Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 26 Agustus 2011

Minggu Biasa XXII - Yer 20:7-9; Rm 12:1-2; Mat 16:21-27


Mg Biasa XXII: Yer 20:7-9; Rm 12:1-2; Mat 16:21-27
"Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang
dipikirkan manusia."

Menjelang ditahbiskan menjadi imam, kami, para frater yang akan
ditahbiskan, dipanggil satu persatu oleh Provinsial, pembesar kami,
untuk diberi tahu perihal tugas yang harus kami emban setelah
ditahbiskan. Waktu itu saya menerima tugas untuk menjadi Direktur
Perkumpulan Strada dan pater Unit di Jakarta. Mendengar penugasan
tersebut saya dengan rendah hati bertanya kepada Provinsial
sbb."Tugas-tugasnya apa saja Romo". "Tugasnya…, ya nanti lihat saja",
demikian jawaban Provinsial. Mendengar jawaban tersebut saya tak
berani bertanya lagi, karena sedikit banyak saya tahu apa arti atau
makna 'melihat'. Perihal 'melihat' telah kami renungkan dan dalami
ketika sedang berkontemplasi, dimana kami diajak untuk melihat karya
penciptaan Allah dengan mata hati, jiwa dan akal budi, tidak hanya
mata phisik saja. Ketika saya dapat sungguh melihat maka memang di
hadapan saya terbentang di satu sisi keindahan yang luar biasa dan di
sisi lain adalah perkara atau masalah yang besar juga. Ada rasa kagum
sekaligus takut. Kiranya pengalaman macam itulah yang terjadi dalam
diri para rasul, ketika Yesus mengajak mereka untuk pergi ke
Yerusalem, kota suci, kota idaman, untuk " menanggung banyak
penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga" (Mat 16:21), sehingga
Petrus menegorNya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu
sekali-kali takkan menimpa Engkau."(Mat 16:22). Menanggapi tegoran
tersebut Yesus bersabda : "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan
bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia."(Mat 16:23). Sabda Yesus kepada
Petrus ini kiranya juga terarah kepada kita semua yang beriman
kepadaNya, maka marilah kita renungkan atau refleksikan.
"Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau
bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang
dipikirkan manusia." (Mat 16:23)
Sikap mental materialistis pada masa kini menjiwai banyak orang,
sehingga mereka lebih memikirkan apa yang dipikirkan manusia daripada
yang dipikirkan Allah. Yang dipikirkan manusia pada umumnya hanya cari
enak atau kenikmatan duniawi atau manusiawi, seperti kenikmatan
seksual, makan, minum dan tidur, tidak sampai pada kenikmatan ilahi
atau spiritual. Dalam psikologi agama mereka boleh dikatakan hidup dan
bertindak pada taraf psikofisik atau psikososial dan belum sampai pada
psiko-spiritual. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk
hidup dan bertindak sampai dengan taraf spiritual-rational.
"Dalam taraf ini (=spiritual-rational) nampak ciri khas manusia yang
mampu berpikir, menggunakan penalaran untuk mempertimbangkan, menilai
dan melangkah lebih dari apa yang dapat dirasa oleh pancaindera,
misalnya berkhayal, membuat abstraksi, merumus konsep-konsep abstrak
tentang hal-hal konkret…., maka taraf spiritual-rational ini
memungkinkan kita sampai pada pemahaman arti baru dan lebih mendalam,
bahkan corak adikodrati" (Sr.Joyce Ridick SSC.Ph D: KAUL, Harta
Melimpah dalam bejana tanah liat, Penerbit Kanisius 1987, hal 36-37).
Dalam Warta Gembira hari ini kita diajak untuk memahami arti baru dan
lebih mendalam tentang 'penderitaan'. Orang sering menilai penderitaan
sebagai hukuman dari Allah karena dosa-dosa atau kejahatannya. Memang
penderitaan memiliki dua arti: penderitaan yang muncul karena dosa
atau kelalaian/kesambalewaan kita boleh dikatakan sebagai hukuman
Allah, namun penderitaan yang muncul atau lahir dari ketaatan dan
kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan
atau kebahagiaan sejati.
"Pergi ke Yerusalem"  bagi Yesus berarti untuk memenuhi panggilan dan
tugas pengutusan sebagai Penyelamat Dunia dengan menderita sengsara
dan wafat di kayu salib, sedangkan bagi kita semua dapat berarti
pemenuhan harapan, dambaan, cita-cita atau panggilan dan tugas
pengutusan kita masing-masing, dan untuk itu memang tak akan terlepas
dari aneka macam bentuk penderitaan. Marilah kita hadapi dan sikapi
aneka bentuk penderitaan yang lahir dari kesetiaan dan ketaatan kita
pada panggilan dan tugas pengutusan sebagai jalan keselamatan dan
kebahagiaan kita sendiri maupun saudara-saudari kita, maka hendaknya
jangan dihindari atau disingkiri, melainkan hadapi bersama dengan
bantuan rahmat Allah, yang menjadi nyata dalam aneka bantuan dan
kebaikan saudara-saudari kita. Selanjutnya marilah kita renungkan
peringatan Paulus kepada umat di Roma, di bawah ini.
"Saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya
kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak
Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna"
(Rm 12:1-2)
"Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan
yang berkenan kepada Allah", inilah yang hendaknya kita renungkan atau
refleksikan serta kemudian kita hayati. Pertama-tama marilah kita jaga
dan rawat seluruh anggota tubuh kita dalam keadaan kudus alias tak
tercela. Untuk itu fungsikan pancaindera guna melakukan apa yang baik
dan bermoral atau berbudi pekerti luhur, bukan untuk berbuat jahat;
demikian juga fungsikan semua anggota tubuh untuk melakukan apa yang
baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Hendaknya dengan anggota
tubuh anda jangan menyakiti atau melecehkan orang lain, apalagi
menjual diri dengan melacurkan diri demi kenikmatan seksual atau uang.
Tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka semua gerak tubuh hendaknya
sesuai dengan dorongan atau bisikan Roh Kudus, antara lain untuk
memuji, menghormati, memuliakan dan mengabdi Allah melalui
ciptaan-ciptaanNya, terutama manusia, sebagai ciptaan terluhur dan
termulia di dunia ini, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra
Allah.
"Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan
kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas
permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam
mengejar tujuan ia diciptakan" (St.Ignatius Loyola, LR no 23).
Ciptaan-ciptaan lain di bumi ini selain tergantung pada Tuhan juga
tergantung pada manusia. Oleh Tuhan semuanya diciptakan baik adanya,
maka jika terjadi kerusakan berarti hal itu karena perilaku manusia.
Menjaga dan merawat anggota tubuh tetap kudus dan baik berarti
memfungikannya untuk menjaga dan merawat ciptaan-ciptaan lain tetap
baik adanya, sebagai mana telah diciptakan oleh Tuhan. Namun kita
semuanya tahu bahwa karena keserakahan sementara orang maka
ciptaan-ciptaan Tuhan di bumi ini, termasuk manusia, telah rusak, yang
kemudian berdampak pada pencemaran tubuh manusia sendiri.
"Kemiskinan yang semakin meluas, rusaknya lingkungan hidup serta
memudarnya persaudaraan sejati karena radikalisme" itulah kiranya yang
menjadi keprihatinan kita masa kini, sebagaimana telah didalami oleh
rekan-rekan Yesuit di Indonesia selama pembelajaran bersama sepajang
tahun 2010 yang lalu. Salah satu dampak kemiskinan antara lain orang
menjual diri menjadi pelacur alias mencemarkan tubuhnya, kerusakan
lingkungan hidup juga mencemarkan tubuh manusia, yaitu dengan
munculnya aneka penyakit, demikian juga memudarnya persaudaraan sejati
menimbulkan tawuran atau perkelahaian, yang pada gilirannya sungguh
merusak anggota tubuh manusia. Maka marilah kita perangi atau berantas
kemiskinan, kita jaga dan rawat lingkungan hidup sehingga nikmat dan
enak ditempati, serta kita bangun dan perdalam persaudaraan sejati.
"Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus
kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan
tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat
kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih
setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan
Engkau.Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan
tanganku demi nama-Mu
.Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir
yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji" (Mzm 63:2-6)
Ign 28 Agustus 2011

27Agt


"Yesus menyerahkannya kepada ibunya"
(Sir 26:1-4.16-21; Luk 7:11-17)

" Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain.
Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak
menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota,
ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya
yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.
Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas
kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: "Jangan menangis!" Sambil
menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung
berhenti, Ia berkata: "Hai anak muda, Aku berkata kepadamu,
bangkitlah!" Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai
berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu
ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: "Seorang nabi
besar telah muncul di tengah-tengah kita," dan "Allah telah melawat
umat-Nya." Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di
seluruh daerah sekitarnya." (Luk 7:11-17), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan St Monika
hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       "Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi
tak harap kembali, bagaikan sang surya menyinari dunia", demikian
syair sebuah lagu, yang menggambarkan kasih seorang ibu kepada
anaknya. Isi syair di atas ini kiranya juga menggambarkan kasih janda
sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini, yang menangisi
anaknya, yang telah meninggal dunia, maupun St.Monika yang kita
kenangkan hari ini. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan St.Monika
hari ini secara khusus pertama-tama saya mengajak para ibu untuk mawas
diri dalam rangka mengasihi dan mendidik anak-anaknya. Anak-anak
selama kurang lebih sembilan bulan tumbuh berkembang dalam dan oleh
kasih di dalam rahim ibu, yang akhirnya dilahirkan dalam kasih juga.
Anak adalah buah kasih, kerjasama Allah dengan manusia serta kerjasama
antar suami-isteri yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap
jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh. Rekan-rekan ibu/perempuan
memiliki rahim dan didalam rahim tumbuh berkembang yang terkasih. Kata
rahim dapat menjadi kerahiman yang berarti belas kasih. Maka kami
berharap para ibu mendidik dan mendampingi anak-anak dalam dan oleh
belas kasih. St.Monika dalam dan oleh kasih serta doa-doanya telah
berhasil mendidik Agustinus anaknya, yang kurang ajar menjadi cerdas
spiritual, berbudi pekerti luhur. Kami berharap para ibu meneladan
St.Monika: kerja keras dalam dan oleh kasih serta doa mendampingi dan
mendidik anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah. Moga-moga karena
pendampingan ibu yang demikian itu juga ada kemungkinan salah seorang
anaknya meneladan Agustinus, yaitu terpanggil menjadi imam, bruder
atau suster.
•       "Berbahagialah suami dari isteri yang baik, dan panjang umurnya akan
berlipat ganda. Isteri berbudi menggembirakan suaminya, yang dengan
tenteram akan menggenapi umurnya. Isteri yang baik adalah bagian yang
baik, yang dianugerahkan kepada orang yang takut akan Tuhan. Entah
kaya, entah miskin giranglah hatinya, dan selalu rianglah roman
mukanya."(Sir 26:1-4). Selain berhasil mendidik Agustinus, anaknya,
St.Monika juga berhasil mempertobatkan suaminya dari cara hidup dan
cara bertindak yang amburadul dan tak bermoral menjadi baik, teratur
dan berbudi pekerti luhur. Maka sekali lagi kutipan di atas ini
hendaknya secara khusus menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi
para isteri. Para isteri diharapkan berbudi pekerti luhur, baik dan
senantiasa bergirang, entah kaya atau miskin. Dalam sejarah karya
penyelamatan maupun sejarah hidup bermasyarkat, berbangsa dan
bernegara, kiranya peran isteri atau perempuan sungguh berpengaruh
atau bahan dominan. Sebagai contoh: Hawa terjebak oleh godaan setan
lalu menjebak juga Adam, para isteri pejabat pada umumnya begitu
mempengaruhi suaminya yang memiliki jabatan atau kedudukan tertentu
(ada yang berpengaruh baik, tetapi ada yang tidak baik antara lain
korupsi), iklan-iklan para pengusaha pada umumnya menawarkan usahanya
melalui gadis-gadis cantik, entah berupa gambar atau manusia hidup,
dst.. Kami berharap semoga para isteri mempengaruhi suaminya agar
hidup dan bertindak baik, untuk itu hendaknya dalam mengatur atau
mengurus kebutuhan rumah tangga sesederhana mungkin, tidak
berfoya-foya atau pamer aneka macam assesori yang dapat mengundang
pencuri. Tak kalah penting adalah dalam mendidik anak-anak, karena
pada umumnya para isteri lebih memiliki waktu dan tenaga banyak atau
kesempatan dan kesempatan mendampingi anak-anak daripada suami. Kami
berharap dalam mendidik dan mendampingi anak sedemikian rupa sehingga
anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman seperti
Agustinus. Jauhkan aneka bentuk pemanjaan pada anak-anak, bina dan
didiklah anak-anak agar kelak mereka menjadi 'man/ woman for/with
others'.
"Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya!
Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung
bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk
menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan
bangsa-bangsa dengan kebenaran" (Mzm 98:7-9)
Ign 27 Agustus 2011

Kamis, 25 Agustus 2011

26Agt


"Berjagalah sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya"
(1Tes 4:1-8; Mat 25:1-13)

 "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang
mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di
antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa
pelitanya, tetapi tidak membawa minyak,sedangkan gadis-gadis yang
bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli
mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga,
mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam
terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia!
Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.
Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana:
Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir
padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak
cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual
minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk
membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia
masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu
ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata:
Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu,
berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
(Mat 25:1-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Menunggu kedatangan seseorang yang tidak jelas waktunya memang dapat
melelahkan, sehingga orang mudah tertidur pulas. Hidup kita pada masa
kini bagaikan menunggu sesuatu, yaitu kematian kita, dengan kata lain
hidup ini hemat saya bagaikan persiapan atau saat-saat menantikan
kematian. Orang yang sedang bersiap-siap pada umumnya memang juga
bekerja keras. Sabda hari ini kiranya berbicara perihal kematian,
dimana masing-masing dari kita, sebagai orang yang sungguh beriman,
tak tahu kapan akan mati atau dipanggil Tuhan. Sebaliknya jika tak
beriman pada umumnya orang tahu kapan matinya, yaitu dengan bunuh
diri. Karena kematian tidak dapat kita duga waktunya, maka marilah
kita berusaha senantiasa siap siaga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan.
Untuk itu kita diharapkan hidup dan bertindak bersama atau bersatu
dengan Tuhan terus-menerus alias hidup baik, bermoral dan berbudi
pekerti luhur. Secara konkret antara lain hal itu dapat kita wujudkan
dengan mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan
hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, dan tentu
saja sebagai orang yang telah dibaptis kami mengajak kita semua untuk
setia pada janji baptis. Saya ingin mengangkat sisi negatif janji
baptis, yaitu 'menolak semua godaan setan' dalam hidup sehari-hari.
Godaan setan merongrong kita agar semakin menjauhi Tuhan dan hidup
seenaknya sesuai dengan selera pribadi atau keinginan pribadi,
sehingga cara hidup dan cara bertindak kita berpedoman pada 'like and
dislike' atau suka dan tidak suka, bukan baik dan buruk. Marilah kita
nyalakan terus api cintakasih kita kepada Tuhan dan saudara-saudari
kita di dalam hidup sehari-hari. Marilah dengan sepenuh hati kita
hayati kehendak Tuhan.
•       "Inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi
percabulan,supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan
menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan
penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat
oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, dan supaya dalam hal-hal
ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau
memperdayakannya. "(1Tes 4:3-6a). Hidup hanya mengikuti hawa nafsu
atau melakukan percabulan berarti 'memperlakukan saudaranya dengan
tidak baik atau memperdayakannya' alias membuat orang lain sebagai
obyek bukan subyek. Peringatan Paulus kepada umat di Tesalonika ini
hemat saya pertama-tama dan terutama hendaknya dihayati oleh
suami-isteri serta anak-anaknya. Maklum, sejauh saya dengar di dalam
keluarga atau relasi antar suami-isteri sering terjadi pemerdayaan
atau pemerkosaan, pemaksaan sebagai luapan hawa nafsu yang tak
terkendalikan. Hubungan seksual antar suami-isteri sebagai wujud
saling mengasihi dapat menjadi pemerkosaan jika dilaksanakan karena
keterpaksaan, yang dampaknya semakin mengaburkan makna atau arti
cintakasih. Orangtua sering juga begitu keras dalam mendidik dan
mengarahkan anak-anak, sehingga muncul kebencian dalam diri anak
terhadap orangtuanya. Cintakasih senantiasa membebaskan, membahagiakan
dan menyelamatkan serta menggairahkan hidup untuk lebih saling
mengasihi. Kami berharap di dalam keluarga tidak terjadi kekerasan
atau pelecehan harkat martabat manusia. Jangan penjarakan anak dengan
aneka macam sarana-prasarana seperti peralatan eletronik, sehingga
anak kurang bergaul dengan sesamanya. Jauhkan semangat "ASRI" = Asyik
Sibuk Sendiri.
"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau
bersukacita!Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum
adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di
hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi.Langit memberitakan
keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Mzm
97:1-2.5-6)
Ign 26 Agustus 2011