Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 01 Maret 2011

2 Mar - Sir 36:1,4-5a.10-17; Mrk 10:32-45

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem"

(Sir 36:1,4-5a.10-17; Mrk 10:32-45)

 

"Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya, kata-Nya: "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit." Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami harap supaya Engkau kiranya mengabulkan suatu permintaan kami!" Jawab-Nya kepada mereka: "Apa yang kamu kehendaki Aku perbuat bagimu?" Lalu kata mereka: "Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu." Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?" Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa itu telah disediakan." (Mrk 10:32-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yerusalem adalah kota suci bagi bangsa Yahudi, umat Kristen maupun umat Islam. Yesus mengajak para murid pergi ke Yerusalem berarti mengajak mereka untuk menyucikan diri atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Bagi Yesus hal itu berarti "akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat; dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati, Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh dan sesudah tiga hari Ia bangkit'. Peristiwa persembahkan diri atau wafat Yesus di kayu salib dan kebangkitanNya dari mati terjadi di Yerusalem. Peristiwa sering kita kenangkan ketika kita berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, karena perayaan Ekaristi adalah kenangan akan wafat dan kebangkitan Yesus. Maka setiap kali kita berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi berarti kita juga dipanggil untuk mempersembahkan diri kepada Tuhan melalui pelayanan bagi sesama atau saudara-saudari kita. Melayani berarti senantiasa berusaha membahagiakan atau menyelamatkan dengan rendah hati. Baiklah sebagai umat yang beriman kepadaNya serta sering berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi kita hidup dan bertindak saling melayani dan membahagiakan, dan memang untuk itu harus siap sedia untuk berkorban dan berjuang. 

·   "Berikanlah ganjaran kepada mereka yang menantikan Dikau, dan buktikanlah kebenaran segala nabi-Mu. Ya Tuhan, dengarkanlah doa hamba-hamba-Mu ini sesuai dengan berkat Harun atas umat-Mu. Semoga semua penghuni bumi ini mengakui, bahwa Engkaulah Tuhan, Allah kekal"(Sir 36:15-17)  Sebagai manusia yang diciptakan Tuhan kita semua dipanggil untuk senantiasa menantikan Tuhan dan mengakui Tuhan sebagai Allah kekal. Dengan kata lain kita diharapkan memiliki 'dambaan suci', yaitu kerinduan dan harapan untuk senantiasa melakukan apa-apa saja yang dapat membantu kita semakin suci atau semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain kita diharapkan tidak materialistis alias gila akan harta benda/uang, pangkat/kedudukan dan kehormatan duniawi. Kita diharapkan 'gila akan Tuhan'alias dengan bergairah dan gembira melaksanakan kehendak Tuhan atau melaksanakan segala perintahNya. Orang yang gila akan Tuhan berarti senantiasa menarik, memikat dan mempesona, sehingga siapapun tergerak untuk mengenal, mendekat dan bersahabat. Maka jika kita semua gila akan Tuhan berarti kita saling bersahabat, hidup saling melayani dan membahagiakan dengan rendah hati, tanpa kekerasan. Kami berharap 'dambaan suci' atau 'gila akan Tuhan' ini dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para orangtua. Jika semua keluarga melakukan hal itu kiranya hidup bersama dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun senantiasa dalam persahabatan atau persaudaraan sejati, sehingga kita bersama-sama melangkah menuju ke kesucian, kota sorgawi yang abadi.

 

"Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu! Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!" (Mzm 79:8-9.11)

 

Jakarta, 2 Maret 2011


Minggu, 27 Februari 2011

1 Maret - Sir 35: 1-12; Mrk 10:28-31

"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
(Sir 35: 1-12; Mrk 10:28-31)


"Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."(Mrk 10:28-31), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster harus meninggalkan segala sesuatu dan kemudian dengan setia mengikuti Yesus, sebagai sahabat Yesus, hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Ada orang yang mengatakan dengan meninggalkan segala sesuatu tersebut akan merasa kesepian, padahal yang terjadi adalah sebaliknya sebagaimana Ia sabdakan, yaitu :"akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan lading, sekalipun harus disertai berbagai penganiayaan". Pengalaman saya pribadi apa yang disabdakan oleh Yesus tersebut sungguh menjadi kenyataan. Penganiayaan yang terjadi adalah tidak boleh memiliki, dan hanya boleh menggunakan sesuai dengan tujuan pelayanan atau kerasulan. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan generasi muda dan anak-anak untuk tidak takut menanggapi panggilan menjadi imam, bruder atau suster. Memang juga ada bentuk penganiayaan, yaitu  tidak dapat menikmati apa yang menjadi dambaan banyak orang, yaitu kenikmatan hubungan seksual sebagai suami-isteri. Apa yang disabdakan oleh Yesus bahwa "yang terdahulu akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu" juga menjadi kenyataan, artinya dengan melayani secara rendah hati terhadap semua orang, akhirnya 'dihormati' oleh banyak orang. Kami juga mengingatkan siapapun yang beriman kepada Yesus Kristus, meskipun tidak menjadi imam, bruder atau suster untuk memfungsikan dan menghayati aneka harta benda dan kenikmatan phisik sebagai wahana untuk semakin berbakti kepada Tuhan alias beriman. Dengan kata lain hendaknya menyikapi harta benda dan kenikmatan phisik sebagai sarana bukan tujuan.


•    "Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan yang kosong, sebab semuanya wajib menurut perintah. Persembahan orang jujur melemaki mezbah, dan harumnya sampai ke hadapan Yang Mahatinggi. Tuhan berkenan kepada korban orang benar, dan ingatannya tidak akan dilupakan" (Sir 35:4-6).Kapan kita 'tampil di hadirat Tuhan'?  Kita tampil di hadirat Tuhan antara lain ketika kita sedang berdoa atau beribadat serta pada saat dipanggil Tuhan alias menjelang meninggal dunia. "Jangan tampil di hadirat Tuhan dengan tangan kosong" itulah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Dengan kata lain kita diharapkan mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, dan karena  hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki, kuasai serta nikmati sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, maka selayaknya sebagai orang beriman kita mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan: hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati. Mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan berarti hidup suci atau benar, sebagaimana pernah kita janjikan ketika dibaptis, yaitu "hanya mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan". Tubuh kita serta segala jenis harta benda atau kekayaan kita pada dasarnya netral, artinya dapat menjadi jalan ke sorga atau jalan ke neraka, dan sebagai orang beriman kita diharapkan menjadikannya jalan ke sorga. Kita berasal dari Tuhan/sorga dan harus kembali kepada Tuhan/sorga. Semoga kita tidak memfungsikan anggota tubuh kita sebagai 'hamba setan' melainkan sebagai 'hamba Tuhan', demikian pula aneka harta benda dan kekayaan. Kita juga diingatkan agar hidup dan bertindak jujur, tidak pernah korupsi atau berbohong. Maka baiklah sekali lagi saya kutipkan apa jujur itu. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17).

"Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!" Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim. "Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu! Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku" (Mzm 50:5-8)


Jakarta, 1 Maret 2011



28 Feb - Sir 17:24-29; Mrk 10:17-27

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."

(Sir 17:24-29; Mrk 10:17-27)

 

"Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain dari pada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!" Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah." (Mrk 10:17-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Masih maraknya tindak korupsi hampir di semua bidang dan kehidupan bersama masa kini menunjukkan bahwa sikap materialistis begitu menjiwai banyak orang. UUD = Ujung-Ujungnya Duit itulah muara setiap permasalahan yang muncul masa kini. Orang bersikap mental materilistis berarti begitu mempercayakan diri pada materi (harta benda atau uang), sehingga kurang atau tidak percaya kepada Tuhan, tidak atau kurang beriman. Mereka kalau tidak menghasilkan harta benda atau uang tidak bertindak apapun. Sebagai orang beriman kita diharapkan mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah, dan percayalah bahwa "segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah", artinya dengan mempercayakan diri seutuhnya kepada Allah kita dapat mengerjakan segala sesuatu yang diperintahkan atau dikehendaki oleh Allah. Maka jika mendambakan hidup kekal, mulia dan berbahagia selamanya di sorga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, marilah cara hidup dan cara bertindak kita usahakan senantiasa sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain marilah kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Percayalah bahwa bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu mengatasi aneka tantangan dan hambatan.

·   "Untuk orang yang menyesalpun Tuhan membuka jalan kembali, dan orang yang kehilangan ketabahan hati dilipur oleh-Nya. Berpalinglah kepada Tuhan dan lepaskanlah dosa, berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina" (Sir 17:24-25). Kiranya kita semua adalah orang berdosa, namun marilah kita sadari dan hayati bahwa kita juga dipanggil oleh Allah untuk bertobat atau memperbaharui diri. Salah satu bentuk dosa yang kita lakukan adalah 'menghina' atau melecehkan orang lain, antara lain membesar-besarkan kesalahan dan kekurangan orang lain atau menuduh salah orang lain, padahal yang sebenarnya mereka tak bersalah. "Berdoalah di hadapan-Nya dan berhentilah menghina", demikian peringatan yang hendaknya kita indahkan. Berdoa antara lain mengarahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, sehingga perhatian senantiasa terarah kepada Tuhan yang hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, antara lain dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Maka marilah kita perhatikan karya Allah dalam diri kita sendiri maupun sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita saling bersikap positif satu sama lain, melihat dan mengimani kebaikan yang ada dalam diri kita. Marilah kita hayati bahwa Tuhan mahamurah dan maha kasih, maka hendaknya jangan takut menyesali dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan melalui sesama atau saudara-saudari kita. Para orangtua, pendidik/guru atau pemimpin kami harapkan dapat menjadi teladan dalam menyesali dosa dan mengakui kesalahan bagi anak-anaknya, peserta didik atau bawahannya.

 

"Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak" (Mzm 32: 5-7)

 

Jakarta, 28 Februari 2011