Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 10 November 2012

Minggu Biasa XXXII


Mg Biasa XXXII : 1Raj 17:10-16; Ibr 9:24-28; Mrk 12: 38-44
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan."
Ketika saya ditahbiskan menjadi imam kurang lebih 29 tahun yang lalu, saya ditawari untuk mempersembahkan Perayaan Ekaristi pertama kali bagi umat paroki saya oleh pastor paroki. Saya ditawari untuk mempersembahkan di gereja induk, paroki Wedi, atau di kapel stasi Gondang, yang sekarang sudah menjadi paroki sendiri. Dan saya cenderung memilih di kapel stasi. Mendengar pilihan ini pastor paroki memberi penjelasan bahwa kondisi kapel stasi Gondang sedang amburadul karena sedang direnovasi. Mendengar penjelasan tersebut saya jawab bahwa tidak apa-apa, toh zaman Yesus dulu ketika mengadakan perjamuan malam terakhir juga di tempat yang sangat sederhana. Pilihan saya disetujui dan kemudian diinformasikan ke umat stasi Gondang pada umumnya dan secara khusus kepada umat wilayah Sumyang, desa asal saya. Sungguh pengalaman yang mengesan bahwa ketika umat wilayah mendengar hal itu, umat kemudian bergotong-royong untuk menyelesaikan renovasi kapel dalam waktu satu minggu (maklum mayoritas umat desa saya bekerja sebagai 'tukang batu', buruh bangunan, termasuk bapak saya). Mereka bergotong-royong dari pagi hari sampai malam, yang berarti mereka tidak bekerja selama seminggu, tidak memperoleh pendapatan selama seminggu. Bukankah mereka bagaikan janda miskin, yang dikisahkan dalam warta gembira hari ini, "yang memberi lebih banyak dari semua orang". Maka kami mengajak anda sekalian untuk merenungkan sabda Yesus di bawah ini.
"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (Mrk 12:43-44)
Persembahan kepada Tuhan dalam bentuk apapun merupakan symbol persembahan diri kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian untuk meneladan janda miskian di atas, yaitu bukan memberi persembahan dari kelebihan, melainkan dari kekurangan. Memberi dari kelebihan hemat kami bagaikan membuang sampah, dengan kata lain memperlakukan si penerima pemberian sebagai 'tempat sampah' alias melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia, melanggar hak azasi manusia. Orang yang memberi persembahan atau sumbangan yang demikian itu berarti orang pelit dan tidak sosial.  
Orang yang bersikap mental 'memberi dari kelimpahan' pada umumnya ketika diberi tugas pekerjaan juga tak pernah selesai pada waktunya atau sekiranya selesai pasti selesai pada detik terakhir atau 'deathline'. Sebagai orang beriman yang berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, marilah kita tanpa syarat sungguh mempersembahkan diri kepadaNya dalam atau melalui cara hidup dan cara bertindak kita sejak sadar bangun pagi sampai menjelang istirahat malam, bahkan selama istirahat atau tidur pun hendaknya juga pasrah diri sepenuhnya kepadaNya, sehingga dapat tidur nyenyak dan ketika bangun menjadi segar bugar.
Kami berharap kepada orang-orang kaya akan harta benda dan uang tidak pelit dalam hal memberi sumbangan atau persembahan. Ingatlah dan hayati bahwa kekayaan anda tidak pernah terlepas dari orang-orang yang membantu anda dalam berkarya, misalnya para pegawai atau buruh, demikian juga peran konsumen produk usaha anda juga sangat membantu perolehan kekayaan atau uang anda. Sebagai contoh produk mie instant atau rokok, yang pada umumnya konsumennya adalah orang-orang miskin atau pedesaan dan pegunungan. Anda dapat menaikkan harga seenaknya dan para konsumen pun akan tetap membelinya. Maka ingatlah orang-orang miskin, pedesaan dan pegunungan. Demikian juga kami berharap kepada para pejabat atau petinggi pemerintahan, entah yang ada di badan legislatif, eksekutif, maupun yudikatif untuk mengingat dan menyadari bahwa anda harus melayani rakyat, dan gaji atau imbal jasa yang anda terima berasal dari pemasukan pajak, yang juga tak terlepas dari peran orang-orang miskin, pedesaan, pegunungan yang menjadi konsumen produk aneka usaha. Semoga anda yang duduk atau berkarya dalam pemerintahan tidak melakukan korupsi atau cari enaknya sendiri.
"Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia." (1Raj 17:13-16)
Kutipan di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua dalam hal memberi sumbangan atau persembahan atau dalam kehidupan bersama kita dengan siapapun dan dimana pun. Kita diharapkan senantiasa untuk mendahulukan orang lain maupun memperhatikan para pelayan umat atau gembala umat. Dalam hal ini kami percaya rekan-rekan ibu sebagai perempuan pasti memiliki pengalaman dalam hal mendahulukan yang lain, misalnya anak-anaknya, yang dianugerahkan oleh Tuhan. Saya pribadi memiliki pengalaman yang mengesan terhadap ibu atau 'simbok' saya, dimana ketika memperoleh rezeki berupa makanan senantiasa anak-anaknya yang pertama-tama harus menikmatinya atau mengkosumsi, dan jika perlu ibu saya sama sekali tidak mencicipinya alias berpuasa atau matiraga.
Kepedulian atau kepekaan kepada yang lain kiranya perlu dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga, sehingga ketika mereka tumbuh berkembang menjadi orang dewasa akan menjadi pribadi yang peduli atau peka terhadap orang lain. Jika dicermati dalam hidup sehari-hari kiranya harus diakui bahwa pembinaan kepedulian atau kepekaan kepada orang lain dalam diri anak-anak kurang memperoleh perhatian yang memadai, ada kecenderungan generasi muda masa kini bersikap mental egois, kurang atau tidak peduli pada orang lain maupun lingkungan hidupnya. Hal ini kami cermati juga di antara para seminaris di Seminari Menengah Mertoyudan. Ada kemungkinan hal ini disebabkan oleh korban keluarga berencana, yang difahami secara sempit yaitu pembatasan kelahiran: satu atau dua anak cukup. Jika dalam keluarga hanya ada satu atau dua anak pasti ada kecenderungan untuk memanjakan anak-anak dan kemudian anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang yang egois.
Memang pada masa lalu pada umumnya di dalam keluarga tidak hanya satu atau dua anak saja, tetapi empat atau lebih. Memang dalam hal memenuhi kebutuhan fisik atau financial sungguh berat dan penuh dengan tantangan, namun demikian ada suatu pengalaman menarik dan tak terlupakan, yaitu secara otomatis terjadi pembinaan kepedulian atau social pada diri anak-anak, antar kakak-adik. Pengalaman saling memperhatikan antar kakak-adik inilah yang kemudian akan menjadi modal untuk terus diperkembangkan dan diperdalam dalam kehidupan bersama yang lebih luas, di dalam masyarakat maupun tempat kerja."Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibr 9:27-28). Kutipan ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi siapapun yang beriman keapda Yesus Kristus, yaitu "mengorbankan diri untuk menanggung dosa banyak orang"
"Yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya" (Mzm 146:7-10)
Ign 11 November 2012

Jumat, 09 November 2012

10 Nov


"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga"

(Sir 39:6-11; Mat 16:13-19)

"Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." (Mat 16:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Paus adalah pimpinan tertinggi Gereja Katolik, penerus tahta St.Petrus, paus pertama, yang memiliki panggilan dan tugas pengutusan untuk melanjutkan karya penyelamatan yang telah dilaksanakan oleh Yesus. Untuk itu paus dianugerahi wewenang mengajar (magisterium) dalam menghayati panggilan serta melaksanakan tugas pengutusan. Panggilan dan tugas ini sungguh berat, sarat dengan masalah, tantangan dan hambatan, maka yang terpilih harus memiliki iman  kepada Yesus Kristus sebagaimana dihayati oleh Petrus:"Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup". Maka pertama-tama dan terutama kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam, yang berpartisipasi dalam karya penggembalaan umat untuk mawas diri sejauh mana kedalaman iman kita. Kebetulan kita berada di dalam Tahun Iman, antara lain kita diingatkan dan diajak untuk mempelajari dan memahami aneka dokumen Gereja Katolik, antara lain Kitab Suci, dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Kitab Hukum Kanonik dan Katekismus Gereja Katolik. Marilah kita sadari dan hayati bahwa apa yang kita sampaikan di dalam berbagai kesempatan antara lain 'kotba atau homili' pada umumnya sungguh didengarkan dan diikuti oleh umat, maka hendaknya apa yang kita kotbahkan sungguh bersumber pada ajaran-ajaran yang benar, sebagaimana tertulis dalam dokumen-dokumen di atas. Semoga apa yang kita kotbahkan sungguh mempengaruhi para pendengar semakin beriman, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun.

·   "Jika Tuhan yang besar menghendakinya, maka terpenuhilah ia dengan roh pengertian. Maka ia sendiri membualkan kata-kata yang bijak, dan memuji Tuhan dengan sembahyangnya. Dengan lurus nasehat serta ilmunya disampaikannya, dan dipikirkannya rahasia-rahasia hatinya. Ia memperlihatkan ajaran dari wejangannya serta membanggakan Taurat Perjanjian Tuhan.Pengertiannya akan dipuji banyak orang, dan tidak pernah akan lenyap. Kenang-kenangan akan dia tidak akan terhapus, melainkan namanya akan hidup turun temurun.Kebijaksanaannya akan diceritakan pelbagai bangsa, sedangkan jemaah mewartakan pujiannya" (Sir 39:6-10). Sebagai orang beriman kita semua kiranya telah menerima anugerah roh pengertian, dan mungkin tidak secara intelektual belaka, tetapi terutama dan pertama-tama secara spiritual. Mengerti secara spiritual akan lebih akurat dan handal daripada secara intelektual, karena pengertian secara spiritual akan mengenyangkan hati dan jiwa serta dengan demikian orang yang bersangkutan hidup dalam damai, ketenangan dan sejahtera, segar-bugar baik secara fisik maupun spiritual. Sedangkan pengertian secara intelektual pada umumnya melelahkan dan memusingkan. Maka sebagaimana diingatkan oleh St.Ignatius Loyola, yaitu "bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang dan memuaskan jiwa", marilah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun senantiasa dengan rendah hati berusaha keras mencecap dalam-dalam aneka kebenaran yang kita terima melalui aneka kesempatan. Kepada para pengajar maupun pengkotbah kami harapkan juga lebih menekankan kualitas bukan kuantitas, kedalaman pemahaman kebenaran bukan banyaknya kebenaran. Hendaknya hal ini juga menjadi perhatian bagi para orangtua dalam mendidik anak-anaknya: perhatikan apakah nasihat atau pengetahuan yang disampaikan sudah difahami dalam-dalam oleh anak, sebelum menyampaikan kembali nasihat atau pengetahuan baru. Dengan kata lain marilah kita semua berpedoman bahwa yang terutama dan pertama adalah perilaku atau tindakan bukan wacana atau omongan.

"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mzm 37:3-6)

Ign 10 November 2012


Kamis, 08 November 2012

9 nov

Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran: 1Kor 3:9b-11.16-17; Yoh 2:13-22
"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan".

Gereja Basilik Lateran adalah kapel atau gereja pribadi Paus. Telah  menjadi kebiasaan juga bahwa setiap kardinal yang baru dilantik pada umumnya juga 'diserahi' kapel tertentu di Vatican, meskipun kemudian kardinal yang bersangkutan tidak mengunjungi kapel tersebut. Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengatakan bahwa "dengan sebutan gereja dimaksudkan bangunan suci yang diperuntukkan bagi ibadat ilahi dimana kaum beriman berhak untuk masuk melaksanakan ibadat ilahi, terutama ibadat yang dilangsungkan secara publik" (KHK kan 1214). Lebih lanjut dikatakan bahwa "Hendaknya semua orang yang bersangkutan berusaha agar di gereja-gereja dipelihara kebersihan dan keindahan yang layak bagi rumah Allah dan agar segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu dijauhkan dari padanya" (KHK kan 1220 $ 1).  Maka dalam rangka mengenangkan Pemberkatan Gereja Basilik Lateran hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat-tempat ibadat, dan untu itu marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus di bawah ini.

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (Yoh 2:6).
Entah secara kebetulan atau sungguh merupakan panggilan Tuhan bagi saya: yang menurut catatan tgl 9 November, pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran, juga merupakan hari jadi atau ulang tahun saya (9 Nov 2012: hut saya ke 60) dan saya selama kurang lebih 10 (sepuluh tahun) bertugas sebagai Ekonom KAS, yang antara lain bertugas merencanakan, merawat dan memperhatikan pembangunan gedung gereja atau kapel. Memang selama bertugas sebagai Ekonom KAS maupun sampai kini saya merasa terpanggil untuk mengusahakan dan menjaga kesucian dan kebersihan tempat ibadat, entah itu gereja atau kapel, termasuk tempat-tempat ziarah. Selama bertugas menjadi Ekonom saya pribadi belajar banyak hal berhubungan dengan bangunan (arsitektur, lingkungan hidup dst..). Sabda Yesus di atas senantiasa mengiang-iang dalam diri saya setiap kali memasuki tempat-tempat ibadat.
Apakah masih ada orang-orang yang menjadikan tempat ibadat untuk berjualan atau berbisnis alias mencari keuntungan pribadi? Hemat saya sampai kini masih ada. Ada juga yang mengkomersielkan ibadat atau Perayaan Ekaristi, misalnya pengumpulan dana atau sumbangan dengan Perayaan Ekaristi. Bahkan selama bertugas sebagai Ekonom saya juga pernah menegor dengan keras panitia pembangunan kapel dan seksi-seksi sosial paroki, karena pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya sungguh komersial. Kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk menjaga dan mengusahakan kesucian dan kebersihan tempat ibadat, maka jangan ada seorangpun yang bersikap mental materialistis atau bisnis memfungsikan tempat ibadat apalagi melakukan tindakan maksiat alias tak bermoral.

Para pengurus dan pengelola tempat-tempat ibadat atau ziarah kami harapkan bertindak tegas dengan meneladan Yesus: mengusir mereka yang 'berjualan' atau berbisnis serta mencari keuntungan pribadi tempat-tempat ibadat atau ziarah yang menjadi tanggungjawabnya. Kami juga berharap kepada siapapun bahwa dengan memasuki tempat ibadat atau ziarah anda semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Apa-apa yang dijual di lingkungan tempat ibadat hendaknya juga mendorong atau memotivasi pembelinya semakin suci, entah itu berupa makanan atau minuman, sarana berdoa maupun tempat penginapan atau istirahat. Ada kemungkinan tempat ziarah digunakan untuk pacaran rekan-rekan muda-mudi: baiklah hal itu diawasi agar jangan melakukan tindakan amoral, dan semoga dengan berpacaran di tempat zairah anda juga semakin diperjelas dan dijernihkan serta diteguhkan dalam saling mengasihi. Kepada kita semua yang memasuki tempat ibadat atau ziarah serta beribadat atau berdoa, semoga semakin suci, semakin hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau peringatan Paulus di bawah ini.
"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu" (1Kor 3:16-17)

Paulus mengingatkan kita semua bahwa diri kita, tubuh kita, adalah bait Allah, dan dengan demikian kita dipanggil untuk mengusahakan dan menjaga kebersihan dan kesucian tubuh kita masing-masing. Pertama-tama marilah kita sadari dan hayati bahwa kita semua diciptakan oleh Allah karena kasihNya dengan bekerjasama dengan orangtua kita masing-masing yang saling mengasihi. Dengan kata lain bukankah masing-masing dari kita adalah 'buah kasih' atau 'yang terkasih'? Maka mengusahakan dan menjaga agar tubuh kita tetap sebagai 'bait Allah' alias suci, hendaknya kita fungsikan seluruh anggota tubuh kita untuk mengasihi alias membahagiakan dan menyelamatkan orang lain.

Kami berharap juga tidak ada orang yang mengkomersielkan tubuhnya atau mencemari diri dengan tindakan amoral. Pencemaran tubuh secara pribadi dapat terjadi dengan tindakan yang terkait dengan kenikmatan seksual, misalnya masturbasi atau onani. "Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. 'Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban', karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apapun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya'. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai 'tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya" (Kamus Gereja Katolik no 2351).
Kami juga berharap kepada rekan-rekan suami-isteri untuk saling setia satu sama lain, tidak berselingkuh, karena dengan berselingkuh berarti mencemari relasi suami-isteri; demikian juga hendaknya entah suami atau isteri menyeleweng dengan caranya sendiri, berganti pasangan dalam hubungan seksual. Ingatlah dan sadari penyakit kelamin atau HIV mengincar anda yang suka berselingkuh, dan dengan demikian mencemari tubuhnya sendiri. Menjaga dan mengusahakan kebersihan anggota tubuh tetap bersih kiranya juga penting, karena ketika kita menghadirkan diri di muka umum dimana secara fisik tubuh kita tidak bersih, misalnya bau tidak sedap, pasti akan mencemari pergaulan dan orang lain, karena orang lain akan menggerutu dan mengeluh, yang berarti mencemari kesucian dirinya.

Pada masa kini juga marak usaha medis atau teknis dalam rangka mengusahakan dirinya tampan atau cantik, antara lain dengan adanya intervensi sarana medis atau teknis ke dalam tubuh, entah itu berupa suntikan atau operasi. Segala bentuk intervensi medis dan teknis ke dalam tubuh pasti akan memperlemah daya tahan tubuh dan dengan demikian juga mencemarkan tubuh. Marilah kita terima  pada anggota tubuh yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita, dan hendaknya diingat bahwa yang penting adalah kebersihan dan keindahan serta kencatikan hati dan jiwa, bukan tubuh.

"Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi." (Mzm 46:2-3.5-6)
Ign 9 November 2012