Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 13 Agustus 2011

14 Agustus

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu"

HR SP MARIA DIANGKAT KE SURGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a.10b; 1Kor 15:20-26; Luk 1:39-56



"Akhirnya Perawan tak bernoda yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surge beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut(LG 59). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain" (Katekismus Gereja Katolik no 966). Devosi kepada SP Maria dalam kehidupan umat Katolik sungguh marak, misalnya berdoa rosario, yang dengan mudah didoakan kapan saja dan dimana saja. Tempat-tempat peziarahan kepada SP Maria ramai didatangi oleh umat, entah secara pribadi atau rombongan. Maka baiklah pada hari raya SP Maria diangkat ke surga hari ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri perihal devosi kita kepada SP Maria, yang oleh Gereja juga diimani sebagai teladan hidup beriman.

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.  Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku"(Luk 1:42-43)

Rekan-rekan perempuan pada umumnya memang mendatangkan berkat atau anugerah, entah hal itu terjadi secara tidak baik, yang berarti bukan anugerah yang benar, atau secara baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang tidak baik, misalnya secara materialistis, yaitu perempuan yang melacurkan diri; ia menerima uang cukup besar dan ada beberapa orang yang terkait dengan perannya sebagai pelacur juga menerima atau memperoleh uang. Dengan kata lain rekan perempuan sering terjebak untuk dikomersielkan, semakin cantik dan seksi semakin tinggi atau mahal harganya, begitulah yang sering saya dengar atau baca melalui aneka macam media massa. Tentu saja kami berharap kepada rekan-rekan perempuan untuk menjadi berkat atau anugerah yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan bagi sesamanya dimanapun dan kapanpun.

Bentuk anugerah atau berkat macam apa yang kami harapkan? Rekan-rekan perempuan memiliki rahim, dan di dalam rahim juga tumbuh berkembang buah kasih dalam dan oleh kasih; dari rahim lahirlah yang terkasih, yang menggembirakan serta menggairahkan. Hal itu terjadi secara phisik. Semoga apa yang terjadi secara phisik tersebut menjiwai cara hidup dan cara bertindak rekan-rekan perempuan, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya dimanapun dan kapanpun 'melahirkan kasih' alias menggembirakan dan menggairahkan secara sejati, bukan sandiwara. Maka kami berharap rekan-rekan perempuan sungguh cantik dan manis di dalam hati, jiwa dan akal budi, meskipun tidak dalam hal phisik.

Marilah sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita meneladan SP Maria, yang kedatangannya kepada saudariNya, Elisabeth, mendorong dan memotivasi Elisabeth merasa memperoleh berkat luar biasa, sehingga ia berkata "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku". SP Maria, yang sedang mengandung Penyelamat Dunia, telah menunjukkan atau memperlihatkan sikap mental mewartakan kabar baik, yaitu 'mengunjungi atau mendatangi saudaranya'. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk saling mengunjungi atau mendatangi, entah secara phisik atau spiritual. Secara phisik berarti seperti SP Maria: berjalan kaki cukup jauh, naik turun turun pegunungan, untuk menyapa secara langsung saudara-saudari kita, sedangkan secara phisik marilah kita saling mendoakan satu sama lain, berdoa dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Biarlah kedatangan atau kunjungan kita mendorong dan memotivasi yang kita kunjungi berkata seperti Elisabeth "Siapakah aku ini sehingga saudaraku mengujungi aku', karena sungguh merasa diberkati atau dianugerahi. Dengan kata lain kita semua juga dipanggil untuk berusaha hidup suci seperti SP Maria. Suci berarti senantiasa mengarahkan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dengan senantiasa berbuat baik kepada saudara-saudari kita, melakukan apa yang membahagiakan dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa. Selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini.

"Yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus" (1Kor 15:21-22)

"Terangkatnya Perawan tersuci ke surga adalah antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain", demikian sebagaimana tertulis dalam Katekismus Gereja Katolik di atas. Sebagai orang Kristen, orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita semua mendambakan "dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus", setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan alias hidup mulia dan berbahagia selamanya di surga.  Hidup mulia dan berbahagia tersebut pada masa kini kiranya sudah dapat kita nikmati dalam harapan, maka marilah kita usahakan dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan.

"Iman, harapan dan cintakasih", itulah tiga keutaman utama dan yang terbesar adalah cintakasih, maka marilah kita hidup saling mengasihi dijiwai oleh iman dan harapan. Dijiwai oleh iman berarti kasih harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku, sedangkan dijiwai oleh harapan berarti dalam saling mengasihi dengan penuh gairah, semangat dan ceria. "Cintakasih harus lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada diungkapkan dalam kata-kata" (St.Ignatius Loyola, LR no 230). Yesus Kristus adalah cintakasih Allah yang terbesar, yang dianugerahkan kepada kita yang beriman kepadaNya, agar kita senantiasa bersekutu denganNya kapanpun dan dimanapun. Maka marilah kita wujudkan persekutuan kita dengan Yesus Kristus dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Mat 5:44), demikian sabdaNya, yang juga telah Ia hayati dalam rangka melaksanakan tugas pengutusanNya. Di puncak penderitaanNya di kayu salib Ia mengasihi mereka yang menyalibkanNya atau memusuhi dengan berdoa "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:34). Jika kita sungguh mendambakan untuk hidup mulia, damai sejahtera dan selamat selamanya setelah dipanggil Tuhan, maka marilah kita hayati sabda Yesus di atas serta meneladanNya dalam mendoakan mereka yang telah menyakitiNya atau menyalibkanNya. Jika secara phisik tak mungkin kita mengasihi dan mengampuni mereka yang telah menyakiti atau membuat kita menderita, marilah kita doakan.

Di muka telah saya katakan bahwa hendaknya kita sering mengunjungi saudara-saudari kita, antara lain dengan mendoakan mereka, maka marilah  secara khusus kita doakan "mereka yang telah menganiaya kamu". Hendaknya kita sadari dan hayati bahwa mereka yang menganiaya kita belum tentu bersalah alias belum tentu bermaksud menganiaya kita, namun karena keterbatasan atau ketidaktahuan mereka sehingga apa yang mereka katakan atau lakukan kita rasakan sebagai menyakiti atau menganiaya kita. Kita semua kiranya memiliki pengalaman mengampuni dan mendoakan mereka yang menyakiti atau menyalahi kita, yaitu sikap dan tindakan kita terhadap anak-anak kecil atau bayi, yang senantiasa merepotkan dan mengganggu kita.  Hendaknya pengalaman tersebut terus menerus diperkembangkan dan diperdalam dalam hal sikap dan tindakan kita terhadap saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun.

"Di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu" (Mzm 45:10-12a)

Ign 14 Agustus 2011


15 Agustus


"Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

(Hak 2:11-19; Mat 19:16-22)

" Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya" (Mat 19:16-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Semua orang beriman atau beragama kiranya mendambakan setelah dipanggil Tuhan alias meninggal dunia akan menikmati hidup kekal dan berbahagia selamanya di surga bersama dengan Allah, dan untuk itu selama hidup di dunia ini diharapkan 'hidup sempurna'. "Jikalau engkau hendak sempurna, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin", demikian sabda Yesus. Secara harafiah sabda ini kiranya tak ada seorangpun yang sanggup melakukannya. Maksud sabda ini antara lain adalah jika kita mendambakan hidup mulia, selamat dan berbahagia selamanya setelah meninggal dunia atau 'hidup sempurna' selama di dunia ini, hendaknya menghayati dan memfungsikan apapun yang kita miliki atau kuasai pada saat ini sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu sebagai sarana untuk mengusahakan keselamatan jiwa, baik jiwa kita sendiri maupun jiwa orang lain. Dengan kata lain keselamatan jiwa manusia hendaknya senantiasa menjadi acuan, pedoman atau tujuan dari segala usaha dan sepak terjang kita, segala kesibukan serta cara hidup dan cara bertindak kita. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang untuk dengan jiwa besar dan hati rela berkorban memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan dalam lingkungan hidupnya. Kepada para pengusaha yang mempekerjakan aneka orang dalam usahanya kami harapkan memberi jaminan sosial yang memadai, tidak hanya berpedoman pada UMP atau UMR saja. Secara umum kami berharap agar kita setia pada aneka tata tertib yang berlaku dalam hidup, panggilan dan tugas kita masing-masing serta tidak melakukan korupsi sedikitpun. Marilah kita semua berusaha untuk hidup sederhana, tidak berfoya-foya. Marilah meneladan Yesus, yang walaupun kaya telah memiskinkan diri demi keselamatan seluruh bangsa manusia di dunia.

·   "Apabila hakim itu mati, kembalilah mereka berlaku jahat, lebih jahat dari nenek moyang mereka, dengan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya; dalam hal apa pun mereka tidak berhenti dengan perbuatan dan kelakuan mereka yang tegar itu" (Hak 2:19). Hakim adalah utusan Allah untuk mengingatkan umat agar tidak berbuat jahat serta mengajak mereka untuk senantiasa beribadah kepada Allah. Dengan kata lain hakim adalah pembawa dan pejuang kebenaran. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak para hakim untuk tidak takut membawa dan memperjuangkan kebenaran. Hendaknya para hakim tidak menghayati rumor ini "Hubungi Aku Kalau Ingin Menang"; maklum tidak sedikit hakim di Indonesia menghayati rumor tersebut dalam melaksanakan tugas pengutusannya, karena takut diancam mati atau digeser dari jabatannya. Sikap mental materialistis menjiwai banyak orang, lebih-lebih orang kaya, yaitu ketika terlibat dalam masalah hukum, mereka cenderung untuk menang dengan membayar sebanyak-banyaknya kepada hakim. Tak ketinggalan juga ada jaksa untuk memalsukan kebenaran. Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dididik dan dibina sebagai pembela dan pejuang kebenaran, dan untuk itu hendaknya orangtua dapat menjadi teladan kebenaran. Jauhilah sikap mental materialistis, dimana harta benda atau uang menjadi 'tuan' alias yang menentukan dan mengarahkan cara hidup dan cara bertindak kita. Harta benda atau uang memang perlu untuk hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita, dan untuk itu hendaknya difungsikan sesuai pedoman 'intentio dantis' (=maksud pemberi), dan tentu saja pemberian yang bermaksud jahat harus ditolak.

"Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka, tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja. Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka. Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat," (Mzm 106:34-37)

Ign 15 Agustus 2011


13 Agustus


"Janganlah menghalangi mereka datang kepadaKu"

(Yos 24:14-29; Mat 19:13-15)

" Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga." Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ" (Mat 19:13-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang merasa terganggu atas kehadiran anak-anak kecil dalam suatu pertemuan, padahal mereka juga pernah menjadi anak-anak kecil, misalnya pastor marah-marah ketika dalam ibadat atau perayaan ekaristi ada anak kecil menangis atau berlari-lari di tempat ibadah. Anak-anak kecil memang dinamis dan ada kemungkinan nakal atau merepotkan orang-orang dewasa, sebagaimana terjadi  di antara para muridNya yang memarahi orang-orang yang membawa anak kccil datang menghadap Yesus agar Yesus meletakkan tanganNya atas anak-anak tersebut. Saya juga pernah mengingatkan dan menegor dewan paroki di suatu paroki, yang katanya pastor paroki maupun tempat ibadat/gedung gereja 'terganggu' dengan lalu lalang anak-anak TK dan SD, yang kebetulan sekolah yang bersangkutan menjadi satu komplek dengan pastoran dan gedung gereja. Saya ingatkan mereka jika anak-anak dilarang mendekati pastor maupun masuk/mampir di gereja menjelang atau usai sekolah, maka tidak akan pernah ada anak-anak yang tertarik untuk menjadi pastor maupun aktivis paroki  di masa depan. "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga", demikian sabda Yesus. Anak-anak kecil adalah lebih suci daripada orang dewasa atau orangtua; tidak mengasihi dan memperhatikan anak-anak kecil agar 'datang kepada Tuhan' berarti bunuh diri pelan-pelan. Anak-anak kecil adalah masa depan kita, orang dewasa, maka tidak mengasihi dan memperhatikan mereka berarti kita tidak memiliki masa depan. Marilah meneladan Yesus dengan 'meletakkan tangan kita' atas anak-anak dalam dan dengan kasih serta rendah hati. Kami berharap para orangtua sungguh mendidik dan membina anak-anak agar tumbuh berkembang sebagai pribadi  cerdas beriman.

·    "Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan." (Yos 24:24), demikian jawaban seluruh bangsa terpilih, yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji,   menanggapi ajakan Yosua. Hendaknya jawaban ini juga menjadi pilihan cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang beriman atau beragama. Beribadah berarti mengarahkan hati sepenuhnya kepada Allah, sebagaimana sering kita hayati selama berpartisipasi dalam ibadat atau perayaan ekaristi.  Namun baiklah saya mengajak kita semua untuk menghayati kerja atau tugas bagaikan beribadah alias bersama dan bersatu dengan Allah terus menerus dalam hidup sehari-hari. Pemimpin biara kontemplatif suster-suster di Gedono, Salatiga, Jawa Tengah pernah mengatakan bahwa para suster berrekreasi sepanjang hari, tetapi berrekreasi bersama dengan Allah. Menghayati tugas atau kerja bagaikan ibadah, berarti rekan kerja atau tugas bagaikan rekan ibadah, tempat tugas atau kerja bagaikan tempat ibadah, suasana tugas atau kerja bagaikan suasana ibadah, merawat sarana tugas atau sarana kerja bagaikan sarana ibadah, dst… Salah satu sikap yang utama dan terutama untuk itu adalah rendah hati, agar dapat beribadah dengan baik serta menderngarkan firman Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh. Firman Allah hendaknya didengarkan dengan rendah hati; firman Allah antara lain terwujud dalam aneka kehendak baik saudara-saudari kita, maka marilah saling mendengarkan dan menanggapi dengan rendah hati. Tak lupa kami ingatkan juga untuk mendengarkan kehendak baik anak-anak kita untuk ditanggapi. Secara khusus kami berharap ketika anak-anak ada yang tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster, kami harapkan orangtua dengan rela hati mendukung dan mengizinkannya, mengingat dan memperhatikan jumlah imam, bruder atau suster pada masa kini semakin merosot. Tentu saja kepada para imam, bruder dan suster kami harapkan juga hidup dan bertindak dengan rendah hati serta 'mendengarkan anak-anak', agar mereka tergerak mengikuti panggilan anda.

"Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada TUHAN: "Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku." (Mzm 16:1-2a.5)

Ign 13 Agustus 2011