Kembali ke Website Imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 21 Desember 2012

22 des


"Jiwaku memuliakan Tuhan"

(1Sam 1:24-28; Luk 1:46-56)


"Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya" (Luk 1:46-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kutipan Warta Gembira di atas merupakan bagian doa harian dalam Ibadat Harian para anggota Lembaga Hidup Bakti serta doa harian para anggota Legio Mariae, yang sering juga disebut doa "Magnificat". Doa tersebut sebenarnya pada zaman dahulu merupakan lagu atau pujian popular bagi orang-orang pilihan Allah, orang-orang yang sungguh mau membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Maka doa tersebut keluar dari hati SP Maria, sebagai pujian syukur setelah menerima pujian dari Elisabeth. SP Maria adalah teladan umat beriman, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan segenap umat beriman untuk menghayati isi doa tersebut di atas. Isi doa tersebut terdiri dari dua bagian: pertama-tama mengimani atau menghayati karya atau penyelenggaraan Allah dalam diri manusia yang lemah dan rapuh, dan kemudian mengimani cara berpikir atau paradigma Allah. Perayaan Natal semakin mendekat, maka marilah kita siapkan diri kita dengan membuka diri sepenuhnya atas karya atau penyelenggaraan Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, dengan harapan kita juga siap sedia untuk menerima kedatangan Penyelamat Dunia. Hendaknya kita juga memiliki paradigma sebagaimana dikehendaki oleh Allah, antara lain tidak congkak hati atau sombong, melainkan rendah hati. Berulang kali kami mengingatkan agar kita senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati, karena rendah hati merupakan keutamaan yang paling utama dan dasar. Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun.

·   "Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN." Lalu sujudlah mereka di sana menyembah kepada TUHAN." (1Sam 1:26-28). Kutipan ini merupakan doa seorang ibu yang belum dianugerahi anak dan mohon kepada Allah agar dianugerahi anak, dan jika dianugerahi anak maka anak tersebut akan dipersembahkan kembali kepada Allah. Kami berharap hal itu juga terjadi dalam diri para orangtua: kami ajak dan ingatkan kepada orangtua untuk senantiasa mempersembahkan anak-anaknya kepada Allah, artinya dididik dan dibina sesuai dengan kehendak Allah sehingga kelak kemudian hari tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi luhur, dan syukur jika ada di antara anak-anak anda ada yang tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster alias tidak menikah atau tidak berkeluarga demi Kerajaan Allah. Panggilan hidup imam, bruder maupun suster pada masa kini mengalami kemerosotan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas, jumlah maupun mutu. Hal yang kiranya juga terjadi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dimana juga terjadi kemerosotan baik dalam hal jumlah maupun mutu kader-kader yang sungguh negarawan, pemimpin-pemimpin yang memfungsikan kepemimpinannya demi kesejahteraan umum/bersama. Kami berharap kepada para orangtua, guru maupun penyelenggara karya pendidikan atau sekolah untuk memperhatikan kaderisasi dalam proses pendidikan atau pembinaan. Seorang kader adalah senantiasa fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya, dimana ia hidup atau bekerja, maka fungsikan anak-anak sedini mungkin dalam lingkungan hidupnya sesuai dengan perkembangan dan kemampuannya.

"Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu.TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga." (1Sam 2:4-7)

Ign 22 Desember 2012

 

Note: Kepada para ibu kami ucapkan "Selamat Hari Ibu

Kamis, 20 Desember 2012

21 des


"Berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda."
(Kid 2:8-14; Luk 1:39-45)
"Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."(Luk 1:39-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Silaturahmi atau saling mengunjungi dan bercakap-cakap/bercuhat bersama kiranya merupakan salah satu cirikhas bangsa yang sungguh berbudaya dan bermoral. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan SP Maria yang sedang mengandung atau menerima Warta Gembira segera mengunjungi Elisabeth, saaudarinya, yang pada masa tuanya sedang mengandung anak pertamanya. Mereka berdua dalam keadaan penuh Roh Kudus, artinya kegembiraan yang terjadi di antara mereka sungguh  merupakan kasih karunia Roh Kudus. Mereka saling memberi salam dalam awal perjumpaan dan kiranya hal ini juga sering kita lakukan, maka marilah kita mawas diri: sejauh mana salam yang kita sampaikan kepada orang lain sungguh merupakan kasih karunia Roh Kudus/Allah? Bukan sekedar basa-basi belaka? Jika salam itu merupakan karunia Allah, maka baik yang memberi salam maupun yang menerima salam akan berbahagia sepenuhnya, yang menjadikan tubuh segar-bugar dan sehat wal'afiat. Kami percaya bahwa hari-hari ini anda sedang atau akan merencanakan perjalanan, entah dalam rangka merayakan Natal maupun merayakan Tahun Baru, ke suatu tempat dimana anda akan bertemu dan bercakap-cakap dengan handai-taulan, saudari-saudari. Semoga kebersamaan anda dengan handai-taulan, kerabat dekat dan sahabat, semakin memperdalam dan memperteguh persahabatan anda, sehingga kehadiran atau kedatangan anda dimana pun dan kapan pun akan menjadi berkat atau rahmat bagi sesama. Kita semua dipanggil untuk menjadi penyalur-penyalur rahmat atau berkat Allah. Dan yang tak kalah penting adalah bahwa kita semua hendaknya percaya akan Sabda Allah, artinya sabda  atau kehendaknya menjadi nyata atau terwujud dalam dan melalui cara hidup maupun cara bertindak kita.
·   "Dengarlah! Kekasihku! Lihatlah, ia datang, melompat-lompat di atas gunung-gunung, meloncat-loncat di atas bukit-bukit. Kekasihku serupa kijang, atau anak rusa. Lihatlah, ia berdiri di balik dinding kita, sambil menengok-nengok melalui tingkap-tingkap dan melihat dari kisi-kisi. Kekasihku mulai berbicara kepadaku: "Bangunlah manisku, jelitaku, marilah! Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu. Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita. Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah" (Kid 2:8-13). Kutipan dari Kidung Agung di atas ini kiranya dapat menjadi contoh atau model dalam saling menyapa dan memuji: gambaran pujian dan rayuan pasangan suami-isteri yang sedang berbulan madu, itulah isi kutipan di atas. Sekiranya anda sebagai suami-isteri dapat saling menyapa seperti hal di atas di hadapan anak-anak, maka anak-anak dapat belajar dari anda serta ada kemungkinan mempraktekkannya dengan kakak atau adik, sehingga kelak kemudian ketika mereka tumbuh berkembang sebagai orang dewasa juga terbiasa untuk saling menyapa dengan penuh kasih, saling memuji dan mengagungkan, dan dengan demikian terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati yang menarik, mempesona dan memikat. Kutipan di atas kiranya juga mengajak dan mengingatkan kita semua agar dalam pergaulan dengan siapapun dan dimana pun senantiasa berpikiran positif, dengan melihat dan mengakui kebaikan atau keunggulan yang ada. Cara hidup dan cara bertindak yang demikian itu hemat saya sungguh merupakan perisiapan yang baik dan benar dalam memperisiapkan Pesta Natal yang akan datang, dimana kita akan mengenangkan perdamaian yang dibawa oleh Emmanuel, Penyelamat Dunia, yang lahir di tengah-tengah kita, sebagai manusia seperti kita, kecuali dalam hal dosa.
"Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai.., tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri"(Mzm 33:2-3:11-12)
Ign 21 Desember 2012

Rabu, 19 Desember 2012

20 des


"Bagi Allah tidak ada yang mustahil."
(Yes 7:10-14; Luk 1:26-38)
"Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan." Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia" (Luk 1:26-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Pada hari ini ditampilkan tokoh SP Maria, teladan umat beriman, yang dengan penuh penyerahan diri menanggapi panggilan Tuhan untuk berpartisipasi dalam pemenuhan janjiNya: menyelamatkan dunia. Kesanggupan SP Maria, yang masih perawan dan akan mengandung anak tanpa hubungan seks/ suami-isteri, didasari oleh keyakinan iman bahwa "Bagi Allah tidak ada yang mustahil". Kita semua adalah orang beriman, yang percaya kepada Allah, maka marilah kita hayati iman kepercayaan itu dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari kapan pun dan dimana pun. Bersama dan bersatu dengan Allah segala sesuatu dapat kita hayati atau laksanakan, tentu saja apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan dan kebahagiaan jiwa manusia, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Tantangan, masalah dan hambatan yang lahir atau muncul karena kesetiaan pada iman atau panggilan adalah jalan atau wahana keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka hendaknya jangan dihindari, melainkan tanggapi dan selesaikan bersama dan bersatu dengan Allah, karena dengan demikian pasti akan terselesaikan dengan baik dan benar. Marilah kita meneladan SP Maria, yang senantiasa menghayati diri sebagai hamba Allah serta membiarkan perintah dan sabda Allah terwujud dalam dirinya. Dengan kata lain marilah kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, senantiasa membuka diri terhadap segala kemungkinan dan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.
·   "Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel" (Yes 7:14). Kutipan ini mengajak dan mengingatkan kita semua untuk peka terhadap tanda-tanda zaman, karya Allah atau penyelenggaraanNya, yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan kepada ciptaan-ciptaanNya. Kita akan peka  terhadap tanda-tanda zaman jika kita sendiri peka terhadap perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi di dalam diri kita masing-masing, yang sering muncul dalam bentuk gejala-gejala, misalnya pusing, hati tak enak dst… Rekan-rekan perempuan kami harapkan sungguh peka atas apa yang terjadi menjelang menstruasi, karena pada umumnya di masa itu lebih berperasaan alias mudah marah atau tersinggung. Masing-masing dari kita hendaknya juga peka terhadap tubuh kita untuk menjaga dan mengusahakan agar tubuh tetap sehat dan segar-bugar. Misalnya terkait dengan kolesterol atau gula, penyakit yang marak pada masa ini karena gaya makan dan minum yang tidak benar. Untuk membantu diri kita peka terhadap karya atau penyelenggaraan Tuhan dalam hidup sehari-hari, antara lain setia mengadakan refleksi atau mawas diri setiap hari alias pemeriksaan batin. Pemeriksaan batin merupakan bagian dari doa harian, yaitu doa malam, maka hendaknya jangan dilewatkan. Pemeriksaan batin tidak identik dengan pemeriksaan dosa dan kelemahan. Cermati kecenderungan hati anda, saya kira tidak hanya cenderung untuk melakukan dosa, melainkan lebih banyak kecenderungan untuk berbuat baik,. Wujudkan kecenderungan untuk berbuat baik dalam cara hidup dan cara bertindak, karena dengan demikian anda akan menjadi peka terhadap penyelenggaraan Tuhan atau Ilahi.
" TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"
 (Mzm 24:1-3)
Ign 20 Desember 2012