Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 13 Agustus 2010

15 Agustus - HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu."

HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56


"Allah tidak berkenan mewahyukan misteri keselamatan umat manusia secara resmi, sebelum mencurahkan Roh yang dijanjikan oleh Kristus. Maka kita saksikan para Rasul sebelum hari Pestekosta 'bertekun sehati sejiwa dalam doa bersama beberapa wanita, dan Maria Bunda Yesus serta saudara-saudaraNya'(Kis 1:14). Kita lihat Maria juga dengan doa-doanya memohon kurnia Roh, yang pada saat Warta Gembira dulu sudah menaunginya. Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, Ia telah ditinggikan Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut" (Vatikan II: LG no 59). Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka kita umat beriman kiranya juga mendambakan bahwa 'sesudah menyelesaikan perjalanan hidup di dunia'  alias meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, akan hidup mulia selama-lamanya bersama Tuhan di sorga serta orang-orang kudus yang telah mendahului perjalanan kita untuk menghadap Tuhan di sorga. Dambaan tersebut akan menjadi kenyataan jika kita sungguh meneladan Bunda Maria dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari, maka marilah kita renungkan dan hayati sabda-sabda yang terkait dengan Bunda Maria, sebagaimana diwartakan dalam Warta Gembira atau Injil hari ini.

 

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus" (Luk 1:46-49).

    

Jiwa adalah sumber hidup, yang menghidupkan dan menggairahkan cara hidup dan cara bertindak kita. "Jiwaku memuliakan Tuhan"  berarti cara hidup dan cara bertindakku senantiasa menempatkan Tuhan di atas segala-galanya atau Tuhan menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Hidup dan bertindak dijiwai oleh Tuhan berarti membahagiakan, mensejahterakan dan menyelamatkan sesama manusia maupun lingkungan hidupnya atau hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga menghasilkan keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23).

 

Hidup dijiwai oleh Tuhan berarti juga dengan rendah hati mengimani bahwa "Yang Mahakuasa telah melakuakn perbuatan-perbuatan besar kepadaku", dan dengan demikian mengakui dan menghayati bahwa apa-apa yang 'besar', baik, mulia, indah, mempesona dll merupakan karya Tuhan dalam diri kita yang lemah dan rapuh. Kita menghayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita nikmati, miliki, kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, misalnya harta benda/uang, ketampanan, kecantikan, kecerdasan, keterampilan, anak-anak, sahabat, teman dll.  Kita memfungsikan apa yang kita miliki atau kuasai pada saat ini untuk memuliakan, memuji, menghormati dan melayani Tuhan melalui saudara-saudari kita. Maka kita senantiasa saling memuliakan, memuji, menghormati dan melayani di dalam hidup sehari-hari.  Jika kita sungguh hidup dan bertindak yang demikian ini, percayalah atau imanilah bahwa ketika kita dipanggil Tuhan atau setelah meninggal dunia akan dimuliakan bersama Tuhan di surga untuk selama-lamanya. Kepada rekan-rekan perempuan yang memiliki pelindung St.Maria atau mengenakan nama 'Maria' dalam diri anda, kami harapkan dapat menjadi teladan dalam hidup beriman bagi saudara-saudarinya. Hendaknya saling berlomba dalam beriman, sehingga anda sebagai perempuan yang mengenakan nama 'Maria' dapat dikenakan sabda yang dikenakan pada Bunda Maria, yaitu "Diberkatilah engkau diantara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu": anak-anak yang pernah anda kandung dan dilahirkan terberkati serta menjadi berkat bagi sesamanya.

"Yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1Kor 15:20-22)

    

"Dalam persekutuan dengan Adam"  berarti berdosa, sedangkan "dalam persekutuan dengan Kristus"  berarti hidup baik, suci dan berbudi pekerti luhur selama di dunia ini. Bersekutu dengan Kristus berarti menjadi sahabat-sahabatNya, dan karena Ia adalah Allah, lebih dalam segalanya daripada kita, maka mau tidak mau kita pasti dikuasai atau dirajai alias harus melaksanakan perintah-perintahNya dan menghayati sabda-sabdaNya. Jika kita sungguh menjadi sahabat-sahabatNya selama hidup di dunia ini, maka ketika dipanggil Tuhan atau setelah meninggal dunia kita akan hidup mulia di sorga bersamaNya untuk selama-lamanya. Menjadi sahabatNya berarti juga meneladan Bunda Maria "yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Luk 8:21)

 

Menjadi 'pendengar dan pelaksana' yang baik merupakan salah satu keutamaan yang harus kita usahakan, perdalam dan perkuat. Indera pendengaran atau kegiatan mendengarkan merupakan indera yang pertama kali aktif dan paling banyak aktif daripada indera-indera lainnya, tentu saja asal tidak tuli. Apa yang kita dengarkan akan membentuk pribadi kita, mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita. Apa yang kita dengarkan dapat merubah pikiran kita, yang pada gilirannya merubah rencana atau kegiatan. Kita semua kiranya mendambakan bahwa jika terjadi perubahan hendaknya berubah lebih baik atau menjadi baik, maka baiklah kita berusaha untuk mendengarkan apa-apa yang baik dan sebaliknya memperdengarkan atau berkata-kata apa-apa yang baik. Ingat dan hayati bahwa sebagai sahabat Tuhan kita dipanggil untuk menjadi pewarta-pewarta kabar baik.

 

Pelaksanaan atau penghayatan aneka macam aturan dan tatanan hidup pada masa kini sungguh memprihatinkan. Aneka aturan atau tatanan dibuat dan diundangkan atau diberlakukan, namun 'hangat-hangat tahi ayam', artinya dilaksanakan dengan baik jika ada pengawasan ketat, dan ketika tiada pengawasan orang bertindak seenaknya untuk melanggar aneka aturan dan tatanan hidup. Dengan kata lain kedisiplinan dan kejujuran di antara kita sungguh memprihatinkan. Ada kebiasaan tidak disiplin yang dimaklumi umum, misalnya: undangan rapat atau pertemuan dikatakan mulai pk 08.00, tetapi sering baru dimulai pk 09.00, dan panitia pengundang diam saja, tidak minta maaf tanpa alasan. Kebiasaan mulai terlambat dan pulang lebih awal hemat saya merupakan sikap mental yang merusak hidup pribadi maupun hidup bersama. Kita semua dipanggil untuk menjadi pelaksana-pelaksana yang disiplin dan jujur. Keunggulan hidup beriman terletak dalam pelaksanaan bukan omongan atau wacana, dalam penghayatan bukan dalam diskusi atau perdebatan. "Seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati." (Yak 2:26),  demikian kata Yakobus. Marilah kita berlomba menjadi pelaksana-pelaksana aturan dan tatanan hidup yang baik di dalam hidup kita sehari-hari, dimanapun dan kapanpun.

 

"Di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu!"

(Mzm 45:10bc-12ab)

 

Jakarta, 15 Agustus 2010        

  


14 Agustus - Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15

"Orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

(Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mat 19:13-15)

 

"Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ" (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maksimilianus Maria Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Anak-anak memang lebih suci daripada orangtuanya. Cirikhas seorang anak antara lain: terbuka dan siap sedia diperlakukan apa saja, yang menandakan keterbukaan terhadap kehendak Tuhan, maka Yesus bersabda "Biarkanlah anak-anak itu, jangan menghalangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga". St.Maksimilianus Maria Kolbe, yang kita rayakan hari ini berani mempersembahkan hidup kepada alias mati demi Tuhan karena anak-anak. Konon ada seorang bapak tahanan yang akan dihukum mati dan bapak tersebut memiliki banyak anak, maka Maria Kolbe, yang juga menjadi tahanan bersamanya, dengan rendah hati bersedia mengganti terhukum mati tersebut dan memang diizinkan; ia bersedia mati demi anak-anak yang membutuhkan cintakasih orangtuanya. Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa memperhatikan anak-anak secara memadai. Para orangtua maupun guru/pendidik hendaknya lebih takut jika anak-anak tidak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman daripada takut terhadap yang lain. Di dalam hidup beriman atau beragama yang dihormati, dilayani dan dimuliakan adalah mereka yang suci, maka karena anak-anak lebih suci daripada orangtua atau orang dewasa, kami berharap kepada orangtua atau orang dewasa untuk menghormati, melayani dan memuliakan anak-anak. Anak-anak, termasuk kita semua, ada dan dilahirkan serta dibesarkan dalam dan oleh 'cintkasih dan kebebasan Injili', maka hendaknya mereka juga dibesarkan dan dididik dalam semangat 'cintakasih dan kebebasan'. Cintakasih itu bebas alias tak terbatas oleh apapun, sedangkan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Dalam dan oleh cintakasih kita dapat berbuat apapun asal tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau  citra Allah.

·   "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, dan ia tidak makan daging persembahan di atas gunung atau tidak melihat kepada berhala-berhala kaum Israel, tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri perempuan waktu bercemar kain, tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan, melakukan hukum yang benar di antara manusia dengan manusia, hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap mengikuti peraturan-Ku dengan berlaku setia -- ialah orang benar, dan ia pasti hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Yeh 18:5-9). Kutipan dari Kitab Yeheskiel ini hemat saya cukup jelas sebagai ajakan atau perintah moral yang harus kita lakukan atau hayati dalam hidup sehari-hari. Maka marilah kita saling membantu atau bekerjasama dalam menghayati ajakan tersebut, antara lain jika ada saudara kita yang melanggar perintah tersebut hendaknya segera ditegor, diingatkan dan dibetulkan dengan rendah hati dan dalam cintakasih. Para orangtua kami harapkan dapat menjadi teladan penghayatan perintah tersebut bagi anak-anaknya di dalam keluarga, sehingga anak-anak sedini mungkin terbiasa untuk menjadi orang-orang benar, yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Ada aneka macam ketetapan dan peraturan Allah, yang kemudian diterjemahkan  kedalam aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama, maka baiklah kita senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan aturan atau tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Sekali lagi secara khusus saya mengingatkan dan mengajak rekan-rekan suami-isteri untuk setia pada janji perkawinan, yaitu 'saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati'.

 

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (Mzm 51:12-15)

Jakarta, 14 Agustus 2010


Kamis, 12 Agustus 2010

13 Agustus - Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

(Yeh 16:1-15.60.63; Mat 19:3-12)


"Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." (Mat 19:3-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Harian Suara Karya 15 Agustus 2009 antara lain memberitakan bahwa di Indonesia setiap tahun ada sekitar 2 juta pasangan menikah dan 200.000 perceraian, berarti 10% pernikahan bercerai.  Angka 10% kiranya cukup besar dalam hal ini, apalagi dampak yang akan terjadi dari perceraian. Yang sering menimbulkan perceraian antara lain adanya perbedaan, misalnya beda selera, beda pikiran, beda suku, dst.. Laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain tetapi saling tertarik, saling ingin mendekat dan bersahabat serta mengasihi, tergerak untuk saling melengkapi. Itulah misteri ilahi, yang hendaknya kita imani. Maka hendaknya aneka perbedaan menjadi daya tarik, daya pikat untuk saling mendekat dan mengasihi, jangan menjadi sumber permusuhan atau perpisahan. Ingat bahwa di dunia ini tidak ada yang sama persis alias identik: manusia kembar pun tidak identik, pasangan anggota tubuh kita yang nampak samapun tidak sama persis, misalnya dua buah dada, dua daun telinga, dua lobang hidung, dua buah pelir, dll.  Alasan perceraian adalah kedegilan hati, hati yang membatu dan tak mungkin ditembus dengan peluru. Memang setia pada janji perkawinan selain karena jerih payah atau usaha keras pasangan yang bersangkutan, juga dan terutama merupakan anugerah Tuhan, sebagaimana apa yang berbeda merupakan karya Tuhan. Kesetiaan antara suami-isteri dalam saling mengasihi sampai mati merupakan dasar dan kekuatan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai sejahtera.


·   "Engkau mengandalkan kecantikanmu dan engkau seumpama bersundal dalam menganggarkan ketermasyhuranmu dan engkau menghamburkan persundalanmu kepada setiap orang yang lewat" (Yeh 16:15), demikian sindiran Tuhan kepada bangsa terpilih melalui nabi Yeheskiel. "Mengandalkan kecantikan untuk bersundal atau melacur' itulah sindirannya. Memang gadis cantik akan lebh mudah melacurkan diri dan pada umumnya akan cepat menjadi kaya raya akan uang dengan menjual dirinya alias melacur. Kecantikan merupakan anugerah Tuhan dan harus kita syukuri dan terima kasihi, jangan dikomersialkan entah dengan pelacuran atau iklan-iklan aneka macam produk. Kecantikan juga merupakan symbol apa yang baik indah, luhur dan mulia di dalam diri kita masing-masing, maka baiklah kecantikan hendaknya menjadi dorongan atau motivasi bagi kita semua, entah yang berssangkutan sendiri yang merasa cantik maupun orang lain, untuk semakin mendekatkan diri kita dengan Tuhan alias memuji dan memuliakan Tuhan. Dengan kata lain ketika melihat gadis atau perempuan cantik hendaknya dipuji seperlunya saja, tanpa dirayu atau disanjung-sanjung secara berlebihan. Kepada rekan-rekan gadis atau perempuan yang cantik dan pada umumnya menjadi perhatian banyak orang, kami harapkan menjadikan diri sebagai dorongan atau motivasi bagi mereka yang memperhatikan untuk semakin memuji, memuliakan, mengabdi dan menghormati Tuhan. Jauhkan atau hindari gaya atau cara hidup yang merangsang orang lain untuk berpikiran jahat atau berdosa; hendaknya kecantikan anda tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berdosa atau melakukan kejahatan. Jadikan kecantikan anda sebagai sarana atau wahana membangun, memperdalam dan memperkuat persaudaraan atau persahabatan sejati.

 

" Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi"

(Yes 12:2-5) Jakarta, 13 Agustus 2010