Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 07 Desember 2010

Hari Raya SP Maria Dikanding Tanpa Dosa - Kej 3: 9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA: Kej 3: 9-15.20; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38

 

"Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria 'dipenuhi dengan rahmat' oleh Allah (Luk 1:28) sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh doga 'Maria dikandung tanpa noda dosa' , yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX. Bahwa Maria 'sejak saat pertama ia dikandung, dikaruniai cahaya kekudusan yang istimewa' (LG 56) hanya terjadi berkat jasa Kristus: 'Karena pahala Puteranya ia ditebus secara lebih unggul' (LG 53). Lebih dari pribadi tercipta mana pun Bapa 'memberkati dia dengan segala berkat RohNya oleh persekutuan dengan Kristus di dalam sorga' (Ef 1:3). Allah telah memilih dia sebelum dunia dijadikan, supaya ia kudus dan tidak bercacat di hadapanNya" (Kamus Gereja Katolik no 491-492). Kutipan ini kiranya baik menjadi pegangan atau acuan kita dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa.

 

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."  (Luk 1:38) 

 

Jawaban SP Maria atas panggilan Tuhan melalui malaikat sebagaimana saya kutipkan di atas ini kiranya sungguh merupakan jawaban luar biasa. Secara manusiawi kita dapat membayangkan bagaimana seorang perawan tiba-tiba mengandung, padahal belum bersuami, atau seorang gadis/perawan dengan sungguh dan tulus ikhlas dihamili oleh seorang laki-laki; aneka kritik, cemoohan dan kemarahan pasti akan tertuju kepadanya. Memang sungguh mujizat dan luar biasa bahwa SP Maria dengan rendah hati menerima panggilan atau tugas pengutusan dari Tuhan untuk mengandung karena Roh Kudus dan melahirkan Sang Penyelamat Dunia, yang dinantikan kedatangan atau kelahiranNya oleh banyak orang. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita renungkan jawaban SP Maria atas panggilan Tuhan tersebut.

 

"Hamba Tuhan"  adalah orang yang sungguh taat dan setia pada kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. Sebagai umat beriman kita juga memiliki dimensi kehambaan dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, demikian juga hamba Tuhan, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Jika kita sungguh mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan berarti kita hidup suci tanpa noda dosa: diri kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati saat ini kita persembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Aneka harta benda atau uang, kekerampilan, kecakapan, kecantikan, ketampanan dst.. menjadi sarana atau wahana untuk berbakti kepada Tuhan; semakin kaya akan harta benda/uang, semakin pandai, semakin berpengalaman, semakin tambah usia dst. berarti semakin suci, semakin berbakti kepada Tuhan melalui sesamanya dimanapun dan kapanpun.

 

Orang beriman yang sungguh menghayati dimensi kehambaan kiranya juga dapat menjadi teladan bagi sesamanya di lingkungan hidupnya. Segala macam jenis sapaan, sentuhan, kritik, tegoran atau perlakuan dari orang lain dihayati sebagai kasih Tuhan, dan ditanggapi dengan penuh kasih dan syukur. Maka sungguh beriman dan menghayati kehambaan berarti hidup penuh syukur dan terima kasih, tidak pernah mengeluh, menggerutu atau marah. "Jadilah padaku menurut perkataanmu"  menjadi pegangan atau pedoman menanggapi kata-kata orang lain, entah itu enak atau tidak enak. Orang lain memberi pujian maka kita bersyukur, orang lain mengritik dan marah maka kita dengan rendah hati mawas diri, orang lain memberi tahu maka kita laksanakan atau jalankan dst… Dengan demikian cara hidup dan cara bertindak orang beriman yang menghayati dimensi kehambaan dimanapun dan kapanpun menjadi warta gembira, menarik, memikat dan mempesona, mendorong orang lain untuk semakin berbakti kepada Tuhan, hidup melayani sesamanya.

 

"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya." (Ef 1:3-6)

Pujian syukur Paulus, sebagaimana saya kutipkan di atas ini kiranya baik kita renungkan atau refleksikan bersama. Kutipan di atas ini rasanya senada dengan apa yang ditulis oleh St.Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani (Azas Dasar), yaitu bahwa 'manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan…demi keselamatan jiwanya..dan menggunakan segala ciptaan lainnya untuk membantu mengusahakan tujuan tersebut, yaitu keselamatan jiwa'.  Sejak semula kita dipilih dan diharapkan kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan.

 

Ketika kita masih berada di rahim ibu atau bayi kiranya kita sungguh kudus dan tak bercacat di hadapan Tuhan. Kehadiran dan keberadaan kita sebagai bayi mungil sungguh menarik, memikat dan mempesona. Namun sungguh sayang ketika kita menjadi dewasa semuanya itu pudar kena erosi, dengan kata lain kita kurang atau tidak kudus lagi serta penuh dengan cacat dan cela. Tambah usia dan pengalaman berarti bertambah pula dosa dan kekurangan maupun kelemahan. Meskipun demikian kita tetap dikasihi oleh Tuhan, maka baiklah kami ingatkan bahwa semakin tambah usia dan pengalaman hendaknya berusaha semakin rendah hati, karena juga semakin menerima lebih banyak kasih pengampunan atau kemurahan hati Tuhan.

 

Sebagai yang terpilih dan dikasihi memang tak akan lepas dari aneka macam tantangan atau masalah serta hambatan, sebagaimana telah dilihat atau diramalkan oleh penulis Kitab Kejadian, yaitu "Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya." (Kej 3:15). Ular adalah lambing kelicikan dan perempuan lambang kasih atau kerahiman (ingat perempuan memiliki rahim dan didalam rahim tumbuh berkembang buah kasih). Kelicikan berlawanan dengan kasih atau kerahiman itulah yang terjadi alam kehidupan bersama kita masa kini, atau kelicikan berlawanan dengan ketulusan atau kesucian hati. Memang licik tetapi tidak tulus atau tidak suci pasti akan merusak dan menghancurkan, sementara tulus atau suci tetapi kurang licik mungkin kurang berbuah, maka hemat saya untuk masa kini kelicikan dan ketulusan atau kesucian hati perlu disatukan atau diintegrasikan, sebagai penghayatan sabda Yesus "Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." (Mat 10:16). Semoga dengan mengenangkan pesta SP Maria Dikandung Tanpa Dosa hari ini kita semakin menjadi cerdas secara spiritual.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mzm 98:1-4)

 

Jakarta, 8 Desember 2010

   

 


Minggu, 05 Desember 2010

7 Des - Yes 40:1-11; Mat 18:12-14

"Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak ini hilang."

(Yes 40:1-11; Mat 18:12-14)

 

"Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang." (Mat 18:12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Ambrosius, uskup dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua, manusia diciptakan oleh Allah, berasal dari Allah dan diharapkan kembali kepada Allah setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Maka baiklah di masa adven ini kita mawas diri perihal kebersamaan hidup kita masing-masing: keluarga, masyarakat, tempat kerja dst..: apakah ada di antara kita kurang atau tidak berkumpul dengan kita dalam aneka kesempatan seperti makan bersama, pertemuan, rekreasi dst… Pengalaman dan pengamatan kami jika ada anggota keluarga atau komunitas atau paguyuban jarang atau bahkan tidak pernah bertemu dan curhat dengan saudara-saudarinya berarti yang bersangkutan berada dalam bahaya perihal panggilan dan tugas pengutusannya. Ada kemungkinan yang bersangkutan tersesat, namun tidak merasa dirinya tersesat. Maka baiklah jika ada saudara atau saudari kita yang demikian itu hendaknya segera diingatkan untuk berkumpul dan bercurhat dengan saudara-saudarinya dalam berbagai kesempatan yang ada. Sekiranya secara phisik atau langsung sulit dilakukan baiklah kita doakan,dengan kata lain di masa adven ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk mendoakan saudara-saudari kita yang 'tersesat', dan jika mungkin mereka kita datangi dan ajak untuk kembali ke jalur atau cara hidup yang benar, sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Marilah kita semua menyadari dan menghayati bahwa pada dirinya manusia itu bersifat sosial, maka tak mungkin hidup bahagia atau damai-sejahtera jika hidup menyendiri. Sosial dari akar kata bahasa Latin socius yang antara lain berarti teman, maka bersifat sosial berarti senantiasa berteman dengan sesamanya dan membangun kehidupan bersama dalam suatu komunitas atau keluarga.


·   "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."(Yes 40:3-5). Padang gurun adalah tempat banga terpilih mengarungi perjalanan menuju tanah terjanji. Di padang gurun mereka harus menghadapi aneka tantangan dan masalah, maka  ada di antara mereka cukup banyak yang tidak sampai ke tanah terjanji, antara lain termasuk Musa yang sempat ragu-ragu di dalam perjalanannya. Dengan kata lain kutipan dari kitab Yesaya di atas kiranya juga merupakan suatu ajakan bagi kita semua untuk mawas diri: apakah melalui cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun merupakan persiapan untuk menuju 'tanah terjanji', hidup mulia kembali di sorga setelah dipanggil Tuhan nanti. Dengan kata lain apakah kita senantiasa berujud lurus dalam aneka macam langkah dan tindakan kita alias jujur, disiplin, setia dan taat. Hidup jujur dan disiplin pada masa kini hemat saya sungguh merupakan salah satu bentuk penghayatan iman yang harus kita hayati dan sebar-luaskan. Pertama-tama dan terutama marilah kita jujur terhadap diri sendiri serta disiplin diri; jika kita tidak mungkin jujur terhadap diri sendiri serta  disiplin diri maka mustahil kita mengajak orang lain jujur serta disiplin. Memang hidup jujur dan disiplin pada umumnya butuh keteladanan dari mereka yang berpengaruh dan hidup maupun kerja bersama, maka dengan ini kami berharap kepada siapapun yang berpengaruh dalam kehidupan atau kerja bersama dapat menjadi teladan dalam hal jujur dan disiplin. Secara khusus kami berharap kepada para pengguna jalan, entah pengendara sepeda motor, sopir maupun pejalan kaki untuk jujur dan disiplin di jalanan, sebagai tanda dan harapan bahwa kita akan selamat sampai tujuan masing-masing.

 

"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa." (Mzm 96:1-3)

 

Jakarta, 7 Desember 2010


6 Des - Yes 35:1-10; Luk 5:17-26

"Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu?"

(Yes 35:1-10; Luk 5:17-26)

 

"Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni." Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: "Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" -- berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan." (Luk 5:17-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Orang Farisi dan ahli Taurat tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Mesias yang dijanjikan dan telah lama ditunggu kedatanganNya, maka ketika Yesus mengampuni dosa orang yang sakit mereka berpikiran jahat. Sakit dan sehat erat kaitannya dengan dosa, mereka yang mudah jatuh sakit kiranya harus menyadari dan menghayati diri sebagai yang berdosa, sedangkan mereka yang sehat kami berharap senantiasa berpikiran positif ketika ada orang yang membantu mereka yang berdosa, sakit atau menderita. Maka baiklah di masa adven ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri perihal apa yang setiap hari kita pikirkan. Cara hidup dan cara bertindak kita sangat tergantung pada apa yang sedang kita pikirkan, maka baiklah sebagai umat beriman kita senantiasa berpikiran baik atau positif, dengan kata lain senantiasa berusaha mendengarkan dan melihat karya Roh dalam hidup sehari-hari, dalam diri manusia, tanaman, binatang maupun aneka macam peristiwa., sehingga kita juga dapat berkata "Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan" Dengan sikap dan pikiran macam itu berarti kita juga siap sedia untuk menyambut kedatangan Penyelamat Dunia, di hari Natal yang akan datang.


·    "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!"(Yes 35:4), demikian peringatan Yesaya kepada saudara-saudarinya, kepada kita semua umat beriman. Hidup dan bertindak baik pada masa kini memang sarat dengan tantangan, hambatan maupun masalah, maka hendaknya tidak takut menghadapi semuanya itu. "Ia sendiri datang menyelamatkannya", inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan. Dengan kata lain bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan; bersama dan bersatu dengan Tuhan antara lain senantiasa berpikiran positif sebagaimana saya katakana diatas. Sikap dan hayati aneka tantangan, hambatan dan masalah sebagai sarana atau wahana untuk semakin mempertebal, meneguhkan dan memperdalam iman kita kepada Tuhan. Sebagaimana emas murni tidak terbakar atau hancur karena api yang panas, demikian juga bersama dan bersatu dengan Tuhan tak akan tergoyahkan oleh aneka macam masalah, tantangan dan hambatan, melainkan masalah, tantangan dan hambatan semakin meneguhkan iman kita kepada Tuhan. Janganlah takut menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan. Takut menghadapi tantangan, masalah dan hambatan tidak akan tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa dalam hal iman atau cerdas secara spiritual. Kami berharap sikap positif sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja keteladanan orangtua sungguh dibutuhkan. Hendaknya dibangun dan diperdalam sikap positif satu sama lain antar anggota keluarga.

 

"Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan" (Mzm 85:10-14).

Jakarta, 6 Desember 2010