Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 16 Maret 2011

15 Maret - Yes 55:10-11; Mat 6:7-15

"Bapa kami yang di sorga"

(Yes 55:10-11; Mat 6:7-15)

 

"Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Mat 6:7-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Warta Gembira hari ini mengangkat doa "Bapa Kami', doa yang diajarkan oleh Yesus dan kiranya kita semua hafal di luar kepala. Namun suatu pertanyaan refleksif: apakah kita telah menghayati isi doa Bapa Kami tersebut di dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Isi utama dari doa Bapa Kami hemat saya adalah persaudaraan atau persahabatan sejati, maka marilah di masa Prapaskah ini kita mawas diri perihal persaudaraan atau persahabatan sejati. Secara konkret kita diharapkan senantiasa menghayati kehadiran Allah dalam hidup kita sehari-hari, sehingga kita hidup dan bertindak dalam kuasa Allah, yang menjadi nyata dalam keutamaan-keutamaan: hidup sederhana/tidak serakah dan saling mengampuni. "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya", demikian doa kita, maka hendaknya agar doa tersebut terkabul kita senantiasa berusaha untuk hidup sederhana antara lain dalam hal makan dan minum. Makanan dan minuman yang penting sehat dan bergizi serta cukup, dan untuk itu belum tentu enak atau nikmat di lidah. Kalau masing-masing dari kita makan dan minum secara sederhana kiranya kita semua dapat makan hari ini secukupnya, tiada yang kelaparan atau kehausan satupun di antara kita. Hidup saling mengampuni juga merupakan panggilan yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat balas dendam, kebencian dan permusuhan masih marak di sana-sini. Jika kita hidup sederhana dan saling mengampuni, maka terjadilah persaudaraan sejati di antara kita.

·   "Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya" (Yes 55:10-11). Allah adalah Maha Kuasa, maka firman atau sabdaNya sungguh kuat kuasa. Masa Prapaskah juga masa untuk meningkatkan dan memperdalam pemahaman dan penghayatan kita terhadap firman Allah, maka marilah kita baca, renungkan dan hayati firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Sebagai contoh baiklah kita ikuti teks-teks kitab suci sesuai dengan Kalendarium Liturgy, yang saya coba kutipkan setiap hari. Apa yang saya coba refleksikan dan tulis adalah bagian kecil, satu dua ayat saja, dari kutipan Kitab Suci pada hari yang bersangkutan. Maka silahkan membacakan dan mendengarkan kembali teks kitab suci hari ini, baca berkali-kali  atau berulang-ulang sampai ada kata atau kalimat yang mengesan atau menyentuh anda, dan kemudian cecap dalam-dalam kata atau kalimat tersebut, sehingga merasuk di hati alias menjadi milik anda sendiri. Kami percaya jika kita sungguh mendengarkan dan merenungkan dalam hati dalam-dalam firman Allah, maka kita akan hidup dan bertindak sesuai dengan firman tersebut. "Karena bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang jiwa" (St.Ignatius Loyola, LR no 2), demikian nasihat St.Ignatius Loyola bagi siapapun yang mendambakan kemajuan dan kedalaman hidup rohani. Firman atau nasihat di atas ini kiranya dapat diterapkan juga dalam bidang pendidikan; bukan banyaknya mata pelajaran yang diajarkan yang diutamakan, melainkan pemahaman dan kedalaman mata pelajaran yang bersangkutan.

 

"Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya"

(Mzm 34:4-7)

 

Jakarta, 15 Maret 2011


Minggu, 13 Maret 2011

14 Maret - Im 19:1-2.11-18; Mat 25:31-36

"Terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan"

(Im 19:1-2.11-18; Mat 25:31-36)



"Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku" (Mat 25:31:36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Masa Prapaskah kiranya juga masa untuk meningkatkan atau memperdalam perbuatan baik kepada sesama, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Warta Gembira hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk berbuat baik kepada mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, sakit dan terpenjara, entah itu secara phisik maupun spiritual. Maka marilah kita perhatikan saudara-saudari di lingkungan hidup atau kerja kita: mereka yang miskin dan berkekurangan. Dengan kata lain marilah kita tunduk, melihat ke bawah, untuk mengorbankan sebagian kekayaan, waktu dan tenaga kita bagi mereka yang lapar, haus, terasing, telanjang, sakit atau terpenjara. Jika kita tidak memiliki harta benda atau uang untuk disumbangkan kepada mereka, baiklah kita mendoakan mereka. Ingatlah dan hayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini merupakan anugerah Allah yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan, membantu dan mengasihi kita, maka selayaknya kita fungsikan untuk berbuat baik kembali kepada mereka yang miskin dan berkekurangan tersebut. "Compassion" atau kepedulian bagi sesama terutama mereka yang miskin dan kekurangan merupakan salah satu cirikhas hidup beriman. Kita hayati iman kita dengan kepedulian bagi saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan. Memberi dan berkorban bagi mereka yang miskin dan berkekurangan merupakan kebahagiaan tersendiri, yang tak terlupakan. Kita berantas dan musnahkan aneka macam bentuk egois yang merusak dan menghancurkan hidup bersama.


•    "Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya. Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN. Janganlah engkau memeras sesamamu manusia dan janganlah engkau merampas; janganlah kautahan upah seorang pekerja harian sampai besok harinya. Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN. Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran. Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN. Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN" (Im 19:11-18). Kutipan dari Kitab Imamat ini hemat kami cukup jelas: suatu perintah moral yang hendaknya kita laksanakan atau hayati.  Maka marilah mawas diri: kecurangan atau kejahatan macam apa yang masih atau sering kita lakukan untuk kita perbaiki, dan kemudian bertobat alias tidak melakukannya kembali. Kita semua mendambakan hidup mulia kembali di sorga setelah meninggal dunia atau mati, maka baiklah kita segera bertobat dan memperbaharui diri. Tidak ada kata terlambat untuk bertobat atau memperbaharui diri.



"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya" (Mzm 19:8-10)


Jakarta, 14 Maret 2011

Minggu Prapaskah I - Kej 2:7-9; 3:1-7; Rm 5:12-19; Mat 4:1-11

"Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis."

Mg Prapaskah I : Kej 2:7-9; 3:1-7; Rm 5:12-19; Mat 4:1-11


Padang gurun di wilayah Timur Tengah memang sangat luas. Ketika saya mendampingi kelompok ziarah ke Tanah Suci antara lain harus melintasi padang gurun di wilayah Mesir selama lebih dari tiga jam perjalanan dengan bus wisata dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam. Maka kiranya dapat dibayangkan betapa besar, tantangan dan masalahnya jika anda berjalan atau berada sendirian di tengah padang  gurun. Godaan untuk bunuh diri mungkin terjadi. Namun ada dua kemungkinan ketika sendirian berada di padang gurun berhari-hari, yaitu : bunuh diri karena frustrasi atau mempersembahkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi/Allah sepenuhnya. "Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis", pencobaan dari Iblis adalah 'makanan, percaya diri tanpa Allah dan kesombongan'.  Mungkin kita tidak akan berada di padang gurun, tetapi hemat saya hidup masa kini bagaikan berada di padang gurun, dimana kita ada kemungkinan dicobai seperti Yesus. Maka baiklah ketika kita dicobai, marilah belajar dari atau meneladan Yesus, dan untuk itu saya berusaha membantu dengan sederhana merefleksikan pengalaman pencobaan Yesus di padang gurun serta tanggapanNya.

 

"Datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:3-4)     

 

Godaan dari Iblis pada Yesus yang pertama adalah masalah kebutuhan phisik atau tubuh, yang bagi kita masa kini godaan tersebut dapat berupa: makanan, minuman, harta benda atau uang alias semangat atau sikap mental materialistis/duniawi. Sikap mental materiatistis kiranya menjiwai cukup banyak orang masa kini: makan dan minum yang enak sebanyak-banyaknya padahal jenis makanan dan minuman yang dinikmati menimbulkan penyakit dalam tubuh, seperti: kolesterol, trikeserit, gula dst.. Ada orang begitu bekerja keras, termasuik berkorupsi dalam rangka mengumpulkan uang atau harta benda: siang malam bekerja sehingga kurang istirahat dan berkomunikasi dengan anggota keluarga,

 

"Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah", demikian jawaban Yesus menanggapi godaan Iblis perihal kebutuhan tubuh. Kita memiliki hati, jiwa, akal budi dan anggota-anggota badan/tubuh, maka marilah tidak hanya anggota tubuh yang kita beri gizi, tetapi juga hati, jiwa serta akal budi, antara lain dengan membaca dan merenungkan firman Allah, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka baiklah kita berpartisipasi secara aktif dalam pertemuan umat di lingkungan di masa Prapaskah ini untuk berdoa bersama atau pendalaman iman. Jika tak mungkin berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan, baiklah secara sendirian atau di dalam keluarga disisihkan waktu khusus setiap hari untuk berdoa atau membaca dan merenungkan firman Allah. Selain di dalam Kitab Suci, firman Allah juga diusahakan 'diterjemahkan' ke dalam aneka tata tertib atau aturan hidup dan kerja bersama. Maka hendaknya menyisihkan waktu khusus setiap hari untuk membaca dan meresapkan tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup, panggilan serta tugas pengutusan kita masing-masing. Marilah di masa Prapaskah ini kita perdalam dan kembangkan iman kepercayaan kita kepada Tuhan. Hendaknya aneka macam harta benda atau uang dijadikan sarana atau jalan menuju kepada Allah, alias sarana atau wahana untuk menyucikan diri atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Semakin kaya akan harta benda atau uang, hendaknya juga semakin beriman, semakin berbakti kepada Allah. Jauhilah 'gila akan harta benda atau uang', karena ketika tiada harta benda atau uang yang didambakan yang ada tinggal 'gila'nya alias anda akan menjadi gila atau sinthing.             

 

"Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" (Mat  4:5-7)

 

Orang yang kaya akan harta benda atau uang pada umumnya menjadi begitu percaya diri sepenuhnya dan tidak atau kurang percaya kepada Allah. Dengan harta atau uangnya yang banyak orang dapat berbuat apa saja sesuai dengan keinginan atau untuk memenuhi nafsunya. Ia akan berusaha mencobai Allah agar Allah senantiasa mengabulkan keinginan atau nafsu pribadinya, meskipun apa yang diinginkan menghancurkan jiwanya. Ia juga sering menjadikan sesama manusia bagaikan harta benda saja, dapat diperoleh dengan uang atau harta bendanya, antara pergi ke tempat pelacuran untuk memenuhi gairah seksualnya, yang tak terpenuhi oleh pasangan hidupnya.

 

"Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu", demikian jawaban Yesus terhadap godaan Iblis. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah ciptaan Allah, dan hanya dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat ini karena kasih Allah, yang kita terima secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang mengasihi atau memperhatikan kita dengan aneka cara dan bentuk. Aneka macam sapaan, sentuhan, perhatian atau perlakuan orang lain pada diri kita adalah perwujudan kasih Allah, dengan kata lain saudara-saudari kita adalah wakil Allah. Maka hendaknya juga tidak mencobai sesama manusia atau memperlakukan sesama manusia bagaikan harta benda, yang dapat diperlukan apa saja sesuai dengan keinginan kita. Mencobai sesama manusia berari mencobai Yesus. Godaan pada diri kita dapat berupa gila akan kuasa atau kedudukan atau jabatan, maka hendaknya jangan gila akan kuasa, kedudukan atau jabatan, karena ketika anda tidak memperolehnya atau kehilangan kuasa, kedudukan atau jabatan, yang tinggal adalah 'gila'nya, anda akan menjadi gila atau sinthing. 

 

"Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Mat 4-8-10)

 

Orang kaya akan harta benda dan uang serta memiliki kuasa, jabatan atau kedudukan dapat menjadi sombong, atau menghadapi godaan untuk menjadi sombong atau atheis. Ia bersembah sujud kepada harta benda, uang, kedudukan, kuasa atau jabatannya. Godaan untuk menjadi sombong kita hadapi setiap hari dalam aneka kesempatan dan kemungkinan. "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti", demikian jawaban Yesus pada Iblis yang menggodaNya untuk menjadi sombong. Kita dipanggil untuk meneladan Yesus, dan untuk itu marilah kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, kebalikan dari sombong. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Putaka – Jakarta 1997, hal 24).

 

Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama untuk dapat menjadi teladan penghayatan kerendahan hati, dan tidak menjadi sombong. Marilah kita dukung para gembala kita, para uskup, yang  senantiasa berusaha untuk rendah hati, antara lain dalam doanya senantiasa menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina, dengan harap dapat melayani umat yang dipercayakan kepadanya. Dengan kata lain kami berharap kepada para pemimpin atau ketua atau atasan untuk hidup dan bertindak melayani, menghayati kepemimpinan partisipatif: pemimpin atau atasan yang mendengarkan .       

 

"Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Rm 5:12)

 

Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma hari ini mengingatkan kita semua bahwa dosa atau keselamatan dapat masuk ke dunia oleh satu orang. Di sini Paulus berbicara perihal Adam, manusia pertama dan Yesus, Penyelamat Dunia. Peringatan Paulus ini kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun dapat menjadi pendorong atau motivasi orang untuk berdosa atau semakin berbakti kepada Allah, semakin beriman. Dimanapun dan kapanpun kita hadir atau berada, serta apapun yang kita lakukan hendaknya dapat menjadi pendorong atau motivasi bagi orang lain untuk semakin beriman atau berbakti kepada Tuhan, dan tentu saja dari diri kita sendiri harus sungguh beriman atau berbudi pekerti luhur. Maka baiklah sekali lagi kami kutipkan sifat-sifat berbudi pekerti luhur, dan anda dapat memilih salah satu ciri untuk dihayati. Hemat saya ketika kita unggul dalam salah satu ciri pada umumnya secara inklusif kita juga menghayati sifat-sifat lainnya.

 

"Sifat-sifat budi pekerti luhur, yaitu:  bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet "

(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)  

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat"

(Mzm 51:2-6a)

 

Jakarta, 13 Maret 2011