Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 12 Juli 2011

14 Juli


"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu"

(Kel 3:13-20; Mat 11:28-30)

" Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.  Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Mat 11:28-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang yang mudah mengeluh dan menggerutu ketika harus melaksanakan tugas berat dan sarat dengan tantangan, padahal apa yang harus dilaksanakan penting sekali untuk kehidupan bersama. Padahal seberat apapun beban pekerjaan yang diserahkan kepada kita dan harus kita kerjakan jika dibandingkan dengan penderitaan Yesus tidak ada apa-apanya. Ia disiksa sampah berdarah dan kemudian memikul salib berat serta kemudian disalibkan tidak pernah mengeluh atau menggerutu, bahkan di dalam penderitaanNya Ia menghibur mereka yang menangisiNya. Memang kita tidak sama dengan Yesus, tetapi sebagai orang yang percaya kepadaNya, marilah kita belajar dari Dia. Maka ketika merasa memikul beban pekerjaan berat pandanglah dengan sepenuh hati Ia yang tergantung di kayu salib, maka kami yakin anda akan memperoleh kekuatan dan penghiburan serta dengan demikian beban pekerjaan seberat apapun ringan adanya, nikmat dan enak untuk dikerjakan. Jika tidak ada salib di depan anda, jangan lupa membuat tanda salib sebelum mulai mengerjakan beban berat tersebut, sebagaimana dilakukan oleh para pemain sepak bola klas dunia, yang sering kita saksikan sebelum memulai main sepak bola/pertandingan. Nikmati saja dalam Tuhan  apa yang didepan anda, maka semuanya akan ringan dan nikmat adanya. Memang ada satu syarat utama yang tak boleh ditinggalkan, yaitu perihal pekerjaan; hendaknya melaksanakan pekerjaan yang diserahkan oleh Tuhan kepada kita melalui atasan atau pimimpin kita sesuai dengan tata tertib yang berlaku terkait dengan tugas pekerjaan tersebut. Terimalah dengan lemah  lembut beban pekerjaan yang diserahkan kepada kita seraya mengandalkan diri pada Tuhan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan semuanya ringan dan enak adanya.

·   "Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan, … ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya" (Kel 3:17), demikian firman Tuhan kepada Musa.  Baiklah jika firman Tuhan kepada Musa ini juga kita hayati sebagai firman Tuhan kepada kita, lebih-lebih atau terutama mereka yang merasa dalam penderitaan atau berbeban berat, entah itu secara phisik, sosial, emosional maupun spiritual. Percayakan anda kepada tuntunan Tuhan, yang secara konkret berarti terbukalah terhadap aneka bantuan atau uluran tangan orang lain yang dengan rela hati mau membantu anda dalam bentuk apapun. Kerjakan semuanya dengan penuh harapan, yang berarti dalam keceriaan dan kegairahan, apalagi yang akan kita tuju adalah 'suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya', sesuatu yang indah, mempesona, menarik dan memikat siapapun. Bukanlah susu dan madu merupakan gambaran sesuatu yang indah, mempesona, menarik dan nikmat? Marilah kita tempatkan atau hayati diri kita bagaikan seorang bayi yang sedang digendong oleh ibunya dan sedang menyusu dengan gairah pada buah dada sang ibu, artinya nikmati dengan rendah hati dan lemah lembut serta bergairah apa yang di depan anda. Melangkah ke depan, menuju suatu perwujudan damban atau harapan yang indah, menarik, mempesona dan memikat memang tak akan pernah lepas dari anekaa tantangan, hambatan maupun masalah, namun dalam tuntunan Tuhan dan kebersamaan dengan orang lain semuanya akan terasa ringan dan nikmat adanya. Maka hendaknya kita melangkah dalam kebersamaan atau kegotong-royongan, sehingga selama melaksanakan tugas pengutusan tidak terasa lalah dan ketika selesai, sampai tujuan tak terasa juga, sebagaimana terjadi dalam gotong-royong warga kampung atau pedesaan yang masih berjalan di beberapa tempat.  Marilah kita bekerja sama atau bergotong-royong bagaikan semut-semut yang menggotong bangkai binatang mendaki tembok, dimana selama perjalanan semuanya bekerja dengan ceria dan gairah, serta tidak ada yang korupsi sedikitpun di perjalanan; semut-semut juga tahu persis kapan harus mengganti temannya di tempat kerjanya, kapan harus beristirahat dst.. Tidak percaya perhatikan sekelompok semut yang sedang ramai-ramai menggotong bangkai binatang mendaki tembok!.

"Tuhan membuat umatNya sangat subur dan menjadikannya lebih kuat dari pada para lawannya; diubahNya mereka untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya. DiutusNya Musa, hambaNya, dan Harun yang telah dipilihNya; keduanya mengadakan tanda-tandaNya di antara mereka  dan mujizat-mujizat di tanah Ham" (Mzm 105:24-27)

Ign 14 Juli 2011


13 Juli


"Tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya"

(Kel 3:1-6.9-12; Mat 11:25-27)

" Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.  Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.  Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya." (Mat 11:25-27), demikian kutipan Waarta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatnn-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Tidak mengenal maka tidak sayang", demikian kata sebuah pepatah. Orang yang saling mengenal berarti akan saling mengasihi atau menyayangi, namun kedalaman dan kemantapan kasih-sayangnya akan sangat tergantung dari kedalaman pengenalannya, dan kedalaman pengenalan tergantung dari keterbukaan hati dan budi orang yang bersangkutan. Jika sungguh saling terbuka dalam hati dan budi maka akan saling mengenal dan dengan demikian terjadilah kesatuan hati dan budi sebagai tanda saling mengasihi atau menyayangi. Orang yang merasa diri telah bijak dan pandai pada umumnya kurang terbuka hati dan budinya terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan baru, sebaliknya orang yang merasa diri kecil alias kurang atau tidak bijak dan pandai akan lebih terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan. Sabda hari ini mengajak kita semua untuk menghayati diri sebagai yang lemah, rapuh dan berdosa, yang dikasihi dan dipanggil Tuhan untuk menjadi sahabat-sahabatNya. Penghayatan hidup yang demikian inilah yang berkenan kepada Tuhan, sebagaimana disabdakan oleh Yesua bahwa "tidak ada seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya". Kata lain dari penyataan atau pewahyuan atau penyingkapan; hanya mereka yang terbuka dan rendah hati akan siap sedia menerima penyingkapan misteri ilahi atau aneka macam nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan. Tuhan telah menyingkapkan segala sesuatu kepada kita, entah secara langsung atau melalui ciptaan-ciptaanNya, dan dari pihak kita diharapkan kesediaan untuk menyingkapkan diri alias membuka diri sepenuhnya  terhadap penyingkapan atau penyataannya.

·   "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini."(Kel 3:12), demikian firman Allah kepada Musa, peneguhan Allah kepada Musa yang terjadi dalam penampakan atau penyingkapan Diri Allah kepada Musa. Peneguhan Allah tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan Musa 'Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun'. Keberanian secara jujur dan rendah hati mempertanyakan diri 'siapakah aku ini' kiranya sungguh merupakan bentuk penghayatan diri orang yang merasa diri lemah dan berdosa serta dipanggil oleh Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya. Marilah kita mawas diri apakah kita sungguh dengan besar hati dan lepas bebas menghayati diri sebagai yang lemah dan rapuh, yang kemudian diharapkan terbuka terhadap panggilan Tuhan melalui aneka macam tanda-tanda zaman. Apakah kita peka akan tanda-tanda zaman? Hanya orang yang peka terhadap tanda-tanda zaman akan memiliki kesempatan atau kemungkinan untuk membebaskan diri dari aneka ketertutupan yang membawa  ke pengurusan diri alias egois. Hanya yang peka akan tanda-tanda zaman yang mampu melihat celah-celah penyelamatan dan tentu saja kemudian juga diharapkan segera memanfaatkan celah-celah penyelamatan tersebut. Marilah kita tingkatkan 'wait and see' kita, dan tentu saja tidak berhenti dengan 'see'/melihat, namun begitu melihat segera bertindak /act. Atau dapat dikatakan secara lain, yaitu marilah kita laksanakan dinamika : pengalaman -> refleksi -> tindakan -> pengalaman -> dst..  Dialog antara Musa dan Allah yang menanpakkan Diri hemat saya merupakan peristiwa refleksi, dan hal yang demikian itu juga dapat terjadi dalam diri kita, yaitu dalam refleksi pribadi yang benar dan mendalam. Refleksi adalah doa, maka berrefleksi yang benar bearti dalam doa, dalam suasana doa, di dalam Tuhan. Dengan kata lain bukan hanya secara intelektual melulu tetapi sampai ke rasa/'sense'. Pelatihan refelksi yang baik antara lain dapat kita lakukan dalam pemeriksaan batin dalam doa malam (doa harian), maka jika kita dapat melaksanakan pemeriksaan batin yang baik kita akan menjadi peka akan tanda-tanda zaman serta tergerak untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.

"Pujilah Tuhan hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai segenap hatiku! Pujilah Tuhan hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikanNya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih dan rahmat" (Mzm 103:1-4)

Ign 13 Juli 2011


Senin, 11 Juli 2011

12 Juli


"Yesus mulai mengecam kota-kota yang yang tidak bertobat"

(Kel 2:1-15; Mat 11:20-24)

"Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya:  "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu." (Mat 11:20-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pergaulan seks bebas dan narkoba telah menjangkiti hidup orang-orang kota; dampak dari hal itu antara lain semakin maraknya aneka bentuk kejahatan. Hukuman untuk itu antara lain orang-orang kota sering merasa tidak aman dan nyaman alias senantiasa dalam kekawatiran, ketakutan atau ancaman. Dampak lebih lanjut adalah orang cenderung 'mengurung diri' demi keamanan semu. Sabda hari ini memang secara khusus terarah kepada orang-orang atau warga kota, lebih-lebih kota-kota besar atau metropolitan. Kami berharap kepada warga kota-kota besar untuk memperdalam dan memperkuat kebersamaan hidup yang damai dan tenteram lahir dan batin dalam tingkat rukun tetangga/RT, yang pada hemat kami cukup saling mengenal. Usahakan dan jagalah agar tiada orang jahat di dalam lingkungan rukun tetangga. Kebersamaan warga dalam rukun tetangga merupakan benteng kuat untuk menangkal dan memberantas aneka kejahatan. Sebagai contoh di Jakarta pernah terjadi kebersamaan warta RT untuk mengusir klinik aborsi dan sarang narkoba serta tawuran para remaja/anak-anak sekolah. Maka hendaknya sering diselenggarakan perjumpaan antar seluruh anggota warga rukun tetangga dalam berbagai kesempatan. Secara khusus kami juga mengingatkan dan mengajak para pengelola dan penyelenggara sekolah-sekolah yang berada di kota-kota besar untuk lebih mengutamakan pendidikan nilai dan budi pekerti kepada para peserta didik, alias mengusahakan agar para peserta didik lebih tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur daripada unggul dalam nilai mata pelajaran. Itu semua saya angkat demi keselamatan kota-kota anda dari kehencuran.

·   "Bawalah bayi ini dan susukanlah dia bagiku, maka aku akan memberi upah kepadamu" (Kel 2:9), demikian kata puteri Firaun kepada kakak sang bayi, yang kemudian diberi nama Musa.  Apa yang dilakukan oleh puteri Firaun merupakan titik awal penyelamatan bangsa terpilih, karena sang bayi yang tidak lain adalah Musa kelak akan memimpin bangsanya kembali dari Mesir menuju tanah terjanji.  Kami percaya di kota-kota besar juga ada pribadi-pribadi seperti puteri Firaun tersebut, dan memang pada umumnya rekan-rekan perempuan yang memiliki rahim juga lebih memiliki kerahiman atau belas kasih daripada rekan-rekan laki-laki. "Sorga ada di telapak kaki ibu", demikian kata pepatah. Telapak kaki puteri Firaun yang berjalan menelusuri sungai telah membuka jalan menuju sorga atau keselamatan bangsa. Memang ibu atau perempuan dapat mendua, yaitu menjadi perusak atau pembangun, merayu untuk berdosa atau merayu untuk berbuat baik. Beberapa ibu atau perempuan di kota-kota besar memang menjadi perayu atau perangsang bagi laki-laki/suaminya untuk berbuat jahat atau berdosa, misalnya korupsi. Kami berharap kepada rekan-rekan perempuan untuk menjadi perayu bagi rekan-rekan laki-laki untuk berbuat baik, melakukan apa yang baik, benar dan menyelamatkan, terutama  keselamatan jiwa manusia. Maka hendaknya meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman, yang dari rahimnya lahir Penyelamat Dunia. Semoga rekan-rekan perempuan demikian adanya, artinya cara cara bertindak dan cara hidupnya lahirlah apa yang menyelamatkan dan membahagiakan umat manusia, terutama keselamatan jiwa. Semoga para perempuan-perempuan penghibur di kota-kota besar bertobat; hendaknya rekan-rekan perempuan menghadirkan diri sedemikian rupa alias sopan, sehingga tidak merangsang laki-laki untuk berbuat jahat. Jauhkan cara hidup dan cara bertindak atau menghadirkan diri yang merangsang orang lain untuk berbuat dosa    

"Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik daripada sapi jantan, daripada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah. Lihatlah orang-orang yang rendah hati dan bersukacitalah, kamu yang mencari Allah biarlah hatimu hidup kembali" (Mzm 69:30-31)