Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 24 Desember 2010

Keluarga Kudus - Sir 3:2-6.12-14; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15.19-23

"Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya dan pergi ke tanah Israel"

Pesta Keluarga Kudus : Sir 3:2-6.12-14; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15.19-23

 

"Keluarga, yang didasarkan pada cintakasih serta dihidupkan olehnya merupakan persekutuan pribadi-pribadi suami dan isteri, orangtua dan anak-anak, sanak saudara. Tugasnya yang pertama yakni dengan setia menghayati kenyataan persekutuan disertai usaha terus-menerus untuk mengembangkan rukun hidup yang otentik antara pribadi-pribadi. Asas terdalam tugas itu, kekuatannya yang tetap, serta tujuan akhirnya ialah cintakasih.  Tanpa cintakasih keluarga bukanlah rukun hidup antar pribadi, dan begitu pula, tanpa cintakasih keluarga tidak dapat hidup, berkembang atau menyempurnakan diri sebagai persekutuan pribadi-pribadi"  (Paus Yohanes Paulus II: Anjuran Apostolik "Peranan Keluarga Kristen dalam Dunia Modern /Ensiklik 'Familiaris Consortio', 22 November 1981, no 18). Hidup berkeluarga pada masa kini memang sarat dengan aneka tantangan, hambatan atau masalah, sehingga tidak sedikit yang mengalami kegagalan dan berakhir dengan perceraian. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan bahwa Keluarga Kudus, Yosef, Maria dan Kanak-kanak Yesus menghadapi ancaman dari penguasa yang gila akan kekuasaan atau jabatan, yaitu Herodes. Atas bisikan Roh Kudus Keluarga Kudus terbebas dari ancaman itu dan untuk itu harus mengungsi ke Mesir. Maka baiklah pada Pesta Keluarga Kudus hari ini kami mengajak anda sekalian, secara khusus yang menjalani hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, untuk mawas diri bercermin pada warta gembira hari ini.

 

"Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia." Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati" (Mat 2:13-15)    

 

Yusuf, sebagai kepala keluarga atau rumah tangga, bertanggungjawab menyelamatkan Keluarga Kudus itulah yang baik kita renungkan atau refleksikan, dan secara khusus kami mengajak dan mengingatkan para suami atau bapak, yang pada umumnya berfungsi sebagai kepala keluarga dalam system patriarchal. Pengakuan suami atau bapak sebagai kepala keluarga ini antara lain terjadi dalam system penggajian atau imbal jasa dalam kepegawaian, dimana ia memperoleh tunjangan isteri dan anak-anak. Dengan kata lain kiranya bapak atau suami pertama-tama bertanggungjawab dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari bagi seluruh anggota keluarga. Memang dalam kenyataan cukup banyak juga para isteri atau ibu yang bekerja, entah sebagai pegawai atau dengan usaha wiraswasta, dan bahkan imbal jasa atau pendapatannya sering lebih besar dari pendapatan suami/bapak. Maka kami berharap suami dan isteri bekerjasama dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh anggota keluarga. Bekerjasama ini mutlak, mengingat dan memperhatikan bahwa anak adalah 'buah kerjasama', maka hanya akan tumbuh berkembang dengan baik jika anak dididik dan didampingi bersama-sama juga.

 

Selain tanggungjawab secara phisik, material atau ekonomis, pada masa kini tanggungjawab secara moral atau spiritual kiranya cukup berat. Baiklah kami mengajak dan mengingatkan para suami-isteri atau bapak ibu untuk sungguh memberi perhatian pada anak-anak selama masa usia balita. Peran indera penglihatan dan pendengaran anak sangat peka selama masa balita: apa yang dilihat dan didengarkan melalui lingkungan hidupnya sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kepribadian, akhlak atau kehidupan moralnya. Maka baiklah senantiasa diusahakan agar apa yang disuarakan atau dilakukan oleh orangtua atau bapak-ibu sungguh membantu pertumbuhan dan perkembangan moral anak. Kami berharap pada para bapak-ibu untuk tidak pelit memberi waktu dan tenaga bagi anak-anak sebagai tanda cinta, karena salah satu bentuk cinta yang tak dapat diganti dengan cara apapun adalah 'pemborosan waktu dan tenaga bagi yang tercinta'.

 

Perkenankan dengan rendah hati kami mengingatkan secara khusus kepada para ibu untuk memberi ASI atau menyusui anak/bayinya secara memadai, karena dengan menyusui selain memberi gizi yang baik kepada anak-anak juga merupakan bentuk kasih yang luar biasa kepada anak-anak, memberi bekal pada anak-anak untuk mengembangkan belahan otak kanan, yang erat kaitannya dengan kehidupan moral (Ingat pada umumnya ibu menyusui dengan buah dada kiri, yang berarti otak belahan kanan anak menempel di buah dada. Bukankan buah dada juga menjadi symbol cinta?). ASI akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kecerdasan maupun psikologis anak.

 

"Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan." (Kol 3:18-20)

    

Baik suami maupun isteri kiranya,  pada awal perjumpaan untuk saling mengasihi, saling menyadari dan menghayati diri sebagai anugerah Tuhan; dengan kata lain Tuhanlah yang mempertemukannya sehingga menjadi suami-isteri. Maka ajakan atau peringatan Paulus di atas baik bagi suami maupun isteri hemat saya sama saja: mengasihi dalam Tuhan sama dengan tidak berlaku kasar atau tidak berlaku kasar merupakan perwujudan mengasihi dalam Tuhan. hendaknya relasi antar suami dan isteri  tidak pernah kasar entah dalam wacana maupun tindakan, omongan maupun perilaku. Apa yang dikatakan atau dilakukan selama masa pacaran atau tunangan, yang pada umumnya mesra penuh kelembutan dan mempesona, terus diperdalam dan ditingkatkan selama menjadi suami-isteri sampai mati. Ingat dan kenangkan janji untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati.

 

Paulus juga mengingatkan anak-anak agar mentaati orangtua dalam segala hal. Peringatan ini mengandaikan apa yang dikatakan, diperintahkan atau dinasehatkan oleh orangtua pada anak-anak adalah segala sesuatu yang menyelamatkan dan membahagiakan terutama bagi jiwa anak-anak, segala sesuatu yang menyelamatkan jiwa. Maka orangtua hendaknya dapat menjadi teladan dalam penghayatan budi pekerti luhur dalam hidup sehari-hari alias senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan. Kepada orangtua yang demikian selayaknya anak-anak mentaatinya. Anak-anak akan mentaati orangtua jika mereka merasa dikasihi oleh orangtuanya. Lepas apakah orangtua sungguh berbudi pekerti luhur atau tidak, baiklah kami mengingatkan anak-anak untuk menghormati dan mentaati orangtua. Ingatlah dan hayatilah bahwa tanpa kasih orangtua, khususnya ibu, kita tidak dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Kasih ibu antara lain kita terima ketika kita masih berada di dalam rahimnya kurang lebih sembilan bulan lamanya, ketika kita masih bayi disusui, dimandikan, dipeluk, dicium , dst.. Akhir kata sebagaimana diingatkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik, yang kami kutipkan di atas, hendaknya cintakasih senantiasa menjiwai hidup berkeluarga. Marilah kita saling mengasihi satu sama lain sampai mati.

 

"Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.Kiranya TUHAN memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,"

 (Mzm 128:1-5)

 

Jakarta, 26 Desember 2010  


Kamis, 23 Desember 2010

Hari Raya Natal - Yes 9:1-6; Tit 2:11-14; Luk 2: 1-20

HR NATAL : Yes 9:1-6; Tit 2:11-14; Luk 2: 1-20


"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Pertama-tama kami ucapkan "SELAMAT NATAL 2010 / HAPPY  MERRY CHRISTMAS 2010" kepada anda sekalian. Dalam merayakan Natal tahun ini kiranya kita berada dalam suasana keprihatinan terkait dengan aneka musibah, bencana alam, gempa bumi, letusan gunung berapi dst.. yang mengakibatkan cukup banyak korban. Secara moral kiranya kita juga masih prihatin berhubungan dengan masih maraknya tindak korupsi maupun aneka pertentangan, tawuran atau permusuhan yang menimbulkan kebencian dan balas dendam maupun korban.  Kedatangan Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, kiranya juga merupakan 'keprihatinan Allah akan situasi dunia yang harus diselamatkan'. Maka baiklah dalam rangka merayakan pesta Natal atau mengenangkan Kelahiran Penyelamat Dunia tahun ini, kami sampaikan catatan-catatan refleksif sebagai berikut:

 

"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan" (Luk 2:10-11)     

 

Berbagai macam bentuk ketakutan kiranya masih menguasai banyak orang, termasuk kita sendiri: ada orang takut digeser atau diturunkan dari kedudukan, jabatan atau fungsinya, para pelajar atau mahasiswa takut tidak naik kelas atau lulus ujian, cukup banyak orang takut menghadapi masa depan, dst… Dampak ketakutan dapat mendua: hidup dan bertindak ngawur untuk melindungi atau menutupi ketakutannya atau dengan rendah hati membuka diri terhadap bantuan Ilahi melalui sesamanya yang baik hati. Kepada mereka yang beerada dalam ketakutan kami ajak untuk dengan sungguh-sungguh merenungkan Warta Gembira yang disampaikan oleh malaikat kepada para gembala, sebagaimana saya kutipkan di atas.

 

"Aku memberitakan kepadamu kesukaan besar"  inilah yang baik kita renungkan atau refleksikan. Kesukaan besar macam apa? Tentu saja bukan bersifat material melainkan lebih spiritual, misalnya sapaan kasih, perhatian, doa dst., atau nilai-nilai/keutamaan-keutamaan yang menyelamatkan jiwa seperti "kasih, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,"(Gal 5:22-23). Kepada mereka yang takut akan masa depan atau sering terlalu memikirkan saingan-saingan kerja atau pelayanan yang juga membuat takut, kami harapkan untuk dengan sebaik mungkin mengerjakan atau melayani yang sedang anda hadapi saat ini. Jangan memboroskan tenaga dan pikiran untuk memikirkan aneka macam saingan, melainkan hadapilah yang di depan anda saat ini dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan, sehingga mereka yang kita layani akan menjadi bantuan 'maarketing/pelayanan' kita dengan menyebarluaskan kesukaan yang telah mereka telah terima dari pelayanan kita. Kesukaan mereka yang menghilangkan ketakutan anda.

 

"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan". Marilah kita imani bahwa bayi yang dilahirkan hari ini dari rahim Bunda Maria adalah Juruselamat, Tuhan. Mengimani Sang Bayi yang baru saja lahir adalah Tuhan berarti kita senantiasa ditemani atau didampingi oleh Tuhan. Bukankah sebagai pribadi yang dewasa dan sehat akan menyambut kelahiran seorang anak dengan penuh harapan dan dambaan, apalagi yang kita kenangkan kelahiranNya malam ini adalah Juruselamat. Kami berharap kepada anda sekalian bahwa dengan merayakan Natal atau mengenangkan Kelahiran Juruselamat Dunia hari ini, anda semakin bergairah, penuh pengharapan, ceria dan segar-bugar, bebas dari aneka macam ketakutan.            

 

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."(Luk 2:14).

 

"Manusia yang berkenan kepadaNya"  berarti manusia yang beriman, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dimana cara hidup dan cara bertindaknya dengan rendah hati berusaha untuk menghayati sabda-sabda Tuhan atau setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Memang untuk itu tak akan lepas dari aneka macam tantangan, hambatan atau masalah, namun jika tetap bertahan dan setia pada panggilan dan pengutusannya akan menikmati damai sejahtera untuk selama-lamanya. Maka marilah kita senantiasa setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing sebagai tanggapan kita akan kesetiaan janji Allah untuk mengutus Juruselamat Dunia guna menyampaikan damai sejahtera di bumi.

 

"Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Orang yang setia atas perjanjian yang telah dibuat akan hidup mulia dan damai sejahtera. Pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk menghayati kesetiaan ini dalam keluarga atau komunutias-komunitas masing-masing, sehingga terjadilah damai sejahtera di dalam keluarga atau komunitas.

 

"Manusia yang berkenan kepadaNya" juga menghayati apa yang disampaikan oleh Paulus kepada Titus ini, yaitu "Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini" (Tit 2:11-12) Marilah kita tinggalkan 'kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi'  dan kemudian 'hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini':

·        Selama hidup di dunia kita memang membutuhkan hal-hal duniawi seperti tempat tinggal, pakaian, makanan, aneka asessori dan kenikmatan phisik termasuk kenikmatan hubungan seksual, namun hendaknya semuanya itu menjadi sarana atau wahana untuk semakin setia pada panggilan dan tugas pengutusan masing-masing. Maka kami berharap kita tidak bersikap mental materialistis atau duniawi. Semakin kaya akan harta benda, uang dan aneka macam barang duniawi kami dambakan semakin beriman, semakin suci dan rendah hati, menghayati semuanya sebagai anugerah Tuhan atau Yang Ilahi melalui saudara-saudari kita yang berbaik hati. Dengan meninggalkan keinginan-keinginan dunia kami harap juga kita membangun dan memperdalam persaudaraan atau perdamaian sejati antar kita.

·        Kita semua dipanggil untuk 'hidup bijaksana, adil dan beribadah di dunia sekarang ini'. Bijaksana antara lain berarti dapat mengambil keputusan yang tepat untuk dilaksanakan dan buahnya menyelamatkan atau mensejahterakan. Keadilan yang paling mendasar hemat saya adalah hormat terhadap harkat martabat manusia. Jika orang dapat hidup bijaksana dan adil maka yang bersangkutan dengan mudah dapat beribadah di dunia sekarang ini. Ibadah di sini hendaknya tidak hanya dipahami secara liturgis melulu seperti berdoa dan bernyanyi, melainkan cara hidup dan cara kerja kita juga merupakan ibadah. Bekerja bagaikan beribadah, maka hendaknya rekan kerja disikapi seperti rekan ibadah, sarana kerja dirawat dan diurus seperti mengurus sarana ibadat, suasana kerja bagaikan suasana beribadat dst… Dengan kata lain sepanjang hari orang hidup dan bersama dengan Tuhan dimanapun dan kapanpun. Dengan dan melalui kerja setiap hari orang membangun dan memperdalam persaudaraan atau perdamaian sejati dengan sesamanya. Kami berhadap suasana yang demikian juga diusahakan di sekolah-sekolah, sehingga sekolah sungguh merupakan komunitas pembelajaran yang menggembirakan.      

 

"Kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka" (Luk 2:20)

Para gembala menjadi saksi utama dan pertama kelahiran Penyelamat Dunia. Dalam tatanan sosial para gembala termasuk dalam kelompok pinggiran alias kurang diperhatikan.  Siang malam para gembala hidup di perbukitan atau padang rumput sambil menjaga dan mengurus domba-dombanya. Di malam hari mereka tidur di ruang luas yang beratapkan langit dengan sinar terang bintang-bintang, dst.. Para gembala juga menjadi symbol orang-orang yang lebih mempercayakan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi daripada bantuan manusia; mereka memang hidup dalam kemiskinan dan berkekurangan. Dengan kata lain para gembala dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk mawas diri perihal keutamaan (kaul) kemiskinan.

 

Keutamaan atau kaul kemiskinan merupakan 'ibu dan benteng' hidup beriman atau membiara, maka harus dicintai bagaikan mencintai ibu dan dirawat atau diurus bagaikan merawat atau mengurus benteng. Kwalitas kepribadian kita masing-masing sangat tergantung atau dipengaruhi oleh peran ibu yang telah mengandung, melahirkan dan merawat kita dengan dan dalam kasih sejati. Pertumbuhan dan perkembangan pribadi kita sehingga menjadi seperti yang ada saat ini juga tak terlepas dari aneka macam bentuk benteng yang melindungi kita. Tidak mengasihi ibu dan tidak merawat benteng berarti orang yang bersangkutan tak/kurang beriman atau bermoral, demikian juga jika keutamaan atau kaul kemiskinan tidak menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita berarti kita tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Menghayati keutamaan atau kaul kemiskinan berarti hidup dan bertindak mempercayakan diri pada Penyelenggaraan Ilahi, menghayati aneka macam yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini sebagai anugerah Allah.

 

Meneladan para gembala berarti setelah atau dengan merayakan Natal malam ini kita dipanggil untuk senantiasa memuji dan memuliakan Allah. Marilah hal ini kita hayati tidak hanya secara liturgis melulu, tetapi terutama dan pertama-tama secara pastoral atau sosial, konkret dalam hidup sehari-hari. Maka baiklah saya angkat di sini contoh 'memuji dan memuliakan Allah' dalam cara hidup dan cara bertindak sehari-hari:

·  Hendaknya kita saling memuji satu sama lain, dan untuk itu baiklah senantiasa kita lihat dan imani apa yang baik, mulia dan luhur baik dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari atau sesama kita. Kami yakin dalam diri kita masing-masing lebih banyak apa yang baik, mulia dan luhur daripada yang buruh, remeh dan jorok. Secara khusus kami berharap kepada kita semua untuk senantiasa memberi pujian bagi mereka yang miskin dan berkekurangan, antara lain dengan memberikan sebagian kekayaan kita kepada mereka.

·  Hendaknya kita juga saling memuliakan satu sama lain, yang berarti saling menghormati dan menjunjung tinggi. Marilah kita hayati bahwa masing-masing dari kita adalah gambar atau citra Allah, Allah hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Sekali lagi saya ajak dan ingatkan untuk memperhatikan mereka yang miskin, berkekurangan dan lemah. Ingat dalam tubuh kita ada anggota tubuh yang lemah dan kita beri penghormatan luar biasa, yaita alat kelamin, maka selayaknya kita menghormati mereka yang dipandang lemah di masyarakat kita. Memperhatikan mereka yang miskin, berkekurangan dan lemah merupakan salah satu bentuk konkret pengahayatan iman akan penjelamaan Allah menjadi manusia, Emmanuel, Allah menyertai kita. Dengan kata lain marilah kita perdalam dan perkembangkan sikap empati dan solidaritas  kita terhadap saudara-saudari kita, terutama mereka yang miskin, berkekurangan dan lemah.  

 

"Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar." (Yes 9:1)      

 

Kutipan dari Kitab Yesaya di atas ini kiranya baik menjadi permenungan kita semua bersama-sama sebagai bangsa. Ketegangan antar suku dan bangsa masih marak terjadi di sana-sini sebagai dampak dari egoisme, keserakahan dan kesombongan. Dengan hati dan jiwa serta akal budi yang gelap mereka membabi buta untuk menghancurkan sesamanya. Jika kita cermati bangsa Indonesia pun rasanya sedikit banyak 'berjalan di dalam kegelapan', nampak dalam cara hidup dan cara bertindak maupun kebijakan para pemimpin, pejabat atau petinggi negeri ini yang dengan sengaja menutupi aneka macam kejahatan serta memperlemah usaha-usaha pemberantasan korupsi serta penegakan keadilan. Untuk menutupi kejahatan atau korupsi mencetuskan gagasan atau pendapat yang dapat menyita perhatian rakyat atau banyak orang, misalnya kasus Yogya: orang disibukkan dengan urusan monarki dan demokrasi terkait dengan Yogya sehingga lupa membicarakan dan memberantas korupsi.

 

"Terang yang besar telah bersinar"  di malam Natal ini, maka kami berharap mereka yang masih berjalan di dalam kegelapan alias menutup hati, jiwa, akal budi dan tubuh kami harapkan dengan rendah hati membuka diri terhadap Sang Terang yang telah bersinar. Kami berharap para pemimpin atau petinggi dan pejabat dapat meneladan 'orang majus dari Timur' yang melihat sinar bintang kemudian mengikutinya dan sampailah di tempat tujuan untuk bertemu dan berbakti kepada Sinar Terang yang terbaring di palungan. Marilah kita lihat terang dan hidup dalam terang, yang berarti hidup jujur, disiplin, teratur, tekun, rajin, teliti dst..      

  

 

SELAMAT NATAL 2010 

dan

TAHUN BARU 2011

 

Jakarta, 25 Desember 2010     


24des - 2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79

"Ia akan melawat kita untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan"

(2Sam 7:1-5.8b-12.16; Luk 1:67-79)

 

"Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." (Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Zakharia, yang penuh dengan Roh Kudus, setelah kelahiran anaknya, Yohanes, terbuka mulutnya, sembuh dari bisu, dan kemudian bernubuat. Ia bernubuat perihal Penyelamat Dunia yang segera akan datang, "untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut, untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera". Maka marilah kita mawas diri: apakah kita siap sedia untuk diterangi dan diarahkan menuju jalan damai sejahtera. Sebagai tanda kesiap-sediaan kita antara lain kita harus rendah hati dan taat, membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh atau tenaga kita untuk didatangi, diterangi dan diarahkan. Kerendahan hati dan ketaatan hemat saya bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Kita dapat belajar dan meningkatkan atau memperdalam kerendahan hati dan ketaatan, antara lain kita berusaha untuk senantiasa mentaati atau menghayati aneka aturan dan tatanan hidup apapun dan dimanapun. Salah satu contoh adalah mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan berlalu lintas di jalanan, mengingat dan memperhatikan bahwa tertib berlalu-lintas merupakan salah satu cermin bangsa atau warganegara. Agar kita siap mentaati atau melaksanakan aneka aturan, kiranya baik jika kita juga setia mengatur diri sendiri, karena jika kita mampu mengatur diri dengan baik maka dengan mudah kita mentaati aneka aturan dan tatanan hidup. Marilah kita hayati aneka aturan dan tata tertib sebagai 'sinar dan arah' yang membantu kita menuju damai sejahtera sejati.

·    "Baik, lakukanlah segala sesuatu yang dikandung hatimu, sebab TUHAN menyertai engkau." (2Sam 7:2), demikian kata nabi Natan kepada raja Daud. Kutipan ini kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Kami percaya kita semua telah mempersiapkan diri dengan baik dalam rangka menyambut kedatangan Penyelamat Dunia, Pesta Natal, antara lain mawas diri serta mengaku dosa, dan dengan demikian memiliki hati yang bersih dan jernih, "Tuhan menyertai engkau". Maka marilah kita hidup, melangkah atau bertindak sesuai dengan yang dikandung dalam hati kita yang jernih dan bersih, dengan kata lain kita taati dan laksanakan apa yang menjadi suara hati kita. Marilah kita hayati bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita, sehingga kita dimanapun dan kapanpun bersama atau bersatu dengan Tuhan, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena Tuhan menyertai kita semua, maka selayaknya kita hidup berdamai dengan siapapun dan dimanapun, karena hati kita sama-sama bersih dan jernih juga. Marilah kita rayakan pesta Natal nanti malam dengan hati yang bersih dan jernih, sehingga kita layak untuk saling memberikan damai Natal dengan penuh senyum dan sukacita. Biarlah kita dengan ceria, bergairah dan rela berkorban dalam melangkah untuk menuju ke perayaan Natal bersama, seperti para gembala yang di malam gelap gulita dengan bergairah dan rela berkorban bersembah sujud kepada Penyelamat Dunia, yang baru saja lahir dan terbaring di tempat pembabaringan domba. Hanya dengan hati yang jernih dan bersih dapat memahami atau memaknai serta menghayati arti Sang Penyelamat Dunia, yang datang di tengah malam gelap gulita, dan hanya orang yang bersikap mental seperti para gembala, yaitu percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi, mampu mengimani Sang Penyelamat Dunia yang lahir di tengah malam gelap gulita dan kemiskinan.

 

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)        .

Jakarta, 24 Desember 2010