Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 19 Maret 2011

Minggu Prapaskah II - Kej 12:1-4c; 2Tim 1:8b-10; Mat 17:1-9

"Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Mg Prapaskah II: Kej 12:1-4c; 2Tim 1:8b-10; Mat 17:1-9


Setelah memasuki bahtera perkawinan atau tahbisan imamat, pada umumnya orang menikmati masa yang menarik dan mempesona, yaitu 'bulan madu'. Selama berbulan madu kiranya orang sungguh menikmati masa-masa indah dan mempesona, yang mendorong orang kemudian menjanjikan sesuatu yang luhur, mulia, tinggi dan menggiurkan, misalnya baik suami atau isteri akan setia saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati, seorang imam berjanji untuk melayani umat dimanapun dan kapanpun dengan rendah hati. Ada kemungkinan orang menyebar-luaskan janji tersebut kepada siapapun tanpa perhitungan. Tiga rasul mengalami sesuatu yang indah dan mempesona, pengalaman penglihatan Yesus bersama dua nabi termashyur dalam perubahan rupa di bukit Tabor, namun Yesus berpesan kepada mereka "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati"  Selama memasuki masa Prapaskah ini ada kemungkinan kita juga menerima hiburan-hiburan rohani atau pencerahan dan kita tergerak untuk menceriterakannya kepada saudara-saudari kita. Namun baiklah dengan sabar kita membagikan pengalaman tersebut sampai di Hari Kemenangan, Hari Raya Paskah nanti.

 

"Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."(Mat 17:9)

 

Sabda Yesus ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak mengumbar atau menyebar-luaskan seenaknya apa yang baik dalam diri kita atau yang kita miliki, misalnya cita-cita, harapan, dambaan, niat-niat, dst… Kita diharapkan untuk mencecap dalam-dalam atau meresapkan semua itu ke dalam hati sanubari, sehingga merasuki seluruh anggota tubuh kita. Maka baiklah selama masa Prapaskah ini kita mawas diri perihal janji-janji yang telah kita ikrarkan, misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pegawai atau pelajar, sumpah dst.. Ketika dalam mawas diri ada kemungkinan kita memperoleh pencerahan: suatu ajakan atau panggilan dan niat untuk memperbaharui janji, karena telah ingkar janji, hendaknya ajakan atau niat tersebut dicecap dalam-dalam dahulu dan di Trihari Suci nanti kita perbaharuilah dengan sepenuh hati.

 

Keutamaan kesabaran itulah yang hendaknya kita perdalam selama masa Prapaskah. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur , Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Gejolak dalam diri kita dapat bersifat baik atau buruk, bermoral atau amoral. Gejolak yang buruk dan amoral hendaknya dengan diam-diam ditahan seraya melakukan apa yang berlawanan alias yang baik dan bermoral. Ketika berbuat baik pun hendaknya juga dengan diam-diam, tak usah mencari muka, sebagaimana dipesankan oleh Yesus ketika memasuki masa Prapaskah, pada hari Rabu Abu :"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6:1-4)      

 

Berbuat baik kepada sesama diharapkan tidak karena paksaan dalam bentuk apapun, melainkan merupakan kesaksian iman yang mendalam, meluap dari kedalaman hati sanubari. Maka baiklah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus kepada Timoteus di bawah ini. 

 

"Janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa" (2Tim 1:8-10)

 

"Ikutilah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah", inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan. Injil adalah kabar gembira atau kabar baik. Pada masa kini untuk berbuat baik atau mewartakan atau menyebarluaskan apa yang baik kiranya akan menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Marilah kita hadapai aneka tantangan, hambatan dan masalah dengan atau dalam kekuatan atau kasih karunia Allah. Bersama dan bersatu dengan Allah kita pasti mampu mengatasi aneka hambatan, tantangan dan masalah.   

 

Kasih karunia atau kekuatan Allah antara lain berupa iman, harapan dan cintakasih,  maka baiklah aneka hambatan, tantangan dan masalah kita hadapi dengan atau dalam iman, harapan dan cintakasih. Dalam atau dengan iman berarti kita mempersembahkan diri seutuhnya dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/kekuatan menghadapi aneka hambatan, tantangan dan masalah, yang berarti bekerja keras melaksanakan aneka macam tugas atau pekerjaan kita. Maka bagi yang sedang bekerja hendaknya sungguh mengerjakan sepenuh hati pekerjaan yang diberikan kepadanya, demikian juga bagi yang sedang belajar, hendaknya sungguh belajar dengan giat. Dalam dan dengan harapan berarti melaksanakan aneka macam tugas atau menghadapi aneka hambatan, tantangan dan masalah dengan gembira serta ceria, penuh gairah dan semangat. Dalam kegairahan, keceriaan dan kegembiraan hati, jiwa aka budi dan anggota tubuh kita senantiasa terbuka terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan serta siap sedia memfungsikannya. Hadapilah aneka masalah, tantangan dan hambatan dengan gairah, semangat dan ceria.  Dalam dan dengan cintakasih berarti menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan secara positif serta menyikapinya sebagai wahana atau sarana untuk tumbuh dan berkembang. Cintakasih itu "sabar, murah hati,tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain,  tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran,  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (lih 1Kor 13:4-7)

 

"Firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN  Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan"

 (Mzm 33:4-5.18-19)

 

Jakarta, 20 Maret 2011


Kamis, 17 Maret 2011

19 Maret - HR ST YUSUF SUAMI SP MARIA: 2Sam 7:4-5a,12-14a, 16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

"Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum"

HR ST YUSUF SUAMI SP MARIA:  2Sam 7:4-5a,12-14a, 16; Rm 4:13.16-18.22; Mat 1:16.18-21.24a

 

Sebut saja namanya "Roy" (nama samaran). Ia adalah seorang manajer muda yang cukup terkenal dan terhormat di tempat kerjanya, karena kesuksesan dalam tugas pekerjaannya. Ia sudah berkeluarga sejak lima tahun lalu, isterinya cukup cantik dan dianugerahi anak satu. Masa balita, entah balita anak-anak, balita suami-isteri, balita imam, bruder atau suster, balita pekerja, dst..adalah masa yang cukup rawan. Meskipun Roy memiliki isteri yang cukup cantik, ternyata sang isteri dirasakan kurang memuaskan baginya, lebih-lebih dalam hal pelayanan maupun urusan tempat tidur atau hubungan seksual. Hal itu cukup menyiksa dirinya: mau terus terang kepada isterinya tidak berani. Kebetulan di kantor, tempat kerja ia memiliki seorang sekretaris yang cukup cantik pula, ramah, cekatan dan ceria dalam membantu kerjanya atau melayaninya. Ia pun ketika diajak omong-omong juga dirasa enak dan nikmat adanya. Maka dari terbiasa omong-omong enak dengan sekretaris pribadinya, yang tidak hanya berbicara masalah pekerjaan saja, tetapi juga sana-sini, akhirnya pada suatu saat Roy curhat kepada sekretarisnya perihal relasi pribadi dengan isterinya yang tak membahagiakan.Ia menceriterakan kekurangan dan kelemahan pelayanan isterinya, termasuk urusan tempat tidur, dan dengan penuh hormat sang sekretaris mendengarkannya. Dampak berikutnya dapat diduga, yaitu Roy jatuh cinta kepada sang sekretaris, yang dirasa dapat mengobatinya ketidak-puasannya dan akhirnya mereka terjebak ke dalam huhungan seks  di ruang kerja Roy, tidak hanya sekali melainkan terjadi berkali-kali. Tak lama kemudian sang sekretaris pun hamil dan atas desakan Roy ia diminta untuk menggugurkan. Pendek kata sang sekretaris akhirnya menjadi 'wanita simpanan'nya, yang membantu tugas pekerjaan di kantor maupun urusan tempat tidur. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga, demikian kata sebuah pepatah. Perselingkuhan Roy terbongkar, dan kemudian sang isteri minta diceraikan, serta Roy bersama dengan sekretarisnya pun dipecat dari tugas pekerjaannya alias kemudian harus menganggur. Musibah di atas terjadi karena suami 'mencemarkan  nama isterinya di muka umum'.  Maka baiklah pada pesta St.Yusuf, suami SP Maria, hari ini kami mengingatkan dan mengajak para suami untuk setia pada janji perkawinannya, dan marilah meneladan St.Yusuf.

 

"Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam" (Mat 1:19)     

 

"Mencemarkan nama baik orang lain"  dilakukan oleh banyak orang, antara lain dengan 'ngrumpi/ ngrasani' atau secara terselubung terjadi diproses pengadilan maupun kampanye pemilu. Orang ngrumpi atau ngrasani pada umumnya membicarakan kekurangan dan kelemahan orang lain, sehingga kelemahan dan kekurangan orang yang dirasani diperbesar. Hemat saya entah laki-laki atau perempuan sama saja: laki-laki sekali menjelekkan orang lain dengan berteriak keras sehingga didengarkan banyak orang, sedangkan perempuan dengan diam-diam namun telaten dan tak henti-henti. Dalam relasi antar suami-isteri yang kemudian bercerai atau menikah lagi pada umumnya sang suami lebih dominan sebagai penyebab perceraian atau dorongan untuk menikah lagi alias beristeri lebih dari satu. Maka kami berseru kepada para suami untuk meneladan St.Yusuf, "yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum'.

 

Baiklah kami mengajak para suami untuk memuji isterinya, sebagaimana digambarkan dalam Kidung Agung ini: "Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau! Bagaikan merpati matamu di balik telekungmu. Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead. Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur, yang keluar dari tempat pembasuhan, yang beranak kembar semuanya, yang tak beranak tak ada. Bagaikan seutas pita kirmizi bibirmu, dan elok mulutmu. Bagaikan belahan buah delima pelipismu di balik telekungmu. Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata. Seribu perisai tergantung padanya dan gada para pahlawan semuanya. Seperti dua anak rusa buah dadamu, seperti anak kembar kijang yang tengah makan rumput di tengah-tengah bunga bakung. Sebelum angin senja berembus dan bayang-bayang menghilang, aku ingin pergi ke gunung mur dan ke bukit kemenyan. Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu." (Kid 4:1-7)     

 

"Sebab bukan karena hukum Taurat telah diberikan janji kepada Abraham dan keturunannya, bahwa ia akan memiliki dunia, tetapi karena kebenaran, berdasarkan iman.  Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua, -- seperti ada tertulis: "Engkau telah Kutetapkan menjadi bapa banyak bangsa" -- di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm 4:13.16-17)

 

Para suami atau rekan-rekan laki-laki kami harapkan meneladan iman Abraham, bapa umat beriman: hidup dan bertindak berdasarkan iman. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dan secara konkret juga mempersembahkan diri seutuhnya kepada sesama manusia, terutama atau lebih-lebih kepada mereka yang hidup bersama setiap hari. Bagi para suami hal ini berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada isteri masing-masing, sebagaimana secara konkret antara lain terjadi dalam hubungan seksual. Masing-masing, baik suami maupun isteri, terbuka satu sama lain alias telanjang bulat, tiada sedikitpun yang ditutup-tutupi atau dirahasiakan. Pemberian diri sang suami kepada sang isteri antara lain terjadi ketika sang suami berejakulasi, memberi benih kehidupan kepada sang isteri dan dengan rendah hati sang isterinya menerimanya.

 

"Memberi benih kehidupan" itulah yang hendaknya senantiasa dilakukan oleh sang suami terhadap isterinya, artinya cara hidup dan cara bertindak atau segala sepak terjang atau perilaku suami senantiasa menggairahkan, menarik dan mempesona isteri, sehingga sang isteri pun dalam hati dan mungkin dengan kata-kata berseru sebagaimana digambarkan dalam Kidung Agung ini;" Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur, harum bau minyakmu, bagaikan minyak yang tercurah namamu, oleh sebab itu gadis-gadis cinta kepadamu! Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi! Sang raja telah membawa aku ke dalam maligai-maligainya. Kami akan bersorak-sorai dan bergembira karena engkau, kami akan memuji cintamu lebih dari pada anggur! Layaklah mereka cinta kepadamu! Memang hitam aku, tetapi cantik, hai puteri-puteri Yerusalem, seperti kemah orang Kedar, seperti tirai-tirai orang Salma. Janganlah kamu perhatikan bahwa aku hitam, karena terik matahari membakar aku. Putera-putera ibuku marah kepadaku, aku dijadikan mereka penjaga kebun-kebun anggur; kebun anggurku sendiri tak kujaga. Ceriterakanlah kepadaku, jantung hatiku, di mana kakanda menggembalakan domba, di mana kakanda membiarkan domba-domba berbaring pada petang hari. Karena mengapa aku akan jadi serupa pengembara dekat kawanan-kawanan domba teman-temanmu" (Kid 1:2-7)   

 

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun." (Mzm 89:2-5)

 

Jakarta, 19 Maret 2011


18 Maret - Yeh 18:21-28; Mat 5:20-26

"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi"
(Yeh 18:21-28; Mat 5:20-26)

"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu
 itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas" (Mat 5:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Di dalam hidup beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diberlakukan aneka tata tertib atau aturan tertulis. Apa yang tertulis pada umumnya cukup terbatas jika dibandingkan dengan maksud atau tujuan apa yang tertulis tersebut, dan menghayati apa yang tertulis saja sulit, apalagi yang menjadi maksud atau tujuan utama. Memang ketika kita mampu menghayati apa yang tertulis dengan baik, maka ada kemungkinan kita sampai pada penghayatan maksud atau tujuan utama. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk menghayati maksud atau tujuan utama aneka tata tertib atau aturan. Hemat saya maksud atau tujuan utama aneka tata tertib atau aturan adalah agar orang hidup saling mengasihi satu sama lain. Orang yang marah, menjelek-jelekkan orang lain, memiliki musuh dst, adalah orang yang tidak hidup saling mengasihi. Semua agama hemat  saya mengajarkan agar semua penganutnya hidup dan bertindak saling mengasihi, maka marilah kita
 yang
 mengaku diri beragama hidup dan bertindak saling mengasihi. Aneka perbedaan yang ada di antara kita hendaknya menjadi daya tarik untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat, bukan menjadi alasan untuk saling menjelekkan atau melecehkan. Maka baiklah kita hayati secara mendalam apa yang sama di antara kita, agar apa yang berbeda fungsional untuk memperkuat persahabatan antar kita: yang sama di antara kita antara lain sama-sama beriman, sama-sama manusia ciptaan Allah, dst..
•    "Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati" (Yeh 18:27-28), demikian peringatan Nabi Yeheskiel kepada umatnya, kepada kita semua orang beriman. Kita semua dipanggil untuk bertobat, menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan dan kemudian tidak melakukan lagi dosa-dosa yang sama, serta kemudian 'melakukan keadilan dan kebenaran'. Kita akan dapat melakukan keadilan dan kebenaran yang baik jika kita menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, menghargai dan menyikapi sesama manusia sebagai gambar atau citra Allah. Marilah kita lihat, temukan dan imani karya Allah dalam diri manusia, yang antara lain "memberi aku ada, hidup, berdayarasa dan berpikiran" (St.Ignatius Loyola, LR no 235). Hidup dan segala sesuatu yang dimiliki, dikuasai dan
 dinikmatui
 manusia adalah anugerah Allah. Kecantikan, ketampanan, kepandaian, kecerdasan, harta benda, uang dst. adalah anugerah Allah. Jika kita mampu menghargai dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, maka hemat saya kita akan mampu menciptakan lingkungan hidup bersama yang enak, nikmat dan menarik serta mempesona, hidup bersama yang dijiwai oleh keadilan dan kebenaran. Keadilan secara konkret dapat diwujudkan oleh para pengusaha atau pemberi kerja dengan memberi imbal jasa atau gaji yang layak kepada para pegawai atau buruhnya. Maka kami berharap kepada para pengusaha atau pemberi kerja untuk sungguh adil dalam memperlakukan para pegawai atau buruhnya.

"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang." (Mzm 130:1-4)

Jakarta, 18 Maret 2011