Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 01 Juni 2010

2 Juni - 2Tim 1:1-3.6-12; Mrk 12:18-27

"Orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga"

(2Tim 1:1-3.6-12; Mrk 12:18-27)


"Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itu pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!" (Mrk 12:18-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang yang  bersikap mental materialistis pada umumnya hanya memikirkan hal-hal duniawi atau yang dapat dinikmati dengan pancaindera saja, dan tidak atau kurang memikirkan hal-hal rohani atau spiritual, sebagaimana orang-orang Saduki yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Sebagai orang beriman atau beragama kita diharapkan tidak bersikap mental materialistis, tetapi spiritual atau rohaniah: menyadari dan menghayati bahwa diri kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah, yang berarti selama hidup di dunia ini menghayati karya Allah dalam ciptaan-ciptaanNya terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Kita dipanggil untuk memfungsikan hal-hal duniawi sebagai sarana untuk menyucikan diri, mengusahakan keselamatan jiwa, maka jika hal-hal duniawi mengganggu usaha penyelematan jiwa hendaknya ditinggalkan atau disiingkirkan. Tanda lain bahwa kita bersikap mental spiritual adalah tidak melupakan hidup doa harian, berdoa setiap hari sesuai dengan kebutuhan dan harapan agama masing-masing. Jika kita sungguh bersikap mental spiritual berarti kita juga percaya akan kebangkitan orang mati, artinya kita percaya akan hidup bahagia, bebas merdeka selama-lamanya di sorga. Sebaliknya selama di dunia kita tidak bebas merdeka tanpa aturan apapun, melainkan dengan lepas bebas dan gembira melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Kami berharap kepada siapapun yang bersikap mental materialistis untuk bertobat.


·   "Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." (2Tim 1:6-7), demikian kutipan surat Paulus kepada Timoteus. Kasih karunia Allah yang dianugerahkan kepada kita membuat kita  bangkit dalam hal kekuatan, kasih dan ketertiban; kita menjadi orang yang kuat dan handal dalam mengasihi dan hidup tertib. Bersikap dan hidup tertib pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebar-luaskan. "Sikap tertib adalah sikap dan perilaku yang teratur, taat asas, konsisten, dan mempunyai sistematika tertentu merupakan cermin seorang yang disiplin" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 25-26). Kami berharap kepada siapapun yang menentukan atau berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam hal ketertiban dalam bidang kehidupan apapun. Perkenankan saya mengingatkan bahwa siapapun yang tertib dalam hal keuangan pada umumnya juga tertib dalam hal-hal yang lain, sebaliknya siapapun yang tidak tertib dalam hal keuangan pada umumnya juga amburadul dalam perkara-perkara lain. Marilah kita hayati kasih karunia Allah dengan mengelola dan mengurus harta benda atau uang dengan tertib. Hendaknya anak-anak dibiasakan hidup tertib di dalam keluarga maupun sekolah dengan teladan konkret dari para orangtua maupun guru/pendidik. Tertib di jalanan dengan mentaati aneka rambu lalu lintas juga merupakan cermin kwalitas masyarakat atau bangsa.

 

"Kepada-Mu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita"

 (Mzm 123:1-2).

  Jakarta, 2 Juni 2010

     


Senin, 31 Mei 2010

1 Juni - 2Ptr 3:12-15a.17-18; Mrk 12:13-17

"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!"

(2Ptr 3:12-15a.17-18; Mrk 12:13-17)


"Kemudian disuruh beberapa orang Farisi dan Herodian kepada Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencobai Aku? Bawalah ke mari suatu dinar supaya Kulihat!" Lalu mereka bawa. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" Mereka sangat heran mendengar Dia" (Mrk 12:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yustinus, martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Martir adalah orang yang berani mati/mengorbakan dirinya karena kesetiaan atau ketaatan pada iman alias setia dan taat pada kehendak Tuhan, yang antara lain diterjemahkan ke dalam aneka aturan atau tatanan hidup dan kewajiban. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus berarti menghayati apa yang disabdakanNya : "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah". Kita semua sebagai orang beriman memiliki panggilan untuk menjadi martir juga; hemat saya menghayati apa yang disabdakan oleh Yesus di atas ini juga merupakan bentuk kemartiran masa kini, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak setia dan tidak taat kepada kewajibannya. Di Indonesia pada saat ini kiranya masih cukup ramai dibicarakan dan diberitakan perihal 'makelar pajak' alias penyelewengan perpajakan. Penyelewengan pajak dapat dilakukan oleh wajib pajak maupun para petugas penarik pajak alias pejabat pemerintah yang terkait, namun hemat saya akar penyelewengan ada pada para pejabat perpajakan. Rasanya jiga kewajiban membayar pajak dilakukan dengan setia dan tidak ada penyelewengan pajak, cita-cita bangsa kita akan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh  bangsa segera terwujud atau menjadi nyata. Sabda Yesus di atas mengajak dan mengingatkan kita untuk menjadi warganegara dan umat beriman yang baik (100% warganegara dan 100% beriman/katolik/islam/Kristen dst..). Kami berharap kepada para penegak hukum, pejabat pemerintah sungguh setia dalam menegakkan pemberlakuan hukum, aturan dan tatanan hidup bersama di semua bidang kehidupan bersama.

·   "Saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia" (2Ptr 3: 14). Kita semua menantikan atau mendambakan hidup dalam kebenaran alias kesejahteraan dan kebahagiaan sejati, dan untuk itu kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Pertama-tama dan terutama masing-masing dari kita sendiri hendaknya senantiasa 'kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapanNya'  alias suci. Memang untuk mengusahakan dan menjaga kesucian hidup pada masa kini sungguh berat, harus menghadapi aneka macam godaan, tantangan dan hambatan serta rayuan untuk berbuat jahat. Kita tak mungkin sendirikan mengusahakan dan menjaganya, maka baiklah kita bekerjasama dengan saudara-saudari kita yang setiap hari hidup atau bekerja bersama dengan kita. Marilah saling menolong dan mengingatkan: hendaknya ketika ada saudara-saudari kita ingin melakukan kejahatan segera kita ingatkan atau cegah, sebaliknya jika kita diingatkan oleh siapapun hendaknya ditanggapi dengan positif, tidak marah atau membenci terhadap mereka yang mengingatkan. Hidup suci berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan/Penyelenggaraan Ilahi. Diri kita tak pernah terlepas dari aneka macam sarana-prasarana dan lingkungan, maka kita juga dipanggil untuk mengusahakan dan menjaga kesucian sarana-prasarana maupun lingkungan hidup. Dengan kata lain marilah kita tingkatkan dan perdalam usaha perawatan terhadap aneka macam sarana-prasarana maupun lingkungan hidup, agar aneka macam sarana-prasarana maupun lingkungan hidup mendukung usaha kita untuk menjadi suci atau menjaga kesucian.

 

"Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam." (Mzm 90:2-4)

 

Jakarta, 1 Juni 2010      

  


Minggu, 30 Mei 2010

31 Mei - Rm 12:9-16b; Luk 1:39-56

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu".

(Rm 12:9-16b; Luk 1:39-56)


"Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya."(Luk 1:39-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas  bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Mengunjungi Elisabet hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Rekan-rekan perempuan, lebih-lebih yang telah berkeluarga, ketika tahu bahwa dirinya hamil pertama kali pada umumnya sangat gembira dan dengan gairah memberitahukan kehamilannya kepada suaminya maupun saudara-saudarinya atau orangtuanya. Suasana itulah kiranya yang terjadi dalam diri Elisabet maupun Maria, yang sama-sama sedang mengandung/hamil karena Roh Kudus. Maria sebagai yang lebih muda tergerak untuk mengujungi Elisabet, yang dimana tuanya dianugerahi anak/sedang hamil. Dua pribadi yang penuh Roh Kudus itupun ketika saling bertemu lalu saling memuji: Elisabet memuji Maria, karena terpilih untuk mengandung Penyelamat Dunia. Terhadap pujian Elisabet, Maria tidak menjadi sombong, melainkan rendah hati dengan mengidungkan 'Magnificat', kidung populer bagi mereka yang telah dipilih oleh Tuhan. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka kami berharap kita semua meneladan SP Maria, dan perkenankan secara khusus saya mengajak rekan-rekan perempuan untuk menjadi teladan keramahan dan kerendahan hati seperti SP Maria. Marilah kita hayati dengan konsekwen ketika kita saling bertemu juga saling mengucapakan 'selamat' (selamat pagi, selamat jumpa, dst..), yang berarti  kita saling mendambakan dan mengusahakan keselamatan, lebih-lebih keselamatan jiwa kita.


·   "Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!" (Rm 12:16), demikian peringatan atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Apa yang kita butuhkan untuk hidup sehari-hari adalah apa-apa yang sederhana, misalnya makanan, minuman, sapaan/sentuhan kasih, tidur, bercakap-cakap dst… Kami percaya bahwa rekan-rekan perempuan lebih peka akan apa-apa yang sederhana daripada rekan-rekan laki-laki. Memang mereka yang merasa diri pandai pada umumnya lebih memikirkan perkara-perkara tinggi daripada perkara sederhana. Hemat saya orang yang sungguh pandai sejati pada umumnya dapat membuat sederhana apa yang tinggi dan berbelit-belit, sehingga yang dikatakan dan diusahakan dimengerti oleh semua orang, bukan membuat yang sederhana menjadi sulit dan berbelit-belit. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang merasa pandai atau memiliki kepakaran dalam ilmu atau keterampilan tertentu untuk membagikan kepandaian, kepakaran dan keterampilan bagi orang lain tanpa pandang bulu; dan memang untuk itu harus menyederhanakan perkara-perkara tinggi dan berbelit-belit. Kepada rekan-rekan yang terbiasa memperhatikan perkara-perkara sederhana yang menjadi kebutuhan kita sehari-hari kami ucapkan banyak terima kasih. "Mengunjungi" hemat saya juga meruapakan perkara sederhana; mengunjungi berarti menghadirkan diri seutuhnya bagi yang lain. Ingat 'mengunjungi' bukan berarti harus banyak bicara atau omong-omong, melainkan yang utama dan pokok adalah hadir bersama.

 

"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!"(Yes 12:2-5)

 

 Jakarta, 31 Mei 2010