Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 25 Mei 2011

25 Mei - Kis 15:1-6; Yoh 15:1-8

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya"

(Kis 15:1-6; Yoh 15:1-8)

 "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."(Yoh 15:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ranting terpisah dari pokok batang pohon pasti layu dan segera mati tak berdaya lagi, itulah kenyataan yang ada. Yesus bersabda "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya", suatu ajaran atau ajakan bagi kita yang beriman kepadaNya agar kita tak pernah terpisahkan dari Dia jika kita mendambakan hidup baik, bahagia dan damai sejahtera serta cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan dan membahagiakan terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Maka baiklah sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa hidup dan bekerja bersama denganNya, menghayati sabda-sabdaNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Sebagai tanda bahwa kita senantiasa bersama dan bersatu denganNya antara lain kita senantiasa hidup segar, bergairah, ceria, dinamis, menarik dan memikat bagaikan ranting segar bugar yang tak terpisah dari pokok batangnya. Kegairahan dan keceriaan kita bukan karena kaya akan harta benda, uang atau jabatan, melainkan karena Tuhan sungguh hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini melalui RohNya, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Siapapun yang hidup dan bertindak dijiwai oleh keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut kiranya tak akan pernah tersingkirkan dalam percaturan hidup dan kerja bersama di masyarakat, melainkan selalu hadir dan fungsional menyelamakan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dan kapanpun. Maka marilah kita saling membantu dalam penghayatan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas.

·   "Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka." (Kis 15:4), demikian berita perihal dua rasul yang datang di  Yerusalem dari perjalanan missionernya. Barnabas

·dan Paulus menceriterakan keberhasilan tugas pelayanan atau pewartaannya kepada para rasul dan penatua di Yerusalem. Selain kabar kesuksesan yang menggembirakan tersebut mereka juga membawa pesan dari umat non Yahudi perihal sunat dan tidak sunat. Ada pandangan bahwa menjadi pengikut atau murid Yesus harus bersunat mengikuti tradisi Yahudi, sebagaimana Yesus juga melakukannya. Sunat merupakan tanda atau symbol pengakuan iman untuk bangsa Yahudi. Setiap suku atau bangsa memiliki kebiasaan atau budaya sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain namun hemat saya tujuannya sama. Memang perbedaan budaya atau kebiasaan dapat menimbulkan masalah, maka baiklah ketika kita menghadapi masalah budaya atau kebiasaan tersebut hendaknya meneladan jemaat perdana, yaitu menyelenggarakan pertemuan bersama untuk membicarakannya.  Dengan kata lain marilah kita sering bertemu untuk bercakap-cakap bersama agar aneka perbedaan yang sering menimbulkan masalah atau  ketegangan hidup bersama segera teratasi. Hendaknya jangan pelit atau malas untuk saling bertemu atau bercakap-cakap, karena kami percaya dalam setiap pertemuan atau percakapan bersama pasti akan penemuan atau pembaharuan yang menyelamatkan dan membahagiakan.  Kami percaya jika hati, budi, jiwa kita baik maka pertemuan antar kita sungguh membahagiakan dan menyelamatkan karena terjadi pembaharuan sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN" (Mzm 122:1-4)

Ign 25 Mei 2011


Senin, 23 Mei 2011

24 Mei - Kis 14:19-28; Yoh 14:27-31a

"Apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu"

(Kis 14:19-28; Yoh 14:27-31a)


"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku. Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku" (Yoh 14:27-31a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semua orang kiranya mendambakan hidup damai sejahtera di bumi ini maupun nanti setelah meninggal  dunia untuk hidup mulia selamanya. Namun dalam kenyataan ada aneka gambaran perihal damai sejahtera beserta cara mengusahakannya. Ada orang merasa bahagia dan damai sejahtera jika memiliki banyak harta benda atau uang alias kaya raya akan harta duniawi, ada orang merasa bahagia dan damai sejahtera jika memiliki berbagai gelar  dan jabatan, sehingga dihormati dimana-mana, dst.. Itulah gambaran damai sejahtera 'yang diberikan oleh dunia;, sedangkan damai sejahtera yang dianugerahkan Allah kebalikannya yaitu keselamatan jiwa manusia alias hidup baik dan suci selama di dunia ini. Hidup damai sejahtera sejati hemat saya meneladan Yesus sebagaimana Ia telah melakukan apa yang Ia sabdakan, yaitu "Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadaKu". Saling mengasihi sebagaimana Allah telah mengasihi kita itulah yang hendaknya kita lakukan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita diciptakan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, sehingga kita adalah buah kasih atau yang terkasih. Maka panggilan untuk saling mengasihi hemat saya mudah sekali asal kita menghayati diri sebagai yang terkasih, karena dengan demikian bertemu dengan siapapun berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih yang secara otomatis akan saling mengasihi. Hidup damai sejahtera akan terjaadi jika kita saling mengasihi tanpa pandang bulu/SARA.

·   "Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman" (Kis 14:27), demikian info perihal apa yang dilakukan oleh para rasul. Paulus dan Barnabas, di Antiokia.  Marilah kita meneladan apa yang dilakukan oleh para rasul ini, yaitu "menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan kita antara lain ajakan untuk membuka pintu bagi semua bangsa kepada iman'. Allah memanggil kita untuk menjadi utusan atau rasul guna mengajak semua orang yang kita jumpai agar membuka diri terhadap penyelenggaraan Ilahi, yang berarti menghayati karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga kita mengakui dan menghayati diri sebagai orang yang sungguh beriman, mempersembahkan diri seutuhnya kepada penyelenggaraan Ilahi. Hendaknya kita juga mengimani bahwa kabar gembira damai sejahtera diperuntukkan bagi semua orang/bangsa di dunia ini. Allah telah melakukan diri kita manusia ciptaanNya yang terluhur dan termulia di dunia ini sebagai gambar atau citraNya, dan karena Allah adalah kasih, maka sebagai gambar atau citraNya kita dipanggil untuk menghadirkan diri sebagai kasih bagi saudara-saudari kita, sehingga kita sebagai umat beriman hidup saling mengasihi satu sama lain. Damai sejahtera sejati memang akan terwujud atau menjadi nyata jika kita hidup saling mengasihi satu sama lain. Kami berharap para suami-isteri atau orangtua dapat menjadi saksi saling mengasihi bagi anak-anaknya, sehingga antar anak atau kakak-adik juga saling mengasihi. Kami percaya apa yang dialami di dalam keluarga akan menjadi bekal kekuatan dalam hidup bersama yang lebih luas di kemudian hari.

" Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya." (Mzm 145:10-13)

Ign 24 Mei 2011


23 Mei - Kis 14:5-18; Yoh 14:21-26

"Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu"

(Kis 14:5-18; Yoh 14:21-26)


"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh 14:21-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Entah sudah berapa kali kita telah menerima aneka perintah, nasihat atau saran dari orang lain kiranya tak ada yang sempat atau mampu mengingat dan menghitungnya, demikian juga isinya pun kemungkinan sudah kita lupakan. Kita juga sering mendengarkan kotbah-kotbah dalam gereja serta bacaan dari Kitab Suci, namun dengan jujur harus kita akui bahwa semuanya terlupakan juga. Sabda hari ini mengingatkan kita semua bahwa jika kita mendambakan ingat kembali aneka perintah, nasihat dan saran, hendaknya membuka diri terhadap bisikan atau pendampingan Roh Kudus. Keterbukaan ini kiranya secara konkret dapat kita hayati dengan siap sedia untuk dikasihi, artinya ketika mendengarkan aneka nasihat, saran atau perintah hendaknya bersikap rendah hati, siap sedia untuk dibina, dibentuk, dst.. alias menghayati diri bagaikan 'tanah liat di tangan tukang periuk'. Marilah sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, yang telah mengasihi kita dengan wafat di kayu salib dan kemudian bangkit dari mati, kita tanggapi kasihNya dengan menghayati sabda-sabdaNya atau meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Kiranya kita tak mungkin mengingat semua sabdaNya, maka baiklah meneladan para kudus marilah kita ingat dan hayati beberapa sabda atau satu/dua ayat dari sabdaNya, dan hendaknya sabdaNya kita tulis dan tempatkan di meja kerja kita sehingga setiap hari dapat dibaca. Kami yakin ketika setiap hari membacanya pasti akan meresap dalam hati dan menjiwai cara hidup serta cara bertindak kita.

·   "Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya." (Kis 14:15), demikian kata-kata Paulus kepada sekerumunan orang yang mencurigai kedatangannya. Paulus mengingatkan mereka perihal "Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya", agar mereka bertobat meninggalkan perbuatan sia-sia alias jahat dan kemudian hidup penuh syukur dan terima kasih atas segala anugerah atau rahmat Allah. Kita kiranya dapat menempatkan diri seperti Paulus atau sebaliknya seperti orang-orang kebanyakan yang mendengarkan pewartaan Paulus. Jika meneladan Paulus hendaknya kita tanpa takut dan gentar 'memberitakan Injil atau kabar baik' dan mengajak semua saja yang kita jumpai untuk bertobat; tentu saja diri kita sendiri senantiasa dalam keadaan baik alias  selamat dan tidak jahat. Sebaliknya jika meneladan orang banyak marilah kita meninggalkan perbuatan yang sia-sia alias bermalas-malasbean dan berfoya-foya. Ingatlah dan hayati bahwa hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki serta kuasai dan nikmati sampai kini adalah anugerah Allah, maka seharusnya dihayati dan difungsikan sesuai dengan kehendak Allah, yaitu demi keselamatan jiwa kita dan jiwa saudara-saudari kita. Untuk itu hendaknya kita hidup sederhana, secukupnya, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami 'berilah kami rezeki hari ini secukupnya', dan hendaknya kita hidup social dengan memperhatikan  saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan. Hal ini hendaknya dibiasakan pada anak-anak kita sedini mungkin di dalam keluarga dengan teladan dari orangtua.

"Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: "Di mana Allah mereka?" Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia" (Mzm 115:1-4)

Ign 23 Mei 2011