Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 22 Juni 2010

22 Juni - 2Raj 19: 5b-11.14-21.31-35a.36; Mat 7:6.12-14

"Lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan"

(2Raj 19: 5b-11.14-21.31-35a.36; Mat 7:6.12-14)

 

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."(Mat 7:6.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Salah satu bentuk 'jalan yang menuju kepada kebinasaan'  adalah hidup dan bertindak mengkuti keinginan sendiri, seenaknya sendiri, sesuai selera pribadi (Jawa:'sak penake dhewe'). Orang bertindak seenaknya tanpa aturan untuk memenuhi gairah nafsunya. Maka Yesus bersabda "Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya".  "Masuk melalui pintu yang sesak" berarti hidup dan melangkah atau bertindak sesuai dengan janji-janji yang pernah kita ikrarkan, misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pelajar, mahasiswa, pekerja, dst.., yang disertai dengan aneka aturan dan tatanan untuk ditaati dan dilaksanakan. Perkenankan di sini saya mengangkat 'janji perkawinan' dan mengajak para suami-isteri untuk mawas diri dalam penghayatan hidup berkeluarga sebagai suami-isteri. Hendaknya saling setia pada pasangan masing-masing, tidak selingkuh atau menyeleweng, maka suami memiliki 'WIL' dan isteri memiliki 'PIL'. Hidup setia sebagai suami-isteri, saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati pada masa kini memang sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan. Kami percaya bahwa kesetiaan suami-isteri dapat menjadi 'wahana' menuju kehidupan sejati bagi mereka sendiri maupun anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka serta kerabat dan kenalannya. Hidup berkeluarga yang baik merupakan dasar hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

·   " Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah Allah, ya TUHAN." (2Raj 19:19), demikian doa Hizkia, yang mengalami atau menghadapi kesesakan hidup. Apa yang dilakukan oleh Hizkia ini kiranya.dapat menjadi teladan bagi kita semua, yaitu ketika menghadapi kesesakan, tantangan, masalah atau hambatan hendaknya tidak mengandalkan kemampuan diri sendiri saja, tetapi ingat akan Tuhan antara dengan berdoa mohon rahmat dan kekuatan dari Tuhan.  Doa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beragama atau beriman, maka kami berharap kita tidak pernah melupakan doa dalam hidup, kesibukan dan pelayanan kita setiap hari, tidak hanya ketika sedang menghadapi kesesakan saja. Percayalah, imanilah bahwa kesesakan, tantangan dan masalah yang harus kita hadapi merupakan jalan menuju kebahagiaan atau hidup sejati, maka jangan dihindari tetapi hadapi bersama dengan Tuhan. Tuhan adalah mahasegalanya, maka bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi segala kesesakan, tantangan dan masalah. Bersama dan bersatu dengan Tuhan juga berarti bersama dan bersatu dengan sesama atau saudara-saudari kita, maka dalam menghadapi kesesakan, masalah dan tantangan berarti kita tidak boleh sendirian, melainkan bekerjasama dengan saudara-saudari kita. Bekerja sendirian bagaikan 'lidi' yang lepas dari ikatan sapu, dan dengan demikian menjadi sampah dan mengganggu, sebaliknya bekerja bersama bagaikan banyak lidi diikat menjadi sapu lidi dan akan fungsional untuk keselamatan, kebersihan dan keindahan. Memang bekerjasama dengan orang lain pada masa kini sungguh menantang, mengingat dan memperhatikan kecenderungan kita masing-masing untuk bekerja sendiri-sendiri, seenaknya sendiri, semau gue. Ingatlah dan hayatilah bahwa masing-masing dari kita adalah hasil atau buah kerjasama (kerjasama bapak dan ibu kita), maka hanya dalam kerjasama kita dapat tumbuh berkembang dengan baik.

 

"Besarlah TUHAN dan sangat terpuji di kota Allah kita! Gunung-Nya yang kudus, yang menjulang permai, adalah kegirangan bagi seluruh bumi; gunung Sion itu, jauh di sebelah utara, kota Raja Besar. Dalam puri-purinya Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai benteng" (Mzm 48:2-4)

      

Jakarta, 22 Juni 2010


23 Juni - 2Raj 22:8-13; 23:1-3; Mat 7:15-20)

"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka"

(2Raj 22:8-13; 23:1-3; Mat 7:15-20)

 

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Mat 7:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pada masa kini memang berkembang aneka macam bentuk pemalsuan atau penyamaran dengan tujuan untuk mencari keuntungan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain. Pemalsuan dalam bentuk barang yang terjadi di sana-sini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang tidak jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain. Celakanya adalah jika orang tersebut berpengaruh di dalam kehidupan bersama, sehingga apa yang dilakukan dapat mencelakakan banyak orang. Warta Gembira hari ini mengingatkan kita semua untuk waspada terhadap aneka pemalsuan dan penyamaran, serta mengenali orang melalui buahnya, yaitu perilaku atau tindakannya yang jujur. Buah yang terbaik adalah yang menyelamatkan jiwa manusia, maka marilah kita lihat dan cemati berbagai macam cara hidup dan cara bertindak orang apakah berbuahkan keselamatan jiwa manusia, dan dari diri kita sendiri hendaknya senantiasa mengusahakan keselamatan jiwa melalui cara hidup dan cara bertindak kita. Warta Gembira hari ini kiranya juga mengingatkan para orang tua maupun pengelola aneka usaha dan pembinaan/pendampingan manusia: kwalitas hasil jerih payah anda akan terlibat dari 'buah'nya, yaitu anak-anak yang anda lahirkan dan didik, para peserta didik/binaan yang anda bina/didik, dst..  Maka pertama-tama saya senantiasa mengingatkan para orangtua, mengingat dan memperhatikan keluarga merupakan dasar hidup bersama: hendaknya para orangtua berusaha mendidik dan membina anak-anaknya agar tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, berbudi pekerti luhur, semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya.

·   "Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi rakyat dan bagi seluruh Yehuda, tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang bernyala-nyala terhadap kita, oleh karena nenek moyang kita tidak mendengarkan perkataan kitab ini dengan berbuat tepat seperti yang tertulis di dalamnya." (2Raj 22:13), demikian perintah raja kepada para imamnya. Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi siapapun yang bertugas untuk menasihati, mengajar, mendidik, membina, mendampingi dst. dalam bidang kehidupan, pelayanan maupun pendidikan apapun. Secara khusus para imam, katekis atau guru agama kami ingatkan dan ajak: hendaknya dalam memberi kotbah, berkatekese atau mengajar senantiasa memungkinkan dan mempermudah para pendengar semakin menghayati atau melaksanakan perintah-perintah Tuhan antara lain semakin hidup saling mengasihi dan melayani, sehingga kehidupan bersama semakin menarik, mempesona, …semakin dikasihi oleh Tuhan dan semua orang. Demikian juga kami mengingatkan para orangtua: hendaknya dalam mendidik, memberi nasihat dan mengarahkan anak-anak lebih mengutamakan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi manusia baik dan berbudi pekerti luhur, dan tentu saja para orangtua sendiri dapat menjadi contoh atau teladan sebagai orang yang baik dan berbudi pekerti luhur. Dengan kata lain ketika ada ketidak beresan atau kekacauan hidup bersama dimanapun ada kemungkinan ada orang-orang yang kurang baik, kurang beriman, dimana cara hidup atau cara bertindaknya senantiasa mengacau dan merusak kehidupan bersama. Mereka ini adalah orang-orang egois, yang hanya mencari keenakan atau keuntungan diri sendiri, kurang peka terhadap sesamanya. Kami juga mengingatkan kita semua untuk senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka aturan atau tatanan hidup bersama, yang tertulis atau terpampang di sana-sini.

 

"Perlihatkanlah kepadaku, ya TUHAN, petunjuk ketetapan-ketetapan-Mu, aku hendak memegangnya sampai saat terakhir. Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati. Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba. Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan "

(Mzm 119:33-37)

 

Jakarta, 23 Juni 2010


Minggu, 20 Juni 2010

21 Juni - 2Raj 17:5-8.13-15a.18; Mat:1-5)

"Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi."

(2Raj 17:5-8.13-15a.18; Mat:1-5)

 

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Aloysius Gonzaga, biarawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Senantiasa berpikiran positif ('positive thinking')  daripada berpikiran negatif ('negative thingking') terhadap sesama atau orang lain, itulah inti Warta Gembira hari ini. Dengan kata lain kita dipanggil untuk bersemangat 'karya penciptaan', yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangan ke arah yang baik, benar, mulia dan indah. Kami percaya bahwa di dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada yang buruk, benar daripada salah, mulia daripada jorok, indah daripada amburadul. Maka pertama-tama kami harapkan agar kita sendiri senantiasa berpikiran positif terhadap diri kita sendiri, dan dengan demikian kita akan lebih mudah untuk berpikiran positif terhadap orang lain. Kita semua dipanggil untuk mahir atau ahli kebaikan bukan kejahatan alias ahli Roh Kudus, terampil dalam pembedaan roh (spiritual discernment). Maka kami mengajak anda sekalian untuk membiasakan latihan pembedaan roh atau pemeriksaan batin setiap hari (ingat pemeriksaan batin adalah bagian dari doa malam, doa harian). Hari ini kita kenangkan St.Aloysius Gonzaga, Yesuit muda/ biarawan, yang dikenal kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan dalam tugas, dan ia menjadi teladan bagi kawan-kawannya. Kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan juga merupakan buah atau kasih karunia Roh Kudus, anugerah Allah. Marilah kita mengusahakan dan memperdalam keutamaan kerendahan hati, ketaatan dan ketekunan, serta dengan rendah hati kita lihat dan akui keutamaan-keutamaan tersebut dalam diri saudara-saudari kita.

·   "Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi." (2Raj 17:13), demikian nasihat atau pesan para nabi kepada bangsa terpilih. Pesan atau nasihat ini kiranya juga terarah pada kita semua, maka marilah kita renungkan dan hayati atau laksanakan.  Aneka macam bentuk kejahatan membuat kabur penglihatan mati hati kita, suara hati kita semakin buta dan kita tak mampu membedakan apa yang baik dan buruk. Kita diingatkan untuk setia mengikuti dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan, yang antara lain dapat kita lihat dalam berbagai kehendak baik saudara-saudari kita, dalam aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita saling melihat dan mendengarkan kehendak baik kita untuk disinerjikan dan kemudian dihayati bersama-sama. Dalam kehidupan bersama senantiasa ada aturan atau tatanan, entah lisan atau tertulis, yang harus kita taati atau laksanakan. Kami angkat lagi perihal peraturan berlalu lintas di jalanan, dimana dapat kita lihat aneka rambu-rambu lalu lintas. Ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas atau kedisiplinan berlalu lintas hemat saya merupkan cermin kehidupan bersama: hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketaatan dan kedisiplinan ini kami harapkan sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga maupun sekolah dengan teladan konkret dari para orangtua maupun para guru/pendidik. Ketaatan utama atau dasar adalah taat kepada kehendak Tuhan, maka kepada mereka yang akrab dan mesra hidup bersama dengan Tuhan selayaknya kehendak, nasihat atau pesannya kita dengarkan dan laksanakan, karena mereka bagaikan nabi-nabi yang diutus oleh Allah untuk mewartakan apa yang baik dan benar.

 

"Ya Allah, Engkau telah membuang kami, menembus pertahanan kami; Engkau telah murka; pulihkanlah kami! Engkau telah menggoncangkan bumi dan membelahnya; perbaikilah retak-retaknya, sebab bumi telah goyang. Engkau telah membuat umat-Mu mengalami penderitaan yang berat, Engkau telah memberi kami minum anggur yang memusingkan." (Mzm 60:3-5)

Jakarta, 21 Juni 2010