Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Kamis, 07 Oktober 2010

9 Okt - Gal 3:22-29; Luk 11:27-2

"Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya"

(Gal 3:22-29; Luk 11:27-28)

 

"Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."(Luk 11:27-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika ada seorang tokoh masyarakat atau agama tampil begitu mengesankan dan mempesona dalam rangka menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, maka secara umum orang akan berkomentar sebagaimana orang banyak yang terkesan dan terpesona terhadap Yesus "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engaku dan susu yang telah menyusui Engkau". Menanggapi pujian tersebut Yesus tidak langsung mengamini dengan jelas, melainkan bersabda "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Alah dan memeliharanya". Sabda Yesus ini kiranya juga layak untuk dikenakan pada Bunda Maria, teladan hidup umat beriman. Bunda Maria sungguh dikenal sebagai yang setia mendengarkan firman Allah dan memeliharanya atau melaksanakannya, maka marilah sebagai orang beriman kita meneladan Bunda Maria. Pertama-tama marilah kita perdalam dan perteguh keutamaan 'mendengarkan' dalam diri kita masing-masing. Firman Allah selain tertulis di dalam Kitab Suci juga telah diusahakan pengaktualisasian atau penafsiran isi Kitab Suci ke dalam aneka tata tertib hidup dan kerja bersama, maka baiklah kita 'dengarkan' dengan baik alias kita fahami aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing dan kemudian kita laksanakan atau hayati dalam sepak terjang dan pelayanan kita setiap hari. Sekali lagi kami tegaskan bahwa keunggulan hidup beriman adalah terletak dalam pelaksanaan atau perilaku, maka baiklah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah kita transformasikan aneka macam nilai dan keutamaan yang ada di dalam tata tertib ke dalam perilaku kita. Kami berharap kepada mereka yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama dapat menjadi teladan dalam transformasi nilai atau keutamaan ke dalam perilaku atau cara hidup dan cara bertindak sehari-hari.

·   "Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah" (Gal 3:27-28), demikian kesaksian iman atau peringatan Paulus kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus atau yang telah menerima rahmat baptisan/dibaptis. Pembaptisan bagaikan "SIM" para pengendara atau sopir;  memiliki SIM berarti diberi kebebasan untuk menfungsikan kendaraan kemana dikehendaki, atau bagaikan "KTP" dimana para pemilik KTP diakui resmi sebagai anggota masyarakat. Pembaptisan adalah 'Surat Izin Menghayati' janji baptis yang telah diikrarkan, yaitu 'hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan'. Maka marilah kita semua yang telah dibaptis bekerja sama, saling membantu dan mendukung dalam penghayatan janji baptis tersebut. Hemat saya ketika kita setia menghayati janji baptis, maka janji-janji yang lain atau mengikutinya akan bermakna. Pembaptisan juga merupakan dasar utama dalam hidup bersama, sehingga dalam hidup bersama 'tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena semua adalah milik Kristus dan keturunan Abraham'. Ketika ada saudara-saudari kita dalam menghayati hidup dan panggilan tidak baik alias cara hidup dan cara bertindaknya tidak sesuai dengan panggilannya, entah sebagai suami atau isteri, pastor, bruder atau suster, hendaknya yang bersangkutan diingatkan perihal rahmat pembaptisan, artinya diajak dengan rendah hati untuk menjadi orang yang telah dibaptis dengan baik, sama-sama telah dibaptis. Hendaknya jangan diingatkan perihal panggilan mereka, misalnya 'hendaknya menjadi suami, isteri, pastor, bruder, suster yang baik', tetapi 'marilah kita ramai-ramai dan saling membantu dalam menghayati janji baptis', ramai-ramai dan saling membantu dalam mengabdi Tuhan melalui sesama maupun menolak godaan setan yang menggejala dalam aneka rayuan kenikmatan duniawi.

 

"Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib! Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!" (Mzm 105:2-6)

 

Jakarta, 9 Oktober 2010.            


8 okt - Gal 3:7-14; Luk 11:15-26

"Setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh"

(Gal 3:7-14; Luk 11:15-26)


"Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan." Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan yang lengkap bersenjata menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat dari padanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata, yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan." "Apabila roh jahat keluar dari manusia, ia pun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur.Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula."(Luk 11:15-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tidak sedikit rumah tangga atau keluarga yang terpecah-pecah, entah karena soal pembagian warisan atau sebab lain, yang menunjukkan kegagalan orangtua atau suami-isteri dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya. Pengalaman perpecahan di dalam keluarga pada umumnya juga terbawa ke dalam kehidupan bersama yang lebih luas, seperti masyarakat, tempat kerja atau tempat kegiatan sosial maupun keagamaan. Perpecahan itu muncul karena masing-masing pihak saling melihat dan membesarkan kesalahan dan kekurangan masing-masing. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak saling menuduh atau menyalahkan satu sama lain dalam kehidupan bersama jika kita mendambakan hidup bahagia, damai sejahtera secara lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Marilah kita saling melihat, mengangkat dan mengakui segala kebaikan, keunggulan, kelebihan masing-masing alias senantiasa berpikiran positif terhadap saudara-saudari kita. Kami percaya dalam diri kita masing-masing apa yang baik, luhur, mulia, indah lebih banyak daripada apa yang buruk, remeh, amburadul, maka marilah kita sinerjikan apa yang positif dalam diri kita masing-masing guna membangun kebersamaan hidup yang baik dan sejahtera. Ingatlah dan hayati bahwa segala sesuatu yang baik, indah, luhur dan mulia adalah karya Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya.

·   "Jadi kamu lihat, bahwa mereka yang hidup dari iman, mereka itulah anak-anak Abraham. Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati."(Gal 3:7-8) , demikian peringatan Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua umat beriman. Sebagai umat beriman, entah agama atau keyakinannya apapun, adalah 'anak-anak Abraham', dan sebagai sesama anak-anak Abraham kita dipanggil untuk hidup bersama dalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Marilah kita hayati apa yang sama di antara kita secara mendalam, sehingga apa yang berbeda di antara kita akan fungsional untuk memperdalam dan memperkokoh persaudaraan atau persahabatan. Yang sama diantara kita antara lain sama-sama manusia ciptaan Allah, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, yang mendambakan hidup damai, sejahtera dan selamat baik selama di dunia ini maupun di akherat nanti. Marilah kita tunjukkan bahwa masing-masing dari kita adalah gambar atau citra Allah, artinya melalui cara hidup dan cara bertindak kita orang lain dapat melihat Allah yang berkarya dan tergerak untuk semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, semakin menghayati diri sebagai 'anak-anak Abraham'. Biarlah semua bangsa atau semua manusia di bumi ini terberkati, dan dengan demikian semuanya hidup bahagia, gembira, ceria dan damai sejahtera. Kami berharap para pemimpin atau mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan dalam usaha dan penghayatan membangun persaudaraan atau persahabatan sejati.

 

"Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah. Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya. Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang" (Mzm 111:1-4)

 

Jakarta, 8 Oktober 2010


Rabu, 06 Oktober 2010

7 Okt - Gal 3:1-5; Luk 11:5-13

"Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya."

(Gal 3:1-5; Luk 11:5-13)

 "Lalu kata-Nya kepada mereka: "Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya." (Luk 11:5-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta SP Maria, Ratu Rosario, hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Entah sudah berapa kali kita semua berdoa rosario dalam berbagai kesempatan, kiranya tidak ada seorangpun di antara kita yang sempat menghitungnya. Berdoa rosario berarti mengulang-ulang doa-doa pokok: Bapa Kami, Salam Maria dan Kemuliaan. Refleksi bagi kita semua: sejauh mana isi doa tersebut menjiwai atau menghidupi cara hidup dan cara bertindak kita masing-masing? Bukankah inti dari doa-doa tersebut kurang lebih kita 'mohon Roh Kudus dari Allah untuk menghidupi atau menjiwai kita', sehingga kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau bisikan Roh Kudus. Hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau bisikan Roh Kudus berarti menghayati isi doa-doa tersebut di atas, antara lain: senantiasa memulikan Nama Allah dalam hidup sehari-hari, hidup bersaudara dan bersahabat dengan siapapun tanpa pandang bulu, hidup sederhana, senantiasa mengampuni mereka yang menyalahi atau menyakiti kita, hidup taat dan setia pada panggilan dan pengutusan sebagaimana dihayati oleh Bunda Maria, dst.. Kita senantiasa bergembira, ceria dan bergairah menghadapi tantangan, hambatan dan masalah apapun dan dimanapun karena Roh Kudus menyertai dan menghidupi diri kita. Maka hendaknya dalam berdoa kita senantiasa dengan rendah hati mohon terang, kekuatan dan rahmat Roh Kudus.

·   "Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu?" (Gal 3:1), demikian peringatan Paulus kepada umat di Galatia , kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kita diingatkan untuk senantiasa menatap dan merenungkan Yesus yang tergantung di kayu salib, yang ada di depan kita. Dengan kata lain kita diingatkan untuk senantiasa mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, melalui sesama, tugas, panggilan dan pekerjaan  kita sehari-hari, meneladan Yesus yang mempersembahkan Diri seutuhnya, dengan menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan seluruh umat manusia dan dunia. Kita diharapkan dengan bekerja keras dalam melaksanakan tugas pengutusan/pekerjaan maupun menghayati panggilan kita masing-masing. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti, Balai Pustaka Jakarta 1997, hal 10). Maka marilah kita senantiasa memiliki dan menghayati apa yang dikatakan oleh Bapak Mihell Suharli dalam bukunya "HABIT", yaitu "Kebiasaan pertama PEMENANG  adalah terbiasa melakukan hal-hal positif (POSITIVISME). Kebiasaan Positivisme meliputi kebiasaan berpikir positif, bermental positif, berhati positif, beremosi positif, bertindak positif, berkata-kata positif dan berkeyakinan positif" (hal 4). Menghayati kebiasaan ini dalam hidup dan bertindak setiap hari berarti hidup dan dijiwai oleh Roh Kudus.

 

"Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita"

(Luk 1:69-75)

 

Jakarta, 7 Oktober 2010