Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 11 Oktober 2010

12 Okt - Gal 4:31b-5:6; Luk 11:37-41

"Kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan".

(Gal 4:31b-5:6; Luk 11:37-41)

 

"Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumahnya. Maka masuklah Ia ke rumah itu, lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan. Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu" (Luk 11:37-41), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang atau kelompok menyelenggarakan pesta dengan dana pinjaman, maka setelah pesta mereka harus bersedih dan bekerja keras karena ditagih hutang. Demikian juga orang-orang Jawa pada umumnya bagian luar atau depan bangunan rumah nampak begitu indah dan menarik, tetapi bagian dalam kotor dan amburadul, sebaliknya orang-orang Tionghoa sering bagian depan atau luar bangunan rumahnya nampak sederhana namun di bagian dalamnya bersih, indah dan menarik. Demikian juga ada orang nampak cantik, mempesona dan menarik, namun sebenarnya yang bersangkutan adalah penjahat atau pelacur, nampak tampan dan gagah namun yang bersangkutan sebenarnya pencopet atau koruptor. Itulah sikap mental Farisi yang menjangkiti cukup banyak orang masa kini alias bersikap munafik atau bersandiwara dalam kehidupan. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua pertama-tama untuk jujur terhadap diri sendiri, entah secara pribadi, keluarga atau kelompok. Kita juga diharapkan hati dan jiwa kita sungguh bersih dan jernih alias suci, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita juga bersih dan jernih, tiada pemalsuan atau permainan sandiwara apapun. Apa yang ada di luar, seperti cara berpakaian atau menampilkan diri hendaknya sesuai dengan apa yang ada di dalam yaitu yang ada di dalam hati dan jiwa kita. Jika kita tidak dapat jujur terhadap diri sendiri, mustahil kita dapat jujur terhadap orang lain, sebaliknya jika kita dapat jujur terhadap diri sendiri, maka dengan mudah kita jujur terhadap orang lain maupun lingkungan hidup kita. Kejujuran pada masa kini hemat saya mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan, dan kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dibiasakan untuk hidup dan bertindak jujur dengan teladan dari bapak-ibu atau orangtua.

·   "Saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka"(Gal 4:31), demikian kesaksian iman atau peringatan Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua umat beriman. Marilah kita hayati diri sebagai orang-orang yang bebas merdeka, tentu saja lebih-lebih dan terutama bebas merdeka dari aneka macam bentuk kejahatan atau perilaku yang tidak baik. Kemerdekaan sejati adalah bebas dari aneka macam bentuk penjajahan setan atau kejahatan alias senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan kapanpun dan dimanapun. Bersama atau bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa berbuat baik kepada sesama dan lingkungan hidupnya, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama  manusia. Bebas merdeka sejati berarti berbudi pekerti luhur, maka orang yang sungguh bebas merdeka akan unggul dalam salah satu cirikhas berbudi pekerti luhur ini dan ciri-ciri lain secara inklusif dihayati juga, yaitu : "  bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet "(Prof.Dr.Sedyawati/edit: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Cirikhas mana yang sebaiknya kita hayati dan sebarluaskan dalam lingkungan hidup kita sehari-hari?

 

"Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu,.. Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya. Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu" (Mzm 119:41.43-45).

 

 Jakarta, 12 Oktober 2010    


Minggu, 10 Oktober 2010

11 Okt - Gal 4:22-24.26-27.31-5:1; Luk 11:29-33

"Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang"

(Gal 4:22-24.26-27.31-5:1; Luk 11:29-33)


"Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!" "Tidak seorang pun yang menyalakan pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk, dapat melihat cahayanya" (Luk 11:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cara hidup dan cara bertindak seseorang mencerminkan keyakinan iman atau kepribadiannya atau sebagai tanda macam apakah orang yang bersangkutan. Demikian juga cara berpakaian juga mencerminkan pribadi yang bersangkutan. Warta Gembira hari ini meningatkan dan mengajak kita dua hal, yaitu (1) hendaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan iman atau ajaran kita masing-masing dan (2) hendaknya kita peka terhadap cara hidup dan cara bertindak saudara-saudari kita untuk mengenali siapakah dia sebenarnya. Pertama-tama dan terutama marilah kita hayati iman kita dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari alias dalam atau dengan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita transformasikan aneka macam nilai dan keutamaan hidup yang telah kita terima atau dengarkan atau ketahui ke dalam cara berperilaku kita sehari-hari. Keunggulan hidup beriman terletak pada cara hidup dan cara bertindak atau berperilaku. Selanjutnya hendaknya kita peka akan tanda-tanda zaman, entah dalam aneka peristiwa yang terjadi di lingkungan hidup kita maupun dalam apa yang dilakukan oleh saudara-saudari kita. Jika kita peka terhadap aneka macam tanda-tanda atau gejala yang ada di lingkungan hidup kita kiranya kita akan hidup dan bertindak dengan bijak dan menyelamatkan. Mungkin latihan kepekaan ini pertama-tama dan terutama peka terhadap apa yang terjadi dalam tubuh kita masing-masing, sehingga kita dapat menempatkan diri dengan baik dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. Apa yang terjadi dalam diri kita antara lain: bagi rekan-rekan perempuan adalah pengalaman atau peristiwa menjelang, saat atau sesudah mentruasi, sedangkan bagi rekan-rekan laki-laki terkait dengan kesehatan antara lain ketika bangun pagi badan terasa pegal atau tidak enak ada kemungkinan ada kelebihan kolesterol atau trikeserit dalam tubuh kita, dst..

·   "Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami." (Gal 4:27). Kutipan surat Paulus kepada umat di Galatia ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua agar "hidup tidak hanya untuk diri sendiri tetapi bagi orang lain" alias sosial terhadap saudara-saudari kita. Hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita atau kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka harus dihayati atas nama Allah demi kebahagiaan atau keselamatan semua orang. Secara khusus mungkin peringatan Paulus tersebut terarah kepada siapapun yang hidup membujang alias tidak kawin/menikah demi Kerajaan Allah, misalnya sebagai pastor, bruder atau suster. Pengalaman saya pribadi sebagai pastor, saya merasa memiliki banyak sahabat dan juga tugas pelayanan yang harus saya laksanakan atau kerjakan. Maka kami berharap kepada rekan-rekan pastor, bruder atau suster dapat menjadi teladan atau saksi hidup melayani semua orang, tanpa pandang bulu atau SARA, sebagai kesaksian iman pada Yesus Kristus, Penyelamat Dunia. Baca apa yang tertulis dalam Kitab Suci perihal Yesus Kristus, yang bergaul dan melayani semua orang, dan memang kepada masing-masing dilayani berbeda-beda sesuai dengan tugas dan panggilannya di dunia ini. Maka kami berharap kepada rekan-rekan pastor, bruder dan suster untuk senantiasa memperdalam dan memperluas pergaulan maupun pelayanan kepada siapapun juga, tanpa pandang bulu atau SARA.

 

"Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya. Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?"

 (Mzm 113:1-6)

 

Jakarta, 11 Oktober 2010


Minggu Biasa XXVIII - 2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19


"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? "

Mg Biasa XXVIII: 2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19

 

"Trima kasih seribu, kepada Tuhan Allahku, kar'na dicinta, terima kasih…", demikian kutipan dari sebuah lagu yang sering disenandungkan dalam berbagai kesempatan. Kata-kata itu begitu indah dan mulia, namun apakah hanya manis di mulut tetapi tidak menjadi nyata dalam penghayatan? Memperhatikan dan mencermati berbagai peristiwa, rasanya kata-kata tersebut hanya manis di mulut, tetapi tidak menjadi kenyataan dalam tindakan atau perilaku. Memang benar apa yang dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini bahwa yang tahu berterima kasih pada umumnya mereka yang jauh atau orang asing, sedangkan mereka yang dekat sebagai saudara rasanya jarang melakukan terima kasih, entah dalam kata maupun tindakan. Maka juga benarlah kata sebuah pepatah "Dekat ditendangi, ketika jauh dicari". Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dalam terima kasih dan syukur baik dalam kata-kata maupun tindakan, maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini dengan saksama.

 

"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?"(Luk 17:17)  

 

Hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita, kita miliki dan kuasai sampai saat ini, termasuk jika kita sungguh beriman, sehat wal'afiat, segar bugar dst…adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik atau mengasihi kita, antara lain orangtua dan mereka yang setiap hari hidup dan bekerja bersama dengan kita. "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.", demikian sabda Yesus kepada orang yang telah disembuhkan dari penyakit kustanya, dan sedangkan tersungkur di hadapan Yesus untuk menghaturkan terima kasih. Kita dapat berdiri tegak dan bepergian kemana saja setiap hari dengan selamat dan bahagia, bukankah hal itu terjadi karena kasih karunia atau anugerah Tuhan yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita, maka marilah kita senantiasa hidup dalam terima kasih dan syukur.

 

Entah telah berapa ribu kali kita mengucapkan 'terima kasih' ketika sedang menerima pemberian yang baik, enak dan nikmat. Namun apakah kita juga berani berterima kasih ketika ditegor, dimarahi, dikritik, diejek, dilecehkan atau direndahkan? Bukankah apa-apa yang tidak enak dan nikmat di hati dan perasaan tersebut juga merupakan perwujudan kasih mereka kepada kita, dan dengan demikian menggembleng atau membina iman kita? Tidak mungkin orang mengejek, menghina, mengritik dst…kita jika mereka tidak mengasihi kita, maka sikapilah semuanya itu sebagai kasih dan tanggapan kita melalui kata-kata singkat dan padat saja, yaitu 'terima kasih'. Kita semua sedikit banyak memiliki penyakit atau sedang menderita sakit, yang berakar pada kesombongan, dengan kata lain kita bagaikan sedang menderita penyakit kusta. Sikapi segala perlakuan yang tidak enak di hati dan perasaan tersebut sebagai obat untuk menyembuhkan kesombongan kita, agar kita dengan rendah hati berani tersungkur atau bersembah-sujud kepada Tuhan melalui saudara-saudari atau sesama  kita.

 

"Imanmu telah menyelamatkan engkau", demikian sabda Yesus. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, entah apapun agama atau keyakinannya. Yang lebih utama dan pokok adalah iman bukan agama, maka jika kita mendambakan selamat, damai sejahtera dan bahagia marilah kita hayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Beriman berarti bersembah-sujud sepenuh kepada Tuhan, dengan rendah hati tersungkur di kaki Tuhan, dan kita percaya bahwa Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Maka marilah sebagai orang beriman kita saling bersembah-sujud dan tersungkur, berterima kasih dan bersyukur, demi kebahagiaan dan keselamatan kita semua.

 

"Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal" (2Tim 2:9-10)

 

Percaya kepada Injil atau firman Allah memang harus bersedia dengan rendah hati untuk menderita dengan penuh kesabaran, apalagi pada masa kini yang sedikit banyak ditandai ketergesaan-ketergesaan yang berakibat dengan malapetaka dan korban manusia. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Taat dan setia pada firman Allah pasti akan menghadapi aneka rangsangan yang merongrong ketaatan dan kesetiaan maupun masalah-masalah setiap saat.

 

Firman Allah antara lain dicoba diterjemahkan kedalam aneka tata tertib yang harus dilakukan atau dihayati demi kebahagiaan dan keselamatan hidup bersama. Rangsangan yang sering muncul di hadapan kita antara lain ajakan atau bisikan untuk merelativir atau melanggar tata tertib tersebut. Rangsangan yang cukup banyak kita hadapi adalah nafsu untuk marah ketika kita diperlakukan tidak baik atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Jika menghadapi rangsangan tersebut hendaknya disikapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri. Memang mengendalikan dan mendisplinkan diri lebih sulit daripada mengendalikan atau mendisplinkan orang lain, namun ketika kita dapat mengendalikan atau mendisiplinkan diri dengan baik, maka dengan mudah kita mengajak orang lain untuk mengendalikan atau mendisiplinkan diri.

 

Masalah atau perkara yang sering kita hadapi adalah kekayaan/harta benda, nyawa musuh dan umur panjang. Semakin memiliki banyak kekayaan atau harta benda pasti akan menghadapi banyak masalah. Nyawa musuh alias aneka perbedaan atau pardigma dari orang lain  juga merupakan masalah, demikian juga bertambah umur atau usia juga akan semakin menghadapi banyak masalah mengingat dan memperhatikan aneka perkembangan dan pertumbuhan dalam berbagai hal yang begitu cepat pada masa kini. Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut dibutuhkan hati yang jernih dan bersih agar dapat mempertimbangkan dan memutuskan masalah dengan baik sesuai dengan kehendak Allah. Maka marilah kita senantiasa mohon hati yang baik dan bijaksana kepada Allah, diiringi atau disertai dengan perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan yang baik dan bijak. Secara khusus kami berharap kepada para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun untuk sabar dan bijak menghadapi aneka masalah atau perkara. Hendaknya masalah-masalah atau perkara-perkara tersebut dihadapi dengan sabar dan rendah hati, dan jangan dihindari atau disingkirkan. Ingat dan hayati bahwa berbagai masalah atau perkara tersebut merupakan wahana untuk memperdalam dan memperteguh iman kita kepada Allah. "Jer basuki mowo beyo" = untuk hidup mulia, damai sejahtera orang harus berani berjuang dan berkoban, demikian kata sebuah pepatah Jawa.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!"

(Mzm 98:1-4)

Jakarta, 10 Oktober 2010