Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 11 Februari 2011

13 Feb - Mg Biasa VI 0 Sir 15:15-20; 1Kor 2:6-10; Mat 5:17-37

"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."

Mg Biasa VI: Sir 15:15-20; 1Kor 2:6-10; Mat 5:17-37


Pada awal tahun ini atau bulan Januari 2011 yang lalu ada sesuatu yang menarik perhatian kita, antara lain perihal 'Aneka kebohongan' yang diangkat oleh para tokoh agama serta instruksi presiden untuk mengusut tuntas kasus 'Gayus' ( korupsi dan pajak). Apa yang diangkat oleh para tokoh agama membangkitkan semangat para pejuang kebenaran dan keadilan, yang nampak dalam aneka pertemuan para tokoh atau pemuka masyarakat serta 'posko kebohongan'. Sementara itu kasus 'Gayus' menimbulkan gejolak kuat di antara para politisi dan pejabat pemerintahan disamping keraguan sementara orang perihal kesuksesan instruksi presiden tersebut. Dari semuanya itu muncul rumor: menyelesaikan satu masalah dengan menimbulkan masalah-masalah baru, sehingga masalah semakin bertumpuk dan tak tertangani. Semuanya itu terjadi, hemat kami karena 'hidup keagamaan mereka tidak benar': mereka terampil dalam omongan namun lemah dan rapuh dalam perilaku. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan sabda-sabda Yesus hari ini

 

"Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala" (Mat 5:22).

 

"Marah" hemat saya merupakan 'bahasa di tingkat menengah', sedangkan yang paling lembut adalah mengeluh dan yang paling kasar adalah membunuh. Maka kiranya cukup banyak di antara kita yang mudah mengeluh jika ada sesuai yang tidak berkenan di hati kita atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Mereka yang marah atau mengeluh hemat kami tidak perlu dihukum sudah terhukum dengan sendirinya, antara lain yang bersangkutan akan dijauhi oleh teman-temannya, ia telah memboroskan waktu dan tenaga yang tidak ada gunanya. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang mudah marah atau mengeluh untuk segera bertobat atau memperbaiki diri secepat mungkin.

 

Orang yang mudah marah atau mengeluh hemat saya berpedoman pada 'like and dislike' = suka atau tidak suka, bukan sehat atau tidak sehat. Hendaknya berpedoman bahwa apa yang sehat dinikmati saja, meskipun tidak enak atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Kebiasaan berpedoman pada apa yang sehat ini hendaknya sedini mungkin ditanamkan pada anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua atau bapak-ibu. Hal yang biasa dan mungkin sulit adalah makanan atau minuman;jika orang mengalami kesulitan dalam hal makan artinya hanya menikmati apa yang sesuai dengan selera pribadi pada umumnya akan mudah marah atau mengeluh. Ingat dan hayati enak dan tidak enak dalam hal makanan atau minuman itu hitungannya hanya detik, yaitu di lidah. Maka jika makanan atau minuman dirasa tidak nikmat atau enak di lidah namun sehat, hendaknya langsung telan saja, karena Tuhan telah menganugerahkan mesin pengolah yang canggih dalam usus kita.

 

Kami juga mengingatkan perihal pergaulan dengan sesama manusia. Marilah kita renungkan sapaan atau ajakan Paulus ini, yaitu: "yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita" (1Kor 2:7). Yang sering membuat kita marah dalam pergaulan antara lain apa yang diomongkan atau dibicarakan, yang mungkin terasa keras dan pedas. Marilah kita lihat apa yang di balik omongan atau pembicaraan tersebut, yaitu kehendak baik. Dengan kata lain marilah kita lihat dan imani kehendak baik dari saudara-saudari kita agar kita tidak mudah marah atau mengeluh. Kehendak baik merupakan kehendak Tuhan yang menggema melalui omongan atau pembicaraan.   

 

"Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya."(Mat 5:2-28)

"Memandang perempuan dan menginginkannya"  pada umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki hidung belang alias mereka ingin menjadikan sang perempuan sebagai obyek nafsu seksualnya. Setiap manusia diciptakan oleh Allah sebagai gambar atau citra Allah dan manusia merupakan ciptaan terluhur atau termulia di dunia ini, maka kita dipanggil untuk saling menghormati, meluhurkan dan memuliakannya tanpa pandang bulu, jenis kelamin atau SARA.

 

Pertama-tama saya mengajak dan mengingatkan rekan-rekan perempuan, entah masih gadis atau sudah menjadi ibu/isteri, untuk tidak menghadirkan diri sedemikian rupa sehingga merangsang kaum laki-laki tergerak untuk berbuat dosa atau jahat. Hendaknya berpakaian pantas dan sederhana, pendek kata cara berpakaian jangan sampai merangsang gairah seksual kaum laki-laki, yang bukan suaminya atau pasangan hidupnya. Yang merangsang pada umumnya tidak kelihatan dan mungkin hanya terlihat samar-samar saja. Kepada rekan-rekan laki-laki kami berharap: ketika melihat rekan perempuan yann cantik, mempesona dan menarik hendaknya tergerak untuk bersyukur kepada dan memuji Allah, karena karya ciptaanNya yang indah, luhur dan mulia itu.  

 

 

"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat " (Mat 5:37).

Sabda ini mengajak kita semua untuk hidup dan bertindak jujur. "Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 17). Kami angkat lagi kutipan perihal jujur ini mengingat dan memperhatikan kebohongan semakin menjadi-jadi dalam kasus penanganan kasus Bank Century maupun "Gayus".  Para elite politik atau pejabat pada umumnya sekali berbohong akan terus berbohong dan kebohongannya semakin kentara.

 

Kejujuran hendaknya sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan diperdalam serta diperkembangkan di sekolah-sekolah. "Kejujuran terhadap orang lain, terhadap lembaga, terhadap masyarakat, terhadap diri sendiri" (Linda & Richard Eyre: Mengajarkan Nilai-Nilai kepada Anak, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 1997, hal 3),itulah aneka bentuk kejujuran yang hendaknya dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak. Mungkin pertama-tama adalah 'jujur terhadap diri sendiri', karena ketika orang dapat jujur dengan diri sendirinya dengan mudah ia akan jujur terhadap yang lain. Hendaknya orangtua dan guru dapat menjadi teladan dalam hal kejujuran terhadap diri sendiri bagi anak-anak dan peserta didik.

 

"Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!"

 (Mzm 119:1-2.4-5)

 

Jakarta, 13 Februari 2011


12 Feb - Kej 3:9-24; Mrk 8:1-10

"HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini"
(Kej 3:9-24; Mrk 8:1-10)

"Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh." Murid-murid-Nya menjawab: "Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?" Yesus bertanya kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" Jawab mereka: "Tujuh." Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta." (Mrk 8:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini." (Mrk 8:1-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Hati adalah pusat seluruh kepribadian manusia, maka orang sakit hati pada umumnya yang bersangkutan rapuh kepribadiannya, sebaliknya hati yang terbuka bagi sesamanya membahagiakan dan menyelamatkan, sebagai Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak yang kelaparan. Kiranya di lingkungan hidup kita masih ada yang kelaparan, entah secara phisik maupun spiritual, maka baiklah kita buka hati kita bagi mereka yang sedang kelaparan. Dengan kata lain marilah kita hayati, perdalam dan sebarluaskan `kepedulian kita kepada orang lain, terutama bagi mereka yang miskin, menderita atau kelaparan'. Marilah `to be man or woman with/for others'. Pertama-tama dan terutama marilah kita sadari dan hayati bahwa segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui orang lain, mereka yang telah berbuat baik kepada kita, membantu kita atau hidup dan bekerja bersama dengan kita. Sendirian saja kita tak dapat berbuat apa-apa. Allah menghendaki agar harta benda atau aneka kekayaan yang kita miliki dihayati dan digunakan dengan semangat sosial, dengan kata lain harta benda atau aneka kekayaan pada dasarnya berfungsi sosial. Kami berharap semakin kaya akan harta benda, semakin pandai/cerdas, semakin berkedudukan berarti juga semakin sosial. Sebagai warga Negara Indonesia marilah kita hayati dan usahakan bersama sila kelima dari Pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh bangsa".
•    "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?"(Kej 3:11), demikian firman Allah kepada Adam, manusia pertama. Mendengar pertanyaan tersebut Adam menuduh Hawa, isterinya, dan ketika isterinya ditanyai oleh Allah ia menuduh ular yang mempedayakannya. Saling melempar tanggungjawab dan akhirnya dilempar ke binatang yang tidak dapat menjawab itulah yang terjadi. Dalam kehidupan kita bersama hal itu juga sering terjadi, misalnya orang marah terhadap orang tertentu tidak berani langsung memarahi, melainkan merusak atau menghancurkan harta benda miliknya atau kesayagannya, atau ada orang marah kemudian membanting pintu atau menutup pintu keras-keras, menendang binatang piaraannya yang tidak bersalah, dst… Saling menyalahkan dan menuduh yang demikian itu juga terjadi di dalam pengadilan dalam rangka mengusahakan kebenaran. Jika kita perhatikan proses pengadilan sungguh mahal, gara-gara orang tidak pernah berani berterus terang mengakui kesalahan atau kelemahannya. Maka baiklah dengan ini kami mengajak kita semua untuk dengan rendah hati dan jujur berani mengakui kesalahan atau kekurangan kita masing-masing, tanpa menutupi atau mengalihkan perhatian, dst..  Secara khusus kami berharap kepada para penegak atau pejuang kebenaran untuk setia pada tugas pengutusannya, tidak melempar tanggunjawab kepada orang lain. Tanggungjawab ini hemat saya sedini mungkin perlu dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga, antara lain dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu. Orangtua atau bapak-ibu hendaknya tidak malu mengakui kesalahan dan kelemahannya dihadapan anak-anaknya. Jika kita sungguh bertanggungjawab, maka meskipun kita `telanjang' tak akan malu sedikitpun.

"Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!" Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu"
(Mzm 90:2-6).

Jakarta, 12 Februari 2011




Kamis, 10 Februari 2011

11 Feb - Kej 3:1-8; Mrk 7:31-37

"Ia menjadikan segala-galanya baik"

(Kej 3:1-8; Mrk 7:31-37)

 

"Kemudian Yesus meninggalkan pula daerah Tirus dan dengan melalui Sidon pergi ke danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." (Mrk 7: 31-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia, datang untuk menyelamatkan dunia, maka dimana ada bagian dunia yang tidak selamat atau tidak baik segera diselamatkan atau diperbaiki, terutama manusia, ciptaan terluhur di dunia ini. Maka kita yang beriman kepadaNya dipanggil untuk meneladanNya, melakukan sebagaimana dilakukan oleh Yesus. Maka baiklah kita lihat dan perhatikan secara cermat dan tekun apakah ada di antara saudara-saudari kita, di lingkungan masyarakat atau tempat kerja, yang segera perlu diselamatkan atau diperbaiki, misalnya yang 'tuli atau buta' baik secara phisik, sosial, emosional, intelektual maupun spiritual. Tentu saja pertama-tama dan terutama kami berharap hal ini terjadi di dalam keluarga-keluarga kita sendiri, dengan pengandaian orangtua atau bapak-ibu dalam keadaan selamat atau baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, sehat wal'afiat secara phisik maupun spiritual. Jika kita melakukan perbaikan dan penyelamatan di dalam keluarga kita masing-masing, maka dengan mudah usaha perbaikan dan penyelamatan dilakukan dalam lingkungan hidup yang lebih luas. Keteladanan para orangtua atau bapak-ibu sebagai pribadi yang baik, berbudi pekerti luhur dan selamat sungguh diharapkan. Ketika seluruh anggota keluarga baik dan selamat, maka lingkungan hidup sekitarnya juga baik dan selamat dan dengan demikian kebersamaan hidup sungguh menarik, mempesona dan mendorong semua orang untuk berbuat baik. Kepada mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama di tingkat apapun kami harapkan senantiasa berusaha melakukan apa yang baik bagi kehidupan bersama, dengan kata lain tanda keberhasilan pemimpin dalam melaksanakan tugasnya adalah rakyat sejahtera lahir maupun batin, jasmani maupun rohani.


·   "Ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah."(Kej 3:1). Kecerdikan ular telah menjatuhkan manusia pertama ke dalam dosa, melanggar perintah-perintah Allah. Cerdik tanpa iman memang membahayakan atau mengancam hidup bersama, sebagaimana telah terjadi di negeri kita tercinta masa kini, dimana cukup banyak orang cerdik melakukan kejahatan seperti korupsi, manipulasi dan kebohongan, sehingga kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan bersama masih jalan terus. Usaha mengatasi hal ini hemat saya antara lain melalui pendidikan, maka baiklah saya kutipkan arah pendidikan sebagaimana digariskan oleh Gereja Katolik, sebagai berikut: "Pendidikan yang sejati harus meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya, yang memperhatikan tujuan akhir dari manusia dan sekaligus pula kesejahteraan umum dari masyarakat, maka anak-anak dan para remaja hendaknya dibina sedemikian rupa sehingga dapat mengembangkan bakat-bakat fisik, moral dan intelektual mereka secara harmonis, agar mereka memperoleh citarasa tanggungjawab yang semakin sempurna dan dapat menggunakan kebebasan mereka dengan tepat, pun pula dapat berperan-serta dalam kehidupan sosial secara aktif"  (KHK kan 795). Pelayanan pendidikan entah secara formal maupun informal hendaknya berpegung teguh pada arah ini, yaitu "pembentukan pribadi manusia seutuhnya". Dengan kata lain hemat saya pendidikan yang baik pertama-tama adalah mengusahakan agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur, bukan 'pandai/pinter'. Orang pandai atau pinter dengan mudah 'minteri' (mengelabuhi?) orang lain sehingga menderita sengsara. Mendidik anak atau peserta didik agar menjadi baik memang tidak mudah.

 

"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!" (Mzm 32:1-2)

 

Jakarta, 11 Februari 2011