Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 24 Agustus 2010

25 Agustus - 2Tes 3:6-10.16-18; Mat 23:27-32

"Di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan"

(2Tes 3:6-10.16-18; Mat 23:27-32)

 

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu" (Mat 23:27-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Sandiwara kehidupan" rasanya masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang pada masa kini alias bersikap mental 'Farisi'. Dalam menghadirkan atau menampilkan diri nampak begitu baik, penuh senyum, dan mempesona, namun maksud penampilan yang demikian itu tidak lain adalah untuk bertindak jahat, mengelabui atau menipu orang lain. "Di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan", demikian sabda Yesus. Yang bersikap dan berperilaku demikian itu antara lain para pelacur/wanita penghibur asusila ataupun pria hidung belang, para korupsi, pencopet, penipu dst.. Marilah kita sebagai orang beriman menjauhkan diri dari aneka macam sikap dan perilaku munafik, sandiwara atau pura-pura. Salah satu cara untuk itu antara lain hidup dan bertindak sederhana: sederhana dalam cara bicara, sederhana dalam penampilan diri, dst.. Dengan kata lain hendaknya jangan membeli dan menambahi beban pada diri sendiri apa-apa yang tidak berguna. Pada masa kini terjadi pemborosan besar-besaran yang dilakukan oleh mereka yang tak mau hidup sederhana, misalnya: membeli sarana teknologi seperti HP atau 'computer/note-book', yang serba komplit dan berharga mahal, padahal tidak semuanya fisilitas yang ada dalam HP maupun computer tersebut digunakan. Juga ada orang yang setiap kali muncul model baru senantiasa dibeli, padahal yang ada sudah cukup dan memadai. Cara hidup yang demikian mau tidak mau akan memotivasi atau mendorong orang untuk bersikap mental 'Farisi' atau sandiwara, di sebelah luar nampak benar di mata orang, tetapi di dalamnya busuk, buruk dan menjijikkan. Sekali lagi marilah kita hidup dan bertindak sederhana saja, agar survival dalam berbagai keadaan atau perubahan dan perkembangan.

·   "Kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu." (2Tes 3:7-8), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Tesalonika, kepada kita semua umat beriman."Kami tidak lalu bekerja di antara kamu dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payang siang malam, supaya jangan menjadi bean bagi siapapun di antara kamu", inilah yang baik kita hayati dalam diri kita masing-masing. Dengan kata lain marilah kita tidak seperti 'benalu', yang mencuri atau merampok hak orang lain tanpa mau bekerja keras sendiri. Marilah kita berusaha seoptimal mungkin agar kita tidak menjadi beban bagi orang lain, artinya kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun tidak menjadi beban atau membuat orang lain menderita. Secara khusus kepada yang sudah berkeluarga atau keluarga muda kami harapkan berusaha hidup mandiri, tidak menggantungkan hidup keluarga pada orangtua atau mertua. Jauhi sikap 5 M (Madep Mantep Mangan Melu Morotua= dengan mantap makan dan minum ikut mertua). Pada masa kini di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dst.. kiranya cukup banyak orang yang bersikap mental 'benalu'. Dengan keyakinan yang tanpa dasar orang pergi ke kota besar untuk mencari pekerjaan, tetapi yang terjadi menumpang hidup di tempat saudaranya (om, pakde dst..), sehingga menjadi beban bagi saudaranya tersebut. Maka kami berharap mereka yang tinggal dan hidup di kota besar hendaknya tidak menggoda bahkan mengajak saudara-saudarinya dari desa atau pelosok, jika mereka tiada memiliki kemungkinan atau kesempatan untuk hidup dan bekerja sendiri.

 

"Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN. Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu" (Mzm 128:1-2.4-5)

 

Jakarta, 25 Agustus 2010


Senin, 23 Agustus 2010

24 Agustus - Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51

"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"

(Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51).

 

"Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia." (Yoh 1:45-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Bartolomeus, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Curiga atau berprasangka buruk terhadap yang lain, lebih-lebih terhadap mereka yang telah mendapat 'cap buruk' dalam percaturan, rasanya marak di sana-sana, terutama dalam diri mereka yang berpedoman pada 'negative thinking'. Itulah kiranya yang dilakukan oleh Natanael atau Bartolomeus, ketika mendengar kata-kata Filipus "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam Kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret". Namun setelah ia bertemu dengan Yesus sendiri dengan tatap muka, ia menjadi percaya. Sifat Bartolomeus adalah jujur, ia jujur terhadap diri sendiri maupun sesamanya. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Bartomeus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal keutamaan kejujuran. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). Hidup dan bertindak jujur pada masa kini sungguh mendesak dan up to date , mengingat dan memperhatikan masih maraknya korupsi dan kebohongan serta kepalsuan di sana-sini. Salah satu cara mendidik dan membiasakan diri hidup jujur antara lain di sekolah-sekolah diberlakukan 'dilarang menyontek' baik dalam ulangan maupun ujian. Membiarkan dan memberi kesempatan para murid/peserta didik/mahasiswa untuk menyontek berarti menyuburkan korupsi dan kebohongan.


·   "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." (Why 21:9b). Kutipan ini merupakan symbol yang baik dan hendaknya kita tanggapi secara positif. Pengantin perempuan pada umumnya tampil dengan sangat cantik, mempesona, menarik serta ceria. Sedangkan yang dimaksudkan sebagai 'mempelai Anak Domba' adalah orang suci, yang bersatu erat dan mesra dengan Yesus alias menjadi 'sahabat-sahabat Yesus sejati'. Maka ajakan tersebut di atas dapat kita hayati dengan senantiasa berusaha melihat dan mengakui apa yang baik, indah, luhur, mulia serta mempesona dalam diri kita sendiri maupun sesama kita dimanapun dan kapanpun. Dengan kata lain senantiasa berpedoman pada prinsip "positive thinking". Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik daripada apa yang buruk, apa yang mulia daripada yang remeh, apa yang luhur daripada yang rendah, dst. Disamping itu masing-masing dari kita diharapkan senantiasa tampil atau menghadirkan diri bagaikan 'pengantin perempuan', yang mempesona, menarik dan ceria, gembira ria. Tidak ada alasan untuk tidak gembira jika kita sungguh beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Mereka yang sedang menjadi pengantin kiranya juga bersikap mempersembahkan diri kepada pasangannya maupun mereka yang hadir untuk berpartisipasi dalam pesta atau upacara  perkawinan. Pengantin senantiasa menjadi perhatian utama bagi mereka yang harus dalam pesta atau upacara perkawinan dan rasanya semuanya dalam keadaan menarik, mempesona dan ceria. Marilah kita jadikan hidup dan kerja sehari-hari bagaikan sedang dalam pesta perkawinan. Marilah kita hayati iman kita dengan menjadi pewarta-pewarta kabar gembira, menghayati dan menyebarluaskan apa-apa yang baik, indah, benar, mulia dan suci di dalam hidup sehari-hari. Kita semua memilih tugas perutusan atau rasuli untuk menyelamatkan dunia seisinya.

 

"Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan"

 (Mzm 145:10-13a)

Jakarta, 24 Agustus 2010     


Minggu, 22 Agustus 2010

23 Agustus - 2Tes 1:1-5.11b-12; Mat 23:13-22

 "Apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?"

(2Tes 1:1-5.11b-12; Mat 23:13-22)

 

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?"(Mat  23:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·  Setiap hari kiranya kita berdoa 'Bapa kami', jika tidak melupakan kebutuhan doa harian. Dalam doa Bapa kami antara lain kita berdoa/berkata "Dimuliakanlah namaMu…..di atas bumi seperti di dalam sorga". Dengan kata lain kita mendambakan cara hidup dan cara bertindak yang memuliakan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. Memuliakan Tuhan berarti menomorsatukan atau mengutamakan Tuhan di dalam segala sesuatu. Maka sabda atau pertanyaan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi "apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?"  baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua. Apakah yang lebih penting harta benda/uang atau kesucian hidup? Makanan dan pakaian atau manusia, tubuh atau jiwa? Sebagai orang beriman sejati tentu saja kita akan memilih dan mengutamakan kesucian hidup manusia alias keselamatan jiwa manusia. Maka marilah keselamatan jiwa manusia senantiasa kita jadikan acuan atau barometer keberhasilan cara hidup dan cara bertindak kita, bukan harta benda, uang atau aneka hal-hal duniawi. Sekiranya kita kaya akan harta benda atau uang hendaknya memfungsikannya untuk mengusahakan kesucian hidup atau keselamatan jiwa kita sendiri maupun mereka yang kena dampak hidup dan tindakan kita. Dalam dunia pendidikan hendaknya ledih diutamakan agar para peserta didik lebih tumbuh berkembang sebagai pribadi yang baik dan cerdas spiritual daripada kecerdasan intelektual atau kepandaian.

·   "Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus." (2Tes 1:11b-12). Kita semua dipanggil untuk menyempurnakan kehendak untuk berbuat baik dan segala pekerjaan iman kita, maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan dalam melaksanakan tugas panggilan ini. Dengan kata lain kita semua diharapkan semakin baik, yang antara lain ditandai senang berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sekali lagi saya katakan bahwa perbuatan baik adalah yang menyelamatkan jiwa manusia  Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kebaikan Allah secara melimpah ruah melaui mereka yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita, sehingga kita dapat tumbuh berkembang dan hidup sebagai mana adanya pada saat ini. Maka untuk meningkatkan perbuatan baik berarti dengan suka rela berani menyalurkan atau meneruskan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri kita masing-masing. Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing apa yang baik lebih banyak daripada apa yang buruk, maka berikanlah apa yang baik kepada orang lain, lebih-lebih nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup. Nilai atau keutamaan hidup semakin dibagikan atau diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang sedikitpun, bahkan semakin bertambah, semakin handal, kuat dan mendalam. "Ilmu iku kelakone kanthi laku" = nilai atau keutamaan kehidupan itu terjadi karena dihayati atau dilaksanakan, bukan dikatakan atau dijadikan bahan diskusi.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit." (Mzm 96:1-5)

 

Jakarta, 23 Agustus 2010