Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 14 Desember 2012

MgAdven III


Mg Adven III : Zef 3:14-18a; Flp 4:4-7; Luk 3:10-18
"Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?"
Kutipan judul di atas ini kiranya senada dengan perjalanan akhir dalam Latihan Rohani St.Ignatius Loyola pada Minggu Pertama, dimana setelah retretan diajak mawas diri untuk menyadari dosa dan kerapuhan dirinya, kemudian akan bertanya pada dirinya sendiri: "Apa yang harus kuperbuat?". Pertanyaan muncul karena menyadari diri sebagai orang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah. Kami percaya kita semua setelah kurang lebih menelusuri masa Adven juga mengadakan mawas diri, serta menyadari diri sebagai orang berdosa dan mempertanyakan "apa yang harus saya perbuat". Maka baiklah sesuai dengan Warta Gembira hari ini ada tiga profesi diangkat, yaitu: orang kaya, pemungut cukai atau militer dan mungkin anda terkait dengan profesi tersebut hendaknya mawas diri dan menanggapi sabda-sabda di bawah ini.
"Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian." (Luk 3:11)
Sabda di atas ini kiranya terarah bagi orang-orang kaya atau berkecukupan dalam hal harta benda atau kebutuhan hidup sehari-hari. Anda semua diharapkan uutuk berbagi kepada sesama alias solider terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan di lingkungan hidup atau kerja anda,  dan sekiranya di lingkungan hidup dan kerja anda tidak ada yang sungguh membutuhkan bantuan, hendaknya solidaritas anda disalurkan melalui instansi Gerejani atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pelayanan terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan. Solidaritas anda kiranya juga dapat disalurkan secara langsung ke panti-panti social atau panti-panti asuhan, tanpa pandang bulu atau SARA.
Jati diri manusia adalah social, artinya dari lubuk hati manusia yang terdalam ada kerinduan atau dambaan untuk hidup bersama dengan orang lain, sebagaimana disabdakan oleh Allah, yaitu bahwa "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2:11). Maka marilah kita bina diri kita maupun anak-anak kita perihal kepekaan terhadap orang lain, alias keutamaan social. Kami merasa dan melihat bahwa kepekaan social kebanyakan orang masa kini sungguh memprihatinkan, bahkan ada kecenderungan kuat dari kebanyakan orang untuk bersikap mental egois, hanya mengutamakan dan mengedepankan kepentingan pribadi, cari enaknya sendiri. Sebagai orang Indonesia marilah kita usahakan agar sila kelima dari Pancasila, yaitu "Keadilan social bagi seluruh bangsa" segera terwujud. Sungguh memprihatinkan jika dicermati bahwa departemen yang harus memperhatikan masalah social di negeri kita ini kurang melaksanakan tugasnya dengan baik, bahkan korupsi masih marak di lingkungan Departemen Sosial. 
            "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu." (Luk 3:13)
Kutipan di atas ini erat kaitannnya dalam pinjam-meminjam. Pinjam-meminjam kiranya sungguh hidup dalam kehidupan bersama, tidak hanya secara pribadi atau perseorangan, tetapi juga secara organisatoris dan kenegaraan. Pinjam-meminjam memang juga merupakan salah satu bentuk penghayatan hidup dan kerja bersama, mengingat dan memperhatikan keterbatasan dan kelemahan masing-masing. Mereka yang berkekurangan dalam hal tertentu mencari pinjaman pada pihak lain, dan mereka yang merasa dapat memberi pinjaman pun dengan besar hati menanggapi secara positif, karena pada dirinya juga ada kekurangan tertentu. Memang masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan, dan selayaknya kemudian lalu saling meminjam.
Kita semua diingatkan agar mentaati tata tertib atau aturan pinjam-meminjam dengan baik dan benar, "Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan". Peringatan ini mungkin secara khusus terarah kepada para rentenir, yang pada umumnya mencekik orang-orang kecil dan miskin. Sungguh mengerikan bunga pinjaman yang harus dibayar kepada rentenir sebesar 20% (dua puluh persen) per bulan dari nominal sisa pinjaman yang ada, yang berarti bunga setahun lebih dari 100%.  Semoga para rentenir bertobat, dan kepada para pejabat pemerintahan di tingkat manapun kami ajak untuk memberantas rentenir yang menyengsarakan orang-orang kecil, miskin dan berkekurangan.      
"Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu."  (Luk 3:14)
Sabda ini memang secara khusus terarah kepada para prajurit atau militer serta profesi yang terkait dengan militer, karena ditanyakan oleh prajurit. Aneka bentuk perampasan dan pemerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum Angkatan Bersenjata di negeri ini rasanya masih marak terjadi. Ada oknum-oknum yang merampas atau memeras secara halus dengan kedok atau alasan keamanan: melindungi judi atau pelacuran dengan imbalan uang. Yang sungguh memprihatinkan adalah mereka yang seharusnya memperjuangkan kejujuran dan memberantas korupsi dan kejahatan justru melakukan korupsi tanpa malu. Mereka yang seharusnya melayani rakyat justru merampas hak rakyat atau memeras rakyat melalui aneka cara dan bentuk. Korupsi atau uang pelicin atau sogokan masa kini tidak disampaikan secara terbuka seperti dulu, melainkan disampaikan secara diam-diam, seperti di hotel, di restaurant/rumah makan, di halte bus atau tempat parkir dst..
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus" (Fil 4:6-7), demikian pesan Paulus kepada umat di Filipi. Kutipan ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh mereka yang suka merampas dan memeras hak orang lain. Orang yang memiliki kebiasaan untuk memeras atau merampas pada umumnya dalam dirinya ada kekuatiran tentang kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Paulus mengingatkan kita semua bahwa jika kita memiliki kekuatiran akan kebutuhan dan kesejahteraan hidup, hendaknya menyatakan hal tersebut kepada Allah, artinya dengan rendah hati mohon bantuan dari Allah dan secara konkret mohon bantuan kepada saudara-saudari kita. Percayalah di dunia ini lebih banyak orang baik yang senantiasa siap sedia untuk membantu daripada orang pelit atau egois.    
"Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai, seperti pada hari pertemuan raya."(Zef 3:16-18a). Kutipan ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh mereka yang memiliki kekuatiran akan kebutuhan dan kesejahteraan hidup. "Ia membaharui engkau dalam kasihNya", inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan serta kemudian kita hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Serahkan kekuatiran anda kepada Tuhan, dan percayalah bahwa Tuhan akan memusnahkan kekuatiran anda.
"Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku." Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. Pada waktu itu kamu akan berkata: "Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya, beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur! Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!" (Yes 12:2-5)
Ign 16 Desember 2012

15des

"Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu"
(Sir 48:1-4.9-11; Mat 17:10-13)
" Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?" Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu  dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka." Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis" (Mat 17:10-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam Sejarah Karya Penyelamatan nabi Elia dikenal sebagai nabi yang luar biasa, maka sungguh mengesan bagi orang-orang Yahudi. Kepada mereka memang juga dijanjikan akan datangnya Penyelamat Dunia atau Mesias, yang berarti merupakan kedatangan kembali nabi Elia. Mesias atau Penyelamat Dunia memang sudah mendatangi mereka, namun mereka tidak mengenalNya, karena pikiran dan dambaan mereka berbeda dengan kehendak atau maksud Allah. Dambaan orang-orang Yahudi adalah bahwa Penyelamat Dunia yang akan datang bagaikan tokoh-tokoh dunia, yang kaya raya, namun yang terjadi adalah bahwa Ia datang dalam kesederhanaan dan kemiskinan. Hidup sederhana dan berjiwa miskin memang merupakan salah satu cara untuk menyambut dan menerima kedatangan Penyelamat Dunia, maka kami berharap kepada kita semua untuk hidup sederhana dan berjiwa miskin alias hidup dan  bertindak sungguh 'mendarat', 'turun kebawah'. Berjiwa miskin yang kami maksudkan keterbukaan diri akan aneka kesempatan dan kemungkinan alias semangat belajar dengan rendah hati. Kami berharap juga agar dalam rangka mempersiapkan perayaan Natal dan Tahun Baru juga sederhana saja, tidak bermewah-mewah dan berfoya-foya. Lebih baik dan lebih utama dana untuk bermewah-mewah dan berfoya-foya disumbangkan bagi mereka yang miskin dan berkekurangan atau mereka yang sungguh membutuhkan bantuan untuk hidup layak. Kami berharap para tokoh yang berpengaruh dalam hidup bersama dapat menjadi teladan atau contoh dalam hidup sederhana dan berjiwa miskin. Jauhkan sikap mental Farisi yang gila harta benda, kedudukan duniawi dan kehormatan duniawi. Kami berharap kepada kita semua untuk membuka diri terhadap kebenaran-kebenaran yang disampaikan oleh para pembawa dan pejuang kebenaran di negeri kita tercinta ini.
·   "Lalu tampillah nabi Elia bagaikan api, yang perkataannya laksana obor membakar. Kelaparan didatangkan-Nya atas mereka, dan jumlah mereka dijadikannya sedikit berkat semangatnya. Atas firman Tuhan langit dikunci olehnya, dan api diturunkannya sampai tiga kali. Betapa mulialah engkau, hai Elia, dengan segala mujizatmu, dan siapa boleh bermegah-megah bahwa sama dengan dikau?" (Sir 48:1-4)  Api memang dapat membakar habis apa yang ada di permukaan bumi dan hanya emas mulia yang tak akan musnah oleh api, sebaliknya ketika dibakar akan lebih kelihatan kemurnian dan keasliannya. Dengan kata lain kutipan di atas mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa menghadirkan diri dalam kemurnian dan keaslian, tidak pura-pura atau sandiwara. Pada zaman modern ini cukup banyak orang tidak tampil murni dan asli lagi, karena entah oleh operasi plastik atau pemakaian aneka assesori dalam dirinya. Kepada segenap anggota Lembaga Hidup Bakti kami harapkan hidup dan bertindak sesuai dengan semangat atau spiritualitas pendiri, yang telah terbukti tahan uji dalam aneka tantangan, hambatan dan masalah selama perjalanan sejarah ini. Maka jangan berusaha mengelabui diri dengan membelokkan atau mengaburkan spiritualitas pendiri. Kutipan di atas juga mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tampil asli dan murni: mereka yang telah menjadi suami-isteri hendaknya menunjukkan diri sebagai yang telah bersuami atau beristeri, tidak pura-pura masih lajang, jejaka atau perawan. Demikian juga mereka yang masih bujang atau lajang hendaknya menghayati masa bujang atau kemudaannya semurni dan seasli mungkin, artinya tidak melakukan tindakan layaknya sebagai suami-isteri, yaitu mengadakan hubungan seks dengan lawan jenis. Maka mereka yang masih berpacaran kami harapkan setia pada jati dirinya yang sedang berpacaran, antara lain menghayati norma-norma moral orang berpacaran, dst…
"Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu, maka kami tidak akan menyimpang dari pada-Mu. Biarkanlah kami hidup, maka kami akan menyerukan nama-Mu"
(Mzm 80:15-16.18-19)
Ign 15 Desember 2012

Kamis, 13 Desember 2012

14des


"Tidak dapat menjadi muridKu"
(1Kor 2:1-10a; Luk 14:25-33)
" Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian.Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku" (Luk 14:25-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Salib adalah panji-panji para murid atau pengikut Yesus Kristus, maka barangsiapa percaya kepadaNya harus berani meneladanNya, yaitu siap sedia menderita sengsara dan kalau perlu mati karena setia pada iman dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Bagi yang beriman kepada Yesus Kristus, khususnya yang beragama Katolik sering membuat tanda salib dengan menepuk dahi/kepala, dada dan bahu seraya berkata "Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus". Hal itu berarti mau hidup dan bertindak dengan cara berpikir Yesus Kristus, berjiwa Yesus Kristus dan meneladan cara bertindakNya. Maka pertama-tama dan terutama saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri: apa yang ada di dalam hati kita saat ini, dan apa yang sedang saya pikirkan. Apa yang ada dalam hati dan pikiran atau otak kita itulah yang akan menentukan cara hidup dan cara bertindak kita. Kami berharap kita semua senantiasa memikirkan keselamatan jiwa manusia, sebagaimana juga dipikirkan oleh Tuhan Allah. Hendaknya keselamatan jiwa manusia menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan hidup dan bertindak kita. Hemat saya jika kita sungguh mengutamakan keselamatan jiwa, maka kita pasti akan menghadapi banyak tantangan, masalah dan hambatan, mengingat dan memperhatikan sikap mental materialistis begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak kebanyakan orang masa kini. Dengan kata lain orang harus siap sedia untuk menderita dan sengsara, namun ingatlah dan sadarilah serta hayati bahwa penderitaan dan kesengsaraan yang lahir dari kesetiaan pada iman kepercayaan adalah jalan menuju ke keselamatan sejati, bahagia dan damai sejahtera sejati dan selamanya.
·   "Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar." (1Kor 2:1-3), demikian sharing iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. Sharing Paulus ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi atau permenungan kita. "Aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu", inilah kiranya yang juga harus menjadi acuan hidup kita, sebagai orang beriman. Hendaknya kita senantiasa lebih mengutamakan atau mengedepankan tindakan atau periaku daripada kata-kata atau omongan yang indah. Keunggulan hidup beriman terletak dalam perilaku atau tindakan, bukan dalam wacana atau omongan. Semoga cara bertindak atau perilaku kita dimana pun dan kapan pun baik adanya, artinya tidak pernah mengecewakan, melecehkan dan merendahkan orang lain, melainkan membahagiakan dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa manusia, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa orang yang kena dampak cara bertindak atau perilaku kita. Kutipan di atas juga mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa dalam rangka 'berdakwah' atau melaksanakan tugas missioner lebih mengutamakan tindakan atau perilaku, bukan wacana atau omongan. Dengan kata lain kesaksian atau keteladanan hidup beriman sungguh penting dan mutlak dalam rangka melaksanakan tugas missioner.
"Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang" (Mzm 37:3-6)
Ign 14 Desember 2012