Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 16 Oktober 2010

Minggu Biasa XXIX - Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8

"Mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu".

Mg Biasa XXIX: Kel 17:8-13; 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8


Izin untuk mendirikan tempat ibadat (gereja/kapel, masjid/surau dst.) konon bagi kelompok minoritas di daerah yang bersangkutan dipersulit oleh kelompok mayoritas. Di beberapa daerah beribadat bersama di rumah/tempat  tinggal juga dilarang, dengan alasan tidak sesuai dengan IMB. Kasus yang menimpa umat HKBP di Bekasi beberapa waktu yang lalu kiranya terkait dengan masalah IMB, dimana mereka beribadat di tempat tinggal/rumah. Aneh dan nyata jika mencermati yang terjadi di Jabotabek ini: izin mendirikan tempat ibadat dipersult, demikian juga beribadat bersama di rumah/tempat tinggal dilarang, tetapi ada ruko-ruko yang difungsikan untuk panti pijat terselubung alias pelacuran dibiarkan saja. Apakah hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita tidak atau kurang memahami apa itu 'ibadat', 'berdoa' atau sikap mental materialistis begitu menjiwai. Sila pertama dari Pancasila berbunyi "Ketuhanan Yang Maha Esa", dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak bangsa Indonesia diharapkan didasari oleh keimanannya kepada Tuhan, dan dengan demikian senantiasa sering berkomunikasi secara khusus dengan Tuhan, seperti beribadat, seluruh cara hidup dan cara bertindak bagaikan sedang beribadat atau berdoa kepada Tuhan.

 

"Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu" (Luk 18:1)  

 

Dalam kesempatan mengantarkan beberapa bruder dan suster, para provinsial, untuk berkunjung di pertapaan Trapistine Gedono-Salatiga, Jawa Tengah beberapa tahun lalu ada dialog yang cukup menarik dan mengesan bagi saya pribadi. Salah satu dari suster provinsial bertanya kepada pemimpin Biara Trapistine tersebut :"Kapan atau jam berapa saja acara berdoa bagi para suster/rahib di sini?". "Oh, kami berdoa sepanjang hari, karena bagi kami bekerja juga merupakan doa, persembahan diri kepada Tuhan", demikian jawaban sang pemimpin biara. "Ora et labora" = berdoa dan bekerja, demikian kata sebuah motto. Maksud dari motto ini adalah bahwa berdoa dan bekerja tak dapat dipisahkan dan hanya dapat dibedakan, maka sabda Yesus bahwa 'harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu'  kiranya dapat berarti menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dengan doa-doa kita atau doa hendaknya jangan terpisahkan dari hidup dan cara bertindak sehari-hari.

 

Dalam Warta Gembira hari ini berdoa dengan tak jemu-jemu digambarkan dengan seorang janda yang dengan rendah hati mohon keadilan kepada sang hakim. Yesus mengakhiri perumpamaanya dengan bersabda "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" (Luk 18:7-8). Dengan ini kami mengingatkan kita semua sebagai orang beriman dan beragama untuk menyadari dan menghayati diri sebagai 'orang-orang pilihan Allah', sehingga sungguh menjadi milik Allah. Sebagai milik Allah selayaknya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah dalam situasi atau kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Hendaknya kita juga merefleksikan sabdaNya "adakah Ia mendapati iman di bumi?".

 

Pertanyaan 'adakah Ia mendapati iman di bumi'  kiranya merupakan peringatan atau ajakan bagi kita semua umat beriman untuk dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain semakin berpartisipasi dalam hal-ikhwal atau seluk-beluk duniawi hendaknya semakin suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Kita dipanggil untuk mengusahakan kesucian hidup dengan membumi atau mendunia. Maka baiklah jika kita menghadapi aneka macam tata tertib atau kebijakan yang merangsang orang untuk berbuat dosa, hendaknya sesegera mungkin diluruskan atau dibetulkan, sehingga aneka macam tata tertib atau kebijakan menjadi sarana atau pendukung dalam mengusahakan kesucian hidup.

 

"Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (2Tim 3:14-16)  

 

Sejak kita dilahirkan di bumi ini dari rahim ibu kita masing-masing, kiranya tak jemu-jemunya orangtua kita, khususnya ibu kita masing-masing mendidik, mengasuh, membina dan mengasihi kita dengan berbagai macam cara dan bentuk, berupa 'kebenaran-kebenaran' atau apa yang benar dan baik.  Bukankah kata-kata atau tindakan orangtua kita merupakan kepanjangan sabda dan kehendak Allah, dengan kata lain diilhamkan oleh Allah dan dengan demikian 'memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran'?. Maka marilah kita tetap berpegang teguh pada aneka macam teladan hidup, nasihat, saran, petuah dst.. dari orangtua kita masing-masing, dan dimana perlu untuk masa kini diperbaharui, diperdalam atau disesuaikan sesuai dengan tuntutan atau perkembangan zaman.

 

Marilah kita kenangkan kasih ibu sebagaimana sering disenandungkan 'kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia'. Mengenangkan kasih ibu tersebut berarti dalam hidup dan cara bertindak kita masa kini atau saat ini sungguh saling mengasihi satu sama lain baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Hendaknya tak jemu-jemu mengasihi saudara-saudari kita dalam kondisi atau situasi apapun. Hidup kita adalah kasih karunia dan segala sesuatu yang menyertai diri kita, atau kita miliki dan kuasai sampai kini juga kasih karunia, maka selayaknya kita senantiasa menghadirkan dan menampilkan diri sebagai kasih karunia bagi sesama dimanapun dan kapanpun.       

 

"Terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek." (Kel 17:11). Kutipan ini menggambarkan bahwa bersama dan bersatu dengan Tuhan kita dapat mengalahkan kejahatan atau setan. Hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain adalah bentuk kebersamaan dan kesatuan dengan Tuhan, maka marilah sebagai orang-orang beriman atau ber-Tuhan kita perdalam dan perteguh persaudaraan atau persahabatan sejati tanpa pandang bulu atau SARA.  Persaudaraan atau persahabatan sejati masa kini begitu mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebar-luaskan mengingat dan memperhatikan masih maraknya permusuhan dan tawuran sebagaimana disiarkan atau diberitakan oleh berbagai media masa, entah cetak atau elektronik. Marilah kita bersama-sama mengangkat tangan ke atas artinya berdoa bersama sesuai dengan keyakinan atau cara kita masing-masing setiap hari.

 

"Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya."

 (Mzm 121)    ihiduHidu

Jakarta, 17 Oktober 2010


Jumat, 15 Oktober 2010

16 Okt - Ef 1:15-23; Luk 12:8-12

"Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan."

(Ef 1:15-23; Luk 12:8-12)

 

"Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, ia akan disangkal di depan malaikat-malaikat Allah. Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. Apabila orang menghadapkan kamu kepada majelis-majelis atau kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, janganlah kamu kuatir bagaimana dan apa yang harus kamu katakan untuk membela dirimu. Sebab pada saat itu juga Roh Kudus akan mengajar kamu apa yang harus kamu katakan." (Luk 12:8-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sabda hari ini meneruskan kemarin, dimana kita diajak dan dipanggil untuk jujur, transparan tanpa munafik dalam menghayati atau melaksanakan aneka ajaran agama kita masing-masing, yang kiranya semuanya bersumber dari dan bermuara pada 'cintakasih'. Dengan kata lain kita dipanggil untuk senantiasa hidup dan bertindak dalam kasih, saling mengasihi satu sama lain tanpa pandang bulu atau SARA.  Hidup dan bertindak saling mengasihi berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga menghasilkan buah-buah Roh, yaitu "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Dengan menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh ini kita tidak perlu kuatir menghadapi aneka tantangan, masalah atau hambatan, termasuk berhadapan dengan pemerintah atau penguasa. Dengan dan dalam keutamaan-keutamaan tersebut kita tak akan kehabisan akal maupun kata-kata dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Hendaknya kita menghayati aneka ajaran agama atau iman kita dalam dan dengan keutamaan-keutamaan tersebut. Sabda hari ini juga mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mengimani bahwa malaikat Allah senantiasa mendampingi dan menyertai perjalanan hidup kita sehari-hari, sebagai tanda atau bukti kesetiaan Allah terhadap diri kita manusia, yang lemah dan rapuh ini. Marilah kita dengarkan dan perhatikan bisikan, arahan atau petunjuk dari malaikat Allah tersebut dalam diri kita masing-masing melalui suara hati kita.

·   "Segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu" (Ef 1:22-23). Sebagai umat yang beriman kepada Yesus Kristus kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, dan masing-masing dari kita berbeda satu sama lain sesuai dengan fungsi, panggilan atau tugas pengutusan kita masing-masing. Sebagai sesama anggota yang berbeda satu sama lain kita dipanggil untuk bekerjasama, sebagai tanda kepenuhanNya, yang memenuhi semua dan segala sesuatu. Ingat belum lama ini, yaitu bulan Juni yang lalu, perhatian kita terarah kepada pertandingan sepak-bola, Piala Dunia. Cukup menarik jika diperhatikan dengan cermat, mengapa Negara-negara dari Amerika Latin yang dalam kenyataan memiliki pemain-pemain hebat dan terampil dikalahkan oleh Negara-negara Eropa. Salah satu kekuatan yang hidup dalam klub sepak bola Eropa, antara lain Portugal, Belanda dan Jerman yang masuk empat besar dan akhirnya Portugal menjadi pemenang atau juara adalah kerjasama.  Kerjasama dari sebelas pemain  begitu indah dan enak untuk ditonton, dimana antara lain kurang nampak pemain yang begitu lama mengolah bola, melainkan begitu menerima bola segera diteruskan kepada rekannya. Dengan kata lain dibalik kerjasama ada kemurahan hati atau sosial bukan egois. Marilah kita jauhkan aneka macam bentuk egois dan kita tingkatkan dan perdalam kerjasama antar kita dimanapun dan kapanpun; kita kembangkan dan perdalam sikap mental sosial kita. Kepada mereka yang masih hidup serakah dan egois kami harapkan bertobat jika mendambakan hidup damai sejahtera dan selamat atau menjadi pemenang. Marilah kita belajar kerjasama dari anggota-anggota tubuh kita masing-masing yang bekerjasama begitu indah dan kompak, sebagai contoh tugas 'makan': mata hanya melihat makanan, hidung hanya mencium, tangan hanya mengambil, mulut hanya mengunyah dst…dan itu semua berlangsung begitu cepat dan akurat.

 

"Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam. Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mzm 8:2-5)

Jakarta, 16 Oktober 2010   


Kamis, 14 Oktober 2010

15 Okt - Ef 1:11-14; Luk 12:1-7

"Karena itu jangan takut karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit."

(Ef 1:11-14; Luk 12:1-7)

 

"Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah. Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepada kamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Luk 12:1-7), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Teresa dari Yesus, perawan dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Takut kiranya menjangkiti semua orang, memang betapa takut seseorang tergantung dari kepribadiannya maupun masalah atau perkara yang menimbulkan ketakutan. Setia pada iman, tumbuh berkembang sebagai orang beriman pasti akan menghadapi aneka macam tantangan, hambatan maupun masalah. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak takut menghadapi aneka macam tantangan, hambatan maupun masalah, yang mungkin juga mengancam hidup kita. Bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari alias hidup baik atau berbudi pekerti luhur tiada sedikitpun ketakutan menghadapi tantangan, hambatan atau masalah, karena semuanya itu merupakan wahana untuk mempertebal, memperdalam atau memperteguh iman kita. Seandainya tantangan, hambatan atau masalah berasal dari mereka yang jahat dan tak bermoral, percayalah bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengatasinya.  Memang ketika kita tidak jelas 'putih' atau 'hitam' alias 'abu-abu', bersama Tuhan atau bersama dengan setan, maka  kita sering  takut. Sebaliknya jika kita jelas bersama Tuhan atau bersama setan tidak akan ada ketakutan, karena bersama Tuhan kita dapat mengalahkan setan dan jika kita bersama setan berarti bertemu teman. Maka kami mengajak anda sekalian untuk tidak takut menghadapi aneka macam perubahan, termasuk diri kita sendiri harus berubah. Marilah meneladan St.Teresa, perawan dan pujangga Gereja, dengan menjadi saksi-saksi iman dalam hidup sehari-hari.

·   "Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya --supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya" (Ef 1:11-12). Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita diharapkan senantiasa di dalam Kristus, artinya hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindakNya atau melaksanakan sabda-sabdaNya kapanpun dan dimanapun. Kita adalah 'sahabat-sahabat Yesus Kristus', sehingga cara hidup dan cara bertindak kita mencerminkan cara hidup dan cara  bertindakNya. Sebagaimana Yesus Kristus telah mengalahkan setan dan menghapus dosa dunia dengan penderitaan dan wafatNya di kayu salib, maka beriman kepadaNya berarti dipanggil untuk mempersembahkan diri seutuhnya demi keselamatan seluruh dunia atau lingkungan hidup kita. Untuk itu memang kita tak akan terlepas dari penderitaan, namun ingat dan hayati bahwa penderitaan yang lahir karena setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka jika harus menderita hendaknya tetap tegar, ceria dan gembira. Dengan dan dalam ketegaran, keceriaan dan kegembiraan aneka macam bentuk penderitaan ringan adanya. Gembira, ceria dan tegar dalam penderitaan menjadi puji-pujian bagi kemuliaanNya. Baiklah kami mengingatkan dan mengajak secara khusus kepada para orangtua untuk tidak memanjakan anak-anaknya, melainkan dibiasakan siap sedia menderita karena kesetiaan pada iman, panggilan atau tugas pengutusan.

 

"Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN" (Mzm 33:1-2.4-5).

 

Jakarta, 15 Oktober 2010