Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 01 Juli 2011

2 Juli - Kej 27:1-5.15-19; Mat 9:14-17

"Anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula"

(Kej 27:1-5.15-19; Mat 9:14-17)

" Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?"  Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.  Tidak seorangpun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya.  Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya." (Mat 9:14-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Hati Tersuci SP Maria hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   SP Maria merupan pioneer Perjanjian Baru, pribadi yang dipilih oleh Allah dalam rangka mewujudkan janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia di seluruh dunia. Hari ini kita kenangkan hatinya yang tersuci, sehari setelah mengenangkan Hati Kudus Yesus. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita sebagai umat beriman meneladannya, antara lain dengan memperbaharui hati kita agar semakin suci. Dalam perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita masing-masing, kita telah menerima aneka siraman rohani (nasihat, tegoran, perintah, ajaran, kritik dst..), yang menurut saya berfungsi untuk memperbaharui cara hidup dan cara bertindak kita, sehingga hati kita juga semakin suci. Maka sabda Yesus agar 'anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula', hendaknya difahami dan dihayati sebagai peringatan atau ajakan bagi kita semua untuk memperbaharui diri terus menerus, senantiasa siap berubah, tentu saja berubah semakin baik, suci dan berbudi pekerti luhur, sehingga semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang abadi alias terus-menerus terjadi, tumbuh dan berkembang di dunia ini adalah perubahan, maka siapapun yang tidak siap sedia berubah pasti terlindas dan loyo. Kami berharap agar aneka sentuhan, sapaan dan perhatian dari orang lain disikapi dan dihayati sebagai kasih atau perhatian Allah, dan hendaknya tidak lewat begitu saja melalui diri kita, melainkan direnungkan dan diresapkan dalam-dalam, sehingga memperbaharui cara hidup dan cara bertindak kita. Marilah kita sebagai sahabat-sahabat Yesus, yang berarti juga menjadi putera-puteri SP Maria, meneladan ketaatan dan kesetiaan iman SP Maria, yang dijiwai dengan luapan hati tersuci, yaitu "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk 1:38). Semoga aneka perkataan saudara-saudari kita, sebagai wujud kasih sungguh terjadi dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

·   "Maka sekarang, ambilllah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati" (Kej 27:3-4), demikian kata Iskak yang telah lanjut usia, hampir mati, kepada anaknya, Esau. Apa yang dikatakan dan akan dilakukan oleh Iskak ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para orangtua maupun anak-anaknya. Anak-anak adalah rahmat atau berkat Tuhan, maka hendaknya orangtua senantiasa memberkati dengan sepenuh hati kepada anak-anaknya, mewariskan semuanya kepada anak-anak, sedangkan anak-anak hendaknya bersyukur dan berterima kasih dengan melakukan apa yang baik bagi orangtuanya. Hemat saya apa yang baik bagi orangtua, sebagaimana sering dikatakan oleh orang Jawa, yaitu "mikul dhuwur, mendhem jero asmane wong tuwo", yang berarti menjunjung tinggi dan menghormati orangtua dengan sepenuh hati, sehingga orangtua sungguh berbahagia melihat anak-anaknya. Kebahagiaan sejati orangtua hemat saya ada pada keberhasilan atau kesuksesan anak-anak, yang tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, berbudi pekerti luhur, bermoral, sehingga semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Maka dengan ini kami berharap kepada anak-anak untuk tidak mengewakan orangtua, semoga di masa tua orangtua kita masing-masing, kita sebagai anak sungguh dapat menjadi hiburan yang membahagiakan bagi orangtua. Marilah kita hayati aneka macam nasihat, petuah dan saran dari orangtua kita masing-masing, kita tanggap dambaan dan kerinduan orangtua, yang tidak lain agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa dalam iman.

"Pujilah nama Tuhan, pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, hai orang-orang yang datang melayani di rumah Tuhan, di pelataran rumah Allah kita! Pujilah Tuhan, sebab Tuhan itu baik, bermazmurlah bagi namaNya, sebab nama itu indah!" (Mzm 135:1-3)

Ign 2 Juli 2011


Kamis, 30 Juni 2011

1 Juli - HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS: Ul 7:6-11; 1Yoh 4:7-16; Mat 11:25-30

"Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai,  tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil"

HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS: Ul 7:6-11; 1Yoh 4:7-16; Mat 11:25-30


Sebut saja namanya "Netrahartana", nama samara. Ia adalah orang kaya, sarjana yang dikenal cukup bijak dan pandai dalam rangka mengelola perusahaannya, sehingga ia semakin kaya juga. Pada suatu saat ia memiliki hajat untuk menikahkan anaknya, maka ia berusaha agar peristiwa pernikahan ini sungguh mengesan dan mendapat pujian dari siapapun, mengingat dan memperhatikan ia sendiri menjadi orang yang terpandang di masyarakat. Upacara saling menerima Sakramen Perkawinan diselenggarakan di gereja katedral, penuh semarak dan gemerlapan. Mereka yang menghadiri upacara di katedral pun memenuhi gedung gereja itu, dan memang relasi-relasinya adalah orang-orang kaya dan pejabat. Tak kalah semarak dan mengagumkan pesta ramah-tamah juga diselenggarakan besar-besaran dengan menyewa gedung pertemuan yang besar full AC. Juga dihitung secara nominal dalam rupiah, kiranya tidak kurang dari satu milyard rupiah dana yang dialokasikan untuk upacara pernikahan tersebut.  Orang pandai dan bijak memang lebih mengandalkan otaknya daripada hatinya, apalagi mereka juga kaya akan harta benda atau uang, sementara itu hidup beriman atau perihal Kerajaan Allah lebih erat kaitannya pada hati daripada otak. Maka marilah dalam rangka mengenangkan pesta Hati Yesus Yang Mahakudus hari ini kita mawas diri perihal keimanan kita.

"Aku bersyukur kepadaMu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil" (Mat 11:25) 

Mereka yang tergolong atau termasuk kecil, miskin, bodoh dan berkekurangan pada ummnya lebih memiliki krterbukaan dan kerendahan hati daripada yang besar, kaya, pandai dan berlebihan, lebih-lebih ketika mereka didekati atau disapa dengan dan dalam cintakasih. Sebagai contoh adalah anak kecil/bayi atau binatang kecil/yang baru saja lahir  Anak kecil/bayi ketika didekati atau diperlakukan dalam dan oleh kasih siapapun pasti akan menyerahkan diri seutuhnya tanpa takut atau was-was. Demikian juga orang-orang miskin atau rakyat kecil ketika diminta bantuannya pasti dengan siap dan ceria menanggapinya. Orang-orang desa atau pelosok pada umumnya juga hidup dalam persaudaraan sejati, yang antara lain nampak dalam gotong-royong atau bekerja bersama membuat rumah, memperbaiki jalan dst, tanpa dibayar atau diberi imbal jasa.

Saya pribadi memiliki pengalaman yang begitu mengesan dan menyentuh, yaitu ketika ditabiskan menjadi imam. Pastor paroki saya hadir dalam tahbisan saya, dan dalam ramah-tamah ia bertanya kepada saya: "Nanti mau misa pertama di gereja paroki atau di kapel stasi anda?". "Di kapel stasi saja", jawaban saya singkat. "Kapel stasimu sedang dalam perbaikan dan belum selesai", tanggapan pastor paroki. "Tidak apa-apa", reaksi saya. Misa perdana bagi umat paroki saya akan saya laksanakan satu minggu setelah tahbisan. Suatu peristiwa yang mengesan bagi saya: umat lingkungan desa saya begitu tahu bahwa saya akan misa perdana di kapel stasi, maka seluruh umat, tua-muda, besar-kecil, bergotong-royong selama enam hari untuk menyelesaikan perbaikan kapel. Mereka kerja dari pagi sampai sore hingga selesailah perbaikan kapel tersebut. Mereka adalah buruh harian sebagai pekerjaan mereka, yang menjadi sumber nafkah sehari-hari keluarga. Maka ketika enam hari bergotong-royong berarti enam hari tak memperoleh gaji atau pendapatan, melainkan seluruh tenaga mereka persembahkan untuk perbaikan kapel. Kami merasa mereka sungguh meneladan janda miskin, yang menyerahkan seluruh nafkahnya atau pribadinya.

Kami merasa dan mengalami bahwa mereka yang kecil, miskin dan berkekurangan lebih kaya akan perhatian terhadap sesamanya, dengan kata lain hatinya lebih berperan daripada otaknya. "Marilah datang kepadaKu, mereka yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang, dan belajarlah dari padaKu, karena hatiKu lemah lembut dan rendah hati  dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat 11: 28-29), demikian sabda Yesus. Marilah sabdaNya ini kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari. Kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan lemah lembut dan rendah hati, keutamaan dasar dan utama bagi umat beriman. Ketenangan jiwa dan lemah lembut serta rendah hati bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Orang yang lemah lembut dan rendah hati akan semakin tenang jiwanya, sebaliknya orang yang tenang jiwanya akan semakin lemah lembut dan rendah hati. Marilah belajar pada Hati Yesus yang terluka atau ditusuk oleh tombak serta kemudian dari HatiNya keluar air dan darah segar, lambang  kehidupan dan keceriaan atau kebahagiaan. Bervosi atau berbakti kepada Hati Kudus Yesus berarti dari hati kita keluar apa yang menghidupkan dan menyegarkan, dan secara konkret semua sepak terjang, kesibukan atau pelayanan kita senantiasa menghidupkan dan menyegarkan orang lain. Berdevosi kepada Hati Kudus Yesus berarti hidup dengan penuh syukur dan terima kasih.      

"Saudara-saudaraku, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1Yoh 4:7-8)  

Sapaan atau peringatan dari Yohanes ini sungguh baik untuk kita renungkan dan hayati. Masing-masing dari kita diciptakan/diadakan dalam cintakasih, yaitu cinta kasih orangtua kita masing-masing, dan bapak-ibu kitapun juga saling menhayati diri sebagai kasih atau anugerah Allah, demikian juga kita yang telah dikandung dan dilahirkan oleh ibu kita masing-masing adalah buah kasih atau yang terkasih. Ajakan Yohanes di atas ini dengan mudah dapat kita hayati atau laksanakan jika masing-masing dari kita menyadari dan menghayati diri sebagai yang terkasih atau buah kasih.

Kasih kiranya berpusat dalam hati kita masing-masing, maka saling mengasihi berarti saling memperhatikan atau saling mempersembahkan isi hati masing-masing, yang secara konkret berani mencurahkan atau memboroskan waktu dan tenaga bagi yang kita kasihi. Bukankah ketika hati terluka orang menjadi lemah lesu, loyo dan frustrasi, sebaiknya ketika lukanya tertusuk oleh cintakasih, maka yang bersangkutan berbunga-bunga, ceria, bergairah, sebagai tanda bahwa Allah hidup dan berkarya dalam dirinya yang lemah dan rapuh. Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua atau bapak itu untuk tidak pelit saling memboroskan waktu dan tenaga bagi pasangannya, dan kemudian bersama-sama memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak yang telah dianugerahkan oleh Allah.    

Kami berharap juga kepada siapapun yang berpengaruh di dalam kehidupan bersama untuk dapat menjadi telah saling mengasihi, memboroskan waktu dan tenaga bagi saudara-saudarinya atau mereka yang menjadi tanggungjawabnya untuk dilayani. Ingat dan sadari bahwa melayani memang harus memboroskan waktu dan tenaga bagi yang dilayani. Secara khusus bagi berharap kepada rekan-rekan imam, bruder dan suster, yang telah berserah-setia kepada Allah, dapat menjadi teladan dalam pemborosan waktu dan tenaga bagi umat yang dilayani maupun beban pekerjaan yang diberikan oleh atasan kepada anda semua. "Allah adalah kasih", demikian peringatan Yohanes, maka sebagai orang beriman, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dipanggil untuk saling mengasihi, karena Allah mengusai dan merajai diri kita yang lemah dan rapuh ini. Hati adalah symbol kasih, maka berdevosi kepada Hati Kudus Yesus berarti saling mengasihi, sehingga dari cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa berbuah apa yang menghidupkan dan menggairahkan orang lain.

"Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah namaNya yang kudus, hai batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah melupakan segala kebaikanNya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat" (Mzm 103:1-4)

Ign 1 Juli 2011


Rabu, 29 Juni 2011

30 Juni - Kej 22:1-19; Mat 9:1-8)

"Mengapa kamu memikirkan hal jahat di dalam hatimu?"

(Kej 22:1-19; Mat 9:1-8)

" Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri.  Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni."  Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: "Ia menghujat Allah."  Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: "Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" --lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu--:"Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" Dan orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia." (Mat 9:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Irihati memang dapat berbuahkan pikiran jahat dalam hati, itulah yang terjadi dalam diri ahli-ahli Taurat ketika Yesus menyembuhkan orang lumpuh dengan mengampuni dosanya. Para ahli Taurat kiranya tak mampu melakukan hal itu, maka dalam hati mereka menuduh Yesus 'menghujat Allah', karena mereka juga tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Baiklah kami mengajak kita semua untuk mawas diri apakah kita juga sering berpikiran jahat ketika ada orang melakukan apa yang baik, sementara kita sendiri malas melakukannya. Yesus datang ke dunia untuk mengampuni dosa manusia, maka marilah kita, yang beriman kepadaNya, meneladanNya. Jika masing-masing dari kita dengan jujur mawas diri kiranya akan mengetahui dan menyadari bahwa kita adalah pendosa yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita, terutama orangtua kita masing-masing. Ketika kita bersalah dibiarkan saja alias diampuni, maka selayaknya kita kemudian memuliakan Allah sebagaimana dilakukan orang banyak setelah melihat si lumpuh dapat berjalan karena kasih pengampunan Allah. Kasih pengampunan memang dapat membuat mereka yang lumpuh dapat berjalan normal. Marilah lumpuh ini tidak hanya kita fahami sacara phisik melulu, tetapi juga secara social, emosional maupun spiritual,  misalnya mereka yang lesu, loyo, frustrasi, takut, ragu-ragu dst..  Hemat saya mereka menjadi demikian itu karena kurang kasih pengampunan, maka marilah kita salurkan kasih pengampunan Allah kepada mereka itu. Ingatlah dan sadari bahwa tanaman atau binatang dapat hidup, tumbuh dan berkembang karena perawatan atau pemeliharaan yang dijiwai oleh kasih pengampunan, maka selayaknya kita saling merawat dan memelihara dengan kasih pengampunan juga agar kita semua dapat berjalan normal, artinya fungsional dan optimal dalam lingkungan hidup sesuai dengan kemampuan, keterampilan, kesempatan dan kemungkinan yang ada.

·   "Jangan kau bunuh anak itu, dan jangan apa-apakan dia,  sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaKu" (Kej 22:12), demikian kata malaikat, utusan Allah, kepada Abraham, bapa umat beriman Anak adalah anugerah Allah, maka selayaknya kemudian dipersembahkan kembali kepada Allah, sesuai dengan kehendak Allah, itulah iman Abraham. Marilah kita meneladan bapa Abraham. Mungkin kita tidak akan menerima perintah Allah sebagaimana diperintahkan kepada Abraham, maka baiklah saya mengajak anda semua, khususnya para bapak-ibu atau orangtua, untuk 'mempersembahkan anak yang dianugerahkan Allah kepada Allah'. Secara konkret hal itu antara lain berarti hendaknya anak-anak dibina dan dididik agar tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, berbudi pekerti luhur, unggul dalam kehidupan moral. Akan menjadi apakah anak nanti ketika dewasa terserah kepada kehendak Allah atau panggilan Allah, dan sekiranya mereka terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, hendaknya dengan rela dan tulus hati mendukungnya sebagaimana dilakukan oleh Abraham. Sekiranya ia mau hidup berkeluarga, dukunglah agar menjadi suami-isteri yang senantiasa berbakti kepada Allah. Ingatlah dan hayati bahwa anak diciptakan atau diadakan dalam dan oleh kasih serta kebebasan, maka hendaknya anak dididik dan didampingi terus menerus dalam kasih dan kebebasan, maka kami berharap para orangtua tidak dengan mudah memproyeksikan diri begitu saja kepada anak-anaknya, artinya orangtua sebagai pedagang atau pengusaha, maka anak-anak kelak juga harus menjadi pedagang atau pengusaha, dst..  Yang penting dan utama anak-anak kita didik dan bina sebaik mungkin, akan menjadi apakah mereka nanti terserah kepada kehendak Allah.

"Allah kita di sorga, Ia melakukan apa yang dikehendakiNya. Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia" (Mzm 115:3-4)

Ign 30 Juni 2011