Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 19 Oktober 2010

20 Okt - Ef 3:2-12; Luk 12:39-48

"Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

(Ef 3:2-12; Luk 12:39-48)


"Ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhan, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."(Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Inti dari Warta Gembira ini kiranya adalah peringatan bagi kita semua bahwa masing-masing dari kita sewaktu-waktu, kapan saja dan dimana saja, dapat meninggal dunia alias dipanggil Tuhan, sebagaimana sering terjadi masa kini, entah karena kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, bencana alam, dst.. Siapkah kita sewaktu-waktu dipanggil Tuhan? Takutkah sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan? Jika kita senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan, maka kita tidak takut sewaktu-waktu dipanggil Tuhan dan siap sedia kapan saja maupun dimana saja dipanggil Tuhan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan berarti senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, setia menghayati panggilan serta melakanakan aneka tugas pengutusan atau pekerjaan. Orang yang demikian layak disebut setia dan bijaksana, dan dengan demikian senantiasa siap sedia dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: marilah kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing dimanapun dan kapanpun. "Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita setia pada perjanjian yang telah kita ikhrarkan atau buat, misalnya janji baptis, janji imamat, janji perkawinan, kaul, janji pegawai, janji pelajar/mahasiswa, dst..


·   "Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya."(Ef 3:12), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Efesus. Kutipan surat Paulus ini kebetulan juga menjadi motto ketika saya ditahbiskan menjadi imam, sebagai suatu penngendapan berbagai pengalaman perjalanan panggilan saya pribadi dengan harapan saya berani menanggapi panggilan Allah karena dengan rendah hati senantiasa berusaha 'di dalam Dia', yang tergantung di kayu salib. Dengan kata lain setiap memandang salib yang tergantung saya pribadi senantiasa merasa dikuatkan dan diteguhkan dalam menghayati panggilan atau melaksanakan aneka tugas pengutusan apapun. Secara spiritual 'di dalam Dia' antara lain juga berarti senantiasa taat kepada kehendak Tuhan dan menjadi nyata taat kepada para pembesar atau atasan sebagai 'wakil Tuhan' di dunia saat ini. Ketaatan juga menjadi kekuatan dan rahmat bagi St.Ignatius Loyola beserta para pengikutnya. Setia pada janji berarti mentaati dan melaksanakan aneka aturan atau tata tertib yang terkait dengan janji tersebut: disiplin dan kerja keras serta jujur dalam melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan. Maka dengan ini kami mengingatkan anda semua yang percaya atau beriman pada Yesus Kristus: marilah menimba kekuatan dan rahmat dari Dia yang tergantung di kayu salib, dengan kata lain ketika merasa berat menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, kami persilahkan memandang salib seraya mohon rahmat dan kekuatan dariNya. Bersama dengan Yang Tersalib kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah, jalan masuk menuju kebahagiaan atau keselamatan sejati.

 

"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan….Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi" (Yes 12:2-5)

Jakarta, 20 Oktober 2010       


Senin, 18 Oktober 2010

19 Okt - Ef 2:12-22; Luk 12:35-38

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala".

(Ef 2:12-22; Luk 12:35-38)

 

"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah mereka" (Luk 12:35-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Apa gunanya ikat pinggang? Ketika pertanyaan ini saya sampaikan dalam suatu retret bersama yang saya dampingi, ada tanggapan cepat dan spontan, yaitu "untuk menahan celana agar tidak melorot". Menanggapi jawaban tersebut secara spontan dan cepat saya katakana "kalau demi celana tidak melorot pakai ikat pinggang rafia atau tali tampar saja, lebih murah dan praktis". Rasanya fungsi ikat pinggang pertama-tama dan terutama adalah untuk memperlihatkan postur tubuh kita sedemikian rupa sehingga menarik dan mempesona, terutama bagi rekan-rekan perempuan.  Maka sabda Yesus 'Hendaknya pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala'  kiranya dapat kita fahami bahwa kita senantiasa dipanggil untuk menghadirkan diri sedemikian rupa, sehingga menarik, menawan dan mempesona bagi orang lain, menjadi daya tarik dan daya pikat bagi orang lain untuk semakin terbuka pada kehendak Allah. Maka kehadiran kita dimanapun dan kapanpun selain diwujudkan dengan penampilan postur tubuh, hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita juga menarik, menawan dan mempesona bagi orang lain untuk semakin beriman. Cara hidup dan cara bertindak kita menyinarkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan sebagai buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Hendaknya dimanapun dan kapanpun kita senantiasa siap sedia dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk berbuat baik kepada orang lain


·   "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan" (Ef 2:19-21), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. Kebersamaan hidup kita hendaknya senantiasa 'di dalam Allah, sehingga bagaikan bangunan yang rapi tersusun, menjadi bait Allah'. Tentu saja pertama-tama dan terutama tubuh kita sendiri yang memiliki begitu banyak anggota dan telah tersusun rapi oleh Allah, Sang Pencipta. Setiap anggota berada pada tempatnya dan memiliki fungsi masing-masing demi keselamatan dan kesehatan seluruh tubuh. Maka kami berharap senantiasa memfungsikan anggota-anggota tubuh kita, misalnya kaki, tangan, mata, telinga, dst.. di dalam Allah artinya untuk melakukan apa yang baik dan menyelamatkan baik tubuh maupun jiwa, sehingga tubuh kita layak menjadi 'bait Allah'. Selanjutnya kami mengajak dan mengingatkan kebersamaan hidup di dalam keluarga atau komunitas. Kebersamaan hidup di dalam keluarga atau komunitas hendaknya terjadi.sedemikian rupa, sehingga menarik, mempesona dan memikat siapapun untuk mendekat dan mendatangi. Maka hendaknya diusahakan adanya kesatuan hati dan budi di dalam hidup bersama, meskipun apa yang dilakukan atau dikerjakan berbeda sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan masing-masing. Jika masing-masing keluarga atau komunitas dapat demikian adanya, maka hidup bersama di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara juga akan menarik, mempesona dan memikat. Keadilan dan damai sejahtera yang menjadi dambaan semua orang menjadi nyata atau terwujud. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat mengusahakan kesatuan hati dan budi, sehingga semua orang sungguh menjadi kawan sewarga, bukan orang asing atau pendatang lagi.

 

"Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan"

(Mzm 85:10-14)

Jakarta, 19 Oktober 2010

  

 

         


Minggu, 17 Oktober 2010

18 Okt - 2Tim 4:10-17b; Luk 10:1-9

"Sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala."

(2Tim 4:10-17b; Luk 10:1-9)


"Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu."(Luk 10:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Lukas, Pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk mewartakan Kerjaaan Allah atau Allah yang meraja alias kabar baik, apa-apa yang baik dan menyelamatkan. Dalam masa yang masih diwarnai kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan bersama masa kini, tugas mewartakan Kerajaan Allah sungguh berat dan menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta masalah sampai ancaman untuk dibunuh. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa dalam mewartakan Kerajaan Allah hendaknya bekerjasama serta  tidak mengandalkan aneka macam sarana-prasarana duniawi melainkan diri kita sendiri sebagai orang beriman, yang mengandalkan diri pada rahmat dan anugerah Allah. Maka marilah kita senantiasa bekerjasama dengan saudara-saudari kita dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan seraya mengandalkan rahmat atau kasih karunia Allah. Mengandalkan diri pada rahmat atau kasih karunia Allah berarti mengimani Allah yang hidup dan berkarya dalam citpaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang berkendak baik, tanpa pandang bulu atau SARA. Cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya berjiwa missioner, sehingga siapapun yang hidup bersama kita atau menyaksikan cara hidup dan cara bertindak kita tergerak untuk semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dalam hidup sehari-hari. Kami berharap keluarga-keluarga dapat menjadi contoh dalam hal menghayati jiwa missioner dalam kebersamaan atau kerjasama.

·   "Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya" (2Tim 4:17), demikian kesaksian Paulus, rasul agung. Warta Gembira bukan menjadi monopoli bangsa atau suku tertentu atau agama tertentu, melainkan bagi semua orang, bagi seluruh dunia. Secara tertulis kita tahu Kitab Suci telah dijerjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang ada di dunia ini, dengan harapan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dapat difahami dan kemudian dihayati. Demikian juga isi Kitab Suci telah dipelajari dan dikomentari, entah secara tertulis dalam bentuk buku atau lisan melalui aneka ceramah atau pengajaran, agar Warta Gembira semakin dihayati secara mendalam oleh berbagai kalangan atau proffesi seseorang. Semuanya itu sungguh merupakan usaha dengan bantuan rahmat Allah 'supaya dengan perantaraanku Injil/Warta Gembira diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang mendengarkannya'. Maka dengan ini kami berharap: hendaknya di dalam keluarga-keluarga sering dibacakan dan didengarkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, syukur dapat setiap hari. Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk dibacakan dan didengarkan, bukan untuk didiskusikan. Dengan rendah hati, sekali lagi saya sampaikan  bahwa sekiranya apa yang saya kutipkan dan tulis setiap hari, sesuai dengan Kalendarium Liturgi Katolik, hendak difungsikan untuk dibacakan dan didengarkan bersama di dalam keluarga, silahkan. Email saya mau disebarluaskan ke mana-mana, silahkan, jika menurut anda baik, tetapi jika menurut anda jelek hapus saja. Marilah kita imani  bahwa Allah senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita dimanapun dan kapanpun.

 

"Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan"

 (Mzm 145:10-13b)   .

 

Jakarta, 18 Oktober 2010