Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 09 Desember 2011

Minggu Adven III

"Aku membaptis dengan air"
Mg Adven III: Yes 61:1-2a.10-11; 1Tes 5:16-24; Yoh 1:6-8.19-28
Pada Hari Minggu Adven III ini kepada kita ditampilkan tokoh Yohanes Pembaptis yang bertugas untuk mempersiapkan bangsanya atau  saudara-saudarinya dalam rangka menyambut kedatangan Penyelamat Dunia. Selain mengajar ia juga tampil di sungai Yordan untuk membaptis mereka yang percaya kepada pengajaran atau pewartaanya, namun baptisan Yohanes hanya dengan air belum dengan dan dalam Roh. Dengan kata lain ia mempersiapkan fisik umatnya agar dalam keadaan bersih, sehingga kemudian juga siap sedia untuk menerima baptisan dalam dan oleh Roh yang akan disampaikan oleh Yesus, Penyelamat Dunia. Kita yang beriman kepada Penyelamat Dunia kiranya dipanggil untuk meneladan Yohanes Pembaptis, "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak" (Yoh 1:26-27). Maka marilah kita renungkan dan kenakan kata-kata di atas ini pada diri kita masing-masing.
"Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak" (Yoh 1:26-27)
Air merupakan salah satu kebutuhan pokok atau utama bagi kita umat manusia, maupun ciptaan-ciptaan lainnya seperti binatang dan tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Air juga merupakan sarana penyalur tenaga listrik yang paling handal dan baik. Seorang ahli kesehatan pendamping para olahragawan dan olahragawati pernah mengatakan bahwa sebelum olahraga hendaknya minum air putih secukupnya, demikian juga selama berolahraga merasa haus hendaknya cukup  minum air putih. Air juga berfungsi untuk membersihkan, misalnya untuk mandi, mencuci alat-alat makan dan minum ataupun aneka jenis pakaian dan barang. Sebagian besar tubuh kita juga terdiri dari air.
Kita semua, yang beriman kepada Yesus Kristus, dipanggil untuk mempersiapkan diri kita maupun saudara-saudari kita dalam menyonsong kedatangan Penyelamat Dunia dengan mengadakan gerakan pembesihan atau penyucian diri, tentu saja tidak hanya secara phisik, tetapi terutama dan pertama-tama adalah secara spiritual atau rohani. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal janji-janji yang pernah kita ikrarkan misalnya janji baptis, janji perkawinan, janji imamat atau kaul-kaul seperti kaul hidup bakti atau membiara. Dari janji-janji tersebut kita yang sama dan mendasari adalah janji baptis.
Ketika kita dibaptis, entah baptis dewasa atau bayi (yang berarti diwakili oleh orangtua dan bapak atau ibu baptis kita), kita berjanji hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak godaan setan, dan sekirnya kita masih setia pada janji baptis tersebut berarti kita juga masih dalam keadaan bersih atau suci. Namun dengan jujur kiranya kita tidak dalam keadaan suci atau bersih sebagaimana diharapkan atau kita dambakan,  maka marilah dengan rendah hati, tekun, cermat dan teliti kita periksa diri masing-masing sejauh mana atau dalam hal apa kita tidak bersih atau suci:  perasaan, pikiran, sikap, tindakan atau kata-kata. Kemungkinan besar yang tidak bersih atau tidak suci bagi kita semua adalah perasaan dan pikiran. Menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan selera atau keinginan pribadi, entah itu makanan atau minuman, tindakan atau kata-kata sering  kita lalu dengan mudah berperasaan atau berpikiran jahat, sehingga kita sering sulit untuk istirahat atau tidur dengan baik, demikian juga tidak mudah berkonsentrasi dalam mengerjakan segala sesuatu yang harus kita kerjakan.   
Meneladan Yohanes Pembaptis juga dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati. Salah satu wujud penghayatan keutaman  kerendahan hati pada masa ini yang mendesak dan up to date ialah tidak mengeluh atau menggerutu ketika kita menerima perlakuan yang tidak sesuai dengan hati kita atau makanan dan minuman yang tidak sesuai dengan selera pribadi atau situasi dan kondisi lingkungan yang tidak enak. Hendaknya kita tidak mengeluh, melainkan dengan sabar dan lemah lembut menghadapi semuanya itu alias nikmati saja seraya merenungkan dan meresapkan kata-kata Yohanes Pembaptism yaitu "membuka tali kasutNya pun aku tidak layak".
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan." (1Tes 5:18-22)
Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita bersama. "Mengucap syukurlah dalam segala hal", inilah kiranya yang pertama-tama dan terutama untuk kita renungkan atau refleksikan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, nikmati dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada, mengasihi dan memperhatikan kita, orang yang lemah dan rapuh ini. Jika kita berani menyadari dan menghayati hal itu maka kita pasti akan berterima kasih dan bersyukur dalam segala hal.
Jika kita dapat berterima kasih dan bersyukur dalam segala hal, maka kita tidak akan 'memadamkan Roh, menganggap rendah nubuat-nubuat serta menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan'. Kita akan hidup tidak serakah, melainkan sederhana dan pasrah, rendah hati dan lemah lembut; kita tidak akan melukai atau menyakiti sedikitpun saudara-saudari kita. Dalam perjalanan hidup dan panggilan kita masing-masing kiranya kita telah menerima aneka macam nubuat atau saran dan nasihat untuk menyongsong masa depan, maka hendaknya hal itu 'diuji', artinya diusahakan untuk dihayati atau dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sebaik mungkin, dan sekiranya tidak benar pasti akan ketahuan, dan jika benar berbahagialah kita yang telah menghayati atau melaksanakannya.
Dalam kesempatan ini  kami mengajak anda semua untuk 'menguji' charisma/spiritualitas, visi atau pedoman hidup dan panggilan kita masing-masing atau lembaga dimana kita berada di dalamnya, seperti lembaga hidup bakti, LSM, dst… Mungkin baik juga sebagai warganegara Indonesia kita pegang teguh 'Pancasila', dasar Negara kita, yang mungkin juga telah banyak dilupakan. Mungkin orang muak dengan usaha 'penataran P4' zaman Orde Baru, yang hanya ngomong dan diskusi saja tentang Pancasila namun tak dihayati apa yang menjadi visi atau nasihatnya, sehingga kurang perhatian lagi terhadap Pancasila. Sila kedua 'Perikemanusiaan' misalnya hemat saya pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka kekerasan dan pelanggaran harkat martabat manusia masih marak di sana-sini. Menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, sehingga hidup secara manusiawi hemat saya merupakan persiapan yang bagus dalam rangka menyambut kedatangan Penyelamat Dunia.
"Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa" (Yes 61:10-11). Apa yang diramalkan oleh Yesaya ini akan terwujud atau menjadi nyata jika kita  hidup secara manusiawi, saling menghargai dan menghormati sebagai citra dan gambar Tuhan.
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia" (Luk 1:46-50)
Ign 11 Desember 2011

Kamis, 08 Desember 2011

10 Des


 "Elia sudah datang tetapi orang tidak mengenal dia"
 (Sir 48:1-4.9-11; Mat 17:10-13)
" Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis" (Mat 17:10-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Nabi adalah orang yang menyuarakan kebenaran-kebenaran atau suara dan kehendak Tuhan serta hidup dalam dan oleh Roh Kudus. Maka ketika hidup warga atau umat dijiwai oleh semangat materilistis, egoisme dan kesombongan pasti tidak akan mampu mengenali para pembawa kebenaran atau sebenarnya dengan sengaja tidak mau mengenalnya. Elia adalah nabi besar yang sangat mengesan dalam ingatan bangsa terpilih yang sedang menantikan kedatangan Penyelamat Dunia. Mereka juga mendengar bahwa Elia akan datang kembali untuk mempersiapkan bangsa terpilih dalam menyambut kedatangan Penyelamat Dunia. Menanggapi perihal kedatangan Elia kembali, Yesus menjawab bahwa "Elia sudah datang tetapi orang tidak mengenal dia", sedangkan yang dimaksudkan ialah Yohanes Pembaptis, Bentara Penyelamat Dunia. Kebanyakan orang membayangkan bahwa Penyelamat Dunia yang dinantikan adalah orang yang kelihatan terhormat dan terkenal, sehingga yang mempersiapkan kedatanganNya juga orang-orang terhormat. Namun dalam kenyataan adalah kebalikannya karena Penyelamat Dunia akan datang dalam kesederhanaanNya dan kemiskinanNya sehingga yang mempersiapkan juga kelihatan sederhana dan kecil, seperti Yohanes Pembaptis. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua yang sedang menantikan kedatangan Penyelamat Dunia, perayaan Natal, untuk mempersiapkan diri dengan sederhana serta memperhatikan hal-hal maupun orang-orang kecil di lingkungan hidup kita masing-masing. Dengan kata lain marilah kita siapkan mereka yang sederhana, kecil, miskin dan berkekurangan agar di kemudian hari juga dapat ikut berpartisipasi dalam perayaan Natal dengan baik. Kebenaran-kebenaran dapat kita temukan dalam apa-apa yang sederhana dan kecil.
·   "Dalam olak angin berapi engkau diangkat, dalam kereta dengan kuda-kuda berapi. Engkau tercantum dalam ancaman-ancaman tentang masa depan untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, dan mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan segala suku Yakub. Berbahagialah orang yang telah melihat dikau, dan yang meninggal dengan kasih mereka, sebab kamipun pasti akan hidup pula" (Sir 48:9-11).  Kutipan ini kiranya mengindikasikan datangnya kebenaran-kebenaran yang dibawa oleh orang-orang yang berkehendak baik, yang kehadirannya "untuk meredakan kemurkaan sebelum meletus, mengembalikan hati bapa kepada anaknya serta memulihkan hidup persaudaraan atau persahabatan sejati". Kita semua dengan rendah hati diajak untuk mendengarkan orang-orang yang berkehendak baik di lingkungan hidup kita masing-masing. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang ingin murka atau bapa-bapa untuk dengan rendah hati mendengarkan orang-orang yang berkehendak baik guna mengingatkan kita agar tidak murka, sedangkan kepada bapa-bapa yang  telah melupakan anak-anak untuk kembali mengasihi dan memperhatikannya. Para pemimpin dalam kehidupan bersama di tingkat dan bentuk apapun kami harapkan untuk sungguh memperhatikan anggotanya atau bawahanya secara personal satu per satu, lebih-lebih dan terutama mereka yang sering lepas dari perhatian anda. Sedangkan yang memiliki keinginan atau nafsu murka kami harapkan berani mengendalikan diri, sehingga kemurkaannya tidak meletus dan menyengsarakan dirinya sendiri maupun orang lain. Marilah kita memepersiapkan kedatangan Penyelamat Dunia dengan mengusahakan, mengembangkan dan memperdalam keutamaan 'compassion', kepekaan terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, atau solidaritas. Ingatlah dan sadari bahwa yang kita nantikan kedatanganNya juga akan datang dengan dan dalam jiwa compassion atau solidaritas. Dalam semangat solidaritas dan compassion marilah kita bangun, kembangkan dan perdalam persaudaraan atau persahabatan sejati sebagai tanda bahwa kita sungguh mempersiapkan diri pesta Natal, pesta perdamaian, pesta persaudaraan atau persahabatan sejati.
"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini,batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu."
 (Mzm 80:15-16.18-19)
Ign 10 Desember 2011

9 des


"Hikmat  Allah dibenarkan oleh perbuatannya"
(Yes 48:17-19; Mat 11:16-19)
"Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Mat 11:16-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Memang dalam kehidupan bersama masa kini atau mungkin sejak dahulu kala ada orang-orang yang suka komentar atau mengritik atau mengevaluasi orang lain seenaknya, dan mungkin asal bicara saja atau mungkin menunjukkan kesombongannya. Di lain pihak juga ada orang-orang yang begitu menutup diri terhadap aneka peristiwa atau informasi baru yang terjadi di lingkungan hidupnya. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk lebih memperhatikan perbuatan-perbuatan atau perilaku-perilaku daripada omongan atau wacana. "Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya", demikian sabda Yesus. Apakah kita sungguh berhikmat akan kelihatan dalam cara hidup dan cara bertindak kita, maka marilah berusaha hidup dan bertindak sebagai orang yang berhikmat. Orang yang berhikmat pada umumnya sedikit bicara dan banyak kerja, dan apa yang dikerjakan senantiasa baik adanya, artinya berguna bagi keselamatan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun jiwa orang lain yang kena dampak perilaku atau perbuatannya. Selama masa Adven ini marilah kita berusaha sedemikian rupa sehingga tindakan atau perilaku kita tidak pernah mencelakakan atau mengecewakan orang lain, tetapi membahagiakan dan menyelamatkan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia berhikmat juga diartikan sebagai bijaksana, arif dan sakti. Maka hendaknya jangan bijak sana bijik sini artinya bertindak ngawur seenaknya sendiri, melainkan marilah pertama-tama dengan rendah hati kita dengarkan dan lihat apa yang sedang terjadi untuk mencermati kehendak Tuhan dalam apa yang sedang terjadi, dan kemudian kita laksanakan kehendak Tuhan tersebut untuk menanggapi apa yang sedang terjadi.
·    "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh. Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti, maka keturunanmu akan seperti pasir dan anak cucumu seperti kersik banyaknya; nama mereka tidak akan dilenyapkan atau ditiadakan dari hadapan-Ku." (Yes 48:17-19), demikian firman Tuhan melalui nabi Yesaya. Orang berhikmat memang berarti senantiasa 'memperhatikan perintah-perintah Tuhan' artinya mengarahkan hati sepenuhnya kepada perintah Tuhan. Jika kita sungguh memperhatikan perintah-perintah Tuhan, maka hidup kita masa kini akan damai sejahtera, demikian juga anak-cucu atau keturunan kita, "damai sejahteramau akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti". Kita semua kiranya mendambakan kedamaian dan kebahagiaan yang demikian itu, maka marilah dengan penuh pengharapan kita usahakan bersama-sama dalam dan melalui cara hidup maupun cara bertindak kita setiap hari  kapan pun dan dimana pun. Yang kita nantikan kedatanganNYA adalah damai sejahtera sejati, karena Penyelamat Dunia juga (Pembawa) Damai Sejahtera. Baiklah kita perhatikan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita, entah itu berupa konstitusi, pedoman atau acuan, yang tidak lain merupakan penterjemahan perintah Tuhan kepada kita semua. Jika anda sungguh  mendambakan damai sejahtera dan bahagia sejati, marilah kita taati dan laksanakan tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Sikapi aneka tata tertib dengan atau dalam perintah Tuhan yang utama, yaitu cintakasih. Semua tata tertib dibuat dalam dan oleh cintakasih serta demi penghayatan cintakasih, maka hanya dan dalam cintakasih kita dapat memahami aneka tata tertib serta melaksanakannya.
"Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan."
(Mzm 1)
Ign 9 Desember 2011