Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 23 Mei 2013

14 Mei

"Aku telah menetapkan kamu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah "
(Kis 1:15-17.20-26; Yoh 15:9-17)
 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah
mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu
menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku
menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu
Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan
sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling
mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang
lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa
yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab
hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut
kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala
sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku,
tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya
kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang
kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah
perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain." (Yoh
15:9-17),demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta
St.Matias,Rasul,hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
•       Rasul adalah orang yang dipilih dan diutus oleh Allah; ia dipilih di
antara umat dan bertugas sebagai utusan dengan tugas utama mewartakan
Kabar Baik atau sabda Tuhan. Sabda atau perintah Tuhan yang utama dan
pertama adalah "Kasihilah seorang akan yang lain". Sebagai orang
beriman kita semua juga memiliki tugas rasuli, sebagai utusan Allah,
maka marilah dalam hidup sehari-hari dimana pun dan kapan pun kita
senantiasa berusaha saling mengasihi satu sama lain. Karena
masing-masing dari kita merupakan 'buah kasih atau yang terkasih',
yaitu buah kasih antara bapak-ibu kita sebagai pekerjasama Allah dalam
karya penciptaan, maka jika kita sungguh-sungguh menghayati diri
sebagai 'buah kasih', tugas pengutusan untuk hidup saling mengasihi
dengan mudah dapat kita hayati atau lakukan. Berjumpa dengan siapapun
berarti terjadi perjumpaan antara 'buah kasih' dengan 'buah kasih',
maka secara otomatis akan saling mengasihi. Memang yang menjadi
tantangan pada masa kini hemat saya adalah menyadari dan menghayati
diri sebagai 'buah kasih' atau 'yang terkasih'. Generasi muda masa
kini mengalami kesulitan untuk menyadari dan menghayati diri sebagai
'yang terkasih', karena pada masa balita mereka kurang menerima kasih
dari orangtua atau bapak-ibunya, dimana orangtua sibuk bekerja atau
lebih memboroskan waktu dan tenaga untuk cari uang daripada untuk anak
balitanya. Anak balita dengan mudah dititipkan pada 'neneknya' atau
baby-sitter atau pembantu rumah tangga, sehingga ada kecenderungan
untuk dimanjakan atau kurang terdidik dengan baik. Maka dengan ini
kami mengingatkan dan mengajak para orangtua atau suami-isteri yang
memiliki anak balita untuk sungguh mengasihinya dengan murah hati
memboroskan waktu dan tenaga bagi anak balitanya. Kepada kita semua
kami ajak untuk dengan rendah hati menyadari dan menghayati diri
sebagai 'yang terkasih', ingat dan sadari bahwa tanpa kasih
masing-masing dari kita tak mungkin hidup sebagaimana adanya pada saat
ini.
•       "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah
kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima
jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah
jatuh ke tempat yang wajar baginya." (Kis 1:24-25), demikian doa
menjelang pemilihan Matias. Memang sebelum memilih sesuatu hendaknya
disiapkan dengan doa untuk mohon pencerahan dari Tuhan agar apa yang
dipilih sesuai dengan kehendak Tuhan dan dengan demikian apa yang
telah dipilih agar membahagiakan dan menyelamatkan, tentu saja
pertama-tama dan terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia.
Hari-hari ini kiranya cukup banyak orang sedang bingung dalam
menghadapi suatu pemilihan, misalnya pemilihan calon gubernur atau
calon bupati atau bagi mereka yang sedang belajar harus memilih
sekolah atau jurusan pendidikan. Tentu saja di kalangan generasi muda
juga ada yang bingung perihal panggilan hidup, lebih-lebih terkait
dengan calon suami atau isteri. Sebagai orang yang beriman kepada
Yesus Kristus kami berharap anda berpartisipasi dalam novena-novena
Roh Kudus, seraya berdoa atau mohon ujud agar dapat menentukan pilihan
yang tepat di antara sekian banyak yang harus dipilih. Secara khusus
kami ingatkan mereka yang akan berpartisipasi dalam pemilu gubernur
atau bupati, hendaknya dipilih orang yang sungguh merakyat, dimana
kelak jika terpilih menjadi gubernur atau bupati sungguh memperhatikan
kesejahteraan rakyat, tidak untuk memperkaya diri sendiri atau mencari
keuntungan pribadi.
"Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya
nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya. Dari
terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.
TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit."
(Mzm 113:1-4)
Ign 14 Mei 2013

13 mei



"Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu"
(Kis 19:1-8; Yoh 16:29-33)
" Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang
berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu,
bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya
kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari
Allah."Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang? Lihat,
saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan
masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang
diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya
itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku.
Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku
telah mengalahkan dunia." (Yoh 16:29-33), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Setia dalam hidup beriman di dunia masa kini memang tak akan pernah
terlepas dari aneka penderitaan, tantangan dan masalah, mengingat dan
memperhatikan kemerosotan moral masih terjadi di hampir seluruh bidang
kehidupan bersama. Hidup seenaknya hanya mengutamakan kepentingan dan
keperluan pribadi marak di sana-sana sehingga melakukan tindakan
korupsi enak saja tidak, merasa bersalah. Maka dengan ini kami
berharap kepada segenap umat beriman untuk tetap setia dalam
penghayatan iman, teguh hati meskipun harus mengalami penderitaan,
dengan kata lain hendaknya penderitaan mendorong dan memotivasi kita
semakin teguh dan tegar dalam penghayatan iman. Marilah kita meneladan
Yesus, Guru dan Tuhan kita, meskipun harus menderita sengsara,
memanggul salib, disiksa dan disalibkan, tetap setia dan teguh
melaksanakan panggilan sebagai Penyelamat Dunia. Pada masa kini
korupsi memang masih merupakan tantangan berat yang harus kita hadapi
dan berantas. Memberantas korupsi antara lain dapat dimulai di
sekolah-sekolah dengan memberlakukan 'dilarang menyontek' bagi para
peserta didik baik dalam ulangan maupun ujian. Membiarkan atau memberi
kemungkinan menyontek dalam ulangan dan ujian sekolah berarti
mempersiapkan koruptor-koruptor masa depan. Tentu saja kami juga
mendambakan para orangtua untuk sedini mungkin mendidik dan
membiasakan anak-anaknya hidup dan bertindak jujur dalam hidup di
dalam keluarga. Ciptakan budaya malu jika tidak jujur. Usaha
mencerai-beraikan orang-orang yang sungguh beriman dengan aneka cara
pasti akan kita hadapi, dan jangan terkejut jika hal itu terjadi;
tetaplah teguh dalam penghayatan iman. Kami berharap siapapun yang
berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran, ketabahan dan keteguhan
dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan karena
bertindak jujur.
•       "Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah
daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya
beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: "Sudahkah kamu menerima
Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?" (Kis 19:1-2), demikian
pertanyaan Paulus kepada umat di Efesus. Pertanyaan ini kiranya juga
terarah kepada kita semua, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus
dan telah menerima Sakramen Inisiasi (Baptis, Krisma/Penguatan dan
Komuni/ Ekaristi Kudus). Secara liturgis atau formal kiranya telah
menerima anugerah Roh Kudus, namun secara konkret kiranya boleh
dipertanyakan: apakah kita telah hidup dan bertindak sesuai dengan
bisikan dan dorongan Roh Kudus, melaksanakan sabda Yesus serta
meneladan cara hidup dan  cara bertindakNya dimana pun dan kapan pun,
dalam situasi dan kondisi apapun. Sebagai gembala umat kami harapkan
meneladan Paulus bertanya kepada umat Allah apakah telah hidup dan
bertindak sesuai dengan dorongan dan kehendak Roh Kudus. Jika belum
hendaknya umat dibimbing dengan rendah hati untuk hidup dan bertindak
sesuai dengan dorongan dan kehendak Roh Kudus. Para gembala umat kami
harapkan meneladan Paus kita, Fransiskus, hidup dan bertindak
sederhana dalam melayani umat serta memperhatikan mereka yang miskin
dan berkekurangan. Dari mereka yang miskin dan berkekurangan kiranya
kita juga dapat belajar aneka keutamaan dan nilai kehidupan, sebagai
buah Roh Kudus, misalnya ketabahan dan keteguhan hati dalam
penderitaan, kekurangan dan kemiskinan. Jauhka aneka cara hidup dan
cara bertindak yang memberi kesan bermewah-mewah dan berfoya-foya
dalam kehidupan.
"Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang
membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya.Seperti asap hilang
tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang
fasik binasa di hadapan Allah.Tetapi orang-orang benar bersukacita,
mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan
bersukacita.Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya"
 (Mzm 68:2-5a)
Ign 13 Mei 2013

Jumat, 10 Mei 2013

MP VII

Mg Paskah VII : Kis 7:55-60; Why 22:12-14.16-17.20; Yoh 17:20-26
"Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada
bersama-sama dengan Aku"

Orang suci yang telah hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga
bersama Allah senantiasa mendoakan kita semua, umat Allah, yang masih
hidup dan berjuang di dunia ini. Memang mereka yang telah hidup mulia
dan berbahagia kembali ke sorga bersama dengan  Allah akan lebih mudah
dan banyak berdoa daripada kita yang masih hidup di dunia ini, yang
kemungkinan besar jarang atau malas berdoa. Yesus yang telah naik ke
sorga juga mendoakan kita semua yang beriman kepadaNya, agar dimana
pun dan kapan pun kita senantiasa bersatu denganNya serta dengan
saudara-saudari kita yang masih hidup di dunia ini. Yesus yang telah
naik ke sorga kita imani masih hidup dan berkarya di dunia ini melalui
RohNya, sehingga kehadiran dan karyaNya tak terbatas oleh ruang dan
waktu, kapan saja dan dimana saja. Maka dimana pun dan kapan pun kita
berada dapat bersama dan bersatu denganNya, tentu saja jika kita
sungguh membuka diri terhadap kehadiran dan karyaNya melalui RohNya.
Doa Yesus bagi para muridNya kiranya juga dapat menjadi teladan bagi
kita semua untuk saling mendoakan satu sama lain sebagai saudara.
"Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada
bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku,
agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan
kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku
mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah
mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan
Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku
ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." (Yoh 17:24-26)
Orang-orang dunia yang bersikap materialistis atau duniawi memang
jarang berdoa, karena sibuk terus-menerus memboroskan waktu dan
tenaganya untuk cari harta benda atau uang. Sebaliknya kita sebagai
orang beriman kiranya tahu bahwa berdoa merupakan kebutuhan kita agar
kita setia dalam hidup beriman. Ada pepatah 'jauh di mana dekat di
hati', yang berarti meskipun secara fisik tidak bersama-sama tetapi
saling berjauhan karena tugas dan pekerjaan orang tetap merasa dekat
dan menjadi satu dengan yang lain. Hal ini kiranya terjadi karena
orang saling mendoakan.

"Kesatuan hati dan budi" pada masa kini memang sungguh penting dan
mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat banyak di
antara kita karena tugas dan pekerjaan sering harus berpisah secara
fisik untuk jangka waktu yang cukup lama. Maka marilah kita berusaha
memperdalam dan memperkembangkan kesatuan hati dan budi antar kita.
Sebagai orang beriman marilah kita usahakan kesatuan dalam iman,
harapan dan cintakasih, tiga keutaman penting dan utama dalam
kehidupan bersama. Dan sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus
marilah kita hayati kesatuan dalam Roh Kudus, yang berarti
masing-masing dari kita senantiasa berusaha membuka diri atas bisikan
dan dorongan Roh Kudus serta menanggapinya dalam perilaku atau
tindakan, dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana
pun dan kapan pun.

Para suami-isteri yang telah saling bernjanji untuk sehidup semati
saling mengasihi, yang telah mengusahakan dan menghayati kesatuan
hati, jiwa, akal budi dan tubuh, kami harapkan dapat menjadi teladan
dalam kesatuan dalam Roh, kesatuan budi dan hati bagi anak-anaknya,
sehingga anak-anak memiliki pengalaman mendalam akan kesatuan hati dan
budi. Kami percaya ketika anak-anak di dalam keluarga memiliki
pengalaman penghayatan kesatuan hati dan budi, maka kelak dalam
perkembangan dan pertumbuhannya, dalam pergaulan yang lebih luas
mereka akan senantiasa mengusahakan kesatuan hati dan budi kepada
teman-temannya.

Sebagai warganegara Indonesia marilah kita hayati apa yang telah
diusahakan oleh para pendahulu kita, para pejuang dan bapak bangsa:
satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Kita tegakkan penghayatan
Pancasila, dasar Negara kita, maka marilah kita perangi dan lawan
segala usaha yang mencoba merongrong dan melemahkan Pancasila sebagai
dasar Negara kita yang tercinta ini. Aneka perbedaan antar kita
hendaknya menjadi daya tarik, daya pesona dan penggerak bagi kita
semua untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat. Ingat secara
ilahi kita imani bahwa laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain
tetapi saling tertarik untuk saling mendekat dan bersatu. Dengan kata
lain karena perbedaan tidak mengusahakan kesatuan dan persaudaraan
sejati, hemat saya melawan kehendak ilahi.
"Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu
melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu
katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri
di sebelah kanan Allah." (Kis 7:55-56).

Stefanus yang berada dalam penderitaan dan ancaman untuk dibunuh,
karena penuh Roh Kudus, ia melihat kemuliaan Allah. Pengalaman iman
Stefanus ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, maka
marilah dengan rendah hati kita berusaha meneladan semangat hidup
Stefanus. Memang kita kiranya secara konkret tidak mengalami apa yang
dialami Stefanus, yaitu dalam ancaman untuk dibunuh, namun kami
percaya bahwa kita sering merasa dalam keadaan tersingkir, menderita,
kurang diperhatikan dst.. Baiklah jika kita sungguh beriman marilah
kita sadari dan hayati bahwa Allah senantiasa memperhatikan dan
mendampingi atau menyertai kita.

Kita hadapi aneka derita dengan penuh kesabaran dan lembah lembut,
sebagai tanda bahwa Allah beserta kita. Maka hendaknya jangan
melupakan Allah ketika berada dalam penderitaan, melainkan berdoalah
untuk menjalin relasi akrab dan mesra dengan Allah. Penderitaan fisik
hendaknya menjadikan hati, jiwa dan akal budi kita semakin sabar dan
lembut, sehingga dalam penderitaan kita semakin setia kepada Allah.
Ketika ada orang yang membuat kita menderita atau menemui kesulitan
dan tantangan hendaknya kita meneladan Stefanus dengan berdoa :
"Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka", dengan kata
lain ampunilah orang yang telah menyakiti atau melukai kita. Marilah
kita ingat dan hayati kata-kata dalam doa Bapa Kami yang sering kita
doakan yaitu "ampunilah kami seperti kami telah mengampuni mereka yang
bersalah kepada kami".

"Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian
tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas,
yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." Roh dan
pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang
mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang
haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia
mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!" (Why 22:16-17). Kutipan
dari kitab Wahyu di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita
semua dalam kehidupan bersama, yaitu keterbukaan diri untuk didatangi
siapapun, lebih-lebih mereka yang mendambakan 'air kehidupan'. Tentu
saja hal ini secara konkret perlu dihayati oleh para pemimpin agama
atau gembala umat yang diharapkan dapat memberi 'air kehidupan' bagi
mereka yang membutuhkan. Apa yang dimaksudkan dengan 'air kehidupan'
antara lain adalah kata-kata, nasihat atau pesan atau saran yang
menggairahkan dan menghidupkan. Semoga para pemimpin agama atau
gembala umat dapat menjadi penyalur 'air kehidupan' dengan cuma-cuma
bagi umat Allah.

"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau
bersukacita!Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum
adalah tumpuan takhta-Nya."
 (Mzm 97:1-2)
Ign 12 Mei 2013