Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Selasa, 18 Oktober 2011

18 Okt


"Kerajaan Allah sudah dekat padamu"
(2Tim 4:10-17b; Luk 10:1-9)
"Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah. Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu." (Luk 10:1-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Lukas, Pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·    Lukas, pengarang Injil, merupakan salah satu teman seperjalanan Paulus dalam rangka berkeliling dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kutipan Warta Gembira di atas ini kiranya menggambarkan secara singkat pengalaman perjalanannya dalam menemani Paulus berkeliling dunia. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan St.Lukas hari ini marilah kita mawas diri perihal penghayatan atau pelaksanaan tugas kita sebagai pewarta Kerajaan Allah, artinya mewartakan Allah yang meraja. "Katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu", demikian perintah Yesus kepada para muridNya. Allah yang meraja hidup dan berkarya di mana saja dan kapan saja, maka panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah berarti dengan rendah hati melihat dan mengimani Allah yang hidup dan berkarya di dalam seluruh ciptaanNya. Dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan ini kita diharapkan lebih mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi daripada pada aneka sarana-prasarana duniawi, karena kita harus menghadapi aneka macam tantangan, hambatan dan masalah, "Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala", demikan peringatan Yesus. Melaksanakan tugas pengutusan bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti dapat mengatasi aneka tantangan, hambatan dan masalah serta dapat menyembuhkan orang sakit apapun. Bersama dan bersatu dengan Allah juga berarti senantiasa bersama-sama dengan rekan-rekan seperutusan. Maka marilah melaksanakan tugas pengutusan bersama-sama dengan semangat gotong-royong.
·   "Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya" (2Tim 4:17), demikian kesaksian iman Paulus. Kesaksian iman Paulus ini kiranya dapat menjadi kesaksian kita juga dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Marilah kita hayati pendampingan Tuhan dengan mengimani kehendak baik saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun atau apa-apa yang baik, indah, mulia dan luhur di lingkungan hidup kita. Marilah kita imani bahwa orang yang berkehendak baik lebih banyak dari pada orang yang berkehendak jahat. Injil atau Warta Gembira diperuntukkan bagi seluruh bangsa di dunia, maka hendaknya kita tidak takut jika diutus kemanapun juga dalam rangka melaksanakan tugas pengutusan; hendaknya kita tidak takut berkata-kata perihal apa yang benar, baik, mulia, luhur dan indah kepada siapapun dan dimanapun. Tentu saja daari diri kita pribadi diharapkan baik adanya alias senantiasa berniat, berkehendak dan bersikap serta bertindak baik. Kita imani bahwa kebaikan pasti dapat mengalahkan kejahatan. Kita dapat belajar dari para pawang binatang buas yang dengan cintkasih mendekati dan bergaul dengan binatang buas dan akhirnya binatang yang menakutkan banyak orang dapat menjadi sahabat. Maka dekati dan sikapi orang, suasana atau tempat yang kelihatannya menakutkan dalam dan dengan cintakasih; siapapun atau apapun ketika didekati dan disikapi dengan dan dalam cintakasih pasti akan menjadi sahabat dan tidak menakutkan. Biasakan mendekati dan menyikapi segala sesuatu dalam dan oleh cintakasih, sebagai bukti bahwa Tuhan sungguh mendampingi hidup, perjalanan dan kesibukan kita.
"Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad, dan pemerintahan-Mu tetap melalui segala keturunan. TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya" (Mzm 145:10-13)
Ign 18 Oktober 2011

19 Okt


 "Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan."

(Rm 6:12-18; Luk 12:39-48)

"Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." Kata Petrus: "Tuhaern, kamikah yang Engkau maksudkan dengan perumpamaan itu atau juga semua orang?" Jawab Tuhan: "Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, jikalau hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba laki-laki dan hamba-hamba perempuan, dan makan minum dan mabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut" (Luk 12:39-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Masing-masing dari kita memiliki tugas pengutusan atau kewajiban yang berbeda satu sama lain, tergantung dari fungsi atau jabatan atau pekerjaan kita masing-masing. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita bahwa apapun yang menjadi tugas pengutusan atau kewajiban kita hendaknya dilaksanakan atau dikerjakan dengan sungguh-sungguh, bekerja keras agar selesai pada waktunya. Ada runmor "Jika orang merasa memiliki banyak uang maka yang bersangkutan akan boros uang, jika orang merasa memiliki banyak waktu, maka yang bersangkutan akan boros waktu alias bekerja seenaknya sambil bermalas-malasan". Marilah kita renungkan sabda Yesus ini, yaitu "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak diituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut". Berapa banyak kita diberi atau dipercayakan marilah kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, selesai pada waktunya atau sebagaimana diharapkan. Ingatlah dan hayatilah bahwa pertanggungjawaban dari apa yang kita lakukan akan dilakukan sewaktu-waktu, dan kita tahu tahu persis kapan waktunya, sebagaimana kita juga tidak tahu kapan akan meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Baiklah kita usahakan jika sewaktu-waktu kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia tidak meninggalkan beban atau masalah kepada mereka yang kita tinggalkan, karena semuanya sudah kita laksanakan atau kerjakan dengan baik, tuntas dan selesai.

·   "Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran." (Rm 6:13), demikian peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua segenap umat beriman atau beragama. Kita dipanggil untuk memfungsikan anggota-anggota tubuh kita sebagai senjata kebenaran untuk melakukan apa yang benar, baik dan mulia, sesuai dengan kehendak Tuhan. Hendaknya jangan memfungsikan anggota tubuh kita untuk berdosa, entah itu berarti menyakiti orang lain atau menjual diri sebagai pemuas nafsu seks kepada orang lain. Ingatlah dan hayati bahwa tubuh kita adalah 'bait Allah', Allah hidup dan berkarya dalam tubuh kita yang lemah dan rapuh ini. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang dengan mudah mencemarkan anggota-anggota tubuh, entah secara aktif maupun pasif, untuk bertobat. Secara khusus saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan muda-mudi untuk senantiasa menjadi semua anggota tubuh tetap suci, tidak tercemar sedikitpun. Kepada mereka yang dianugerahi kecantikan atau ketampanan, kami harapkan hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih, tidak menghadirkan atau menampilkan sedemikian rupa sehingga merangsang orang lain melakukan dosa. Dengan kata lain hendaknya kecantikan atau ketampanan tidak untuk dijual-belikan atau dikomersielkan. Entah laki-laki atau perempuan ketika melihat lawan jenisnya yang cantik atau tampan, hendaknya langsung memuji dan bersyukur kepada Tuhan, bukan untuk menguasainya melainkan melayaninya, artinya tidak pernah melukai sedikitpun.

" Jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, -- biarlah Israel berkata demikian --jikalau bukan TUHAN yang memihak kepada kita, ketika manusia bangkit melawan kita, maka mereka telah menelan kita hidup-hidup, ketika amarah mereka menyala-nyala terhadap kita; maka air telah menghanyutkan kita, dan sungai telah mengalir melingkupi diri kita, maka telah mengalir melingkupi diri kita air yang meluap-luap itu. Terpujilah TUHAN yang tidak menyerahkan kita menjadi mangsa bagi gigi mereka!" (Mzm 124:1-6)

Ign 19 Oktober 2011


Minggu, 16 Oktober 2011

17 Okt


"Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri"
(Rm 4:20-25; Luk 12:13-21)
"Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (Luk 12:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Ignasius dari Antiokhia, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Anak-anak yang bersika mental materilistis ketika kedua orangtuanya telah meninggal dunia pada umumnya akan segera minta berbagi warisan, dan ada kemungkinan pembagian warisan tidak adil, sehingga ada yang protres serta minta bantuan orang lain atau mengeluh kepada Tuhan dalam doa-doanya, sebagaimana kata salah seorang dari orang banyak yang mendengarkan pengajaranNya berseru kepada Yesus "Guru, katakan kepada saudaraku supaya ia membagi warisan dengan aku". Sikap mental anak-anak yang demikian itu kiranya merupakan warisan dari orangtuanya yang bersikap mental materilistis, maka kami berharap kepada para orangtua untuk tidak bersikap mental materialistis. Ingatlah dan sadari ketika meninggal dunia atau  dipanggil Tuhan aneka harta benda atau uang anda tidak akan dibawa serta, dan tentu akan menimbulkan masalah di antara anak-anak anda jika anda sendiri bersikap mental materialistis. Maka kami berharap anda sebagai orangtua sungguh "kaya di hadapan Tuhan" artinya sungguh berbudi pekerti luhur, membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, bersikap social, dst.. Wariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang membahagiakan dan menyelamatkan jiwa kepada anak-anak anda, bukan warisan berupa harta benda atau uang. Kebahagiaan sejati orangtua terjadi ketika anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi 'orang', artinya hidup berbahagia dan damai sejahtera serta berbudi pekerti luhur karena didikan atau cintakasih dari orangtua. Marilah meneladan kemartiran St.Ignasius dari Antiokhia dengan sungguh hidup dan bertindak berdasarkan iman kita kepada Tuhan.
·   "Terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran" (Rm 4:20-22), demikian kata Paulus mengenangkan iman bapa Abraham. Kiranya dengan ini pula Paulus mengingatkan kita semua sebagai orang-orang beriman untuk tetap percaya dan setia pada janji Tuhan, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Hendaknya kita tidak pernah bimbang menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah yang muncul karena kesetiaan pada iman, panggilan atau tugas pengutusan, melainkan tetaplah gembira dan bergairah atau bersemangat, karena dengan demikian anda akan memiliki kemampuan yang diteguhkan oleh Tuhan untuk mengatasi masalah, tantangan atau hambatan tersebut. Jika kita tetap gembira dan bergairah, maka kinerja syaraf dan metabolism darah kita berjalan secara baik dan optimal, sehingga kita memiliki ketabahan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan, hambatan atau masalah. Sebagai orang beriman tidak alasan untuk tidak gembira atau bergairah, karena Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi atau menjiwai diri kita yang lemah dan rapuh ini. Wujudkan iman anda kepada Tuhan dengan hidup dan bertindak dalam Tuhan, sehingga bersama dan bersatu dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin, dapat kita kerjakan atau atasi.
"Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita" (Luk 1:69-75)
Ign 17 Oktober 2011