Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 26 November 2010

Minggu Adven I - Yes 2:1-5; Rm 13:11-14a; Mat 24:37-44

"Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga."

Mg Adven I : Yes 2:1-5; Rm 13:11-14a; Mat 24:37-44


Menghadapi apa saja yang baru pada umumnya orang bergairah dan penuh pengharapan. Pasangan suami-isteri yang baru saja saling berjanji untuk hidup bersama kiranya memiliki segudang harapan, antara lain semakin saling mengasihi serta kelahiran anak sebagai anugerah Tuhan; pelajar atau mahasiswa baru berhadap sukses dalam belajar, pegawai baru berharap sukses di dalam kerja, pejabat baru berharap sukses dalam melayani, dst… Hari ini kita memasuki Tahun Baru Liturgi, masa Adven, dimana kurang lebih empat minggu kita diajak mempersiapkan diri dalam rangka menyambut kedatangan atau kelahiran Penyelamat Dunia, Allah yang memenuhi janjiNya untuk memperbaharui dunia seisinya. Memasuki Tahun Baru Liturgi ini kita diharapkan bergairah dan penuh pengharapan, sebagaimana dipesankan dalam Warta Gembira hari ini, maka baiklah kita renungkan pesan tersebut.

 

"Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga." (Mat 24:44)

Kedatangan Anak Manusia kiranya dapat diartikan 'Hari Kelahiran Penyelamat Dunia' alias pesta Natal atau saat kita dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Hari pesta Natal kiranya dapat kita duga karena telah ditentukan jauh sebelumnya, namun kapan kita dipanggil Tuhan alias meninggal dunia kiranya sebagai umat beriman kita tidak tahu, maka baiklah 'kedatangan Anak Manusia' kita fahami ketika kita dipanggil Tuhan. Maka marilah kita senantiasa dalam keadaan siap sedia untuk dipanggil Tuhan serta berharap hidup mulia selama-lamanya di sorga.

 

Orang yang 'siap sedia' pada umumnya dalam keadaan sehat wal'afiat, segar bugar baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual, menarik, mempesona dan memikat. Orang yang 'siap sedia' juga dalam keadaan bersih alias suci serta dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk mempersembahkan diri terhadap panggilan Tuhan dalam pelayanan kepada sesamanya.  Maka marilah memasuki masa Adven ini kita mawas diri sejauh mana kita dalam keadaan siap siaga atau siap sedia untuk menanggapi panggilan Tuhan, entah itu berarti meninggal dunia atau melakukan sesuatu sesuai dengan kehendakNya. Sebagai bantuan untuk mawas diri saya angkat beberapa hal sebagai berikut:


·  Panggilan sebagai ciptaan Tuhan: kita diciptakan oleh Tuhan sebagai gambar atau citraNya, artinya melalui cara hidup dan cara bertindak kita orang dapat melihat Tuhan yang hidup dan berkarya. Sebagai gambar atau citra Tuhan kita senantiasa melakukan apa yang baik dan menyelamatkan, lebih-lebih dan terutama bagi kebaikan atau keselamatan jiwa, dengan demikian semakin tambah usia atau berpengalaman dalam hidup berarti kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.


·  Panggilan sebagai orang yang telah dibaptis atau beriman kepada Yesus Kristus: ketika dibaptis kita berjanji untuk hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan, dengan kata lain kita  berjanji untuk hidup baik dan berbudi pekerti luhur, meneladan cara hidup dan cara  bertindak Yesus serta melaksanakan sabda-sabdaNya. Cara hidup dan cara bertindak kita seperti yang dihayati oleh jemaat purba, yaitu bahwa "kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah" (Kis 4:32-33).

Dari dua jati diri kita masing-masing tersebut baiklah kita sungguh mawas diri dan jika kita belum atau tidak setia pada panggilan kita baiklah kita mempersiapkan diri untuk mohon kasih pengampunan Tuhan dengan menerima Sakramen Tobat sebelum mengenangkan kedatangan Tuhan, Penyelamat Dunia, di hari Natal yang akan datang.

 

"Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati" (Rm 13: 12-13)   

Sapaan atau peringatan Paulus kepada di Roma di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita dalam memasuki Adven atau Tahun Baru Liturgi. Kita diingatkan untuk 'meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang: hidup sopan, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan dan iri hati". Maka baiklah secara sederhana saya kembangkan peringatan Paulus tersebut sebagai bantuan untuk mawas diri bagi kita semua:


·  Meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan. Berbagai bentuk perbuatan kegelapan yang harus kita tinggalkan dengan jelas dikatakan oleh Paulus, yaitu: pesta pora, kemabukan, percabulan, perselisihan dan iri hati. Berbagai bencana alam telah menimbulkan penderitaan bagi banyak orang di negeri kita ini, maka ajakan untuk tidak berpesta pora serta bermabuk-mabukan kiranya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebar-luaskan dalam kehidupan bersama kita masa kini. Kami berharap para pejabat, petinggi atau orang-orang kaya dapat menjadi teladan dalam meninggalkan pesta pora dan mabuk-mabukan di masa adven ini. Perbuatan cabul rasanya sungguh marak terjadi di sana-sini, entah itu dilakukan secara pribadi atau dengan orang lain, karena dorongan nafsu seksual yang tak terkendalikan. Hendaknya para orangtua serta pendidik atau guru dapat menjadi teladan dalam meninggalkan perbuatan cabul bagi anak-anak atau para peserta didik. Perbuatan iri hati yang berkembang menjadi perselisihan kiranya juga masih marak di sana-sini, entah itu terjadi secara pribadi atau kelompok/golongan/organisasi. Iri hati memang dapat mengarah ke kematian, maka baiklah kita tinggalkan aneka bentuk iri hati dalam diri kita masing-masing.    

 

·  Mengenakan perlengkapan senjata perang. Perlengkapan senjata perang yang diingatkan oleh Paulus adalah hidup sopan. Sopan antara lain berarti menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berdosa atau melakukan kejahatan, dengan kata lain sopan berarti menghargai dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia alias tidak melecehkan atau merendahkan yang lain. Cara berpakaian sopan merupakan salah satu bentuk penghayatan yang kiranya baik kita hayati, maka kami berharap hendaknya jangan berpakaian sedemikian rupa sehingga merangsang oleh lain untuk berpikiran jahat serta kemudian melakukan kejahatan.  Berkata-kata sopan juga merupakan cara hidup yang baik kita lakukan. Cara berpakaian maupun berkata-kata hemat saya mencerminkan pribadi orang yang bersangkutan alias cermin dari hati, apa yang menjadi perhatian dalam hidupnya. Sopan santun hendaknya sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari orangtua serta kemudian dikembangkan dan diperdalam di sekolah-sekolah.

 

"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud. Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa. Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!" (Mzm 122:1-2.4-7)

  

Jakarta, 28 November 2010


Kamis, 25 November 2010

27 Nov - Why 22:1-7; Luk 21:34-36

"Berjagalah senantiasa sambil berdoa"

(Why 22:1-7; Luk 21:34-36)

 

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." (Luk 21:34-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir tahun Liturgy, dan besok kita mulai memasuki Tahun Baru Liturgy, masa adven, masa yang ditandai dengan keutamaan harapan untuk menyambut kedatangan Penyelamat Dunia. Dalam pergantian tahun Liturgy ini kita diingatkan agar "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia". "Tahan berdiri di hadapan Anak Manusia" kiranya dapat difahami sebagai saat kita dipanggil Tuhan atau akan meninggal dunia, yang dapat terjadi sewaktu-waktu, kapan saja dan dimana saja. Apakah pada menit-menit atau detik-detik terakhir hidup kita, menjelang meninggal dunia, kita begitu gelisah atau dengan tenang pasrah diri kepada Yang Ilahi. Kiranya kita semua mendambakan ketika dipanggil Tuhan tidak melawan atau gelisah, melainkan kita sambut dengan gairah, senyum dan rendah hati karena akan menerima anugerah hidup mulia selamanya di sorga bersama Allah Pencipta. Agar dapat terjadi demikian kita diharapkan senantiasa dalam keadaan berjaga-jaga sambil berdoa. Maka baiklah kita senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur seraya berdoa, sesuai dengan dambaan dan kerinduan kita masing-masing. Hidup baik/berbudi pekerti luhur dan berdoa hemat saya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan; ada timbal balik saling meneguhkan dan memperdalam. Pendoa pada umumnya hidup baik dan berbudi pekerti luhur, sebaliknya orang baik dan berbudi pekerti luhur tak pernah melupakan hidup doa. Berdoa antara lain berarti berkomunikasi dengan Tuhan dan karena Tuhan maha segalanya, maka mau tak mau kita akan dikuasai atau dirajai olehNya, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya kapanpun dan dimanapun.


·   "Malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya" (Why 22:5). Kutipan ini adalah gambaran hidup mulia selama-lamanya di sorga setelah kita dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Apa yang akan terjadi tersebut kiranya dapat kita siapkan selama hidup di dunia, atau bahkan dapat mencicipinya selama hidup di dunia ini. Untuk itu kita diharapkan senantiasa berjaga-jaga sambil berdoa. Apakah setelah selama satu tahun kita mengarungi hidup dan panggilan,  kita juga semakin dalam keadaan 'berjaga-jaga sambil berdoa'? Dengan kata lain apakah kita semakin rendah hati? Rendah hati merupakan keutamaan dasar yang harus kita mohon dari Tuhan serta usahakan dalam hidup sehari-hari. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang  perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Orang yang rendah hati berarti juga siap sedia setiap saat untuk melakukan kehendak Tuhan alias ajakan untuk berbuat baik dan berbudi pekerti luhur. Orang yang rendah hati juga dirajai atau dikuasai oleh Tuhan dan dengan demikian juga berpartisipasi dalam 'pemerintahanNya sebagai raja sampai selama-lamanya'.  Raja yang rendah hati, yaitu yang siap sedia untuk disalibkan, artinya mempersembahkan seluruh hidup atau pribadinya kepada Tuhan melalui saudara-saudarinya. Semoga di akhir tahun Liturgy ini kita sungguh semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan , sehingga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan kita tidak gelisah atau melawan, melainkan gembira dan ceria penuh pasrah diri. Kita ucapkan 'Selamat tinggal cara hidup lama yang hanya mengikuti keinginan atau kemauan sendiri, selamat menempuh hidup baru sesuai dengan kehendak Yang Ilahi'

 

"Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun kepunyaan-Nya. Kepunyaan-Nya laut, Dialah yang menjadikannya, dan darat, tangan-Nyalah yang membentuknya." (Mzm 95:1-5)

 

Jakarta, 27 November 2010


Rabu, 24 November 2010

25 Nov - Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9a; Luk 21:20-28

"Bangkitlah dan angkatlah mukamu sebab penyelamatanmu sudah dekat."

(Why 18:1-2.21-23; 19:1-3.9a; Luk 21:20-28)


"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau yang menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesesakan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.""Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat."(Luk 21:20-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cuaca ekstrim yang tidak menentu akibat pemanasan global dll. telah menimbulkan bencana alam di sana-sini, seperti banjir bandang, angin puting beliung, gempa bumi dst yang memporak-porandakan atau memusnahkan aneka macam jenis bangunan serta menimbulkan korban manusia. Berbagai macam musibah dan bencana alam tersebut membuat banyak orang 'mengangkat muka' alias 'melihat ke atas', artinya diingatkan kembali akan peran Yang Ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Sabda hari ini hemat saya juga mengajak kita semua untuk mengenangkan, mengimani kembali peran Yang Ilahi atau Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Marilah kita mawas diri di hari-hari terakhir tahun Liturgy ini: sejauh mana kita semakin menghayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dengan kata lain kita semakin cerdas secara spiritual atau hidup dan bertindak sesuai dorongan atau bisikan Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Baiklah saya ingatkan juga bagi kita semua: marilah kita sikapi aneka macam bencana  alam atau musibah sebagai peringatan Tuhan akan keserakahan, kesombongan atau ketidak-imanan kita, suatu ajakan bagi kita semua untuk bertobat dan memperbaharui diri.


·   "Demikianlah Babel, kota besar itu, akan dilemparkan dengan keras ke bawah, dan ia tidak akan ditemukan lagi. Dan suara pemain-pemain kecapi dan penyanyi-penyanyi, dan peniup-peniup seruling dan sangkakala, tidak akan kedengaran lagi di dalammu, dan seorang yang ahli dalam sesuatu kesenian tidak akan ditemukan lagi di dalammu, dan suara kilangan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Dan cahaya lampu tidak akan bersinar lagi di dalammu, dan suara mempelai laki-laki dan pengantin perempuan tidak akan kedengaran lagi di dalammu. Karena pedagang-pedagangmu adalah pembesar-pembesar di bumi, oleh ilmu sihirmu semua bangsa disesatkan." (Why 18:21-23). Kutipan ini kiranya mengingatkan kita semua bahwa segala macam bentuk kebesaran duniawi seperti gedung pencakar langit, rumah mewah, mobil mewah, aneka monumen, dst  akan hancur berantakan dalam waktu sesaat. Dengan kata lain kita diingatkan untuk tidak bersikap materialistis dalam hidup kita. Hendaknya keselamatan jiwa manusia mencari pedoman atau barometer keberhasilan cara hidup dan cara bertindak kita atau segala usaha dan jerih payah kita. Secara khusus saya mengingatkan para pengelola maupun pelaksana karya-karya pastoral Gerejani seperti karya sosial, karya kesehatan dan karya pendidikan: jauhilah sikap mental materialistis dalam pelayanan dan usaha anda. Karya sosial membantu manusia semakin manusiawi, sehingga memperoleh kemudahan untuk semakin spiritual alias hidup beriman sungguh-sungguh, karya kesehatan mengutuhkan kembali anggota-anggota tubuh yang terluka, karya pendidikan membantu manusia agar tumbuh berkembang dalam hal kecerdasan spiritual. Dalam ketiga jenis karya pastoral ini  hendaknya tidak dilupakan semangat pendiri, yang mengawali karya sebagai luapan syukur dan terima kasihnya kepada Yang Ilahi. Saya juga mengingatkan secara lebih khusus kepada para pengelola maupun pelaksana karya pendidikan/sekolah agar lebih mengutamakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur daripada cerdas intelektual.

 

"Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun" (Mzm 100:2-5)

Jakarta, 25 November 2010