Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 19 Februari 2011

Minggu Biasa VII - Mg Biasa VII : Im 19:1-2.17-18; 1Kor 3:16-23; Mat 5:38-48

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu".
Mg Biasa VII : Im 19:1-2.17-18; 1Kor 3:16-23; Mat 5:38-48

Ketika Paus Yohanes Paulus II telah sembuh dari sakit karena ditembak oleh seseorang, maka Yang Mulia segera mendatangi si penembak di penjara untuk mengampuni kesalahan dan dosa-dosanya. Apa yang dilakukan oleh Paus ini kiranya sesuai dengan sabda Yesus: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu". Memang untuk menghayati sabda Yesus ini pada masa kini sungguh merupakan tantangan dan berat, namun demikian marilah kita yang beriman kepadaNya dengan rendah hati dan bekerjasama berusaha untuk saling mendoakan dan mengampuni terhadap siapapun dan dimanapun.


"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat 5:43-44). Pada umumnya orang dengan mudah membalas dendam terhadap orang yang telah menyakitinya, dan balas dendamnya juga lebih berat dan hebat, sebagai contoh apa yang terjadi dengan kerusuhan yang dilakukan oleh kelompok tertentu di negeri ini, antara lain sampai membunuh orang, membakar dan merusak fasilitas ibadat agama lain, dst.. Bahkan ada orang dirasani sedikit dengan mudah menjadi marah-marah dan geram berusaha mencari orang yang 'ngrasani', dan jika bertemu pasti akan dibalas dengan tindakan phisik yang menyakitkan. Saya melihat dan memperhatikan bahwa balas dendam ini sampai kini masih terjadi di tingkat akar rumput sampai dengan tingkat tinggi, di antara rakyat biasa sampai dengan pejabat tinggi/Negara.

Kita semua kiranya memiliki 'musuh', dan bohong jika mengatakan tidak memiliki 'musuh'. Apa yang saya maksudkan dengan 'musuh' di sini adalah apa-apa saja yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau tak berkenan di hati, entah itu orang, makanan atau minuman, binatang, tanaman, situasi, dst.. Bahkan juga ada orang yang memusuhi sinar matahari atau air hujan, antara lain selalu melindungi diri dari sinar matahari dengan aneka cara dan mengubah tanah resapan air hujan atau penampungan air hujan menjadi bangunan beton yang kokoh, tak tembus air. Dampak dari memusuhi ini adalah penderitaan umat manusia. Sebagai murid atau pengikut Yesus kita dipanggil untuk mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang membenci atau menyakiti kita, maka marilah kita lihat dan kenangkan apa dan siapa saja yang memusuhi dan membenci kita, kemudian kita kasihi dan doakan.


Sebagai contoh  sederhana dan umum adalah makanan dan cuaca. Hendaknya dalam hal makan berpedoman pada sehat dan tidak sehat, bukan enak dan tidak enak; dengan kata lain jika makanan sehat hendaknya disantap saja, meskipun tidak enak, kalau perlu langsung telan saja karena Tuhan telah menganugerahkan mesin pengolah makanan yang hebat dalam tubuh kita. Demikian juga dalam hal cuaca, hendaknya nikmati saja cuaca dingin atau panas untuk melatih kekebalan dan memperkembang-kan serta mengkokohkan anti-body dalam tubuh kita. Ingat dan sadari ketika ada wabah penyakit, kita sering menerima vaksin, yang tidak lain adalah ke dalam tubuh kita disuntikkan virus untuk memancing kekebalan tubuh. Memang virus-virus bertebaran di udara bebas, sehingga mereka yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang memadai pasti akan jatuh sakit, sebaliknya pada orang yang memiliki kekeban tubuh pasti tak akan jatuh sakit. Maka bina dan perdalam kekebalan tubuh antara lain dengan menikmati cuaca apa adanya. Hemat saya ketika orang tidak menghadapi masalah dalam hal makan dan cuaca, maka dengan mudah ia menghayati sabda Yesus "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu", sebaliknya jika ada orang bermasalah dalam hal makanan dan cuaca, maka orang yang bersangkutan dengan mudah juga 'membenci musuh'.  Maka baiklah kita renungkan sapaan Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini. 

"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu" (1Kor 3:16-17).

Masing-masing dari kita adalah bait Allah dan "Roh Allah diam di dalam dir kita masing-masing'.  Karena Roh Allah ada di dalam diri kita masing-masing, maka dari cara hidup dan cara bertindak kita akan berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri."(Gal 5:22-23). Keutamaan-keutamaan ini hendaknya menjadi senjata dalam rangka menghadapi musuh atau mereka yang menganiaya kita dalam bentuk apapun, dimanapun dan kapanpun. Mungkin baik kita renungkan perihal 'penguasaan diri', yang menurut hemat saya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan bersama kita masa kini.


Jika kita dapat menguasai diri dengan baik, maka sikap kita terhadap orang lain pasti akan lemah lembut dan melayani, sebaliknya jika kita tak dapat menguasai diri, maka sikap terhadap orang lain pasti akan kasar, keras dan menindas. Untuk melatih penguasaan diri antara lain bertapa, matiraga atau lakutapa. Ada nasihat dari orangtua perihal 'topo ing rame' (= bertapa/lekutapa/matiraga dalam keramaian atau hiruk pikuk). Maksud nasihat ini antara lain berkonsentrasi dalam melaksanakan tugas pengutusan tertentu alias mempersembahkan diri seutuhnya kepada tugas yang harus dikerjakan, sehingga tidak tergoda untuk menyeleweng atau 'selingkuh'. Misalnya sebagai pelajar sungguh belajar dan sebagai pekerja sungguh bekerja. Marilah penguasaan diri ini kita biasakan pada anak-anak kita di dalam keluarga dan kemudian diperdalam di sekolah-sekolah.

Kita juga diingatkan bahwa jika kita membinasakan manusia sebagai bait Allah berarti membenci Allah dan dengan demikian kita dengan sendirinya terhukum. Para pembunuh amatiran, bayaran maupun spontanitas kiranya  dirinya merasa takut dan terancam terus menerus, tidak bebas merdeka bergaul dengan siapapun. Sebagai manusia, ciptaan Allah, gambar dan citra Allah, kita semua dipanggil untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi dalam keadaan apapun dan dimanapun. Bagi kita di Indonesia, marilah kita hayati sila kedua dari Pancasila, yaitu "Perikemanusiaan yang adil dan beradab".  Adil dan beradab bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan dan tak dapat dipisahkan. Orang beradab pasti bertindak adil, dan orang adil pada umumnya beradab. Keadilan yang paling mendasar hemat saya adalah 'hormat pada atau menjunjung tinggi harkat martabat manusia'., dengan kata lain manusiawi. Jika kita hidup secara manusiawi kiranya akan berkembang dan bergerak ke ilahi atau spiritual, dan dengan demikian kita menghayati diri sebagai 'bait Allah' dan 'Roh Kudus diam dalam diri kita'. Marilah kita hayati nasihat ini ;"Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN"( Im 19:17-18).               

"Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat" (Mzm 103:1-4)



Jakarta, 20 Februari 2011
     





Jumat, 18 Februari 2011

19 Feb - Ibr 11:1-7; Mrk 9:2-13

"Betapa bahagianya kami berada di tempat ini"
(Ibr 11:1-7; Mrk 9:2-13)

"Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."  Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.  Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus  seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati."(Mrk 9:2-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Di dalam psikologi agama dikenal adanya pengalaman mempesona ('fascinosum') dan menghentak ('tremendum'). Entah pengalaman mempesona atau menghentak pada umumnya akan mempengaruhi hidup orang yang mengalami, bahkan yang mengalami sering kemudian menyatakan niat atau kehendak tertentu. Tiga rasul: Petrus, Yakobus dan Yohanes mengalami hiburan rohani yang mendalam atau pengalaman 'fascinosum' di sebuah gunung dan kemudian mereka akan membuat sesuatu. Dalam perjalanan turun gunung Yesus berpesan kepada mereka agar mereka tidak menceriterakan pengalaman tersebut 'sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati'. Dari peristiwa di gunung ini sampai bangkit dari antara orang mati Yesus harus menghadapi aneka penderitaan dan tantangan, dan para murid belum siap sepenuhnya diajak menghadapi penferitaan dan tantangan tersebut. Kita semua kiranya pernah memiliki pengalaman mempesona dalam perjalanan hidup kita, misalnya saat melakukan latihan rohani atau retret, saat saling menerimakan sakramen perkawinan, ditahbiskan menjadi imam atau kaul kekal/akhir, dst.. Kami percaya pada saat-saat macam itu dari kedalaman lubuk hati kita muncul niat atau cita-cita mulia dan indah, meskipun belum tahu persis bagaimana mewujudkan niat atau cita-cita tersebut. Namun demikian baiklah kami mengingatkan kita semua: ketika kita berada dalam keadaan lesu, frustrasi dan takut dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan, marilah kita kenangkan atau hadirkan kembali pengalaman mempesona tersebut, agar kita tetap bergariah, ceria dan dinamis dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan.


•    "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."(Ibr 11:1). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita sebagai umat beriman. Sebagai umat beriman kita diharapkan dalam dan dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan. Salah satu perintah Tuhan bagi kita adalah 'saling mengasihi satu sama lain', maka marilah kita hidup saling mengasihi dengan siapapun dan dimanapun, karena kita semua mengakui diri sebagai orang beriman. Kita juga diingatkan bahwa iman adalah 'bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat'.  Kami percaya kita semua memiliki pengalaman ini, misalnya ketika sedang menikmati makanan enak. Bukankah kita tidak pernah mau tahu atau melihat jenis dan macam apa saja bumbu-bumbu  masak  yang dicampur dalam makanan tersebut , melainkan kita percaya sepenuhnya serta langsung menyantap saja. Maka dengan rendah hati kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah pengalaman iman/percaya dalam hal makanan tersebut juga kita hayati dalam bidang kehidupan lainnya setiap hari. Marilah kita tingkatkan saling percaya kita satu sama lain. Kami merasa pada masa kini sungguh terjadi 'krisis kepercayaan antar kita', karena kebanyakan dari kita tidak dapat dipercaya lagi. Maka untuk meningkatkan saling percaya satu sama lain, antara lain saya pribadi harus berusaha keras untuk menjadi orang yang dapat dipercaya.  Menjadi orang dapat dipercaya berarti bermoral dan berbudi pekerti luhur, tidak pernah korupsi, berbohong, menyakiti orang lain dst…


"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.
Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga. Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan" (Mzm 145:2-5)





Rabu, 16 Februari 2011

18 Feb - Kej 11:1-9; Mrk 8:34-9:1

"Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku."

(Kej 11:1-9; Mrk 8:34-9:1)

 

"Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus. Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa." (Mrk 8:34-9:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai orang  beriman kita tidak dapat berbuat seenaknya hanya mengikuti selera pribadi, demi enaknya sendiri. Kita dipanggil untuk 'menyangkal diri atau menyerahkan nyawa'. Nyawa adalah gairah, semangat atau cita-cita, maka marilah kita persembahkan gairah, semangat atau cita-cita kita kepada Tuhan, secara konkret berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan setiap hari dengan mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Cukup banyak tata tertib, entah itu berupa undang-undang, peraturan, kebijakan dst.. yang harus kita taati dan laksanakan. Rasanya orang-orang Indonesia masih cukup sulit untuk mentaati dan melaksanakan tata tertib, antara lain hal itu nampak di jalanan, dimana para pengendara mobil atau motor maupun pejalan kaki sering melanggar rambu-rambu lalu lintas seenaknya. Apa yang terjadi di jalanan merupakan cermin kwalitas kepribadian warga masyarakat atau bangsa.  Maka juga tidak mengherankan para penegak hukum melaksanakan tugasnya tidak jujur atau tidak sesuai dengan kebenaran karena tergiur oleh uang. Sabda hari ini mengajak kita semua untuk setia pada tugas pengutusan atau panggilan kita masing-masing setiap hari, masing-masing dari kita berfungsi secara optimal dalam fungsi atau peran kita dalam hidup atau bekerja bersama, sebagaimana terjadi dalam anggota tubuh kita. Kebiasaan untuk 'menyangkal diri dan memikul salibnya sendiri' hendaknya sedini mungkin dididikkan pada anak-anak dengan teladan konkret dari orangtua atau bapak-ibu.

·   "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana. Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing."(Kej 11:6-7), demikian firman Tuhan. Hukuman dari Tuhan ini terjadi karena manusia hidup dan bertindak seenaknya sendiri atau sesuai selera pribadi, sehingga tidak ada kebersamaan. Masing-masing merasa dan menghayati dirinya yang benar secara mutlak dan yang lain salah. Semangat egois secara pribadi maupun kelompok atau golongan/partai hemat saya juga masih terjadi di Indonesia masa kini, antara lain nampak dalam kasus Bank Century maupun Gayus. Entah di DPR maupun dip roses pengadilan terjadi kekacauan karena masing-masing hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. 'Menyelesaikan kasus atau masalah dengan melahirkan kasus atau masalah baru' itulah yang terjadi, sehingga hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kacau balau, krisis kepercayaan, entah percaya diri maupun percaya terhadap orang lain terjadi dan sungguh memprihatinkan. Karena tidak percaya kepada orang lain maka mereka yang tak bermoral dan terdidik main hakim sendiri, dan dengan demikian kekacauan semakin membesar. Marilah kita memakai bahasa yang sama, bukan bahasa masing-masing, yaitu 'bahasa cinta'. Cinta pertama-tama bukan untuk diomongkan atau dijadikan bahan diskusi, melainkan dilaksanakan atau dihayati; cinta lebih berarti dalam tindakan atau perilaku. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah 'buah cinta' atau 'yang tercinta', maka selayaknya bertemu dengan orang lain atau sesama manusia secara otomatis saling mencintai. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam bentuk penyakit dan penderitaan terjadi karena dosa dan kesalahan manusia.

 

"TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia; dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi"

(Mzm 33:10-14)

Jakarta, 18 Februari 2011