Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 11 Desember 2009

13 Des - Zef 3:14-18a; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18

"Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak"

 Mg Adven III : Zef 3:14-18a; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18

Ketika Mgr Leo Soekoto SJ alm. dipanggil Tuhan di RS St.Elisabeth - Semarang, kebetulan saya saat bertugas sebagai Ekonom Kuskupan Agung Semarang dan saya diberi tugas untuk mengurus pemakaman. Maka saya segera menghubumgi beberapa orang yang terbiasa membantu kami via tilpon untuk datang di Wisma Uskup guna membicarakan upacara pemakaman Mgr Leo Soekoto SJ. Cukup menarik dan mengesan reaksi mereka dan hampir semua bertanya: "Apa yang harus saya kerjakan?'. Pertanyaan macam itu atau kesiap-sediaan untuk melakukan sesuatu kiranya juga ada dalam diri kita masing-masing, setelah berpartisipasi dalam kegiatan Adven, tentu saja bertanya perihal apa yang harus dilakukan agar layak menyambut pesta Natal, kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia, sebagaimna ditanyakan oleh orang-orang yang telah mendengarkan pewartaan Yohanes Pembaptis. Maka marilah kita renungkan jawaban-jawaban Yohanes Pembaptis di bawah ini:

 

"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian."

(Luk 3:11)

 

Solidaritas atau "to be man or woman with/for others"  dan "preferential option for/with the poor", itulah yang harus kita hayati dan sebar-luaskan serta meninggalkan aneka macam bentuk egoisme. Secara khusus marilah kita perhatikan saudara-saudari atau sesama kita yang berkekurangan dalam hal pakaian dan makanan, kekurangan gizi. Gerakan ini kiranya merupakan persiapan yang baik untuk menyambut kedatangan Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia" (Flp 2:6-7).

 

Gerakan ini kiranya pertama-tama dan terutama kita lakukan di lingkungan hidup dan kerja kita setiap hari, dan kemudian berkembang sejauh kemungkinan dan kesempatan yang ada, pertama-tama secara pribadi dan kemudian secara organisatoris. Para pembantu rumah tangga hendaknya diberi imbalan dan perlakuan yang adil, yang mensejahterakan hidup mereka; demikian para pekerja atau buruh hendaknya diberi imbalan atau gaji yang memadai. Hendaknya jangan bermain sandiwara: kepada pembantu dan pegawai diberi gaji atau imbalan pas-pasan atau bahkan kurang, tetapi memberi sumbangan besar bagi orang lain, yang jauh. Sejahterakan dahulu mereka yang hidup dan bekerja dengan kita, dan kemudian kita bersama-sama, secara organisatoris atau kelompok/keluarga, membantu orang lain yang sungguh membutuhkan.        

 

"Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Luk 3:13)

 

Kutipan di atas ini kiranya diarahkan kepada para rentenir, dan mungkin di antara anda tidak ada yang menjadi rentenir; kutipan di atas ini baik menjadi permenungan atau refleksi bagi orang yang punya uang atau para pengelola uang. Pinjam-meminjam uang ada aturan mainnya; jika meminjamkan uang kepada orang lain hendaknya dengan bunga paling tinggi sesuai dengan apa yang diperlakukan di kantor Pegadaian, syukur tanpa bunga akan lebih mulia ketika yang meminjam adalah mereka yang miskin dan berkekurangan. Kami mengajak anda sekalian jika ada teman anda yang menjadi rentenir hendaknya ditegor keras: membiarkan atau pura-pura tidak tahu terhadap teman yang menjadi rentenir hemat saya berarti setuju alias mendukung. Di masa Adven, menjelang Pesta Natal dan Tahun Baru ini, mungkin baik bagi mereka yang meminjamkan uang kepada yang miskin dan berkekurangan untuk mempertimbangkan: jika yang bersangkutan nampak sulit mengembalikan pinjaman, alangkah indahnya jika pinjaman atau hutang mereka dibebaskan sebagai hadiah Natal dan Tahun Baru.  

 

"Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang."(Fil 4:5), demikian peringatan atau ajakan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua. Kebaikan yang dapat diketahui semua orang berarti menjadi nyata atau terwujud dalam tindakan atau perilaku. Marilah di masa Adven ini, menjelang Pesta Natal, kita berbuat baik kepada siapapun secara konkret, atau paling tidak cara hidup dan cara bertindak kita hendaknya tidak menimbulkan kesulitan atau masalah bagi orang lain, melainkan menjadi wahana dan motivasi bagi orang lain untuk berbuat baik.          

 

"Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu"

 (Luk 3:14).

 

Pesan di atas ini mengajak kita semua untuk hidup sederhana, tidak berfoya-foya atau boros. Maka kepada semua saja kami harapkan untuk hidup sesuai dengan gaji yang diterima, tidak mencari tambahan dengan mengadakan perampasan atau pemerasan. Sayang di Indonesia ini mereka yang katanya berjanji untuk melayani rakyat, yaitu para pegawai negeri atau pejabat pelayanan masyarakat, tetapi memeras rakyat dengan aneka macam pungutan dan 'beaya administrasi'. Sudah menjadi rahasia umum bahwa 'para pelayan masyarakat' yang bekerja dalam pengurusan tanah, izin-izin, proyek, sumbangan, dst.. senantiasa memeras dan merampas seenaknya dengan istilah beaya administrasi, uang lelah, uang pelancar, dst…

 

Kasus Bibit-Candra, Kepolisian dan KPK, mendorong pemerintah untuk memberantas aneka mafia hukum, yang memang sarat dengan pemerasan dan perampasan. Semoga apa yang diprogramkan dan diteriakkan tersebut tidak berhenti dalam wacana atau polemik, tetapi terwujud dan menjadi nyata dalam hidup dan kerja yang bersih dari aneka macam bentuk pemerasan dan perampasan. Dalam perhitungan sederhana: tidak mungkin pejabat yang bekerja untuk beberapa tahun, 5 s/d 10 tahun, memiliki kekayaan  milyardan atau bahkan trilyunan rupiah jika mereka tidak merampas dan memeras melalui aneka kegiatan proyek atau perizinan dll. Kepada para pengusaha kami harapkan jika tidak menentukan harga seenaknya saja. "Cukupkanlah dirimu dengan gajimu", demikian pesan yang layak direnungkan dan dihayati.  

 

Yang dapat memeras dan merampas adalah mereka yang berada di ranah/poros pelayanan publik dan bisnis: para pelayan publik dan bisnis berkolusi serta tidak melayani rakyat pasti akan memeras dan merampas rakyat. Jika sungguh hendak bebas dari pemerasan dan perampasan, silahkan berpihak dan bersama dengan rakyat atau komunitas. Jika hidup bersama tidak baik, maka dapat dipastikan para penentu kebijakan, yaitu para penguasa dan pengusaha/bisnis tidak memihak atau bersama dengan rakyat atau komunitas.  Kami berharap para penguasa dan bisnis memihak atau bersama dengan rakyat atau komunitas.     

 

"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi" (Yes 12:2-5)

 

Jakarta, 13 November 2009


12 Des - Sir 48:1-4.9-11; Mat 17:10-13

"Orang tidak mengenal dia dan memperlakukannya menurut kehendak mereka."

(Sir 48:1-4.9-11;  Mat 17:10-13)

 

"Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis" (Mat 17:10-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Menjadi bentara atau pembuka jalan memang tidak mudah, sarat dengan tantangan, hambatan atau masalah. Itulah yang dialami oleh Yohanes Pembaptis sebagai bentara Penyelamat Dunia, yang kurang dikenal dan diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Hari-hari ini kita juga sedang mempersiapkan pesta Natal, kenangan akan Kelahiran Penyelamat Dunia. Selama masa persiapan ini kiranya cukup banyak kegiatan, seperti latihan koor, pendalaman iman, aksi Natal, dan mungkin mempersiapkan perayaan Natal dan Tahun Baru di kantor atau tempat kerja. Saya mengajak anda sekalian untuk berfokus pada persiapan yang bersifat spiritual atau rohani: mempersiapkan hati, jiwa dan akal budi agar siap sedia didatangi Penyelamat Dunia. Di beberapa paroki atau wilayah selama masa adven sering diselenggarakan pendalaman iman mingguan yang ditandai dengan pembacaaan dan permenungan sabda-sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, tulisan yang ditulis dalam ilham Roh dan berguna untuk mendidik, membina, mengajar, membenarkan kita, orang beriman. Mereka yang  bertugas untuk menggerakkan dan memimpin ibadat atau pendalaman iman, mungkin akan mengalami sebagaimana dialami oleh Yohanes Pembaptis: telah bekerja keras tanpa kenal lelah, namun kurang diperhatikan atau bahkan diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Kepada mereka ini kami ajak untuk tetap tegar, sabar dan rendah hati dalam menjalankan tugasnya: membantu rekan-rekan seiman dalam rangka mempersiapkan diri untuk pesta Natal. Dalam rangka persiapan ini kami juga mengingatkan pentingnya memperhatikan persaudaraan atau persahabatan sejati, maka jika ada yang bermusuhan, saling membenci dst.. hendaknya diberi perhatian khusus untuk didamaikan.

·   "Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi. Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub" (Sir 48:9-10), demikian kata-kata yang dikenakan pada nabi Elia. Kata-kata "meredakan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya" inilah yang kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Berbagai kebijakan atau keputusan dari para pemimpin yang tidak adil dapat menimbulkan gejolak, sebagaimana terjadi dalam kasus Bibit-Candra, maka dengan ini kami mendambakan kepada para pengambil kebijakan atau pembuat keputusan untuk memperhatikan kepentingan umum dengan mengesampingkan kepentingan pribadi maupun golongan. Secara khusus kami mengingatkan kepada para bapa atau kepala keluarga dalam system patriarchal: apakah hati bapa terarah pada anak-anaknya, dan karena system patriarchal berarti apakah bapak dan ibu alias orangtua sungguh memberi hati pada anak-anaknya dan secara konkret berani memboroskan waktu dan tenaga maupun dana bagi anak-anaknya, khusus demi pendidikan anak-anak. Kami juga berharap bahwa anak-anak balita, usia lima tahun ke bawah, sungguh menerima kasih dari orangtuanya, waktu dan tenaga bapak-ibu. Hendaknya tidak dengan mudah menitipkan anak-anak balita kepada orang lain, entah itu nenek atau pembantu. Secara khusus kami berharap kepada para ibu dalam hal menyusui anak-anaknya, hendaknya anak-anak disusui sendiri alias menikmati ASI sungguh memadai, tidak hanya selama tiga bulan, namun lebih, syukur selama satu tahun. Ingatlah ASI lebih murah dan bermutu daripada jenis susu kaleng apapun, dan memang untuk itu sang ibu harus mempersiapkan diri sedemikian rupa agar dapat berproduksi ASI yang memadai, antara makan bergizi dan menjaga kesehatan atau kebugaran tubuh. Selama masa adven ini marilah kita arahkan perhatian kita pada anak-anak, masa depan kita, masa depan Gereja, Negara dan bangsa.

 

"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu " (Mzm 80:15-16.18-19)

 

Jakarta, 12 Desember 2009


Kamis, 10 Desember 2009

11 Des - Yes 48:17-19; Mat 11:16-19

"Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya."

(Yes 48:17-19; Mat 11:16-19)

 

"Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Mat 11:16-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang yang suka  berkomentar atau mengritik orang lain pada umumnya lebih suka bicara atau ngomong daripada berbuat atau bertindak, lebih mengutamakan wacana daripada perilaku, sebagaimana diumpamakan oleh Yesus bagaikan 'anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya'. Dengan kata lain orang yang demikian itu kurang atau tidak pernah menghayati imannya, melainkan hanya omong-omong atau diskusi saja, dan demikian ia tidak berhikmat. Sabda hari ini mengingatkan kita bahwa 'hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya', artinya beriman kepada Allah pertama-tama dan terutama dapat dilihat atau disaksikan dalam perilaku atau cara bertindaknya. Di dalam masa Adven ini kita diajak untuk mawas diri: sejauh mana kita menghayati iman kita dalam hidup sehari-hari atau hidup 'membumi', berpartisipasi dalam seluk-beluk, hal ikwal duniawi, dalam rangka mempersiapkan pesta Natal, kenangan akan Allah yang menjadi manusia, yang 'membumi, misteri inkarnasi'. Misteri inkarnasi merupakan acuan atau pedoman bagi siapapun yang beriman kepada Yesus dalam hidup dan bekerja untuk hidup mendunia atau membumi. Jika dicermati secara teliti dan tepat hemat saya mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hati kita fungsikan untuk mengurus atau mengelola hal-hal duniawi, maka baiklah kita mawas diri: apakah dengan demikian kita juga semakin kudus atau suci. Dengan kata lain sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita untuk mengusahakan kekudusan atau kesucian dengan terlibat pada pengurusan atau pengelolaan hal-hal duniawi. Semakin mendunia atau membumi diharapkan semakin beriman dan suci; mendunia tanpa iman akan amburadul akibatnya. Maka marilah entah belajar atau bekerja kita hayati bagaikan sedang  beribadat kepada Tuhan.

·   "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti" (Yes 48:17-18), demikian kata-kata penghiburan Yesus yang penuh pengharapan. Kita diharapkan melakukan apa yang berfaedah bagi kesejahteraan dan kebahagiaan kita, yaitu senantiasa memperhatikan dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Perintah-perintah Tuhan di dunia ini antara lain menjadi nyata dalam aneka tatanan dan aturan hidup bersama, entah yang di jalanan, rumah tangga, tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya. Dalam berbagai sarana-prasarana, misalnya kendaraan, juga terdapat aturan atau petunjuk bagaimana merawat dan memfungsikan kendaraan, agar pengguna selamat dan bahagia. Di jalanan dan di tempat kerja juga ada aturan dan petunjuk yang harus ditaati dan dilaksanakan. Dst.. Jika kita dapat mentaati dan melaksanakan aturan atau petunjuk yang jelas dan duniawi tersebut dengan baik, maka kita akan terbantu untuk mendengarkan dan mentaati perintah-perintah Tuhan. Marilah kita taati dan laksanakan aneka aturan, petunjuk atau tatanan yang terkait dengan keberadaan kita, entah di jalanan, tempat kerja, tempat rekreasi, di rumah dst… Kami berharap pada  mereka yang berpengaruh  dalam hidup dan kerja bersama dapat menjadi teladan dalam hal mentaati dan melaksanakan aneka aturan, tatanan atau petunjuk. Secara khusus kami berharap pada orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya di dalam keluarga, karena pengalaman yang diperoleh dalam dan melalui keluarga merupakan modal dan kekuatan untuk hidup bersama di masyarakat. Kita semua mendambakan kesejahteraan dan kebahagiaan sejati, maka marilah kita saling mengingatkan dan membantu dalam hal mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan serta petunjuk, sebagai 'terjemahan perintah-perintah Allah'.

 

"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin" (Mzm 1:1-4).

 

Jakarta, 11 Desember 2009