Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 03 Maret 2011

5 Maret - Sir 51:12-20; Mrk 11:27-33

"Kami tidak tahu."

(Sir 51:12-20; Mrk 11:27-33)

 

"Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!" Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu." (Mrk 11:27-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Bermain sandiwara atau menipu diri pada suatu saat akan ketahuan juga, itulah yang terjadi dengan imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Mereka tahu dari masa kuasa yang dimiliki oleh Yesus dalam rangka mengadakan aneka mujijat dan penyembuhan, namun pura-pura tak tahu untuk menjebak Yesus. Namun Yesus tahu pikiran jahat mereka, maka Ia menanggapi dengan pertanyaan kepada mereka:"Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia?'. Mereka  tak berani menjawab meskipun mereka tahu bahwa baptisan Yohanes dari sorga karena mereka tak percaya. Begitulah sikap para tokoh yang takut kehilangan pengikut sehingga suka berbohong dan ketika diketahuinya kebohongannya mereka semakin berbohong, suka bermain sandiwara diketahui permainannya semakin bersandiwara. Maka dengan ini kami berharap kepada para tokoh masyarakat, politikus, pejabat atau petinggi untuk tidak berbohong atau bermain sandiwara dalam kehidupan. Jawaban 'kami tidak tahu' akan muncul dari mulut anda ketika anda dikejar perihal kebohongan atau permainan sandiwara  anda. Marilah kita dengan rendah hati dan jujur berani mengakui dan menghayati kelemahan dan kerapuhan kita, dan tidak merasa tersaing atau tersingkir ketika muncul orang/tokoh yang melebihi kemampuan kita, melainkan bersyukur dan berterima kasih. Kepada anda semua yang jujur dan tidak suka berbohong, hendaknya dengan tenang dan sabar menanggapi aneka jebakan yang ingin menjatuhkan anda.

·   "Maka dari itu aku hendak bersyukur kepada-Mu serta memuji Engkau dan memuji nama Tuhan. Ketika aku masih muda dan sebelum mengadakan perjalananku, maka kebijaksanaan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku" (Sir 51:12-13)  Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi generasi muda atau mereka yang sedang bertugas belajar di tingkat apapun. Kepada mereka yang sedang bertugas belajar kami harapkan belajar dengan sungguh-sungguh, membuka diri terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh berkembang. Dengan kata lain kami harapkan bersikap mental sebagai pembelajar yang tinggi. Kami berharap selain belajar dari atau melalui apa yang diajarkan di sekolah, juga belajar dari aneka pengalaman hidup sehari-hari, dalam aneka pergaulan dan kebersamaan dengan orang lain. Ingatlah dan sadari bahwa aneka macam teori atau ajaran yang disampaikan di sekolah berasal atau digali dari pengalaman hidup konkret sehari-hari. Selain belajar hendaknya juga tidak dilupakan berdoa, sebagaimana diingatkan oleh penulis kitab Sirach bahwa "kebijaksanan telah kucari dengan sungguh dalam sembahyangku". Belajar dan berdoa hendaknya tidak dipisahkan dan hanya dapat dibedakan, artinya semakin banyak belajar hendakanya juga semakin berdoa, semakin berdoa hendaknya juga semakin giat belajar. Dengan kata lain doa menjiwai belajar dan belajar menjiwai doa. Dengan cara itu kami yakin anda akan sampai pada suatu kebajikan yang ada kemungkinan berkembang menjadi kebijakan dan kebijaksanaan. Semoga kita semua memiliki semangat 'belajar terus-menerus', on going education/formation. Maka bagi yang sudah bekerja atau berkarya hendaknya juga dengan semangat belajar setiap kali menerima tugas-tugas baru, atau fungsi atau kedudukan baru dalam pekerjaan.

 

"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah" (Mzm 19:8-11).

Jakarta, 5 Maret 2011     


4 Maret - Sir 44:1.9-12; Mrk 11:11-26)

 "Apa saja yang kamu minta dan doakan percayalah bahwa kamu telah menerimanya"

(Sir 44:1.9-12; Mrk 11:11-26)

 

"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota. Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Maka teringatlah Petrus akan apa yang telah terjadi, lalu ia berkata kepada Yesus: "Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering." Yesus menjawab mereka: "Percayalah kepada Allah! Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Mrk 11:15-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Berdoa berarti mengarahkan atau mempersembahkan hati sepenuhnya kepada Tuhan, dan karena Tuhan maha segalanya, maka berada di hadirat Tuhan atau berhadap-hadapan dengan Tuhan mau tak mau kita pasti akan dikuasai atau dirajai. Hati kita akan dikuasai atau dirajai oleh Tuhan, dan karena hati adalah pusat hidup kita, maka mau tak mau kita akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Itulah artinya bahwa 'apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya'. Pada saat berdoa kita telah menerima apa yang kita minta dan doakan, tentu saja yang menyelamatkan jiwa kita dan jiwa sesama kita. Memang itu berarti setelah berdoa kita segera mewujudkan pengabulan tersebut, yaitu senantiasa melakukan apa yang menyelamatkan jiwa manusia, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa saudara-saudari kita, yang kena dampak cara hidup dan cara bertindak kita. Kita juga diingatkan untuk tidak mengkomersielkan doa maupun tempat berdoa atau beribadat, sebagaimana pernah dilakukan oleh kelompok Bapak Thomas di tempat-tempat ziarah Bunda Maria di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Saya sungguh prihatin mendengar info bahwa beberapa seksi dewan paroki begitu materilistis, mencari kekayaan melalui tugas pelayanannnya.

·   "Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan, yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya" (Sir 44:10-12). Kita semua sebagai orang beriman dipanggil untuk menjadi 'kesayangan Tuhan' dengan melakukan kebajikan-kebajikan dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Salah satu bentuk kebajikan antara lain, meneladan Yesus, yaitu memberantas aneka macam bentuk komersialisasi jabatan, tempat ibadat/suci, aneka macam sarana-prasarana dst.. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, misalnya orangtua, pemimpin, pejabat atau atasan untuk tidak bersikap komersial. Ingat jika anda bersikap komersial maka anak cucu, keturunan atau rakyat anda akan melakukan yang sama, dan pada umumnya lebih hebat dan berat. Kami berharap kepada para tokoh atau pemimpin agama dapat menjadi teladan dalam melakukan kebajikan-kebajikan, menjadi 'kesayangan Tuhan'. Menjadi kesayangan Tuhan juga berarti setia pada aneka perjanjian, maka baiklah sebagai orang yang telah dibaptis, entah imam, bruder, suster atau awam, kami harapkan setia pada janji baptis, yaitu hanya mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Jika kita semua setia pada janji baptis, maka kita akan dapat lebih mudah untuk setia pada janji-janji berikutnya, seperti janji imamat, kaul atau janji perkawinan. Lebih lanjut kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri untuk setia saling mengasihi sampai mati, agar anak-anak atau keturunan anda 'demikian pula adanya'.

 

"Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."(Mzm 149:1-4)

Jakarta, 4 Maret 2011


Rabu, 02 Maret 2011

3 Maret - Sir 42:15-25; Mrk 10:46-52

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"

(Sir 42:15-25; Mrk 10:46-52)

 

"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya" (Mrk 10:46-52), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang buta matanya pada umumnya memiliki kepekaan 'mendengarkan tinggi'. Si pengemis buta, Bartimeus, begitu peka mendengarkan Yesus bersama rombonganNya lewat, dan ia berteriak kepada Yesus mohon kasih pengampunan dan belas kasihNya agar dapat melihat. Banyak orang menegornya, namun Yesus mendengarkan dan menanggapinya. Karena imannya yang begitu mendalam si buta Bartimeus akhirnya menerima anugerah dapat melihat. Kami percaya kebanyakan dari kita tidak buta matanya, namun apakah dapat melihat kehadiran Tuhan di dalam lingkungan hidup kita melalui saudara-saudari kita kiranya boleh dipertanyakan. Marilah dengan rendah hati kita lihat dan dengarkan kehadiran dan karya Tuhan melalui saudara-saudari kita di lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing, dan dengan rendah hati juga siap sedia mohon bantuan mereka agar kita dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, lebih-lebih karya dan kehadiran Tuhan dalam diri saudara-saudari kita. Karya dan kehadiran Tuhan dalam diri saudara-saudari kita antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik mereka. Kami percaya masing-masing dari kita berkehendak baik dan ingin melakukan apa yang baik, namun karena keterbatasan dan kelemahan apa yang kita lakukan sering kurang berkenan di hati Tuhan alias apa yang tidak atau kurang baik, misalnya menegor keras orang yang sedang berseru kepada Tuhan alias berdoa. Sebagai contoh kita sering marah-marah ketika mendengar suara adzan di pagi hari dari masjid, langgar atau surau. Lihat dan dengarkan bahwa suara adzan merupakan ajakan untuk berdoa, memuji dan memuliakan Tuhan. Iman lahir dan berkembang dari dan dengan mendengarkan. Jika anda ingin selamat hendakya menjadi pendengar yang baik atau meneladan Bunda Maria, yang senantiasa 'mendengarkan dan merenungkan segala sesuatu di dalam hatinya', artinya mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

·   "Pekerjaan Tuhan hendak kukenangkan, dan apa yang telah kulihat hendak kukisahkan. Segala pekerjaan Tuhan dijadikan dengan firman-Nya. Matahari bercahaya memandang segala sesuatunya dan ciptaan Tuhan itu penuh dengan kemuliaan-Nya"(Sir 42: 15-16). "Mengenangkan pekerjaan Tuhan" itulah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari. Mengenangkan pekerjaan Tuhan berarti mengingat-ingat dan melakukan apa yang baik, mulia, luhur, indah dan suci, apa-apa yang berkenan di hati Tuhan. Maka marilah kita lihat dan imani 'kemuliaan Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya', entah dalam diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Salah satu karya Tuhan yang layak dimuliakan adalah menganugerahkan pertumbuhan dan perkembangan dalam ciptaan-ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaanNya bergairah dan dinamis serta berbahagia. Kita imani bahwa kegairahan sesama manusia maupun binatang merupakan karya Tuhan, maka kita tanggapi dengan rendah hati dan keterbukaan. Jangan padamkan kegairahan saudara-saudari kita, sebagaimana dilakukan para murid menegor kegairahan Bartimeus. Memang generasi muda dan anak-anak pada umumnya lebih bergairah dan dinamis daripada orangtua atau orang dewasa, maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua maupun orang dewasa untuk menanggapi kegairahan generasi muda dan anak-anak dengan senang hati dan gembira, artinya memberi kemungkinan dan kesempatan untuk menyalurkan kegairahan mereka dalam mengembangkan diri agar tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Sebaliknya kepada generasi muda dan anak-anak kami harapkan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kemungkinan yang ada.

 

"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya" (Mzm 33:2-6)          

 

Jakarta, 3 Maret 2011.