Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Rabu, 07 September 2011

8Spt


"Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus."
(Rm 8:28-30; Mat 1:18-23)

"Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria,
ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh
Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf
suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama
isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak
kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau
takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam
kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki
dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan
menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." Hal itu terjadi supaya
genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Sesungguhnya, anak dara
itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka
akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita."
(Mat 1:18-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
Kelahiran SP Maria hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
•       Anak yang baru dilahirkan pada umumnya mempesona dan menarik, serta
siapapun yang hidup dan bertindak dalam kasih pasti akan terpesona dan
tertarik, apalagi orangtuanya, khususnya ibunya yang baru saja
melahirkannya. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta Kelahiran
SP Maria ini saya mengajak kita semua untuk mawas diri apakah cara
hidup dan cara bertindak kita mempesona dan menarik semua orang alias
dikasihi oleh Tuhan maupun sesama manusia. Dalam warta gembira hari
ini dikisahkan perihal SP Maria, perawan dan 'anak dara', yang
mengandung karena Roh Kudus, anak yang ada dalam kandungan SP Maria
"adalah dari Roh Kudus". Kiranya kita semua juga boleh menyadari dan
mengakui diri bahwa masing-masing dari kita juga telah dikandung oleh
ibu kita masing-masing 'dari Roh Kudus' artinya karena dan dalam
cintakasih, anugerah Tuhan. Dengan kata lain Roh Kudus hidup dan
berkarya dalam diri kita, orang yang lemah dan rapuh ini. Sekiranya
kita hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh Kudus, maka cara hidup dan
cara bertindak kita pasti menarik dan mempesona orang lain kapanpun
dan dimanapun. Cara hidup dan cara bertindak kita akan membahagiakan
dan menyelamatkan diri kita sendiri maupun orang lain, terutama
keselamatan jiwa. Cara hidup dan cara bertindak kita mencemarkan nama
baik sendiri maupun orang lain, yang kena dampak hidup dan cara
bertindak kita. Orang yang memiliki nama baik antara lain juga tidak
pernah ngrasani atau ngrumpi, yang pada umumnya membicarakan kelemahan
dan kekurangan orang lain alias mencemarkan nama baik orang lain alias
melanggar cintakasih dan harkat martabat manusia.
•       "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi
mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Rm 8:28),
demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Roma. Segala sesuatu
yang hidup di dunia ini diciptakan oleh Allah dan Allah terus bekarya
di dalamnya, dalam manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan atau
tanaman "untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia".
Sebagai orang beriman kita juga mengasihi Allah atau membalas kasih
Allah yang melimpah ruah, maka baiklah juga kita imani atau hayati
bahwa apa yang baik, indah, mulia, luhur, menarik dan mempesona pada
diri kita sungguh merupakan kebaikan Allah, demikian juga suasana atau
pemandangan yang indah. Kecantikan atau ketampanan, keterampilan,
kepandaian, kesehatan dst. ..merupakan kebaikan Allah yang telah kita
terima melalui kebaikan sekian banyak orang yang telah mengasihi atau
memperhatikan kita. Kiranya tak ada seorang pun di antara kita yang
mampu menghitung atau mengingat-ingat berapa jumlah orang yang telah
memperhatikan kita, karena begitu banyaknya. Maka kami mengajak kita
semua untuk memfungsikan semua yang telah kita terima dari Allah dan
saat ini kita miliki, kuasai dan nikmati guna berbuat baik kepada
saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun, tentu saja juga demi
keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri maupun saudara-saudari kita,
terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. Hendaknya kita juga
merawat dan mengurus lingkungan hidup kita sebaik mungkin; hendaknya
jangan serakah memfungsikan ciptaan lain seperti binatang maupun
tanaman/tumbuh-tumbuhan. Maaf karena sikap mental bisnis dan egoisme
begitu menguasai dan menjiwai orang berduit dan berkuasa, yang gila
akan harta benda/uang, pangkat dan kehormatan duniawi, maka hutan
dibabat seenaknya dan ikan-ikan di laut disapu bersih, sementara itu
aneka racun (obat) tanaman di sawah maupun ladang telah menghabisi
aneka jenis binatang melata maupun ikan, sehingga lingkungan hidup
mengancam keselamatan jiwa manusia.

"Kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena
penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat
baik kepadaku." (Mzm 13:6)

Ign 8 September 2011

Selasa, 06 September 2011

7Spt

"Berbahagialah hai kamu yang miskin karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah."
(Kol 3:1-11; Luk 6:20-26)

" Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah,
hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan
dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena
kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang
membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu
serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada
waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di
sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah
memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya,
karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah
kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah
kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan
menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara
demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi
palsu." (Luk 6:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Orang miskin pada umumnya tidak ada yang dapat diandalkan apa yang
ada di dunia ini kecuali tubuhnya atau pribadinya sendiri; mereka yang
miskin dan jujur juga terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan
kesempatan serta terbuka terhadap aneka uluran atau ajakan orang lain
untuk berbuat baik. Sementara itu orang kaya cenderung mengandalkan
diri pada harta benda atau kekayaannya, was-was terhadap kekayaannya,
apalagi ketika terjadi gejolak ekonomi yang tidak menentu. Sabda Yesus
hari ini mengajak kita semua untuk menghayati semangat miskin, memang
untuk itu kita tidak harus miskin. Bersemangat miskin berarti
senantiasa membuka diri terhadap aneka sapaan dan sentuhan Tuhan
melalui aneka ajakan, suka-duka saudara-saudarinya. Bersemangat miskin
juga berarti bersikap mental belajar terus menerus serta menghayati
diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam
karya penyelamatanNya: ia sungguh merasa 'haus dan lapar' akan sabda
dan kasih Tuhan; ia juga rendah hati. Maka dengan ini kami mengajak
kita semua umat beriman untuk membangun dan memperdalam semangat
miskin dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun
dan kapanpun. Anak kecil pada umumnya juga bersemangat miskin, maka
marilah kita bercermin pada atau belajar dari anak-anak kecil, dengan
kata lain marilah 'back to basic', kembali menghayati semangat miskin
ketika kita masih kanak-kanak. Secara khusus kami berharap kepada
mereka yang kaya akan harta benda, uang, pengalaman maupun
keterampilan untuk bersikap mental miskin atau rendah hati, menghayati
aneka kekayaan yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini
adalah anugerah Tuhan, sehingga memfungsikannya sesuai dengan kehendak
Tuhan, yaitu sebagai pertolongan untuk mengejar dan mengusahakan
keselematan jiwa kita.  Selanjutnya marilah kita renungkan atau
refleksikan ajakan Paulus di bawah ini.
•       "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu
telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam
Allah." (Kol 3:2-3), demikian ajakan Paulus kepada umat di Kolose,
kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus
Kristus. Memikirkan 'perkara yang di atas' antara lain berarti
senantiasa mengusahakan keselamatan jiwa kita dan dengan demikian
berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati atau melaksanakan aneka
tata tertib sebagai bantuan untuk mengusahakan keselamatan jiwa atau
hidup dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga memiliki keutamaan-keutamaan
seperti " kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,
kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23).
Memikirkan 'perkara yang di atas' juga berarti senantiasa melihat dan
mengimani Tuhan yang hidup dan berkarya dalam semua ciptaanNya di bumi
ini: manusia dengan semua buah karyanya, binatang dan tumbuh-tumbuhan.
Melihat dan mengimani Tuhan yang hidup dan berkarya dalam aneka buah
karya manusia, antara lain menghargai dan menghormatinya sebagai kasih
Tuhan, sehingga mengurus dan merawatnya sebaik mungkin; menggunakan
buah karya manusia tidak untuk mencelakakan atau merugikan orang lain,
lebih-lebih jiwanya. Memikirkan 'perkara-perkara yang di atas' juga
identik dengan 'mati dan hidup bersama Kristus', meninggalkan aneka
dosa dan kejahatan alias tidak melakukan dosa atau berbuat jahat serta
senantiasa berusaha untuk berbuat baik kepada sesamanya dimanapun dan
kapanpun. Sebagai orang yang telah dibaptis berarti menghayati janji
baptis, yaitu hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan
setan. Godaan setan dapat menggejala dalam aneka bentuk tawaran dan
rayuan kenikmatan duniawi seperti "percabulan, kecemaran, hawa nafsu,
penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati,
amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,
kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya" (Gal 5:19-21).
Marilah kita bekerjasama dan saling membantu dalam melawan
godaan-godaan setan, yang sungguh marak dalam kehidupan bersama kita
di masa kini.
"Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan
orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan
kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk
memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan
semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan
pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam
segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya"
(Mzm 145:10-13)

Ign 7 September 2011

Senin, 05 September 2011

6Spt


"Ia memilih dari antara mereka dua belas orang yang disebutNya rasul"
(Kol 2:6-15; Luk 6:12-19)

"Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan
semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia
memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka
dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya
nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus
dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang
disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang
kemudian menjadi pengkhianat. Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti
pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari
murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea
dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka
datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit
mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh
kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena
ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu
disembuhkan-Nya." (Luk 6:12-19), demikian kutipan Warta  Gembira hari
ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Dipilih, dikumpulkan untuk bersama dengan dan mengikuti Yesus serta
kemudian disebar-luaskan, itulah jati diri seorang rasul. Jabatan dan
fungsi rasul pada masa kini ada pada para gembala/uskup kita, yang
dinilai paling baik dan suci di wilayah keuskupannya karena kita imani
telah menerima anugerah Roh Kudus secara khusus. Dalam Kitab Hukum
Kanonik dikatakan bahwa calon uskup hendaknya memiliki
kecakapan-kecakapan seperti: "(1) unggul dalam iman yang teguh, moral
yang baik, kesalehan, perhatian pada jiwa-jiwa, kebijaksanaan,
kearifan dan keutamaan-keutamaan manusiawi, serta memiliki sifat-sifat
lain yang cocok untuk melaksanakan jabatan tersebut, (2) mempunyai
nama baik, dst.." (KHK kan 378). Sebagai umat beriman, khususnya yang
beriman kepada Yesus Kristus, kita juga memiliki tugas rasuli, maka
marilah kita juga berusaha untuk memiliki kecakapan-kecakapan  di
atas. Mungkin yang baik kita usahakan bersama-sama adalah 'mempunyai
nama baik', artinya dimanapun dan kapanpun kita dikenal sebagai
pribadi yang baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara
universal, kapan saja dan dimana saja. Hemat saya kita akan menjadi
baik jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain,
tidak pernah saling menyakiti atau melecehkan sedikitpun, melainkan
senantiasa saling membahagiakan dan menyelamatkan.
•       "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah
hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan
dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang
telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan
syukur." (Kol 2:6-7). "Hendaklah kamu bertambah dalam iman dan
hendaklan hatimu melimpah dengan syukur" inilah yang sebaiknya kita
renungkan dan hayati. Iman adalah anugerah Tuhan, maka jika iman kita
semakin bertambah, tangguh dan handal serta kuat kiranya tak pernah
terlepas dari karya Tuhan. Dari pihak kita dituntut untuk membuka
hati, jiwa, akal budi dan tubuh terhadap aneka sentuhan dan sapaan
Tuhan melalui aneka macam perbuatan baik dari saudara-saudari kita.
Dengan kata lain dari pihak kita dituntut untuk senantiasa siap sedia
berubah, bertumbuh dan berkembang; tidak berubah akan ketinggalan
zaman. Marilah kita lihat dan hayati aneka pertambahan dan perubahan
dalam diri kita menjadi semakin baik, beriman atau suci sebagai
anugerah Tuhan. Kita juga dipanggil untuk senantiasa hidup penuh
syukur, karena kita telah menerima anugerah Tuhan secara melimpah
ruah. "Saat sukses kita bersyukur, saat gagal pun kita bersyukur.
Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan sejati ada di dalam rasa
bersyukur" (Andrie Wongso).  Yang mungkin sulit dihayati kiranya 'saat
gagal pun kita bersyukur". Mengapa saat gagal pun kita harus
bersyukur? Ketika kita mengalami kegagalan berarti kita diingatkan
akan keterbatasan dan kerapuhan kita seraya diajak untuk lebih
mengimani Tuhan, lebih mengandalkan diri sepenuhnya kepada Tuhan
daripada mengandalkan pada diri sendiri. Bukankah hal itu merupakan
pewahyuan khusus dalam kegagalan? Beriman berarti menyadari dan
menghayati diri sebagai orang berdosa yang dipanggil Tuhan untuk
berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya, sehingga jika ada yang
baik, luhur, mulia dan indah dalam diri kita merupakan anugerah Tuhan
yang mendorong dan mengajak kita untuk hidup dengan penuh syukur dan
terima kasih. Marilah kita saling bersyukur dan berterima kasih satu
sama lain.
"TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih
setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat
terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan
bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan
memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan
membicarakan keperkasaan-Mu" (Mzm 145:8-11)

Ign 6 September 2011

Note: banyak terima kasih atas doa dan kehadiran anda sekalian dalam
pemakamam simbok/ibu saya hari Minggu, 4 September 2011.
Ign Sumarya SJ atas nama dua kakak saya dan adik saya