Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 28 November 2009

29 Nov - Yes 33:14-16; 1Tes 3:12-4:2; Luk 21:25-28.34-36

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi"

MG ADVEN I : Yes 33:14-16;  1Tes 3:12-4:2; Luk 21:25-28.34-36

 

Para pelajar atau mahasiswa-mahasiswi yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ulangan umum atau ujian pada umumnya ditandai dengan keprihatinan dalam hidupnya, antara lain rajin belajar dan mengurangi untuk bersenang-senang seperti nonton atau bepergian. Hal tersebut dilakukan dengan harapan dapat sukses dalam ulangan atau ujian, dan dengan demikian ulangan atau ujian membuahkan kegembiraan atau kebahagiaan. Hari ini kita memasuki Tahun Baru Liturgy, masa adven, waktu untuk mempersiapkan diri menyambut Kelahiran Penyelamat Dunia, Hari Raya Natal. Warna pakaian liturgy adalah ungu, symbol keprihatinan, maka selama masa adven kita juga dipanggil untuk 'berprihatin', yang antara lain ditandai dengan bentuk matiraga sesuai dengan panggilan, tugas pengutusan dan lingkungan hidup kita masing-masing.

 

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat" (Luk 21:34)

 

Dalam kutipan Injil Lukas di atas ini yang dimaksudkan dengan 'hari Tuhan' kiranya adalah kematian kita, saat kita dipanggil Tuhan, dimana Tuhan mendatangi kita secara pribadi dan memanggil kita untuk hidup mulia kembali di sorga untuk selama-lamanya. Adven berasal dari bahasa Latin "advenio /adveniare"  yang antara lain berarti mendekati, dan menjadi kata sifat 'adventus' yang berarti hal mendekati. Kita memasuki masa adven berarti memasuki kegiatan atau gerakan dalam mendekati atau menyongsong kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia. Sebagaimana seorang ibu atau bapak menyongsong kelahiran anaknya senantiasa dijiwai oleh harapan dan matiraga tertentu, maka pada masa adven ini kita juga diajak mawas diri perihal keutamaan harapan dan matiraga. 

 

Ada tiga keutamaan utama, yaitu 'iman, harapan dan cinta'. Apa isi harapan?  Baiklah saya kutipan surat Petrus untuk mawas diri perihal harapan sbb.: "Kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang." (2Pet 1:5-7). Isi dari harapan tidak lain adalah kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan. Maka marilah di masa adven kita mawas diri perihal keutamaan-keutamaan yang menjadi isi dari harapan tersebut:

·  Kebajikan: selama masa adven kita dipanggil untuk berbuat baik atau melakukan apa yang baik sebanyak mungkin kepada saudara-saudari kita, dan tentu saja.pertama-tama kepada mereka yang setiap hari hidup dan bekerja bersama dengan kita. Di perjalanan, entah ketika sedang berjalan kaki atau sebagai penumpang atau pengendara/pengemudi juga ada banyak kesempatan untuk berbuat baik, misalnya memberi kesempatan orang cacat, tua, lemah untuk duduk, menghormati kendaraan yang lebih kecil, memberi kesempatan orang lain untuk lewat lebih dahulu, dst…      

·  Pengetahuan: berbuat baik pada masa kini mungkin butuh pengetahuan, agar tindakan baik yang dilakukan efisien, efektif dan afektif. Dengan kata lain di masa adven ini kita dipanggil untuk menghayati dan meningkatkan sikap mental 'belajar' alias mencari tahu sebanyak mungkin dalam berbagai hal dengan berbagai cara yang dimungkinkan.  Berbagai perkembangan dan pertumbuhan yang sedang dan akan terus berlangsung menuntut kita  semua untuk belajar terus menerus. Orang yang terus menerus belajar akhirnya pasti akan menyadari dan mengakui diri sebagai yang terbatas, tak mungkin mengetahui semuanya, dengan kata lain ia akan sampai pada keutamaan penguasaan diri.     

·  Penguasaan diri: menguasai diri rasanya tidak mudah, karena orang pertama-tama harus mampu mengenal diri sendiri sebaik dan seoptimal mungkin. Orang yang dapat menguasai diri akan mampu menempatkan diri atau memfungsikan diri dalam kehidupan bersama yang terus tumbuh berkembang saat ini. Ketika orang dapat menguasai diri, maka tindakan terhadap orang lain adalah melayani bukan menguasai, dan ketika orang setia melayani orang lain lahirlah ketekunan.  

·  Ketekunan: "Tekun adalah  sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:  Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka Jakarta 1997, hal 27). Penuh daya tahan dan bersemangat itulah yang menjadi panggilan kita dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan serta masalah, dengan kata lain orang tetap bergairah dalam berbagai masalah dan kesempatan. Buah dari ketekunan terus menerus tidak lain adalah kesalehan.   . 

·  Kesalehan. Kesalehan dalam bahasa Jawa 'sumeleh' berarti pasrah diri pada Yang Ilahi, tentu saja tidak berarti pasif melainkan aktif dan proaktif, karena Yang Ilahi atau Tuhan juga aktif dan proaktif terus-menerus. Mempersembahkan diri kepada Tuhan berarti mengikuti kehendak dan perintah Tuhan, dan kehendak atau perintahNya yang utama dan pertama adalah "saling mengasihi".

Untuk mengusahakan keutamaan-keutamaan, isi harapan, di atas kiranya butuh matiraga atau lakutapa, maka hendaknya di masa adven juga mawas diri perihal matiraga atau lakutapa.

 

"Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya"(1Tes 3:12-13).

 

Penyelamat Dunia yang kita songsong kelahiran atau kedatanganNya adalah Penyelamat bagi semua orang, maka  baiklah kita siapkan dengan mawas diri perihal panggilan kita, sebagaimana diingatkan Paulus kepada umat Tesalonika :"bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang tehadap yang lain dan terhadap semua orang".  Jika kita dapat mawas diri dengan baik dan benar, kiranya kita akan mampu menyadari dan menghayati diri sebagai 'yang terkasih' artinya sampai saat ini telah menerima kasih berkelimpahan dari Allah melalui sesama atau saudara-saudari kita. Jika masing-masing dari kita dapat menghayati diri sebagai 'yang terkasih', maka panggilan untuk saling mengasihi dengan semua orang mudah sekali, karena bertemu dengan siapapun berarti 'yang terkasih bertemu dengan yang terkasih' dan dengan demikian saling mengasihi..

 

Saling mengasihi ini hemat saya perlu dihayati pertama-tama dan terutama dengan mereka yang setiap hari hidup dan bekerja dengan kita: segenap anggota keluarga, rekan belajar atau rekan bekerja. Ketika kita dengan mereka yang dekat dengan kita dapat saling mengasihi satu sama lain dengan baik, maka dengan mudah kita mengasihi orang lain, sebaliknya jika dengan mereka yang dekat kita tak mampu saling mengasihi, maka mengasihi yang lain berarti melarikan diri dari tanggungjawab alias pengecut. Para bapak-ibu atau suami-isteri kami dambakan dapat menjadi teladan dalam saling mengasihi bagi anak-anaknya serta keluarga besar. Akhir kata marilah kita renungkan seruan Yesaya ini: "Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan, dialah seperti orang yang tinggal aman di tempat-tempat tinggi, bentengnya ialah kubu di atas bukit batu; rotinya disediakan air minumnya terjamin"(Yes 33:15-16)       

.

"Siapakah itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!" Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan! "Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?" "TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!"(Mzm 24:8-10)

Jakarta, 29 November 2009


Jumat, 27 November 2009

28 Nov - Dan 7:15-27; Luk 21:34-36

"Berjagalah senantiasa sambil berdoa supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu"

(Dan 7:15-27; Luk 21:34-36)

 

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." (Luk 21:34-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir tahun Liturgy dan kepada kita diberi pesan atau nasehat "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu,". Apa yang akan terjadi kiranya kita tidak tahu, meskipun sedikit banyak dapat meramalkan. Di musim penghujan ini mungkin akan terjadi banjir bandang dan tanah longsor; kita di Indonesia juga masih dalam ancaman bencana alam gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi, dan sewaktu-waktu atau setiap saat masing-masing dari kita dapat dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Maka mungkin yang baik bagi kita semua adalah berjaga-jaga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan atau meninggal dunia alias mati. Bentuk berjaga-jaga yang baik tidak lain adalah senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, yang memang perlu disertai atau didukung oleh hidup doa. Dengan kata lain setiap hari kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun atau kita senantiasa menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. Apa yang akan terjadi memang 100% karena Tuhan dan 100% karena manusia, maka kita, manusia, akan terluput dari malapetaka jika sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Sedikit perihal doa: ada orang berdoa dengan kalimat panjang dan bertele-tele serta suara keras, ada orang berdoa dengan gerakan tubuh dan mimik wajah sedemikian rupa sehingga nampak khusuk berdoa, dst.. Yang utama dalam doa adalah hati yang terarah sepenuhnya kepada Tuhan, kepada Yang Ilahi, sehingga hati sungguh dikuasai dan dijiwai oleh Tuhan. Maka berdoa dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu.

·   "Pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi: pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang kekal, dan segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka"(Dan 7:27). Orang-orang kudus atau suci adalah orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi, sehingga hati, jiwa, akal budi dan tubuh dikuasai dan dirajai oleh Tuhan, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Secara konrkret orang kudus pada umumnya dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya dimanapun dan kapanpun, karena ia sendiri senantiasa juga mengasihi siapapun dan dimanapun. Yang utama dalam kehidupan adalah kasih: masing-masing dari kita ada dan diadakan dalam dan oleh kasih, dapat tumbuh-berkembang sampai seperti saat ini hanya karena kasih, maka siapapun yang disapa dan diperlakukan dalam dan dengan kasih pasti akan patuh atau takluk. Binatang buas pun ketika didekati dan diperlakukan dalam dan oleh kasih juga akan patuh dan takluk alias menjadi sahabat. Tanaman dapat tumbuh berkembang dengan baik dan menghasilkan buah juga karena kasih. Maka baiklah di akhir tahun Liturgy ini kita mawas diri: apakah kita semua tetap setia hidup saling mengasihi. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu"(1Kor 12:4-7), demikian kata Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Marilah kita sikapi dan perlakukan aneka tatanan dan aturan hidup dalam dan oleh kasih, demi keselamatan dan kebahagiaan bersama atau umum.

.

"Pujilah Tuhan, hai anak-anak manusia, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai Israel, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para imam Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para hamba Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai roh dan jiwa orang-orang benar, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai semua yang mursid dan rendah hati, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya" (Dan 3:82-87)

Jakarta, 28 November 2009


Kamis, 26 November 2009

27 Nov - Dan 7:2-14; Luk 21:29-33

"Langit dan bumi akan berlalu tetapi perkataanKu tidak akan berlalu."

(Dan 7:2-14; Luk 21:29-33)

 

"Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja.Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."(Luk 21:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kitab Suci ditulis dan mulai digunakan ratusan atau ribuan tahun yang lalu, namun sampai kini masih tetap fungsional dan up to date. Mungkin Kitab Suci terbakar atau hanyut kena air bah/banjir, tetapi isi tetap hidup dalam diri manusia dan mungkin juga diturunkan atau diteruskan pada anak cucu atau keturunannya. "Langit dan bumu akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu", demikian sabda Yesus. Di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita memang diajak mawas diri: apakah aneka macam nasehat atau ajaran baik yang telah kita terima melalui orangtua, guru/pendidik, saudara atau sahabat, masih hidup serta menjiwai cara hidup dan cara  bertindak kita. Secara organisatoris kita diharapkan mawas diri: apakah spiritualitas/charisma atau visi pendiri organisasi atau paguyuban masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak anggota, apakah para anggota semakin menghayati spiritualitas/charisma atau visi? Sebagai suami-isteri, apakah kita semakin saling mengasihi dan memberikan diri, sebagai pekerja apakah semakin terampil bekerja, sebagai pelajar apakah semakin terampil belajar. Bercermin pada sabda hari ini kami juga mengingatkan pada orangtua: hendaknya mewariskan kepada anak-anak nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, bukan harta benda atau uang, antara  lain mengutamakan pendidikan anak-anak daripada kepentingan lainnya, mengutamakan 'human investment daripada material investment'. Demikian juga kepada para penentu kebijakan hidup  bersama, lebih-lebih dalam hal tenaga dan dana, kami harapkan mengalokasikan tenaga dan dana yang memadai untuk pelayanan atau karya pendidikan. Selanjutnya karya pendidikan juga diperhatikan dengan baik agar tidak terjadi kemerosotan moral separti korupsi, manipulasi alias 'menyontek'; utamakan pendidikan budi pekerti atau nilai dalam karya pendidikan atau di sekolah-sekolah.

·   "Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah" (Dan 7:14), demikian kutipan kata-kata Daniel dari penglihatannya. Apa yang dilihat oleh Daniel ini baik menjadi permenungan atau refleksi bagi para orangtua, pendidik./guru atau pemimpin.  Berikan kepada anak-anak, peserta didik atau anggota dan rakyat apa yang tidak mudah hancur atau lenyap, yaitu nilai-nilai kehidupan atau ciri-ciri yang menjadi sifat budi pekerti luhur, yaitu : " bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet " (Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997). Tentu saja sebagai pemberi (orangtua, pendidik, pemimpin) telah menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut. Anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibinakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu. Bagi kita semua: marilah kita mawas diri, apakah kita juga tumbuh-berkembang dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tesebut di atas.

 

"Biarlah bumi memuji Tuhan, nyanyikan dan meninggikan Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai gunung-gemunung, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala tumbuhan di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segenap mata air dan bukit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai lautan dan sungai, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai raksasa lautan dan segala apa yang bergerak di dalam air, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya" (Dan 3:74-79)

 

Jakarta, 27 November 2009