Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 20 Juli 2011

20 Juli


"Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka"

(Kel 16:1-5.9-15; Mat 13:1-9)

" Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!" (Mat 13:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang bijak atau pandai sejati pada umumnya menyampaikan pesan-pesan atau ajarannya secara sederhana, tidak berbelit-belit, sehingga dapat ditangkap dan difahami oleh semua orang yang mendengarkannya. Begitulah yang disampaikan oleh Yesus dalam pengajaran-pengajaranNya; ia menggunakan perumpamaan-perumpamaan atau aneka peristiwa yang terjadi setiap hari, yang hidup di antara para pendengarNya, lebih-lebih di antara orang-orang kecil atau sederhana. Ia sering menggunakan contoh aneka tanaman atau yang terkait dengan pertanian, yang menjadi kesibukan masyarakat setiap hari. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua, guru/ pendidik, atasan atau pemimpin agar dengan sederhana ketika memberi nasihat, mengajar atau member arahan kepada anak-anak, peserta didik atau bawahan/anggota, sehingga dapat dimengerti dan ditangkap dengan baik dan dengan demikian segera dihayati atau dilaksanakan oleh mereka yang mendengarkannya. Apa yang anda katakan ketika dapat dimengerti dan ditangkap oleh para pendengar akan mempengaruhi cara hidup dan cara bertindaknya sehingga apa yang anda katakan segera menghasilkan buah sebagaimana diharapkan. Jika yang dapat mendengarkan dan menangkap banyak orang, maka hasilnya atau buahnya akan sungguh berlipat ganda, sebagaimana disabdakan oleh Yesus, "ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat". Sabda Yesus hari ini juga mengajak dan mengingatkan kita semua agar dapat menjadi pendengar-pendengar yang baik, maka marilah kita dengarkan dengan rendah hati dan terbuka aneka saran, nasihat, ajaran dan segera kita laksanakan apa yang kita dengarkan.

·    "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak. Dan pada hari yang keenam, apabila mereka memasak yang dibawa mereka pulang, maka yang dibawa itu akan terdapat dua kali lipat banyaknya dari apa yang dipungut mereka sehari-hari." (Kel 16:4-5), demikian firman Tuhan kepada Musa untuk menguji bangsanya yang bersungut-sungut dalam perjalanan menuju tanah terjanji. "Apakah mereka hidup menurut hukumKu atau tidak" , inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Kita semua telah menerima makanan dan minuman secara melimpah ruah melalui orang lain yang telah berbaik hati dan mengasihi kita; mereka ini adalah 'tangan-tangan Tuhan' yang mengulurkan kasih dan perhatianNya. Dengan kata lain apakah kita menyadari dan menghayati segala sesuatu yang kita terima dari orang lain sebagai anugerah Tuhan? Tuhan begitu Maha Murah dan Maha Kasih, maka marilah kita tanggapi kemurahan dan kasihNya dengan mentaati dan melaksanakan hukum yang telah disampaikan oleh Tuhan kepada kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita lihat hukum Tuhan yang menjadi nyata dalam hukum alam. Sebagai contoh Tuhan telah menciptakan aneka jenis tanaman dan binatang, yang memang sering nampak saling menghancurkan, namun karena manusia begitu serakah mengkomsumsi atau mematikan salah satu jenis tanaman atau binatang, maka terjadilah kekacauan atau sesuatu yang merusak. Dalam dunia pertanian misalnya dengan serakah orang membasmi hama dengan racun, maka ada jenis binatang yang seharusnya tidak boleh mati ikut mati, dan gilirannya adalah muncullah hama yang tak terkendali. Itu semua terjadi karena manusia tidak menghormati hukum alam. Ada orang yang juga mempercepat pertumbuhan binatang maupun tanaman dengan aneka obat, maka buahnya adalah tidak sehat alias penyakit. Marilah kita ikuti proses kehidupan semua ciptaan Tuhan dengan rendah hati, demi keselamatan dan kebahagiaan kita bersama.

"Mereka mencobai Allah dalam hati mereka dengan meminta makanan menuruti nafsu mereka.Mereka berkata terhadap Allah: "Sanggupkah Allah menyajikan hidangan di padang gurun?"

(Mzm 78:18-19)

Ign 20 Juli 2011


Minggu, 17 Juli 2011

19 Juli

"Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu!"

(Kel 14:21-15:1; Mat 12:46-50)

" Ketika Yesus masih berbicara dengan orang banyak itu, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya berdiri di luar dan berusaha menemui Dia. Maka seorang berkata kepada-Nya: "Lihatlah, ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan berusaha menemui Engkau." Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepada-Nya: "Siapa ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?" Lalu kata-Nya, sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku." (Mat 12:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   KKN = Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, itulah yang sering disebut sebagai sumber kehancuran hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, termasuk juga sering terjadi dalam hidup menggereja dengan semua pelayanan pastoralnya. Hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa alias baik saja asal tidak korupsi. Koruptor tidak layak disebut sebagai 'saudara atau ibu Yesus'. Yang dimaksudkan dengan 'saudara dan ibu Yesus' hemat saya adalah orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, tidak berbuat jahat sedikitpun, antara korupsi yang masih marak di negeri tercinta ini. Melakukan korupsi berarti membuat busuk hidup bersama, dan dengan demikian hidup bersama tidak enak dan tidak nikmat lagi. Maka dengan ini kami mengajak dan menngingatkan segenap umat beriman untuk sungguh menghayati imannya di dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun, hidup dan bertindak dengan berbudi pekerti luhur, yang antara lain memiliki cirikhas sebagai berikut: "bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggangrasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tetap janji,  terbuka, ulet" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal ix-xi). Dari cirikhas tersebut di atas kiranya yang mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini adalah jujur. Maka marilah kita jujur terhadap diri sendiri, sesama, lingkungan hidup kita, dst..

·   " Ketika dilihat oleh orang Israel, betapa besarnya perbuatan yang dilakukan TUHAN terhadap orang Mesir, maka takutlah bangsa itu kepada TUHAN dan mereka percaya kepada TUHAN dan kepada Musa, hamba-Nya itu." (Kel 14:31). Musa adalah utusan Tuhan untuk menuntun bangsanya kembali ke tanah terjanji, maka marilah kita juga percaya kepada utusan-utusan Tuhan masa kini. Hemat saya semua orang yang berkehendak baik adalah utusan-utusan Tuhan, yang mengajak dan membantu kita untuk senantiasa berbuat baik, hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Maka marilah kita saling melihat, mendengarkan dan mengimani kehendak baik yang ada dalam diri kita masing-masing, serta kemudian kita sinerjikan kehendak baik kita untuk bersama-sama menuju ke 'tanah terjanji'. Kiranya kita semua mendambakan kembali ke tanah terjanji, yaitu setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan kita langsung menikmati hidup mulia atau berbahagia selamanya di sorga bersama Tuhan, serta para santo-santa yang menjadi pelindung kita masing-masing, yang telah mendahului kembali ke sorga. Maka sekiranya layak dan baik jika masing-masing dari kita juga mengenal secara mendalam santo atau santa yang menjadi pelindung kita, yang menandai nama baptis kita. Marilah kita meneladan cara hidup dan cara bertindaknya ketika mereka masih hidup di dunia ini. Secara khusus kami mengajak dan mengingatkan segenap anggota lembaga hidup bakti untuk sungguh mengenal dan memahami serta menghayati charisma pendiri lembaga hidup bakti masing-masing. Hendaknya antar anggota lembaga hidup bakti sungguh terjadi persaudaraan atau persahabatan sejati, dan tentu saja dengan sesama anggota lembaga hidup bakti yang lain demikian juga, karena para pendiri lembaga hidup bakti menghidupi dirinya dari sumber yang satu, yaitu Yesus Kristus. Semoga kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus merupakan kebersamaan hidup yang penuh dengan persaudaraan atau persahabatan sejati, dan kita semua adalah sahabat serta layak disebut sebagai sahabat Yesus.

"Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut. Kata musuh: Aku akan mengejar, akan mencapai mereka, akan membagi-bagi jarahan; nafsuku akan kulampiaskan kepada mereka, akan kuhunus pedangku; tanganku akan melenyapkan mereka! Engkau meniup dengan taufan-Mu, laut pun menutupi mereka; sebagai timah mereka tenggelam dalam air yang hebat" (Kel 15:8-10)

Ign 19 Juli 2011


18 Juli

"Sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!"

(Kel 14:5-18; Mat 12:38-42)

" Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!" (Mat 12:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mereka yang tidak percaya kepada Yesus memang tak mungkin melihat 'kebesaran dan kebijaksanaan'-Nya, sebagaimana ditanyakan oleh beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus:"Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari padaMu", padahal Yesus "lebih dari pada Salomo", yang dikenal sebagai raja paling bijaksana. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri: apakah saya sungguh percaya kepada Yesus atau seperti beberapa ahli Taurat dan orang Farisi. Kami berharap anda sungguh percaya kepada Yesus, sehingga mengimani kebijaksananNya yang melibihi kebijaksanaan raja atau pemimpin bangsa dimanapun, karena Ia adalah Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Apa yang terjadi dalam diri nabi Yunus mengindikasikan siapa itu Yesus: Yunus dikenal sebagai orang yang tinggal selama tiga hari dalam perut ikan dan tidak mati, demikianlah halnya dengan yang akan terjadi dengan Yesus, yaitu Ia wafat di kayu salib, dimakamkan dan pada hari ketiga dibangkitkan dari mati. KebijaksanaanNya nampak dalam mengalahkan kematian alias membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, menghibur yang sedih, menggairahkan yang letih lesu dan putus asa, dst… Kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah mawas diri: sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat menggairahkan mereka yang letih lesu dan putus asa, menyembuhkan mereka yang sakit (sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh), menghibur mereka yang berada dalam kesedihan?  Orang yang sungguh bijaksana hemat saya adalah orang suci, yang peka akan suara atau bisikan Roh dalam hidup sehari-hari, terampil dalam pembedaan roh atau 'spiritual discernment'; yang bersangkutan pada umunnya juga tidak melupakan doa harian, terutama pemeriksaan batin.

·    "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." (Kel 14:13-14)

· Kita dipanggil untuk berperang, melawan kejahatan atau roh jahat, yang menggejala dalam aneka bentuk, yang merusak hidup bersama dan lingkungan hidup. Maka dengan ini kami mengajak segenap umat beriman, entah agamanya apapun, untuk bersama-sama atau bergotong royong melawan kejahatan yang marak di lingkungan hidup kita, antara lain berupa perampasan hidup manusia beserta harta bendanya, penghancuran lingkungan hidup yang tak terkendali yang dilakukan orang-orang serakah dst.. Percayalah bahwa dalam iman kita pasti akan mampu mengalahkan aneka kejahatan, karena beriman berarti menyerahkan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi, maka Allah sendiri yang akan memerangi  kejahatan melalui diri kita yang lemah dan rapuh ini. Marilah dalam iman juga kita hadapi aneka serangan virus atau penyakit tanpa takut dan gentar, karena dengan demikian ketahanan tubuh kita juga semakin handal dan kita akan tahan terhadap aneka macam serangan virus penyakit. Dalam menghadapi serangan roh jahat atau godaan untuk berbuat jahat hendaknya "kamu akan diam saja", artinya teguh beriman bahwa Tuhanlah yang akan mengalahkan setan atau godaan untuk berbuat jahat. "Diam saja" kiranya juga berarti kita tetap tinggal setia pada iman kita; ketegaran untuk setia dalam iman dapat kita hayati dengan diam, tanpa menanggapi godaan atau rayuan setan. Terhadap orang yang memarahi orang Jawa sering memberi nasihat "Diteke wae, mengko rak meneng dewe" (=Biarkan saja, jangan ditanggapi, nanti pasti berhenti sendiri).

"Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia.TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya." (Kel 15:1-3)

Ign 18 Juli 2011