Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Senin, 29 Agustus 2011

31 Agt


"Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi"
(Kol 1:1-8; Luk 4:38-44)

"Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon.
Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus
supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu
menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan
itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua
orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita
bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka
masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga
setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia
dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka
berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Ketika hari
siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi
orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia
supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka:
"Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah
sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia memberitakan Injil dalam
rumah-rumah ibadat di Yudea" (Luk 4:38-44), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Ketika orang sukses dalam hidup dan kerja serta menerima pujian
banyak orang atas kesuksesannya, maka dan kemungkinan orang lupa pada
jati diri, entah pribadi maupun tugas panggilannya. Itulah kiranya
yang dialami oleh Yesus, ketika Ia membuat banyak mujizat dapat
terjadi kesalahfahaman di antara para pendengar atau pengikutNya. Para
pendengar atau pengikutNya belum sepenuhnya dapat memahami dan
menerima Dia sebenarnya, maka ketika setan membuka jati diriNya yang
sebenarnya Yesus merasa 'tidak aman'. "Tidak aman" yang kami maksudkan
adalah Yesus akan dibatasi ruang gerak dan pelayananNya, yaitu sebagai
orang sakti atau 'dukun', padahal Ia memiliki tugas pengutusan untuk
'memberitakan Injil Kerajaan Allah'. Maka Ia berusaha menyendiri untuk
berdoa guna mempertahakan dan memperteguh jati diriNya sebagai
'pemberita Injil Kerajaan Allah'. Kami mengajak dan mengingatkan kita
semua untuk mawas diri perihal jatidiri kita masing-masing. Pada
hari-hari libur dalam rangka merayakan Idul Fitri ini kiranya kita
juga meninggalkan tugas pekerjaan kita sehari-hari, entah tugas
belajar atau bekerja, dan bertemu dengan sanak-saudara dan
handai-taulan. Dalam kesempatan macam ini kiranya masing-masing dari
kita menyadari diri sebagai cucu, anak, orangtua atau kakek-nenek.
Maka baiklah hal ini kita hayati sebagai kesempatan untuk memperteguh
dan memperkuat jati diri kita sebagai cucu, anak, orangtua atau
kakek-nenek, serta menyadari dan menghayati tugas dan fungsi
masing-masing dalam kehidupan bersama atau membangun dan memperdalam
persaudaraan/persahabatan sejati, sehingga kebersamaan hidup dapat
menjadi 'warta gembira' bagi siapapun. Marilah kita hayati bahwa kita
bertemu dengan saudara dan handai-taulan sebagai kesempatan untuk
saling menggembirakan dan menyelamatkan.
•       "Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus
Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah
mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu
terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan
bagi kamu di sorga." (Kol 1:3-5a). Marilah kita meneladan Paulus yang
'selalu mengucap syukur kepada Allah' serta berdoa bagi
saudara-saudari dan handai-taulan kita. Kita bersyukur dan berterima
kasih kepada Allah, karena kita telah dianugerahi hidup serta aneka
macam sarana-prasarana yang kita butuhkan untuk hidup dan kerja kita.
Dalam keadaan atau kondisi dan situasi apapun hendaknya senantiasa
bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, dan tentu saja syukur dan
terima kasih ini kita wujudkan terhadap saudara-saudari kita, sehingga
kita saling bersyukur dan berterima kasih satu sama lain. "Saat sukses
kita bersyukur, saat gagal pun kita bersyukur. Sesungguhnya kekayaan
dan kebahagiaan sejati ada di dalam rasa bersyukur" (Andrie Wongso).
Syukur kita terhadap sesama dapat kita wujudkan dengan berbuat baik
kepada mereka dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun, entah
dengan memperhatikan, membantu atau mendoakan. Kita juga dipanggil
untuk saling mendoakan, maka baiklah di masa liburan Idul Fitri ini
kalau tidak mungkin bertemu  dengan saudara dan handai-taulan, entah
karena tugas, kesibukan atau alasan lain, marilah kita mendoakannya.
Orangtua atau kakek-nenek mendoakan anak-anak atau cucu-cucunya,
sebaliknya anak-anak atau cucu-cucu mendoakan orangtua atau
kakek-neneknya. Kebiasaan berdoa dan saling mendoakan di masa Puasa
atau bulan suci hendaknya terus ditingkatkan dan diperdalam di dalam
kesibukan sehari-hari. Ingatlah dan hayati bahwa berdoa merupakan
salah satu cirikhas hidup beragama atau beriman.
"Aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku
percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya. Aku
hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya, sebab Engkaulah yang
bertindak; karena nama-Mu baik, aku hendak memasyhurkannya di depan
orang-orang yang Kaukasihi!"
(Mzm 52:10-11)
Ign 31 Agustus 2011

Minggu, 28 Agustus 2011

30 Agts


"Alangkah hebatnya perkataan ini!"
(1Tes 5:1-6.9-11; Luk 4:31-37)

"Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu
mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar
pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat
itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara
keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami?
Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang
Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam,
keluarlah dari padanya!" Dan setan itu pun menghempaskan orang itu ke
tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari padanya dan sama sekali
tidak menyakitinya. Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang
kepada yang lain, katanya: "Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab
dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat
dan mereka pun keluar." Dan tersebarlah berita tentang Dia ke
mana-mana di daerah itu"(Luk 4:31-37), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Orang yang banyak kerja dan sedikit bicara pada umumnya apa yang
dikatakan sungguh bermakna dan berkuasa, sebaliknya orang yang banyak
bicara sedikit bekerja maka apa yang dikatakan bagaikan angin berlalu
saja. Kata-kata yang keluar sungguh bermakna dan berkuasa, karena apa
yang dikatakan pada umumya juga dihayati, dengan kata lain kata-kata
yang keluar dari mulutnya merupakan luapan isi hati dan pengalamannya.
Itulah kiranya yang terjadi dalam diri Yesus Penyelamat Dunia:
sabdaNya dengan penuh wibawa mengusir setan atau roh jahat, sehingga
mereka yang menyaksikanNya berkata "Alangkah hebatnya perkataan ini!
Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh
jahat dan mereka pun keluar". Kita semua yang beriman kepadaNya
dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah dengan bantuan rahmatNya
kita dengan rendah hati berusaha. Hendaknya dalam berkata-kata tidak
asal-asalan saja, melainkan kata yang keluar melalui mulut sungguh
merupakan luapan isi hati yang beriman, sehingga kata-kata tersebut
merupakan bisikan Roh Kudus. Kata-kata yang dijiwai oleh Roh Kudus,
sebagaimana yang disampaikan oleh para gembala kita, Paus maupun Uskup
bewibawa dan berkuasa mempengaruhi atau menjiwai cara hidup dan cara
bertindak kita. Untuk itu kita harus tidak melupakan hidup doa,
meditasi atau kontemplasi, merenungkan sabda-sabda Tuhan sebagaimana
tertulis di dalam Kitab Suci. Biarlah sabda Tuhan akhirnya juga
menjadi milik kita, sehingga kata-kata yang keluar dari mulut kita
juga merupakan 'sabda Tuhan'.
•       "Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk
beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati
untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita
hidup bersama-sama dengan Dia. Karena itu nasihatilah seorang akan
yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu
lakukan." (1Tes 5:9-11). Sebagai sesama umat beriman kita dipanggil
untuk saling menasihati, yang berarti saling bertukaran atau membagi
pengalaman iman. Secara kebetulan hari ini adalah Hari Raya Idul
Fitri, hari kemenangan bagi saudara-saudari kita yang baru saja
selesai menghayati puasa dalam waktu satu bulan. Hari ini kiranya kita
juga terlibat dalam saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan
menceriterakan pengalaman iman, apalagi bagi kita yang sudah cukup
lama tidak bertemu dengan saudara-saudari atau handai-taulan. Kami
percaya dalam saling memberi salam, bertemu dan bercakap-cakap di hari
raya hari ini, kita saling menyampaikan pengalaman yang baik, sehingga
terjadilah persaudaraan sejati yang mempesona, menarik dan memikat.
Maka kami berharap pengalaman hari ini tidak berlalu begitu saja,
melainkan terus menerus diperdalam dan diperkembangkan dalam hidup
sehari-hari di kemudian hari. Marilah kita bangun, perdalam dan
perkembangkan persaudaraan umat beriman, antar agama, dalam cara hidup
dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Allah
menghendaki kita tidak akan ditimpa malapetaka atau celaka, melainkan
bahagia dan selamat, maka hendaknya kita saling membahagiakan dan
menyelamatkan.  Kepada saudara-saudari kita yang suka menyendiri, kami
harapkan untuk membuka diri dan bergaul dengan saudara-saudari yang
lain. Ingatlah jika kita hidup menyendiri pasti akan celaka atau
menemui malapetaka. Kebersamaan hidup yang dijiwai oleh cintakasih
akan merupakan cara merasul tersendiri, maka marilah kita bangun
kebersamaan hidup dimanapun kita berada.
"Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri
orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah
hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"
(Mzm 27:13-14) "SELAMAT IDUL FITRI, 1 SYAWAL 1432 H"
Ign 30 Agustus 2011

29Agt


 "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!"
(Yer 1:17-19; Mrk 6:17-29)

"Memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan
membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri
Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri.
Karena Yohanes pernah menegor Herodes: "Tidak halal engkau mengambil
isteri saudaramu!" Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan
bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan
akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan
suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes,
hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga
mendengarkan dia. Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi
Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan
untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang
terkemuka di Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil
lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja
berkata kepada gadis itu: "Minta dari padaku apa saja yang kauingini,
maka akan kuberikan kepadamu!", lalu bersumpah kepadanya: "Apa saja
yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari
kerajaanku!" Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: "Apa yang harus
kuminta?" Jawabnya: "Kepala Yohanes Pembaptis!" Maka cepat-cepat ia
pergi kepada raja dan meminta: "Aku mau, supaya sekarang juga engkau
berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!" Lalu
sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena
tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang
pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu
pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu
di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu
memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar
hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya
dalam kuburan." (Mrk 6:17-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Yohanes Pembaptis hari ini, saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Mereka yang memiliki jabatan strategis dalam hidup dan kerja
bersama, entah dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun
menggereja, sering dengan mudah memanfaatkan kuasa atau wewenangnya
untuk melakukan korupsi alias merampas hnk orang lain seenaknya.
Itulah yang juga dilakukan oleh Herodes, raja, yang gila harta benda,
jabatan dan kehormatan duniawi, merampas isteri saudaranya. Memang
orang yang berkedudukan dan kaya akan harta benda sering dengan mudah
untuk menyeleweng dan berselingkuh. Hari ini kita kenangkan St.Yohanes
Pembaptis, yang dengan berani menegor Herodes, karena ia merampas
isteri saudaranya. Sikap mental kenabian itulah yang hendaknya kita
hayati sebagai orang beriman, meneladan St.Yohanes Pembaptis. Bentuk
perampasan hak orang lain pada masa kini yang sungguh memprihatinkan
ialah korupsi. Korupsi adalah tindakan pembusukan hidup bersama, maka
masyarakat, bangsa atau Negara yang masih sarat dengan korupsi berarti
busuk alias tidak sedap. Marilah kita hayati panggilan kenabian kita
dengan tidak melakukan korupsi sedirkitpun berani memberantas korupsi
dalam lingkungan hidup dan kerja kita. Memang untuk itu ada
kemungkinan kita akan dibenci atau disingkirkan seperti Yohanes
Pembaptis. Sekali lagi saya ingatkan dan ajak para pengelola dan
pelaksana pendidikan di sekolah untuk memberlakukan 'dilarang
menyontek dalam ulangan maupun ujian' bagi para peserta didik.
Menyontek merupakan pendidikan korupsi, maka membiarkan para peserta
didik berarti mendidik atau melatih mereka untuk berkorupsi alias
melanggengkan korupsi yang masih marak pada masa kini. Sungguh
memprihatinkan bahwa mereka yang berjanji untuk melayani dan
memperjuangkan rakyat melakukan korupsi, seperti para anggota DPR
maupun para pejabat pemerintah. Departemen Agama dan Departemen
Pendidikan, yang seharusnya membina rakyat agar berbudi pekerti luhur,
juga tak lepas dari korupsi, atau bahkan jika dicermati secara teliti
hemat saya di dalam dua departemen inilah tindakan korupsi yang paling
besar
•       "Engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah
kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar
terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan
mereka!" (Yer 1:17), demikian firman Tuhan kepada Yeremia. Yeremia
adalah nabi, tugas dan panggilan seorang nabi adalah meneruskan atau
menyampaikan kebenaran-kebenaran yang telah diterima dari Allah alias
menjadi 'corong/suara kehendak Allah'. Kehendak Allah dalam hidup dan
kerja kita sehari-hari antara lain diterjemahkan ke dalam aneka tata
tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita
masing-masing,maka marilah kita hayati atau laksanakan tata tertib
yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan pribadi kita dengan
segenap hati, jiwa, akal budi dan  tubuh/tenaga. Pertama-tama dan
terutama saya pribadi harus menjadi saksi penghayatan tata tertib,
sehingga layak disebut sebagai pribadi tertib, jujur dan disiplin
dalam hidup dan kerja. Jika saya demikian adanya maka saya tidak akan
takut dan tidak gentar untuk menyuarakan kebenaran-kebenaran,
mengingatkan saudara-saudari kita akan taat dan setia pada tata
tertib. Sekali lagi saya mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk
sedini mungkin mendidik dan membina anak-anak untuk tertib, jujur dan
disiplin dalam hidup sehari-hari, dan tentu saja dengan teladan
konkret orangtua atau bapak-ibu sendiri. Bapak-ibu hendaknya menjadi
teladan kesetiaan pada janji perkawinan, dengan setia saling mengasihi
satu sama lain, baik dalam sehat maupun sakit, untung atau malang
sampai mati.
"Pada-Mu, ya TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat
malu. Lepaskanlah aku dan luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,
sendengkanlah telinga-Mu kepadaku dan selamatkanlah aku! Jadilah
bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk
menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku. Ya
Allahku, luputkanlah aku dari tangan orang fasik" (Mzm 71:1-4a)
Ign 29 Agustus 2011