Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 28 Maret 2011

29 Maret - Dan 3:25.34-43; Mat 18:21-35

"Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?"

(Dan 3:25.34-43; Mat 18:21-35)

 

"Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali." (Mat 18:21-22),demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness" (=Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan), demikian pesan Hari Perdamaian Sedunia Paus Yohanes Paulus II memasuki Millenium ketiga. Kehadiran  atau kedatangan Yesus, Penyelamat Dunia, merupakan wujud kasih pengampunan Allah kepada umat manusia di dunia, agar terjadi perdamaian di dunia. Maka kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk meneladanNya dengan menjadi saksi dan penyalur kasih pengampunan dimanapun kita berada atau kemanapun kita pergi. Jika kita mawas diri dengan jujur dan benar kiranya masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita yang telah memperhatikan dan mengasihi kita dengan aneka cara atau bentuk. Maka panggilan untuk menjadi saksi atau penyalur kasih pengampunan hemat saya mudah jika kita tidak pelit alias bermurah hati. Menanggapi pertanyaan Petrus perihal berapa kali harus mengampuni mereka yang bersalah, Yesus menjawab "tujuh puluh kali tujuh kali", yang berarti terus menerus , tak kenal batas. Kasih pengampunan adalah wujud dari kasih dan kasih memang tak terbatas, tak dapat dibatasi oleh usia, SARA dst..  Kami berharap di dalam komunitas basis, seperti di dalam keluarga atau rukun tetangga sungguh terjadi kasih pengampunan antar anggota atau warganya, sehingga pengalaman yang telah diperoleh dalam komunitas basis ini dapat menjadi modal dan kekuatan dalam hidup bersama yang lebih luas, untuk menjadi saksi dan penyalur kasih pengampunan. Marilah kita jauhkan dan berantas aneka macam bentuk balas dendam, dan kita imani bahwa kasih pengampunan pasti mampu mengalahkan balas dendam dan kebencian.

·   "Demikianlah hendaknya korban kami di hadapan-Mu pada hari ini berkenan seluruhnya kepada-Mu. Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya pada-Mu. Kini kami mengikuti Engkau dengan segenap jiwa dan dengan takut kepada-Mu, dan wajah-Mu kami cari. Janganlah kami Kaupermalukan, melainkan perlakukankanlah kami sesuai dengan kemurahan-Mu dan menurut besarnya belas kasihan-Mu. Lepaskanlah kami sesuai dengan perbuatan-Mu yang ajaib, dan nyatakanlah kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan."(Dan 3:40-43), demikian doa Daniel. Marilah doa ini juga kita jadikan doa kita, antara lain kata-kata ini yang hendaknya menjadi pedoman hidup kita, yaitu: "Kami mengikuti Engkau dengan segenap hati dan dengan takut kepadaMu, dan wajahMu kami cari". Mengikuti Tuhan berarti senantiasa mendengarkan dan mengikuti bisikan atau suara RohNya melalui ciptaan-ciptaanNya, terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Bisikan atau suara Roh dalam diri manusia/kita antara lain berupa kehendak baik, maka kita dengarkan dan ikuti kehendak baik saudara-saudari kita. Ada kemungkinan perbedaan kehendak baik di antara kita, maka baiklah kita saling mendengarkan dan mengolah bersama kehendak-kehendak baik kita, sehingga ada satu kehendak baik yang kita pegang atau menjadi pedoman kita. Perwujudan kehendak baik juga dapat berbeda satu sama lain, tergantung dari situasi dan kondisi dimana kita hidup atau berada. Pendek kata buah perbuatan baik yang kita lakukan adalah keselamatan jiwa manusia, maka strategi atau kegiatan yang kita lakukan dapat berbeda satu sama lain. Bisikan atau suara Roh juga menggejala dalam ciptaan-ciptaan lainnya seperti binatang atau tanaman, maka hendaknya kita rawat binatang maupun  tanaman sehingga dapat membantu kita dalam mengejar atau mengusahakan tujuan kita diciptakan, yaitu keselamatan jiwa manusia. Dengan kata lain marilah kita kelola lingkungan hidup kita sedemikian rupa sehingga kita dapat hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan alias hidup dan berbudi yang baik, berbudi pekerti luhur, bermoral. Hendaknya kita juga tidak serakah menggunakan ciptaan-ciptaan lainnya, binatang atau tanaman; keserakahan dalam menggunakan binatang maupun tanaman akan menjadi 'senjata makan tuan', artinya kita dan anak-cucu kita akan menderita.

 

"Ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu, oleh karena kebaikan-Mu, ya TUHAN. TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati" (Mzm 25:7b-9).

     

Jakarta, 29 Maret 2011     


Minggu, 27 Maret 2011

28 Maret -2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30

"Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya".
(2Raj 5:1-15a; Luk 4:24-30)

"Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu." Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi" (Luk 4:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    "Luar negeri minded" itulah motto kebanyakan orang. Memang dalam kenyataan apa yang diproduki di dalam negeri kalah mutunya jika dibandingkan apa yang diproduksi dari luar negeri. Sebagai contoh adalah pendidikan, dimana mereka yang berduit atau orang-orang kaya lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di luar negeri daripada di dalam negeri. Demikian juga orang begitu menaruh hormat kepada orang asing, sedangkan kepada saudara-saudari yang setiap hari hidup atau bekerja bersamanya kurang dihormati atau dihargai atau bahkan dilecehkan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua agar kita lebih mengasihi mereka yang dekat dengan kita daripada mengasihi mereka yang jauh dari kita. Jika kita mampu mengasihi mereka yang dekat dengan kita maka kepada orang lain/asing berarti kita menghormati sepenuh hati, bukan sekedar sopan santun atau cari muka saja, bahkan melayani; sebaliknya ketika kita tak dapat mengasihi mereka yang dekat dengan kita, pada umumnya sikap terhadap yang lain sebenarnya menindas atau melecehkan, meskipun nampak di luar penuh hormat. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk lebih mengasihi apa atau mereka yang dekat dengan kita, entah itu manusia, harta benda/aneka macam produksi, dst.. Sebagai contoh adalah pakaian: batik telah diakui oleh dunia sebagai produk asli Indonesia, maka baiklah dalam berbagai kesempatan formal atau resmi sebaiknya pakai batik saja daripada dengan jas dan dasi, yang sebenarnya merupakan kebiasaan mereka yang tinggal di daerah dingin, seperti di Eropa. Marilah kita tingkatkan kwalitas pendidikan di negeri kita, pelayanan karya kesehatan di rumah sakit kita dst… agar saudara-saudari kita kemudian lebih suka belajar atau berobat di dalam negeri daripada di luar negeri.

•    "Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.Kemudian kembalilah ia dengan seluruh pasukannya kepada abdi Allah itu" (2Raj 5:14-15a), demikian warta gembira perihal Naaman yang melaksanakan perintah nabi. Pengalaman Naaman ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita: marilah kita taati dan laksanakan semua perintah nabi. Nabi adalah utusan Allah, orang yang penuh Roh Kudus, yang senantiasa menyuarakan kehendak dan perintah Allah. Kami percaya sebagai orang beriman kita semua juga memiliki sifat kenabian, antara lain menggeja dalam aneka kehendak baik, maka baiklah kita saling mendengarkan dan menanggapi kehendak baik saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu atau SARA. Kita belajar dari Naaman yang tidak malu melakukan tugas yang sederhana, maka baiklah meskipun kehendak baik saudara-saudari kita hendaknya segera ditanggapi secara positif. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak malu melakukan tugas atau pekerjaan yang sederhana, misalnya menyapu atau mengepel lantai, mencuci pakaian sendiri, mengatur kamar tidur sendiri, dst.. Kami percaya ketika kita terbiasa dan terampil mengerjakan apa yang sederhana tersebut, maka kita memiliki modal atau kekuatan untuk melakukan apa yang sulit dan berbelit-belit. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang sulit dan berbelit-belit sebenarnya belajar dari apa yang sederhana, misalnya pesawat terbang meniru dan belajar dari burung yang terbang, maka pesawat terbang sering disebut burung baja. Kami berharap hendaknya anak-anak di dalam keluarga dibiasakan dan dididik untuk melakukan apa yang sederhana, yang menjadi kebutuhan hidup sehari-hari, dan tentu saja dengan teladan konkret dari orangtua/bapak-ibu.

"Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah" (Mzm 42:2-3)

Jakarta, 28 Maret 2011



27 Maret-Mg Prapaskah III : Kel 17:3-7; Rm 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42

"Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."

Mg Prapaskah III : Kel 17:3-7; Rm 5:1-2.5-8; Yoh 4:5-42


Orang yang kawin-cerai berkali-kali memang tidak menjadi jelas siapa suami atau isteri yang sebenarnya, karena ada kemungkinan pasangan hidupnya hanya sekedar pemuas nafsu seksual belaka bukan panggilan atau rahmat Allah. Itulah yang terjadi dengan wanita Samaria yang berdialog dengan Yesus di pinggir sumur. Dengan susah payah wanita Samaria mengusahakan air demi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan ketika Yesus berkata kepadanya bahwa Ia dapat memberi air sejati yang tidak akan membuat haus selamanya, maka dengan bergairah sang wanita berkata: "Tuhan berikanlah kepada saya air itu!".  Menanggapi permintaan tersebut Yesus menjawab: "Panggillah suami untuk bersama-sama menerima air kehidupan". "Saya, tidak bersuami", begitulah jawaban sang wanita dengan cepat. : "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." (Yoh 4:17-8), demikian tanggapan Yesus selanjutnya. Mendengar tanggapan Yesus tersebut sang wanita pun menjadi sadar dan kemudian mengimani bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Penyelamat Dunia, yang telah datang dan dinantikan kedatanganNya oleh banyak orang. Baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas diri dengan cermin dialog Yesus dengan wanita Samaria tersebut, siapa tahu bahwa kita pun tak terlalu jauh seperti wanita Samaria tersebut.

 

"Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini." (Yoh 4:16) 

Perintah Yesus untuk pergi memanggil suami berarti perintah untuk mengurus atau mengelola 'harta-milik' pribadi, misalnya suami atau isterinya sendiri yang syah, panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan, kewajiban dst.., dengan mengesampingkan aneka sambilan atau hobby yang mengganggu. Memang untuk mengurus atau mengelola apa-apa yang syah menjadi milik pribadi dapat membosankan dan melelahkan, karena setiap hari/saat yang diurus atau dikelola itu-itu saja, tak pernah berganti. Apalagi yang diurus adalah manusia, seperti suami atau isterinya sendiri, yang pada umumnya semakin lama semakin sering berkumpul berarti juga semakin rewel. Demikian juga tugas rutin setiap hari, entah di rumah atau di kantor/tempat kerja juga dapat membosankan. Sementara itu mengurus atau mengerjakan yang sambilan sungguh menghibur dan menyenangkan.

 

Mengapa mengurus atau mengerjakan yang sambilan terrasa lebih enak, nikmat dan menyenangkan? Karena tidak menuntut tanggungjawab, itulah jawabannya. Apalagi yang sambilan pelayanannya sungguh enak dan nikmat, misalnya pelayanan para perempuan pelacur kepada para lelaki hidung belang. Sabda Yesus di atas memang menuntut dan memanggil kita untuk menjadi pribadi manusia yang bertanggungjawab. "Bertanggung jawab adalah sikap perilaku yang berani menanggung segala akibat dari perbuatan atau tindakan yang telah dilakukannya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 14).

 

Bertanggung jawab erat kaitannya dengan atau pasangannya adalah kebebasan, artinya kita dapat menuntut tanggung jawab seseorang jika kita juga memberi kebebasan kepadanya sepenuhnya, sebaliknya ketika kita diberi kebebasan hendaknya bertanggung jawab. Saya kira hidup terpanggil sebagai suam-isteri, imam, bruder, suster, pekerja dst.. dipilih dan ditanggapi dalam kebebasan. Bukankah anda dengan bebas memilih pacar? Bukankah anda dengan bebas mendaftarkan diri masuk ke seminari, novisiat dst.. Maka selayaknya selanjutnya kita sungguh bertanggung jawab atas pilihan atau tindakan yang telah kita ambil atau lakukan. Kami berharap keutamaan tanggung jawab dan kebebasan ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dalam asuhan atau bimbingan orangtua/bapak – ibu. Berbagai kekhawatiran atau ketakutan orangtua atau bapak-ibu sering  memenjarakan anak-anaknya. Anak-anak yang di dalam keluarga kurang dibina tanggung jawab dan kebebasannya hemat kami kelak kemudian hari ketika menjadi dewasa akan mudah menyeleweng atau berselingkuh. Mengapa? Karena ketika menjadi dewasa secara phisik dan umur tidak ada tekanan dari orangtua lagi alias dapat bebas seenaknya, dan dengan demikian akan bertindak seenaknya mengikuti selera atau keinginan pribadi tanpa tanggung jawab. Setia pada panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan atau kewajiban memang harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, namun akan berbuahkan kebahagiaan sejati sampai mati. Hati dan jiwa kita akan selamat dan bahagia selamanya.

 

"Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." (Rm 5:1-2)      

 

 

Hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, hidup sebagai imam, bruder atau suster, tugas bekerja atau belajar dst..hemat saya adalah kasih karunia Allah, maka marilah kita hayati ajakan Paulus kepada umat di Roma bahwa "Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah".  Pertama-tama marilah kita hayati suami atau isteri, panggilan, tugas atau pekerjaan sebagai kasih karunia Allah dan selanjutnya kita hayati atau lakukan/kerjakan dalam dan oleh kasih karunia Allah. Di dalam kasih karunia kita diharapkan tetap berdiri dan bermegah dalam pengharapan, artinya dengan sungguh-sungguh, kerja keras dan ceria serta bersemangat dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas atau pekerjaan.

 

Di dalam kasih karunia Allah juga berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, dan hal ini secara konkret dapat kita hayati dengan setia dan melaksanakan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan serta aneka macam tata tertib yang terkait dengan janji tersebut. Maka baiklah sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus dan telah dibaptis, kita mawas diri perihal janji baptis yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita sampai kini setia pada janji baptis? Sebelum menerima rahmat pembaptisan kita berjanji untuk hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak aneka macam godaan setan di dalam hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan masa kini antara lain aneka macam sambilan di luar panggilan, tugas atau pekerjaan utama atau pokok. Para pegawai negeri, pejabat atau anggota lembaga  legislatif sering lebih senang dan bergairah mengerjakan tugas sambilan seperti aneka macam proyek, karena berarti akan menerima imbal jasa atau penghasilan tambahan, dan pada umumnya penghasilan tambahan sering lebih besar daripada gaji pokok. Maka kami berharap kepada mereka untuk setia kepada tugas atau pekerjaan pokok, dan jika tugas atau  pekerjaan pokok atau utama telah diselesaikan dengan baik, baru kemudian jika masih tersedia waktu dan tenaga baik-baik saja melakukan tugas atau pekerjaan sambilan.

 

"Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku" (Mzm 95:6-9)

 

Jakarta, 27 Maret 2011