Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 01 Oktober 2010

2 Okt - Kel 23:20-23a; Mat 18:1-5.10

"Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga."

(Kel 23:20-23a; Mat 18:1-5.10)

 

"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Mat 18:1-5.10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Para Malaikat Pelindung hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Gambar malaikat sering berupa anak kecil yang bersayap, dengan mata bersinar cerah dan mulut tersenyum, yang menggambarkan kesucian dan kegembiraan serta kegairahan. Bukankah anak-anak kecil masih suci dan belum berdosa sedikitpun? Gambar malaikat tersebut sering berada di atas kepala santo-santa, dengan maksud sebagaimana diwartakan dalam Kabar Gembira hari ini, yaitu "malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku di sorga". Sebagai orang beriman masing-masing dari kita didampingi oleh malaikat pelindung, yang mengajak dan mendorong kita untuk senantiasa 'memandang wajah Allah yang di sorga', artinya mendorong, menjaga dan mengawasi kita agar kita senantiasa setia berbuat baik kepada sesama kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu. Untuk mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa kita didampingi oleh malaikat pelindung, mungkin ada baiknya kita sering menatap anak-anak kita yang masih kecil, yang ceria, dinamis, menggembirakan, menarik dan  mempesona. Dengan kata lain sebagai orang yang didampingi oleh malaikat pelindung kita diharapkan seperti anak kecil, yang ceria, dinamis, menggembirakan, menarik dan mempesona. Jika masing-masing dari kita mengimani dan menghayati pendampingan malaikat pelindung ini, maka kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menggembirakan, menarik dan mempesona, karena kita dengan rendah hati senantiasa berusaha untuk saling berbuat baik satu sama lain. Percaya kepada malaikat pelindung antara lain juga berarti ketika saya sendirian, entah siang atau malam, tidak pernah takut dan gentar, serta tidak pernah berbuat jahat atau melakukan tindakan amoral atau hidup seenaknya, bermalas-malasan.

·   "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan" (Kel 23:20), demikian firman Allah kepada bangsa terpilih, yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Sebagai manusia kita  berasal dari Allah dan diharapkan kembali kepada Allah setelah meninggal dunia nanti. Dengan kata lain hidup ini adalah perjalanan, dan di dalam perjalanan sering terjadi aneka perubahan, tantangan dan hambatan serta masalah, yang dapat mengganggu perjalanan kita. Allah mengutus malaikatNya berjalan di depan kita, mendahului perjalanan kita, dan kita diharapkan setia mengikutinya. Malaikat Allah tersebut antara lain secara konkret dapat berupa aneka macam petunjuk atau tata tertib yang ada di dalam perjalanan, maka jika kita mendambakan selamat sampai di tujuan marilah kita taati dan ikuti sepenuh hati aneka petunjuk dan tata tertib tersebut. Malaikat Allah  juga menjadi nyata dalam diri saudara-saudari kita yang baik atau berkehendak baik, yang dapat kita temui atau jumpai dimanapun dan kapanpun. Maka ketika kita bingung atau frustrasi atau putus asa di dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan, hendaknya tidak malu untuk bertanya atau minta  bantuan kepada saudara-saudari kita yang berkehendak baik tersebut. "Malu bertanya sesat di jalan", demikian kata sebuah pepatah. Kita kiranya dapat belajar dari para pilot yang setia mengikuti petunjuk perjalanan, sebagaimana diperintahkan dari menara pengawas di bandara-bandara maupun yang ditunjukkan di dalam radar atau computer perihal cuaca dll… Pilot sungguh mentaati dan melaksanakan petunjuk-petunjuk perjalanan yang ada sehingga pesawat beserta penumpangnya selamat sampai tujuan. Ruang perjalanan di angkasa sangat luas, namun pilot tidak dapat seenaknya memilih jalan yang harus dilewati.

 

"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok." (Mzm 91:1-4)

Jakarta, 2 Oktober 2010


Rabu, 29 September 2010

1 Okt - Sir 66:10-14c; Mat 18:1-5

"Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga"

(Sir 66:10-14c; Mat 18:1-5)

 

"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." (Mat 18:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Teresia dari Kanak-kanak Yesus, perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St.Teresia yang kita kenangkan hari ini terkenal karena ketaatan dan kerendahan hatinya. Ia begitu mempersembahkan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi atau kehendak Tuhan, siap sedia dengan jiwa besar dan rela berkorban untuk melaksanakan kehendak Tuhan dalam situasi atau kondisi apapun, sebagaimana seorang anak kecil yang siap sedia diperlakukan apapun oleh orangtuanya, khususnya oleh ibunya. Ia juga sebagai pujangga Gereja karena mensharingkan pengalaman iman, ketaatan dan kerendahan hatinya kepada sesamanya dimanapun dan kapanpun. Ia sungguh meneladan kerendahan hati Yesus sebagaimana dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada umat di Filipi "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-8). Maka marilah sebagai umat beriman di dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun kita hidup dan bertindak dijiwai oleh ketaatan dan kerendahan hati. Dengan taat dan rendah hati kita hayati atau laksanakan aneka tatanan dan aturan atau tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Hari ini kita juga memasuki bulan Oktober, yang oleh Gereja Katolik dijadikan bulan rosario, dimana kita diajak untuk berdevosi kepada Bunda Maria, teladan umat beriman, dengan berdoa rosario serta meneladan ketaatan dan kerendahan hatinya.


·   "Yesus di kayu salib yang haus, saya akan memberikan air padaMu. Saya akan menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat" (Ensiklopedi Orang Kudus, CLC – Jakarta 1985, hal 292), demikian salah satu doa St.Teresia. Apa yang ia doakan ini juga dihayati dalam hidup sehari-hari, antara lain Teresia hidup sederhana, ketika kena marah atau diejek ia tetap tersenyum dan ceria, tidak membalas kemarahan atau ejekan tersebut, bahkan kiranya ia berdoa sebagaimana Yesus di puncak kayu salib, puncak penderitaanNya, mendoakan mereka yang menyalibkanNya "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."(Luk 23:34). Kiranya masing-masing dari kita juga sering dimarahi atau diejek orang lain, disakiti atau dilecehkan, maka baiklah jika kita mengalami hal itu dihayati sebagai anugerah atau rahmat Allah, kesempatan untuk menyatukan diri pada Yang Tersalib, sebagaimana kita sering membuat tanda salib sambil menepuk dahi/otak, dada/hati, dan bahu, yang berarti kita berkehendak atau berhasrat untuk bersatu dan bersama dengan Yang Tersalib dalam hidup dan cara bertindak kita. Kami berharap kepada siapapun yang dalam hidup bersama cukup berpengaruh, entah sebagai atasan atau pemimpin, untuk menjadi teladan dalam hal ketaatan maupun kerendahan hati, "merendahkan diri dan menjadi seperti anak kacil", hidup dan bertindak untuk melayani bukan dilayani dengan tetap senyum dan ceria ketika harus menghadapi tekanan, masalah maupun beban berat atau dilecehkan dan direndahkan. Ketaatan dan kerendahan hati merupakan keutamaan utama dan pertama, yang menjadi nyata dalam hidup dan bertindak saling melayani, membahagiakan dan menyelamatkan. Marilah kita dukung para gembala kita, Paus dan para Uskup, yang senantiasa berusaha untuk rendah hati dan melayani dengan sepenuh hati.

 

"TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!" (Mzm 131)

 

Jakarta, 1 Oktober 2010


Selasa, 28 September 2010

29 Sept - Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51

"Malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

(Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51)

 

"Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia." (Yoh 1:47-51),demikian kutipan Warta Genbira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Mikael, St.Grabriel, St.Rafael, para malaikat agung hari ini, saya sampaikan catatnn-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Malaikat adalah ciptaan Allah yang ditugasi untuk mendampingi perjalanan hidup manusia, ciptaan termulia dan terluhur di bumi ini, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Pada hari ini kita kenangkan para 'komandan malaikat': Mikael adalah komandan perang melawan setan, Gabriel adalah komandan mewartakan kabar gembira, sedangkan Rafael adalah komandan penyembuhan yang sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi maupun sakit tubuh. Marilah masing-masing dari kita mawas diri: apa yang menjadi kebutuhan mendesak bagi kita demi keselamatan dan kebahagiaan kita. Kita imani dengan rendah hati bahwa para malaikat akan membantu kita dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Bantuan malaikat antara lain secara spiritual dapat kita hayati dalam hati kita masing-masing, sedangkan secara phisik terjadi melalui saudara-saudari kita yang berbaik hati. Ingat dan hayati bahwa 'malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia, Yesus, Penyelamat Dunia serta kita semua orang beriman'. Dengan kata lain jika kita sungguh beriman berarti isi kepala atau otak kita adalah apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, sehingga kita senanitiasa berpikiran positif terhadap sesama dan  lingkungan hidup kita. Apa yang akan kita kerjakan atau lakukan tergantung dari apa yang sedang kita pikirkan, maka marilah, sebagai tanda bahwa malaikat Allah menyertai kita, kita senantiasa memikirkan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan dan kebahagiaan jiwa.

 

·   "Timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu  dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga" (Why 12:7-8). Naga atau ular sering menjadi symbol kejahatan atau setan, karena kelicikannya, namun kelicikan setan dapat dikalahkan oleh malaikat. Dalam hidup dan kerja kita di dunia ini kiranya kita juga sering menghadapi orang-orang yang licik untuk mencari keuntungan atau kebahagiaan diri sendiri atau kelompoknya/keluarganya. Ketika anda menghadapi orang yang licik, hendaknya ditanggapi dan disikapi dengan halus, lemah lembut, rendah hati serta tulus hati. Percayalah orang licik disikapi atau dihadapi dengan keutamaan-keutamaan macam itu secara perlahan-lahan mereka akan mundur teratur alias kalah. Kelicikan orang dalam rangka mencari keuntungan diri sendiri memang sering bersifat halus, antara lain dengan kata-kata manis, sikap sopan dan hormat, namun jika kita cermat dan sabar serta tidak materialistis kiranya kita dapat mengenali kelicikan mereka, sebaliknya jika kita bersikap materialistis pasti dengan mudah terperangkap oleh kelicakan orang lain. Pengamatan dan pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang bersikap mental materialistis dengan mudah menjadi korban kelicikan orang lain. Hidup bersama atau percaya kepada malaikat, utusan Allah, yang setia mendampingi kita berarti memang harus hidup suci dan tulus hati serta sederhana alias tidak materialistis. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk dengan rendah hati dan jujur mengusahakan hidup suci, tulus hati dan sederhana. Jauhkan aneka macam nafsu serakah akan harta benda atau hal-hal atau kenikmatan duniawi, agar anda tidak mudah terjebak pada tipu daya setan berupa kelicikan, rayuan manis untuk melakukan kejahatan. Marilah kita perangi aneka macam kelicikan dan rayuan manis penipuan yang marak di sana-sini. Bersama dengan dan beriman kepada malaikat yang mendampingi hidup dan perjalanan panggilan serta tugas pengutusan kita, hendaknya tidak takut dan gentar dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan.

 

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku" (Mzm 138:1-3).

Jakarta, 29 September 2010   .