Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 05 November 2010

7 Nov - Mg Biasa XXXII : 2Mak 7:1-2.9-14; 2Tes 2:16-3:5; Luk 20:27-38.

" Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup."

Mg Biasa XXXII : 2Mak 7:1-2.9-14; 2Tes 2:16-3:5;  Luk 20:27-38.


Orang kaya raya dan bersikap materialistis atau duniawi pada umumnya senantiasa merasa was-was dan tidak tenang dalam hidup; demikian juga menjelang dipanggil Tuhan sungguh curiga dan was-was mengingat harta benda yang harus ditinggalkan. "Jika saya dipanggil Tuhan alias meninggal dunia, siapa yang akan mengurus harta benda yang saya tinggalkan, dan bagaimana nasib anak-anak, pasangan hidup, sahabat atau saudara-saudari saya", demikian mungkin yang bergema di dalam hatinya. Mereka khawatir dan bertanya-tanya seperti orang-orang Saduki, yang tidak percaya akan kebangkitan orang mati, mempertanyakan bagaimana nasib setelah mati nanti pada akhir  zaman ketika semua orang mati dibangkitkan. Sungguh kontradiktif: tidak percaya tetapi mempertanyakan apa yang tidak dipercaya. Sebagai orang beriman kiranya kita percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi serta kebangkitan orang mati, maka marilah kita renungkan jawaban Yesus terhadap pertanyaan orang-orang Saduki  tersebut.

 

"Mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (Luk 20:36-38)

Orang yang sungguh beriman ketika dipanggil Tuhan akan hidup selama-lamanya di sorga bersama Allah Pencipta dan senantiasa bergembira dan damai sejahtera. Maka marilah sebagai orang-orang beriman, keturunan bapa Abraham, bapa dan teladan umat beriman, dalam hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara sungguh dijiwai oleh iman, dengan kata lain senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur.

 

"Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup", inilah yang kiranya baik kita renungkan sebagai umat beriman. Beriman antara lain juga berarti "hidup di hadapan Allah", dan karena Allah maha segalanya mau tak mau berhadapan denganNya kita pasti akan dikuasai atau dirajai, sehingga kita tidak dapat hidup dan bertindak seenaknya sendiri, mengikuti selera atau keinginan pribadi. Kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, dan perintah atau kehendak Allah antara lain tercermin dalam siapapun yang berkehendak baik serta dalam aneka tata tertib. Maka marilah dengan rendah hati kita dengarkan kehendak baik saudara-saudari kita serta kita tanggapi secara positif; kita baca, fahami dan laksanakan atau hayati aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan serta tugas pengutusan kita masing-masing.

 

Sebagai sesama umat beriman, karena masing-masing dari kita berkehendak baik dan dalam kenyataan wujudnya dapat berbeda satu sama lain, kita diajak untuk dengan rendah hati saling mendengarkan dan menanggapi kehendak baik untuk disinerjikan sehingga kita temukan kehendak baik yang lebih kuat, handal dan dapat diterima banyak orang. Kepada siapapun yang berkehendak baik hendaknya tidak takut dan tidak malu mengutarakan atau menyampaikan kehendak baiknya kepada orang lain untuk diteguhkan, dijernihkan dan dikuatkan. Orang yang berkehendak baik berarti beriman kepada Allah yang hidup, dan dengan demikian pada umumnya senantiasa dalam keadaan ceria, bergairah, bersemangat, enerjik, menarik dan mempesona, sebagai tanda Allah hidup dan berkarya dalam dirinya yang lemah dan rapuh. Maka marilah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus kepada umat di Tesalonika di bawah ini.

 

"Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik" (2 Tes 2:16-17) .

 

Allah sungguh mengasihi kita, menganugerahi penghiburan abadi dan pengharapan baik, menghibur dan menguatkan hati kita dalam pekerjaan dan perkataan baik. Dengan kata lain kita semua dipanggil untuk senantiasa mengerjakan dan mengatakan apa yang baik tanpa takut dan tanpa gentar meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Apa yang baik senantiasa berlaku umum atau universal, maka ketika kita mengerjakan atau mengatakan apa yang baik pasti akan memperoleh dukungan dari banyak orang yang berkehendak baik. Percayalah, imanilah bahwa mereka yang berkehendak baik lebih banyak daripada mereka yang berkehendak jahat.

 

Apa yang baik senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan. Segala tata tertib atau hukum hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan demi kebahagiaan atau keselamatan umat manusia. Ada tata tertib atau hukum yang tertulis dengan jelas tetapi juga ada yang tidak tertulis sebagai tradisi lisan turun temurun dari nenek moyang. Maka baiklah kita senantiasa setia pada aneka macam tata tertib atau hukum yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, meneladan tujuh orang  bersaudara, sebagaimana diwartakan dalam kitab Makabe ini: "Apakah yang hendak baginda tanyakan kepada kami dan apakah yang hendak baginda ketahui? Kami lebih bersedia mati dari pada melanggar hukum nenek moyang." (2Mak 7:2), demikian kata salah seorang dari tujuh bersaudara yang akan dipaksa untuk 'melanggar hukum nenek moyang'. 

Kami percaya bahwa nenek moyang kita mewariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan baik yang harus kita lestarikan dengan menghayati atau melaksanakannya. Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut menjadi penghiburan, penguatan dan pengharapan bagi kita semua. Sebagai contoh di lingkungan orang Jawa ada nasihat sebagai berikut: "Yen arep nesu, ngombeyo banyu dhisik, nanging ojo diulu" = 'kalau mau marah, silahkan minum air lebih dahulu, tetapi jangan ditelan'. Maksud nasihat ini tidak lain adalah jangan pernah marah kepada saudara-saudari kita. (tidak percaya: coba praktekkan ketika mau marah minum air terlebih dahulu, tetapi tidak boleh ditelan, bukankah hal itu berarti tutup mulut). Tingkatan marah yang lebih lembut adalah mengeluh atau menggerutu, hemat saya kita semua mudah mengeluh atau menggerutu. Jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pribadi pada umumnya lalu mengeluh atau menggerutu, misalnya makanan atau minuman tertentu. Jika kita tidak mudah mengeluh atau menggerutu, maka hemat saya dengan mudah kita mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib atau hukum yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka marilah kita senantiasa berusaha tidak mengeluh dan menggerutu.

 

"Dengarkanlah, TUHAN, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. ..langkahku tetap mengikuti jejak-Mu, kakiku tidak goyang. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku." (Mzm 17:1.5-6)

     

Jakarta, 7 November 2010  

 


Kamis, 04 November 2010

6 Nov - Flp 4:10-19; Luk 16:9-15

"Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara besar"

(Flp 4:10-19; Luk 16:9-15)

 

"Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah." (Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   "Sing kathon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora kathon" = "Yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan", demikian salah satu kalimat atau nasihat dari bapak saya almarhum ketika saya masih kecil dan belum bersekolah, kepada kami anak-anaknya. Kata-kata tersebut sangat mengesan bagi saya pribadi sampai kini. Salah satu yang kelihatan dan disukai banyak orang pada masa kini antara lain 'uang', yang memang dapat menjadi 'jalan ke neraka' atau 'jalan ke sorga', jalan ke neraka jika orang tidak jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang dan jalan ke sorga jika orang jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang dalam jumlah nominal berapapun. Selain itu kami berharap juga untuk menghayati atau memfungsikan harta benda atau uang sebagai sarana bukan tujuan, sarana untuk semakin beriman dan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Secara khusus kami berseru kepada para pengurus atau pengelola karya-karya pastoral Gerejani seperti karya sosial, pendidikan dan kesehatan, yang juga tak terlepas dari urusan atau pengelolaan harta benda atau uang. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam harta benda atau uang dalam karya-karya sebagai anugerah Tuhan yang kita terima dari mereka yang memperhatikan karya kita atau kita layani, maka hendaknya harta benda atau uang tersebut 'dikembalikan' arti difungsikan bagi mereka agar semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Uang dari rakyat/umat hendaknya kembalikan ke rakyat/umat melalui aneka pelayanan bagi rakyat/umat


·   "Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp 4:12-13), demikian kesaksian iman Paulus. "Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku" inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Tentu saja hal ini pertama-tama dan terutama kita hayati dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing: hendaknya tidak ada rahasia di antara anggota keluarga atau komunitas. Mungkin pertama dan terutama hendaknya tidak ada rahasia dalam hal keuangan atau harta benda. Kami percaya jika dalam hal harta benda atau uang tidak ada rahasia alias jujur dan transparan, maka akan memperoleh kemudahan untuk saling tukat pengalaman dalam hal iman atau pengalaman hidup sehari-hari alias 'bercurhat' satu sama lain. Dalam hal ini saya pribadi sungguh terkesan dengan apa yang dihayati oleh Bapak Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr alm dalam pengelolaan atau pengurusan uang selama  Yang Mulia bertugas sebagai pastor paroki Banyumanik – Semarang Selatan, setelah berhenti sebagai uskup. Segala pengeluaran dan pemasukan uang berapa pun jumlahnya dicatat dalam buku jurnal setiap hari, kurang lebih selama sembilan tahun lamanya (hal itu terlihat dalam buku jurnal yang saya temukan ketika saya harus mengurus peninggalan alm yang berada di kamarnya). Ia yang besar ternyata setia juga terhadap yang kecil-kecil, itulah pelajaran yang saya peroleh. Tiada rahasia dalam hal keuangan yang diterima dari umat Allah.. Semoga antar suami-isteri di dalam keluarga tidak ada rahasia dalam hal uang atau harta benda dan bersama-sama mendidik dan mendampingi anak-anak untuk jujur dalam pemanfaatan, pengurusan atau pengelolaan aneka jenis harta benda atau uang.

 

"Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati." (Mzm  112:1-2)

 

Jakarta, 6 November 2010         


Rabu, 03 November 2010

5 Nov - Flp 3:17-4:1; Luk 16:1-8

"Anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak terang"

(Flp 3:17-4:1; Luk 16:1-8)

 

"Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang" (Luk 16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang pandai menjadi bodoh karena uang, sebaliknya orang bodoh menjadi pandai karena uang, begitulah yang sering terjadi. Juga terjadi orang pandai menjadi kaya raya akan harta benda atau uang dengan membodohi orang lain. Warta Gembira hari ini mengingatkan kita semua perihal kecerdikan orang yang bersikap mental materialistis atau duniawi, yang sering menipu atau mengelabui orang. Mereka yang lemah dalam hal kepribadian, keimanan atau spiritual pada umumnya dengan mudah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh orang-orang cerdik. Maka marilah kita membina diri maupun sesama kita agar memiliki kepribadian dan keimanan yang tangguh, kuat dan handal sehingga tahan terhadap aneka godaan, rayuan dan penipuan. Hendaknya juga jangan bersikap mental materialistis atau duniawi, karena dengan demikian juga dengan mudah ditipu atau dicerdiki orang lain. Marilah kita menjadi 'anak-anak terang', orang-orang yang jujur: jujur terhadap diri sendiri, sesama maupun lingkungan hidup kita. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997). Jika kita sungguh hidup dan bertindak jujur kiranya tidak akan mudah ditipu atau dikelabui orang lain. Tentu saja kejujuran ini perlu disertai dengan kesederhanaan dalam hidup dan bertindak.


·   "Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi." (Flp 3;17-19), demikian peringatan Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua umat beriman. Kita diingatkan agar tidak menjadi perut sebagai Tuhan kita maupun perkara duniawi menjadi pikiran kita. Orang yang menjadi perut sebagai Tuhan berarti makan dan minum dengan serakah tanpa aturan dan akibatnya adalah penderitaan atau sakit, demikian juga orang yang hanya memikirkan perkara duniawi akan mudah menjadi stress, tertekan serta marah-marah. Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang hanya memikirkan perkara duniawi ketika kehilangan atau tidak memiliki harta benda atau uang pada umumnya frustrasi, putus asa dan ada kecenderungan untuk bunuh diri atau menghabisi diri sendiri. Marilah meneladan Paulus yang bekerja keras serta hidup sederhana dan senantiasa mewartakan 'salib Kristus' dalam cara hidup dan cara bertindaknya maupun dalam apa yang dikatakannya, bahkan menghayati dirinya bagaikan tanah liat yang mudah dibentuk, dihancurkan dan remuk. Pada masa ini cukup banyak orang berduit makan dan minum seenaknya tanpa memperhatikan kesehatan phisik atau tubuh, apalagi kesehatan rohani atau spiritual, sehingga muncul penyakit seperti kelebihan kolesterol atau trikeserit  dalam darahnya yang membawanya ke kebinasaan. Aneka macam jenis paket atau kemasan makanan maupun minuman yang bersifat instant pada umumnya kurang sehat.

 

"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud." (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 5 November 2010