk 12:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yustinus, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Martir adalah orang yang berani mati/mengorbakan dirinya karena kesetiaan atau ketaatan pada iman alias setia dan taat pada kehendak Tuhan, yang antara lain diterjemahkan ke dalam aneka aturan atau tatanan hidup dan kewajiban. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus berarti menghayati apa yang disabdakanNya : "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". Kita semua sebagai orang beriman memiliki panggilan untuk menjadi martir juga; hemat saya menghayati apa yang disabdakan oleh Yesus di atas ini juga merupakan bentuk kemartiran masa kini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak setia dan tidak taat kepada kewajibannya. Di Indonesia pada saat ini kiranya masih cukup ramai dibicarakan dan diberitakan perihal 'makelar pajak' alias penyelewengan perpajakan. Penyelewengan pajak dapat dilakukan oleh wajib pajak maupun para petugas penarik pajak alias pejabat pemerintah yang terkait, namun hemat saya akar penyelewengan ada pada para pejabat perpajakan. Rasanya jiga kewajiban membayar pajak dilakukan dengan setia dan tidak ada penyelewengan pajak, cita-cita bangsa kita akan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh  bangsa segera terwujud atau menjadi nyata. Sabda Yesus di atas mengajak dan mengingatkan kita untuk menjadi warganegara dan umat beriman yang baik (100% warganegara dan 100% beriman/katolik/islam/Kristen dst..). Kami berharap kepada para penegak hukum, pejabat pemerintah sungguh setia dalam menegakkan pemberlakuan hukum, aturan dan tatanan hidup bersama di semua bidang kehidupan bersama.

·   "Saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia" (2Ptr 3: 14). Kita semua menantikan atau mendambakan hidup dalam kebenaran alias kesejahteraan dan kebahagiaan sejati, dan untuk itu kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Pertama-tama dan terutama masing-masing dari kita sendiri hendaknya senantiasa 'kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya'  alias suci. Memang untuk mengusahakan dan menjaga kesucian hidup pada masa kini sungguh berat, harus menghadapi aneka macam godaan, tantangan dan hambatan serta rayuan untuk berbuat jahat. Kita tak mungkin sendirikan mengusahakan dan menjaganya, maka baiklah kita bekerjasama dengan saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerja bersama dengan kita. Marilah saling menolong dan mengingatkan: hendaknya ketika ada saudara-saudari kita ingin melakukan kejahatan segera kita ingatkan atau cegah, sebaliknya jika kita diingatkan oleh siapapun hendaknya ditanggapi dengan positif, tidak marah atau membenci terhadap mereka yang mengingatkan. Hidup suci berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan/Penyelenggaraan Ilahi. Diri kita tak pernah terlepas dari aneka macam sarana-prasarana dan lingkungan, maka kita juga dipanggil untuk mengusahakan dan menjaga kesucian sarana-prasarana maupun lingkungan hidup. Dengan kata lain marilah kita tingkatkan dan perdalam usaha perawatan terhadap aneka macam sarana-prasarana maupun lingkungan hidup, agar aneka macam sarana-prasarana maupun lingkungan hidup mendukung usaha kita untuk menjadi suci atau menjaga kesucian.

 

"Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam." (Mzm 90:2-4)

 

Jakarta, 1 Juni 2010      

  


Minggu, 30 Mei 2010

31 Mei - Rm 12:9-16b; Luk 1:39-56

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu".

(Rm 12:9-16b; Luk 1:39-56)


"Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya."(Luk 1:39-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas  bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Rekan-rekan perempuan, lebih-lebih yang telah berkeluarga, ketika tahu bahwa dirinya hamil pertama kali pada umumnya sangat gembira dan dengan gairah memberitahukan kehamilannya kepada suaminya maupun saudara-saudarinya atau orangtuanya. Suasana itulah kiranya yang terjadi dalam diri Elisabet maupun Maria, yang sama-sama sedang mengandung/hamil karena Roh Kudus. Maria sebagai yang lebih muda tergerak untuk mengujungi Elisabet, yang dimana tuanya dianugerahi anak/sedang hamil. Dua pribadi yang penuh Roh Kudus itupun ketika saling bertemu lalu saling memuji: Elisabet memuji Maria, karena terpilih untuk mengandung Penyelamat Dunia. Terhadap pujian Elisabet, Maria tidak menjadi sombong, melainkan rendah hati dengan mengidungkan 'Magnificat', kidung populer bagi mereka yang telah dipilih oleh Tuhan. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka kami berharap kita semua meneladan SP Maria, dan perkenankan secara khusus saya mengajak rekan-rekan perempuan untuk menjadi teladan keramahan dan kerendahan hati seperti SP Maria. Marilah kita hayati dengan konsekwen ketika kita saling bertemu juga saling mengucapakan 'selamat' (selamat pagi, selamat jumpa, dst..), yang berarti  kita saling mendambakan dan mengusahakan keselamatan, lebih-lebih keselamatan jiwa kita.


·   "Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!" (Rm 12:16), demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Apa yang kita butuhkan untuk hidup sehari-hari adalah apa-apa yang sederhana, misalnya makanan, minuman, sapaan/sentuhan kasih, tidur, bercakap-cakap dst… Kami percaya bahwa rekan-rekan perempuan lebih peka akan apa-apa yang sederhana daripada rekan-rekan laki-laki. Memang mereka yang merasa diri pandai pada umumnya lebih memikirkan perkara-perkara tinggi daripada perkara sederhana. Hemat saya orang yang sungguh pandai sejati pada umumnya dapat membuat sederhana apa yang tinggi dan berbelit-belit, sehingga yang dikatakan dan diusahakan dimengerti oleh semua orang, bukan membuat yang sederhana menjadi sulit dan berbelit-belit. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang merasa pandai atau memiliki kepakaran dalam ilmu atau keterampilan tertentu untuk membagikan kepandaian, kepakaran dan keterampilan bagi orang lain tanpa pandang bulu; dan memang untuk itu harus menyederhanakan perkara-perkara tinggi dan berbelit-belit. Kepada rekan-rekan yang terbiasa memperhatikan perkara-perkara sederhana yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari kami ucapkan banyak terima kasih. "Mengunjungi" hemat saya juga meruapakan perkara sederhana; mengunjungi berarti menghadirkan diri seutuhnya bagi yang lain. Ingat 'mengunjungi' bukan berarti harus banyak bicara atau omong-omong, melainkan yang utama dan pokok adalah hadir bersama.

 

"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!"(Yes 12:2-5)

 

 Jakarta, 31 Mei 2010   

Sabtu, 29 Mei 2010

30 Mei - Hari Raya TRITUNGGAL MAHAKUDUS

"Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku."

Hari Raya TRITUNGGAL MAHAKUDUS : Ams 8: 22-31; Rm 5:1-5; Yoh 16:12-15


Ketika saya masih belajar di tingkat dasar, Sekolah Rakyat/Dasar, setiap pagi saya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sendirian, kurang lebih berjarak 2,5 km. Saya belajar di sekolah katolik, Kanisius, dan di perjalanan ke sekolah saya sering berpapasan dengan anak-anak dari sekolah Islam, mereka tahu bahwa saya belajar di sekolah katolik. Ketika berpapasan saya sering menerima ejekan dalam bahasa Jawa demikian "Konjuk ing asmo Dalem Hyang Romo, Hyang Putro, Hyang Suci, yang-yangan, yangmu dhewe" (= Dalam nama Bapa, Putera, Roh Kudus, berpacaran, pacarmu sendiri). Mendengarkan ejekan tersebut tentu saja saya diam saja, antara takut dan juga tak mungkin menanggapi atau menjawab. Memang sebagai orang Kristen atau Katolik kita sering menerima ejekan atau sindiran perihal Tri Tunggal Mahakudus, dan sering menerima tuduhan juga bahwa kita tidak monotheis. Kita juga sering menerima serangan perihal ke Allah-an Yesus. Tritunggal Mahakudus secara implisit diajarkan oleh Yesus dan menjadi dogma Gereja, maka baiklah pada hari raya/pesta Tritunggal Mahakudus hari ini saya sampaikan refleksi sederhana perihal ajaran atau dogma tersebut.

 

"Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku."(Yoh 16:14-15)

 

"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1Yoh 4:8). Allah adalah kasih, demikian kata Yohanes dalam suratnya, maka hanya dalam dan oleh kasih kita dapat memahami dan mengimani Tritunggal Mahakudus. Dari kutipan sabda Yesus di atas ini dapat kita fahami bahwa kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus atau Tritunggal Mahakudus berada dalam kasih. Kasih itu tak terbatas, dengan kata lain kita tak mungkin memahami dan menjelaskan kasih sedemikian rupa sehingga dapat difahami oleh akal sehat. Kasih melampaui segala usaha, pikiran dan daya tangkap kita, sehingga Paulus kepada umat di Efesus berani berkata: "Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus," (Ef 3:18).

 

"Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenal Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diriNya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia" (KWI: IMAN KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 311-312). Pemahaman dan iman pada Tritunggal Mahakudus erat kaitannya dengan kasih Kristus, yang rasanya sulit difahami dan diimani  bagi sebagian orang. Kasih Kristus antara lain menjadi nyata dalam persembahan DiriNya di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. AjaranNya perihal kasih dengan mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang membenci rasanya juga sulit difahami dan diimani oleh sebagian orang. Kami percaya jika kita juga mengimani dan menghayati persembahan Diri Yesus di kayu salib serta ajaranNya perihal kasih, maka kita juga dapat mengimani dan menghayati Tritunggal Mahakudus, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak saling mengasihi satu sama lain. Misteri atau dogma tentang Tritunggal Mahakudus kiranya juga tidak terlalu jauh dengan hidup saling mengasihi antar suami-isteri sampai mati maupun hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster, yang sering juga sulit dimengerti oleh sebagian orang.       

 

"Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaKu",  demikian sabda Yesus. Yang dimaksudkan dengan "Ia" di sini adalah Roh Kudus, yang terus menerus berkarya tiada henti, kapan saja dan dimana saja untuk memberitakan kasih Kristus, segala sesuatu yang dimiliki oleh Yesus Kristus, yang telah diterima dari Bapa. Dengan kata lain hanya yang hidup dari dan oleh Roh Kudus dapat memahami dan mengimani Tritunggal Mahakudus, dan siapapun hidup dari dan oleh Roh Kudus akan menghayati keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23).

"Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Rm 5:3-5)

 

Kesengsaraan yang lahir dari kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan sejati, sebagaimana telah dialami oleh Yesus yang setia kepada Bapa yang mengutusNya. Maka baiklah kita renungkan peringatan atau pesan Paulus kepada umat di Roma di atas, bahwa "kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, tahan uji menimbulkan pengharapan akah kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus":

1)                  Yang dimaksudkan dengan sengsara tentu saja secara phisik, sosial dan psikologis, tetapi tidak secara spiritual, sebagaimana dua pribadi, laki-laki dan perempuan, yang sedang saling mengasihi (entah dalam berpacaran, tunangan atau sebagai suami-isteri), pada umumnya tidak akan terlepas dari kesengsaraan, namun kesengsaraan tersebut dihayati dengan gembira dan tekun, sehingga membuahkan ketekunan dalam saling mengasihi.

2)                    "Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu"(Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27). Tekun dalam saling mengasihi berarti dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun senantiasa saling mengasihi dengan penuh semangat dan gairah. Ia menghayati kasih Allah dalam kondisi dan situasi apapun dengan hidup dan bertindak saling mengasihi.

3)                   Tahan uji berarti ada harapan lulus dalam ujian atau berhasil dalam usaha dan upaya. Meskipun harus menderita dan sengsara orang tetap ceria dan gembira, itulah pengharapan. Apa yang diharapkan belum kelihatan atau terwujud, namun menggairahkan dan memberdayakan, karena yang menjadi pengharapan adalah kasih karunia Allah. Iman terhadap Tritunggal Mahakudus hendaknya juga ditandai dengan pengharapan, artinya dengan gembira, ceria, bergairah orang menghayati iman tersebut meskipun harus menghadapi aneka tantangan, kesulitan dan masalah.       

 

"Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku" (Ams 8:30-31) . Kutipan dari kitab Amsal ini kiranya memperkuat dan memperteguh kita yang  beriman pada Tritunggal Mahakudus yang sedang menghadapi tantangan atau masalah atau menderita. Marilah kita menjadi anak kesayangan Tuhan, sehingga setiap hari menjadi kesenanganNya karena kita senantiasa bermain di dalam Dia alias hidup dan bertindak di dalam Tuhan.  Beriman kepada Tritunggal Mahakudus berarti hidup dan bertindak dalam Tuhan atau bermain-main di hadapanNya, menjadi kesenangan Tuhan alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur.

 

"Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan".

(Mzm 8:4-9)

 

Jakarta, 30 Mei 2010