Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 10 November 2010

11 Nov - Flm 7-20; Luk 17:20-25

"Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini."

(Flm 7-20; Luk 17:20-25)


"Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini." (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Martinus dari Tours, Uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja atau berkuasa. Dalam melaksanakan kuasanya Ia terus menerus berkarya di dalam seluruh ciptaanNya, terutama dalam diri manusis, maka Yesus bersabda "Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu". Mereka yang sungguh dirajai atau dikuasai oleh Allah di dunia pada masa kini pada umumnya tak akan terlepas dari aneka macam bentuk penderitaan, mengingat dan mempertimbangkan bahwa kemerosotan moral yang terjadi hampir di semua bidang kehidupan masih marak di sana-sini. Orang yang hidup baik dan berbudi pekerti luhur memang harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, yang menguji, memurnikan dan memperteguh kebaikannya. Allah yang meraja atau berkuasa nampak dalam perilaku atau cara hidup orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, dan hanya orang yang memiliki hati yang peka akan nilai-nilai spiritual atau keutamaan-keutamaan hidup mampu melihat, menangkap dan mengimaninya. Memang mereka yang bersikap mental Farisi alias yang bersikap mental gila akan kuasa dan kehormatan duniawi tak akan mampu melihat, menangkap dan mengimaninya, karena mereka sendiri merasa menjadi raja atas dirinya sendiri serta orang lain di sekitarnya. Marilah kita hayati dan imani karya Allah dalam diri kita masing-masing, yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan serta hati untuk mencinta, bersyukur dan berterima kasih. Kita hayati dan imani bahwa segala sesuatu yang baik, indah, mulia, luhur dalam diri kita adalah angerah atau karya Allah.


·   "Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku." (Flm 7),  demikian kesaksian iman Paulus kepada Filemon. Orang-orang kudus adalah orang-orang suci, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dalam dan melalui hidup sehari-hari. Dalam iman kita hayati bahwa para uskup adalah kudus, yang terpilih dan suci. Merupakan kegembiraan besar bagi para uskup ketika kita sebagai umat Allah hidup saling mengasihi dan melayani, karena hal itu juga menjadi tugas utama para uskup, hidup mengasihi dan melayani. Maka kalau hari ini kita mengenangkan St.Martinus, uskup, kami mengajak anda sekalian, sebagai umat Allah; marilah kita dukung karya uskup kita masing-masing dengan hidup saling mengasihi dan melayani. Ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah yang terkasih, buah kasih, maka perjumpaan antar kita dimanapun dan kapanpun hendaknya secara otomatis saling mengasihi, karena bertemu dengan orang lain berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih. Paulus mengatakan bahwa dari kasih diperoleh kegembiraan dan kekuatan. Rasanya apa yang dikatakan oleh Paulus ini bukan omongan kosong belaka, melainkan sungguh nyata. Coba refleksikan pengalaman anda sendiri: bukankah ketika anda merasa dikasihi pasti akan gembira dan kuat, tidak takut dan tidak gentar menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan? Binatang buas pun ketika didekati dalam dan oleh kasih akan terkalahkan alias dapat menjadi sahabat, apalagi manusia. Marilah kita sikapi segala sesuatu yang mendatangi kita sebagai kasih, sehingga kita senantiasa hidup dalam kasih dan syukur. Jika kita sungguh hidup dalam kasih dan syukur, imanilah kita pasti kuat menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan.

 

"TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya" (Mzm 146:7-10)

 

Jakarta, 11 November 2010


Selasa, 09 November 2010

10 Nov - Tit 3:1-7; Luk 17:11-19

"Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

(Tit 3:1-7; Luk 17:11-19)


"Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Luk 17:11-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Hidup bersyukur dan berterima kasih rasanya pada masa kini tidak mudah, mengingat dan mempertimbangkan kecenderungan banyak orang untuk lebih menyombongkan diri serta hidup serakah, sebagai dampak kebebasan dalam era reformasi ini. Hal itu kiranya juga didukung tidak adanya atau kurang adanya penghayatan hidup syukur dan terima kasih di antara anggota keluarga atau teman dekat. Dengan kata lain orang kurang menghargai hasil karya atau pelayanan anggota keluarga atau teman dekat dan lebih menghargai hasil karya atau pelayanan orang lain. Maka benarlah dan menarik untuk direnungkan sabda Yesus "Tidak adalah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?". Yesus dan sembilan orang lain yang disembuhkan termasuk orang Yahudi dan yang berterima kasih serta memuliakan Allah tersebut adalah orang Samaria: orang Yahudi dan orang Samaria kurang akrab alias bermusuhan. Apa yang terjadi ini sering kita alami juga, yaitu kita lebih menghargai orang asing daripada bangsa/teman sendiri. Marilah kita tanggapi sabda Yesus di atas dengan mawas diri: sejauh mana kita, sebagai sesama anggota keluarga atau teman dekat, saling bersyukur dan berterima kasih? Agar kita dapat bersyukur dan berterima kasih, mungkin baik begitu bangun pagi mendoakan ini "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Rat 3:22-23). Kita sadari dan hayati bahwa rahmat Tuhan senantiasa dianugerahkan kepada kita melalui orang-orang yang dekat dengan kita setiap hari.


·   "Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang." (Tit 3:1-2), demikian peringatan atau ajakan Paulus kepada Titus, kepada kita semua umat beriman. Kiranya yang baik kita renungkan bersama adalah 'jangan memfitnah dan bertengkar, melainkan hendaklah selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang'.Ajakan atau peringatan ini kiranya menarik dan up to date untuk kita hayati atau laksanakan mengingat dan mempertimbangkan masih maraknya pertengkaran dan fitnah di sana-sini dalam hidup sehari-hari. Kalau hari kita kita mengenangkan St Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, baiklah kita dukung tugas Paus antara lain sebagai pemersatu umat Allah, dengan kata lain marilah kita senantiasa mengusahakan persaudaraan dan persahabatan sejati di antara kita. Ajakan untuk ramah dan lemah lembut berarti panggilan bagi kita semua untuk saling menghormati dan melayani sebagai sesama manusia, yang diciptakan oleh Allah sebagai gambar atau citraNya: Allah hidup dan berkarya dalam diri kita masing-masing, manusia, gambar dan citra Allah. Kami berharap para tokoh hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang memiliki pengaruh hidup bersama, dapat menjadi teladan dalam memberantas aneka bentuk firnah dan pertengkaran serta menggalang dan menyebarluaskan persaudaraan atau persahabatan sejati, dengan saling ramah dan lemah lembut. Secara khusus kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi telahan keramahan dan kelemah-lembutan dalam saling mengasihi bagi anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada mereka.


"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah"

(Mzm 23:1-5).

Jakarta, 10 November 2010


Senin, 08 November 2010

9 Nov - Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran: Yeh 47:1-2.8-9.12; 1Kor 3:9b-11.16-17; Yoh 2:13-22

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan."

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran: Yeh 47:1-2.8-9.12; 1Kor 3:9b-11.16-17; Yoh 2:13-22


Sebagai Ekonom Kuskupan Agung Semarang, saya pernah menegor dengan keras panitia pembangunan gedung gereja/kapel, panitia gerakan sosial paroki serta pengurus dewan paroki. Mengapa? Panitia pembangunan gereja/kapel telah menghabiskan sumbangan-sumbangan umat untuk beaya rapat panitia (makan, uang saku, transport dst..), panitia gerakan sosial memperkaya diri dengan 'korupsi'/ mengambil dana proyek untuk keperluan pribadi, pengurus dewan paroki seenaknya membebankan urusan pribadi pada anggaran paroki, dst. . Bukankah yang mereka lakukan sungguh tak terpuji, menjadikan "rumah Allah" untuk berbisnis, mencari keuntungan pribadi alias komersialisasi pelayanan sosial atau keagamaan?  Peristiwa-peristiwa lain yang kiranya juga kurang terpuji adalah memfungsikan Perayaan Ekaristi untuk pengumpulan dana/sumbangan, yang utama dan pertama-tama adalah mengumpulkan dana/sumbangan bukan beribadat. Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, gereja resmi Paus di Roma, hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk meluruskan atau memurnikan aneka macam bentuk pencemaran atau pelecehan tempat, sarana atau kegiatan beribadat atau keagamaan, maka marilah kita renungkan sabda-sabda hari ini.

 

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (Yoh 2:16)

"Dalam tempat suci hanya dapat diizinkan hal-hal yang berguna bagi pelaksanaan atau peningkatan ibadat, kesalehan dan kebaktian, serta dilarang segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu. Namun Ordinaris dapat sekali-sekali memberi izin untuk penggunaan lain, asal tidak bertentangan dengan kesucian tempat itu" (KHK kan 1210). "Dengan kata tempat suci dimaksudkan gereja atau tempat suci lain yang dengan persetujuan Ordinaris wilayah sering dikunjungi kaum beriman untuk berziarah karena suatu alasan religius yang khusus" (KHK kan 1230).

 

Pemfungian tempat suci serta aneka kegiatan yang terkait atau ada hubungannya dengan tempat suci hendaknya mendorong dan membuat umat berbakti kepada Tuhan serta hidup saleh, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melaluin sesamanya maupun lingkungan hidupnya. Memang yang sering menjadi godaan adalah harta benda atau uang: antar umat dapat saling bertengkar dan membenci karena pemanfaatan ruang dst..  Harta benda atau uang yang masuk ke dalam lingkungan tempat suci berasal dari umat Allah sebagai tanda syukur dan terima kasih atas segala kasih karunia atau anugerah Allah yang telah diterima dan dinikmatinya. Semakin orang sungguh beriman, bersyukur dan berterima kasih kepada Allah pada umumnya yang bersangkutan juga semakin sosial, semakin mengasihi sesamanya, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka hendaknya harta benda atau uang yang diterima melalui tempat suci difungsikan untuk membina umat Allah agar semakin beriman, bersyukur dan berterima kasih dalam hidup sehari-hari.

 

Kami berharap kepada kita semua untuk tidak takut dan tidak gentar menegor dan mengingatkan orang-orang yang mengkomersilkan tempat suci serta kegiatan-kegiatan yang terkait dengan tempat suci. Segala sesuatu atau aneka macam sarana-prasarana yang berada di tempat suci dan mengganggu umat untuk semakin suci dan saleh hendaknya disingkirkan. Kami berharap juga ketika memasuki atau berada di dalam tempat suci sungguh hening, tidak bersendau-gurau, bercanda dst… Secara khusus kami berharap ketika berpartisipasi dalam ibadat atau Perayaan Ekaristi hendaknya tidak terlambat, syukur datang lebih awal guna persiapan. Persiapan untuk beribadat atau berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi sungguh penting. Mereka yang bertugas dalam penyelenggaraan ibadat atau Perayaan Ekaristi hendaknya sungguh mempersiapkan diri dengan baik sebelumnya, misalnya para pembaca/lektor,  petugas koor maupun pemimpin ibadat. Maka bagi kita semua marilah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

 

"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu" (1Kor 3:16-17)

Sebagai orang beriman kita adalah 'bait Allah' dan 'Roh Allah diam di dalam diri kita', sehingga cara hidup dan cara bertindak kita berbuah atau memperdalam buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Karena masing-masing dari kita adalah 'bait Allah' berarti kita juga saling berbakti satu sama lain dimanapun dan kapanpun. Saling berbakti berarti saling melayani, membahagiakan dan menyelamatkan dan tiada satupun yang saling melecehkan, dengan demikian kebersamaan hidup kita manarik, memikat dan mempesona.

 

Sebagai 'bait Allah' kemanapun pergi atau dimanapun berada kita senantiasa menghidupkan dan menggairahkan orang lain, sebagaimana digambarkan oleh Yeheskiel bagaikan air mengalir atau sungai,

"sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup" (Yeh 47:9). Berbagai pengalaman dan pengamatan menunjukkan bahwa mereka yang datang ke tempat suci pada umumnya merasa disegarkan dan digairahkan dalam hidup beriman, maka selayaknya siapapun yang mendatangi kita sebagai 'bait Allah' juga semakin disegarkan dan digairahkan dalam hidup beriman, demikian pun pula kemana kita pergi.

 

Marilah kehadiran atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun kita usahakan menarik, memikat, mempesona, menggairahkan dan menghidupkan orang lain. Tentu saja diri kita sendiri harus sungguh hidup, bergairah dan dinamis, tidak putus asa atau frustrasi meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah. Tanda bahwa kita sungguh hidup antara lain senantiasa siap berubah atau dirubah sesuai dengan tuntutan zaman atau perkembangan yang sedang berlangsung, sehingga juga memberi pengharapan kepada orang lain. Kita senantiasa berubah menjadi lebih baik, lebih suci, lebih beriman, lebih mempersembahkan diri kepada Tuhan dan dengan demikian juga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia.  Kita menjadi pewarta-pewarta kabar gembira yang menghibur dan menggembirakan orang lain. Kehadiran dan sepak terjang kita menjadi berkat atau rahmat bagi saudara-saudari kita.

 

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi "

 (Mzm 46:2-3.5-6)

 

Jakarta, 9 November 2010

 

.