Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 06 November 2009

7 Nov - Rm 16:3-9.16.22- 27; Luk 16:9-15

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara besar."

(Rm 16:3-9.16.22- 27; Luk 16:9-15)


"Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah"(Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Dalam suatu pertemuan dengan penceramah Romo JB.Mangunwijaya pr alm, ada seorang peserta bertanya: "Bagaimana tanggapan Romo terhadap karya Gereja serta para biarawan-biarawati dengan bangunan yang megah, besar dan kuat". "Oh, banyak orang kagum, heran, terkejut, dst.., tetapi apakah mereka mengasihi karya tersebut tanda tanya, saya tidak tahu", demikian tanggapan Romo Mangun. Memang kebanyakan orang kagum terhadap apa yang besar, entah itu bangunan, pangkat, jabatan, dst.., tetapi apakah mereka mengasihi yang besar tersebut tanda tanya besar. Yang menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari adalah apa-apa atau hal-hal kecil dan sederhana, bukan yang besar dan berbelit-belit, maka kita dipanggil untuk setia dalam perkara-perkara kecil, agar dapat setia pada perkara-perkara besar. Memperhatikan perkara kecil berarti juga memperhatikan dan mengasihi mereka yang disebut kecil, entah pembantu rumah tangga/pesuruh, anak kecil, mereka yang miskin dan berkekurangan, bodoh, dst.. Dan untuk dapat memperhatikan yang kecil ini orang harus `turun ke bawah' untuk melihat dengan cermat kenyataan-kenyataan konkret yang ada: apa yang dilakukan atau dikerjakan dan dirasakan oleh mereka yang kecil tersebut. Jika kita tidak dapat mengasihi dan memperhatikan yang kecil-kecil tersebut, maka memperhatikan mereka yang besar berarti `mencari muka' alias pamer, dan dengan demikian cenderung untuk menjadi sombong; "mereka dibenci oleh Allah". Marilah kita perhatikan perkara atau hal-hal kecil dalam diri kita sendiri maupun yang menjadi tanggungjawab kita. Jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, hendaknya jangan mengatur orang lain; jika kita tidak dapat mengurus dan mengelola kamar pribadi kita sendiri, janganlah mengurus atau mengelola gedung kantor yang besar, dst..
• "Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus" (Rm 16:16), demikian ajakan dan peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Bersalaman dengan cium kudus berarti saling menguduskan atau menyucikan; setiap perjumpaan atau pertemuan kita dengan siapapun senantiasa mendorong kita semakin kudus atau suci, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dalam hidup dan kesibukan sehari-hari kita senantiasa bergaul dan aneka harta benda dan uang alias terlibat dalam seluk-beluk duniawi, hidup `mendunia'. Maka apapun yang kita kerjakan setiap hari hendaknya dikerjakan dengan baik, sehingga berguna bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Sebagai contoh: pembantu rumah tangga atau pegawai membersihkan lantai dan halaman dengan baik, maka siapapun yang melewati dan tinggal di atasnya akan gembira dan bahagia, sebaliknya ketika lantai atau halaman nampak kotor atau amburadul, maka siapapun yang melihat dan tinggal di atas akan tergoda untuk berpikiran jahat atau melecehkan orang lain, entah pembantu rumah tangga/pegawai atau pemiliknya. Bersalaman dengan cium kudus juga berarti saling mengasihi, dan hal ini kiranya dapat dihayati oleh laki-laki dan perempuan yang saling mengasihi sebagai suami-isteri, atau yang sedang pacaran atau tunangan. Cium kudus juga dinikmati oleh bayi-bayi atau anak-anak dari ibunya; ciuman kasih yang membangkitkan dan membahagiakan. Maka hendaknya dalam mengasihi atau memperlakukan orang lain bercermin dan meneladan seorang ibu yang sedang mengasihi anaknya, yang telah dikandung, dilahirkan dan sekarang diasuhnya. Sebagai orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita semua dipanggil untuk saling mengasihi dan saling menyucikan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.


"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan -Mu dan akan memberitakan keperkasaan- Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan -Mu yang ajaib akan kunyanyikan" (Mzm 145:2-5)


Jakarta, 7 November 2009


Kamis, 05 November 2009

6 Nov - Rm 15:14-21; Luk 16:1-8

"Apakah yang harus aku perbuat?"

(Rm 15:14-21; Luk 16:1-8)


"Dan Yesus berkata kepada murid-murid- Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang."(Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•Dalam dunia pendidikan kita masa kini masih diwarnai oleh aneka lomba, misalnya: lomba phisika atau matematika Olympiade, rangking nilai ujian akhir/NEM, dstÂ… Sejauh saya cermati hal itu telah memotivasi , entah para orangtua, pengelola sekolah maupun para guru/pendidik, untuk lebih mengutamakan kecerdasan intelektual daripada kecerdasan spiritual, lebih mengutamakan agar pada peserta didik pandai daripada baik atau berbudi pekerti luhur. Dampak dari hal itu antara lain kebiasaan atau budaya menyontek dalam ulangan umum maupun ujian, yang tidak lain merupakan akar kebiasaan korupsi. Maka tidak mengherankan kebiasaan korupsi masih marak di sana-sini, bahkan di era Reformasi dan Desentralisasi korupsi semakin tersebar dan sulit terkendali alias diberantas. "Anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang", demikian sabda Yesus. Kami berharap dan mendambakan pada semua pihak yang terkait dalam pendidikan, entah orangtua, pengelola, pendidik/guru atau pejabat terkait, untuk lebih mengutamakan kecerdasan spiritual daripada kecerdasan intelektual, untuk lebih membantu anak-anak tumbuh berkembang menjadi baik dan berbudi pekerti luhur daripada pandai alias cerdik. Memang untuk membantu anak memiliki kecerdasan spiritual atau baik dan berbudi pekerti luhur lebih sulit, tetapi ketika mereka memiliki kecerdasan spiritual, maka kecerdasan-kecerdas an lain seperti intelektual, sosial, emosional dan phisik dapat diusahakan lebih mudah. Sebaliknya ketika kecerdasan spiritual atau budi pekerti luhur kurang memperoleh tempat atau perhatian dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan, maka aneka korupsi dan kejahatan semakin marak sebagaimana kita saksikan pada masa kini.


•"Karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus" (Rm 15:15-16). Kasih karunia Allah telah membuat Paulus tanpa takut dan gentar untuk mewartakan Kabar Baik ke seluruh dunia, "bangsa-bangsa bukan Yahudi". Kasih karunia Allah memang tidak terbatas, dianugerahkan kepada siapapun dan dimanapun, yang terbuka untuk menerimanya. Kasih karunia Allah bukan untuk menina-bobokan orang dan kemudian bermalas-malasan, tetapi menggerakkan dan memotivasi orang untuk keluar dari dirinya sendiri alias bersifat missioner, diutus. Kasih karunia utama dari Allah adalah Roh Kudus, maka siapapun yang menerima Roh Kudus dan kemudian hidup dari dan oleh Roh Kudus, maka dari cara hidup dan cara bertindaknya lahirlah keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh ini hendaknya juga menjadi dambaan dan buah hasi dari aneka usaha pendidikan. Hidup saya ini adalah kasih karunia Allah, maka segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki dan nikmati atau kuasai sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka selayaknya kita semua hidup dan bertindak dengan rendah hati, lemah lembut, dst..


"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! " (Mzm 98:1-4)


Jakarta, 6 November 2009.


Selasa, 03 November 2009

5 Nov - Rm 14:7-12; Luk 15:1-10


"Akan ada sukacita pada malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat"

(Rm 14:7-12; Luk 15:1-10)

"Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."(Luk 15:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, datang ke dunia untuk menyelamatkan bagian atau anggota dunia yang tidak selamat. Maka kita yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan-Nya, yaitu menyelamatkan yang tidak selamat, menyembuhkan yang sakit, mencerdaskan yang bodoh, memberdayakan yang lemah lesu, menggairahkan yang frustrasi dan putus asa, dst.. Memang untuk melaksanakan tugas pengutusan tersebut kita harus berani berkorban dan berjuang serta siap sedia untuk menderita. Jika dalam kebersamaan hidup kita ada yang sakit, bodoh, lemah lesu, frustrasi dan putus asa alias berdosa, bukankah kehidupan bersama akan terganggu, tidak nyaman dan tidak nikmat? Ketika yang berdosa tersebut bertobat maka kehidupan bersama akan enak dan nyaman, damai dan aman tenteram, semuanya bahagia dan gembira. Marilah kita lihat dengan cermat siapa saja atau apa saja dalam kebersamaan hidup atau lingkungan hidup kita yang 'tidak selamat', tidak baik? Jika cukup banyak yang tidak baik tentu ada akar utama yang menyebabkan mereka tidak baik, maka hendaknya dengan segala upaya dan usaha serta pengorbanan apa yang menjadi akar kejahatan atau perbuatan tidak baik tersebut segera dibereskan. Semua yang merasa baik hendaknya berpartisipasi untuk membereskan apa yang tidak baik. Hal senada terjadi dalam tubuh kita masing-masing: adakah anggota tubuh yang sakit? Jika ada anggota tubuh yang sakit hendaknya segera diobati! Sebagai contoh sakit gigi, jika dibiarkan seluruh tubuh akan menderita, tetapi jika segera diobati akan segar-bugar seluruh anggota tubuh.

·   "Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan"(Rm 14:7-8), demikian kesaksian iman atau peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua orang beriman. Hidup dan mati kita adalah anugerah Allah, maka selama masih hidup hendaknya memfungsikan hidup bagi Allah, sehingga ketika dipanggil Allah alias meninggal dunia langsung hidup mulia bersama Allah di sorga. Hidup untuk Tuhan atau Allah berarti mempersembahkan hidup kita seutuhnya demi keselamatan atau kebahagiaan diri kita sendiri maupun orang lain yang kena dampak dari atau terkait dengan hidup kita. Untuk itu kita harus mentaati dan melaksanakan kehendak Tuhan, yang secara konkret berarti mentaati dan melaksanakan aneka macam janji yang pernah kita ikrarkan serta aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan janji tersebut. Sebagai contoh adalah janji laki-laki dan perempuan sebagai suami-isteri yang antara lain berjanji 'saling mengasihi baik dalam untung dan malang, baik dalam sehat maupun sakit sampai mati atau selama-lamanya ' . Maka kami berharap para suami-isteri atau bapak-ibu dapat menjadi saksi atau teladan hidup perihal hidup untuk Tuhan yang tidak lain saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/tenaga sampai mati. Kesaksian atau keteladanan bapak-ibu, suami-isteri atau orangtua akan mempengaruhi anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka dan seterusnya. Marilah kita imani dan hayati bahwa 'hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan'.

 

"Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!"(Mzm 27:13-14)

 

Jakarta, 5 November 2009